BODYGUARD DADAKAN

BODYGUARD DADAKAN
Ayana


Bel sekolah berbunyi saat seorang gadis berusia 15 tahun berlari tergesa menuju gerbang sekolahnya. Naas kecepatan kaki kecilnya tidak bisa membawanya tiba tepat pada waktunya saat gerbang sekolah mulai ditutup. Dengan panik gadis itu mengguncang gerbang dan memohon pada satpam sekolah untuk mau mengizinkannya masuk ke dalam sekolah.


"Pak... tolong bukain pintu gerbangnya... ini hari pertama aku masuk di sini! aku harus masuk ke dalam..." serunya dengan suara memohon.


"Ga bisa dek... ini udah peraturannya..." jawab sang satpam tegas.


"Tapi pak..."


"Udah lebih baik sekarang pulang aja... makanya besok-besok jangan sampai telat lagi..." sergah pak satpam tak mau dibantah.


Gadis itu pun menunduk dan membalikkan badannya dengan gontai.


"Arrgh! sial sekali aku hari ini!" gerutunya sambil berjalan menjauh dari gerbang.


"Tidak bisa! aku tidak boleh menyerah... ayo Ayana... berfikirlah!" gumamnya sambil sambil memijit keningnya sebentar.


Semenit kemudian...


"Aha!" serunya tertahan sambil menjentikkan jarinya dan tersenyum.


Diedarkannya pandangannya pada tembok pagar sekolah yang terlihat cukup tinggi. Tampaknya ia memiliki ide untuk melompati tembok tersebut agar bisa masuk ke dalam sekolah. Segera ia mencari sesuatu yang bisa ia gunakan untuk memanjat tembok yang cukup tinggi itu. Meski pun siswa laki-laki pasti akan berfikir ulang untuk melompati dinding sekolah sebab itu tidak mudah. Tapi Ayana tidak punya pilihan lain. Ia harus melakukannya atau hari pertamanya masuk sekolah akan kacau. Keberuntungan ternyata masih berpihak padanya. Tampak sebuah gerobak milik pedagang kaki lima yang diparkirkan ditepi trotoar dan ditinggalkan oleh pemiliknya. Sepertinya pemilik gerobak itu belum datang karena hari masih pagi.


Dengan cepat Ayana mendorong gerobak itu ke sisi tembok dan memanjatnya. Tubuhnya yang ringan membuatnya bisa menaiki gerobak itu dengan mudah. Apa lagi ia juga bukan gadis feminim dan sudah sering melakukan kegiatan panjat memanjat. Ia juga tidak khawatir karena ia selalu mengenakan hot pants dibalik rok seragamnya. Setelah berhasil memanjat tembok, Ayana pun langsung meloncat ke sisi lain dengan ringan bak pendekar yang memiliki ilmu.


Srekk!


Kedua kakinya mendarat mulus di samping gedung sekolah.


"Fiuhh!" ucapnya sambil menggerakkan tangannya seolah mengelap keningnya dengan perasaan lega.


Setelah merapikan penampilannya ia pun segera berjalan ke arah koridor sekolah untuk mencari ruang guru berada. Tampak koridor sudah dalam keadaan sepi karena bel masuk sudah berbunyi sejak tadi.


"Eh kamu anak kelas berapa? kok masih keluyuran?" tanya seorang pria paruh baya yang sepertinya salah seorang guru.


"Maaf pak... saya murid baru... mau ke ruangan kepala sekolah... tapi saya tersesat..." jawab Ayana dengan wajah polosnya.


"Oh... kalau begitu ayo ikut saya..."


"Baik pak... terima kasih sebelumnya..." ucap Ayana lembut, membuat guru itu merasa senang karena Ayana terlihat sopan.


Ayana pun lalu diantarkan oleh guru tersebut yang ternyata bernama pak Ramli ke ruang kepala sekolah. Setelah mengantarkan Ayana, pak Ramli pun segera pergi ke kelasnya untuk mengajar.


"Jadi kamu Ayana... benar?" tanya kepala sekolah yang seorang wanita muda bernama Hilma.


"Iya bu..." jawab Ayana sopan.


Bu Hilma tampak memperhatikan penampilan Ayana dari atas hingga ke bawah. Kemudian ia kembali membaca surat keterangan yang ada dihadapannya. Disana dijelaskan kenapa Ayana bisa pindah ke sekolahnya ditengah semester. Wanita itu menggelengkan kepalanya pelan. Seakan tidak percaya dengan apa yang ditulis pada surat keterangan itu. Di dalam sana tertulis jika Ayana sudah sering gonta-ganti sekolah karena kenakalannya. Namun dihadapannya sekarang Ayana tampak tidak menunjukkan tanda-tanda jika ia anak yang bermasalah. Bahkan Ayana tampak seperti gadis polos dan feminim.


Meski begitu bu Hilma juga tidak bisa mengabaikan surat keterangan dari sekolah anak itu sebelumnya begitu saja. Sebab dari pengalamannya banyak terjadi jika anak yang terlihat sopan dan baik-baik namun juga bisa menimbulkan masalah. Sebagai guru yang baik bu Hilma akan berusaha merubah perangai muridnya agar bisa menjadi lebih baik.


"Baiklah... kamu akan masuk ke kelas VIII B... nanti bu Salma akan mengantarkanmu ke kelas..."


"Terima kasih bu..."


"Bu Salma..." panggil bu Hilma pada salah satu guru yang ada di ruang guru.


"Baik bu..." sahut bu Salma.


Kemudian Ayana pun diantarkan ke kelasnya.


Tok... tok... tok...


"Silahkan masuk!"


