BODYGUARD DADAKAN

BODYGUARD DADAKAN
Penyerangan


Amira baru saja selesai mengerjakan sholat dhuha. Kebiasaan yang selalu ia lakukan setelah tuan Sam pergi ke kantor. Saat ia baru saja selesai melipat mukenanya tiba-tiba ia melihat bayangan kedua orangtuanya yang tampak nyata sedang tersenyum padanya. Amira tampak kaget dan memandang kearah keduanya tanpa berkedip.


"Apa waktuku sudah hampir tiba?" batinnya.


Tampak kedua orangtuanya mengelengkan kepala mereka.


"Kami bukan malaikat maut yang akan menjemputmu sayang..." ucap ibunya sambil tersenyum.


"Kami hanya ingin menjagamu dan juga kedua buah hatimu..." sambung ayahnya.


"Terima kasih ayah... ibu..." gumam Amira.


Ingin sekali ia memeluk keduanya namun itu tak mungkin ia lakukan karena kedua orang tuanya terlihat hanya merupakan bayangan. Karenanya air mata Amira pun tak dapat ia tahan dan mengalir dari kedua belah matanya. Setidaknya kini ia tak merasa sendirian saat tak ada suaminya. Karena ada kedua orangtuanya yang hadir disisinya walau hanya dia yang bisa melihatnya.


Amira melanjutkan kegiatannya dengan membaca ayat suci Al Qur'an yang selalu ia perdengarkan untuk kedua calon anaknya itu. Rasa tenang kembali mengaliri hatinya. Amira seakan sudah siap jika sewaktu-waktu ia harus melahirkan.


Tiba-tiba pintu kamarnya dibuka dengan cepat dari luar. Memang tadi setelah suaminya berangkat ke kantor ia tidak mengunci kamarnya karena ia takut jika terjadi apa-apa padanya para Artnya dapat segera memasuki kamarnya.


"Maaf nyonya... sebaiknya nyonya ikut saya sekarang" ucap bik Umi yang merupakan kepala pelayan di rumah Amira.


"Ada apa bik?" tanya Amira sambil meletakkan Al Qur'an diatas nakas.


"Cepat nyonya... tidak ada waktu lagi!" ucap bik Umi lagi yang kini menghampirinya dan menarik tangannya agar mengikutinya.


Saat keduanya baru saja keluar dari dalam kamar dan hendak menuruni tangga terdengar suara letusan mirip suara senapan.


"Apa itu bik?" tanya Amira yang kaget.


"Nyonya ... ada yang menyerang rumah ini" ujar bik Umi dengan wajah cemas.


"Ayo nyonya... kita lewat tangga lain!" ajaknya sambil menuntun Amira menuju tangga yang berada di ujung lantai dua.


Tanpa banyak bertanya lagi Amira mengikuti langkah bik Umi dan keduanya pun segera menuruni tangga yang dibuat untuk memudahkan para Art untuk membawa pakaian dari dan ke ruang laundry.


Sesampainya di bawah dimana merupakan tempat laundry Amira dan bik Umi segera menuju halaman belakang dan memutar agar bisa keluar dari rumah melalui pintu samping.


"Siapa mereka ya bik?" tanya Amira saat keduanya sedang bersembunyi di balik pagar pembatas sebelum mencapai pintu gerbang.


"Tidak tahu nyonya... tadi saya mendapat laporan dari satpam melalui interkom yang mengatakan ada penjahat yang menyerang... karena itu saya langsung mencari nyonya..." ucap bik Umi lirih.


"Apa mereka musuh Db? atau mungkin musuh kak Raja?" batin Amira sambil menatap sekitarnya.


Setelah merasa keadaan aman Amira dan bik Umi berjalan perlahan menuju pintu gerbang yang khusus untuk para karyawan rumah Amira keluar masuk saat mereka bekerja. Saat Amira sudah berada diluar gerbang tiba-tiba bik Umi segera menutup gerbang dari dalam. Amira segera menoleh kearah wanita paruh baya itu dengan pandangan bertanya.


"Nyonya pergilah! selamatkan diri nyonya dan calon anak-anak nyonya biar saya disini ... nanti jika bertemu tuan Sam saya akan bilang jika nyonya baik-baik saja..." ucap bik Umi pada Amira.


"Tapi bik..."


"Nyonya saya mohon... mereka sepertinya hanya mengincar nyonya..." sambung bik Umi.


Amira tertegun dengan ucapan bik Umi tersebut. Namun cepat ia mengangguk menuruti permintaan wanita yang selama ini sudah seperti ibunya itu.


"Baik bik... tapi berhati-hatilah!"


"Iya nyonya..." sahut bik Umi segera membalikkan badannya saat mendengar suara orang mendekat.


Sedang Amira juga langsung berjalan cepat meninggalkan tempat itu. Dengan perutnya yang besar membuat Amira tak bisa berlari. Ia sudah sangat bersyukur kedua buah hatinya tak rewel dalam kandungannya sehingga ia dapat berjalan dengan sedikit cepat walau agak kesulitan. Baru saja beberapa meter ia berjalan dari rumahnya terdengar suara letusan senjata berbarengan dengan suara teriakan dari bik Umi yang sangat dihafalnya.


Sesaat lutut Amira merasa lemas. Ia berhenti dan menoleh kearah suara itu. Matanya sudah berkaca-kaca membayangkan yang terjadi pada Artnya itu dan juga para pekerja lain yang berada dirumahnya. Namun tendangan dari buah hatinya yang masih berada dalam perutnya membuat Amira tersadar dan kembali berjalan terseok menjauhi tempat itu demi menyelamatkan anak-anaknya.


Sementara di sebuah gudang kosong di daerah pelabuhan yang berada di sisi luar kota New York yang megah tampak seorang pria yang tengah terikat dengan wajah yang sudah babak belur. Tampak seorang pria tengah duduk dihadapannya dan memandang pria itu dengan tatapan membunuh.


"Kau berani sekali mengkhianatiku... tapi aku biarkan karena aku tahu apa yang kau lakukan tak akan merugikanku sedikit pun..." ucap pria itu dengan rahang yang mengeras.


"Tapi kau sudah berani membawa-bawa wanitaku... jadi kau harus membayar dengan nyawamu!" ucap Jimmy yang langsung mengarahkan pistol yang sejak tadi digenggamnya dan menembakkannya ke kening Jack.


Dorr...


"Kita kembali ke Indo!" ucap Jimmy pada Rudi yang tengah menunggunya diluar ruangan.


"Baik tuan... jet anda sudah menunggu di bandara" sahut Rudi.


Keduanya pun langsung masuk ke dalam mobil dan langsung menuju ke arah bandara.


........


Dikantornya tuan Sam tengah memimpin rapat bersama beberapa anak buahnya saat tiba-tiba pintu ruangan rapat dibuka dengan keras dari luar. Tampak sekretarisnya Manda buru-buru masuk ke dalam ruangan dan segera membisikkan sesuatu pada atasannya itu.


Wajah tuan Sam langsung tampak berubah pias dan segera menutup rapat yang dipimpinnya.


"Lukas kita pulang sekarang!" ucapnya dan langsung diikuti oleh Lukas.


Keduanya pun langsung menuju lift dan langsung menuju kelantai dasar.


"Sebenarnya ada apa tuan?"


"Rumahku diserang Lukas" jawab tuan Sam.


Lukas pun terkejut. Siapa yang berani menyerang rumah tuannya itu disiang bolong? pikirnya. Tuan Sam nengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi agar segera sampai di rumahnya. Dalam fikirnannya hanya ada istrinya Amira.


"Inikah firasat yang Amira rasakan?" batinnya sambil terus mengemudi.


Lukas yang duduk disamping tuannya sama sekali tak mengeluarkan suara. Fikirannya pun tertuju pada nyonyanya yang sedang hamil besar itu. Walau ia tahu jika nyonyanya itu merupakan wanita yang tangguh namun kehamilan kembarnya pasti membuat wanita itu akan kesusahan dalam bergerak.


"Lukas lacak posisi Amira!"


"Baik tuan" sahut Lukas yang langsung mengaktifkan GPS pada cincin Amira.


"Sepertinya nyonya masih berada di sekitar rumah tuan..." lapor Lukas setelah memgetahui titik dimana Amira berada.


Tuan Sam pun langsung menambah kecepatan mobilnya. Untung saja siang itu keadaan jalanan cukup lengang sehingga tuan Sam tak mengalami kesulitan untuk mengemudikan mobilnya walau dengan kecepatan tinggi. Lukas pun sudah menghubungi pihak kepolisian untuk meminta bantuan.


..........


Di rumah Amira tampak sekelompok orang berwajah asing memasuki rumah dengan memberondongkan tembakan. Untung saja yang mereka gunakan bukan peluru sungguhan hanya peluru karet namun itu cukup membuat para penjaga dan pekerja yang berada disana jatuh pingsan karena kerasnya benturan pada titik lemah tubuh mereka.


Setelah kekacauan yang terjadi saat orang-orang itu datang suasana langsung menjadi lengang karena para penghuni rumah yang sudah tak sadarkan diri.


"Where's that b***h?" tanya seorang wanita yang baru saja memasuki tempat itu yang sudah seperti bekas medan perang.


Para penyerang yang merupakan anak buah wanita itu hanya menggelengkan kepala mereka pertanda mereka tak menemukan yang mereka cari. Seketika wanita itu menyuruh seseorang yang mengerti bahasa untuk menginterogasi salah satu pekerja yang baru saja sadar. Namun sayang pekerja itu sama sekali tak mengetahui dimana Amira yang membuat pekerja itu langsung mendapatkan bogem mentah dan membuatnya kembali pingsan.


Tiba-tiba dari arah belakang tampak salah satu diantara mereka datang dan mengatakan jika ada pintu keluar lain di rumah itu. Mereka pun segera menuju ke pintu itu untuk mengejar Amira. Sementara Amira masih kebingungan kemana ia harus pergi untuk menyelamatkan diri. Saat itulah ia melihat bangunan rumah yang belum jadi dan terletak tak jauh dari tempatnya berdiri. Dengan cepat Amira pergi ke tempat itu.


Tampak tempat itu kosong dan tak ada satu pekerja pun disana. Banyak sekali bahan bangunan yang belum terpakai bertumpukan di beberapa sudut. Amira menatap sekelilingnya dengan seksama. Amira berfikir tak mungkin ia terus berjalan karena kondisinya saat ini yang sedang mengandung. Ia harus bersembunyi dan jika perlu ia juga harus melawan demi kedua anak yang dikandungnya.


Setelah beberapa saat berfikir Amira pun memutuskan untuk menjadikan tempat itu sebagai tempatnya berlindung. Ia harus menyiapkan beberapa jebakan jika sekiranya orang-orang yang mengejarnya juga mendatangi tempat itu. Dengan menggunakan peralatan seadanya dan dari bahan bangunan yang tersedia di tempat itu Amira berusaha membuat pertahanan untuk dirinya.


Untung saja dulu saat ia mengikuti kegiatan pramuka ia juga pernah mendapatkan pelatihan bertahan di hutan sehingga ia tahu cara membuat jebakan untuk menangkap hewan liar dengan cara sederhana. Kini ia akan menggunakannya untuk menjebak orang-orang yang sedang mengejarnya itu.


Amira melakukan kegiatannya tanpa mengenal lelah padahal peluh sudah membasahi seluruh tubuhnya. Pasalnya ia juga memindahkan beberapa bahan bangunan termasuk batu bata dan kayu untuk melengkapi jebakannya. Bahkan ia juga menyeret kantong semen untuk melumpuhkan lawannya. Setelah berjibaku beberapa saat ia sudah berhasil membuat beberapa jebakan di beberapa titik di tempat itu. Saat ia sedang beristirahat sejenak ia mendengar beberapa langkah kaki mendekati tempatnya bersembunyi.


Dengan segera Amira merapatkan tubuhnya ke dalam ruangan yang ia siapkan untuk bersembunyi. Terdengar suara orang berbahasa asing bercakap-cakap tak jauh dari tempat Amira bersembunyi. Walau tak dapat mengerti dengan jelas apa yang mereka bicarakan namun ia tahu jika mereka sedang mencari dirinya karena beberapa kali ia mendengar namanya disebut.


Amira segera mengintip dari tempatnya bersembunyi. Tampak beberapa orang asing berbadan tinggi besar dan membawa senjata sedang memeriksa tempat itu. Amira sengaja bersembunyi di luar rumah itu agar bisa mengawasi mereka yang memasuki tempat itu dari tempatnya bersembunyi. Sedang jebakan yang ia pasang juga ada di dalam rumah.


Orang-orang itu tampak mulai memasuki rumah yang belum jadi itu Tak berapa lama terdengar suara gaduh dan teriakan orang-orang yang tadi masuk ke dalam rumah. Amira tersenyum tipis.


"Mereka pasti sudah masuk dalam salah satu jebakan yang aku buat" batinnya.


Namun Amira masih belum berani keluar dari tempat persembunyiannya. Ia tahu beberapa orang tadi hanya segelintir dari orang-orang yang telah menyerang rumahnya. Karena ia masih harus waspada.