"Maaf pak... ini ada murid baru yang akan masuk ke kelas bapak..." kata bu Salma pada seorang guru yang tengah mengajar.


"Baik bu... terima kasih..."


"Iya... kalau begitu saya permisi..."


Bu Salma pun pergi dari sana dan Ayana langsung dipersilahkan masuk dan memperkenalkan dirinya di depan kelas. Setelah perkenalan singkat, Ayana pun dipersilahkan untuk duduk di bangku yang masih kosong. Tanpa canggung Ayana pun melangkahkan kakinya ke tempat duduk yang ada.


"Hai... kenalkan... aku Sadira... panggil saja aku Dira..." ucap seorang gadis yang duduk di sebelah Ayana sambil mengulurkan tangannya.


"Aku Ayana... panggil saja Aya..." sahut Ayana menyambut uluran tangan Dira.


"Semoga kita bisa jadi teman dekat ya..." ucap Dira setelah keduanya melepas jabatannya.


"Iya..." sahut Ayana.


Keduanya pun saling tersenyum. Dan hari ini benar-benar hari keberuntungan Ayana meski tadi sempat mendapat kesulitan untuk masuk ke gedung sekolah barunya. Bagaimana tidak? ia kini sudah langsung mendapat teman baru meski ia tidak yakin jika Dira akan tetap mau berteman dengannya jika tahu masa lalunya dan juga keluarganya. Terutama ibunya yang seorang mantan narapidana.


Ayana pun menjalani hari pertamanya di sekolah dengan tenang. Apa lagi Dira yang langsung akrab dengannya. Gadis itu bahkan membagi bekal makan siangnya dengan Ayana yang malas pergi ke kantin untuk mengisi perutnya saat jam istirahat tiba.


"Jadi bekal ini kamu yang buat sendiri Dira?" tanya Ayana tak percaya saat Dira mengaku jika bekal yang dibawanya adalah hasil olahannya sendiri.


Dira hanya menganggukkan kepalanya membenarkan perkataan Ayana. Ayana tampak masih tidak percaya jika teman barunya itu benar-benar membuat bekal makan siangnya sendiri. Bagaimana tidak, jika dilihat dari penampilannya Dira sepertinya anak orang kaya yang pastinya memiliki banyak pelayan di rumahnya. Pasti mereka akan dengan sukanrela memasakkan makanan kesukaan Dira. Apa lagi usia mereka yang sepantar membuat Ayana kagum karena masakan Dira yang lezat tak kalah dengan masakan chef di restoran mahal.


Tak terasa jam pelajaran hari ini sudah selesai dan bel pulang sekolah pun berbunyi. Para siswa tampak berbondong-bondong keluar dari ruang kelas mereka masing-masing. Begitu juga dengan Ayana dan juga Dira. Keduanya tampak beriringan keluar dari dalam kelas. Saat keduanya sampai di gerbang sekolah tampak jika Dira sudah dijemput oleh sopir keluarganya. Dira yang mencoba untuk mengajak Ayana pulang bersama namun ditolak oleh Ayana dengan halus. Sesungguhnya gadis itu tidak merasa enak jika harus menumpang pada teman barunya itu meski arah rumah mereka sama.


Setelah Dira pergi dengan sopirnya, Ayana pun segera keluar dari gerbang dan berjalan kaki menuju halte untuk menumpang angkutan umum. Hari ini Ayana sangat bahagia mendapat teman baru seperti Dira. Sepanjang jalan di dalam angkot yang ditumpanginya senyumannya tak pernah lepas dari bibir mungilnya. Hingga ia sampai di depan gang tempat tinggalnya, ia pun turun dari dalam angkot. Dan senyumannya sedari tadi pun langsung lenyap saat melihat seorang wanita paruh baya telah menunggunya di depan rumah dengan berkacak pinggang.


"Bagus ya! berani keluar tanpa sopir dan malah naik angkot! mau malu-maluin keluarga Suryono kamu hah?" serunya dengan wajah merah padam.


Bukannya takut, Ayana malah menatap wajah wanita paruh baya di depannya tenang.


"Bukan salah aku oma... bukannya tadi pagi pak sopir disuruh mengantar Deni duluan? padahal oma tahu sekolah aku lebih jauh... kalo nunggu balik bisa-bisa aku sampai sekolah udah jam istirahat..." kata Ayana tanpa menaikkan intonasi suaranya.


"Lagi pula bukannya cuma Deni yang oma anggap sebagai cucu? kenapa sekarang jadi masalah kalau aku ga pakai mobil ke sekolah?" sambungnya.


Wanita tang di panggil oma oleh Ayana itu tampak terdiam. Memang Ayana dan Deni tidak pernah bisa satu mobil meski keduanya kakak beradik. Wajah dan sifat Ayana lebih mirip dengan mamanya sedang sang adik Deni mirip sang papa. Karenanya keduanya diperlakukan berbeda oleh keluarga besar sang papa. Ayana juga tidak mengerti mengapa mereka sangat membenci mamanya selain karena wanita itu mantan narapidana yang mungkin akan memalukan bagi keluarga besar mereka. Tapi selama ini sang mama terlihat sangat sempurna sebagai seorang istri dan menantu. Bahkan setelah perlakuan buruk dari sang suami dan keluarganya sang mama masih saja memperlihatkan sikap yang ramah pada mereka.


Memang sang mama terkenal dingin dan sombong pada orang lain namun tidak pada keluarganya. Hanya satu kekurangan mamanya yang Ayana tahu, yaitu sering pergi ke club milik sahabat sang mama. Namun Ayana tahu sang mama ke sana hanya ingin bertemu dan mengobrol dengan sang sahabat. Bahkan ia tak pernah menyentuh minuman beralkohol disana. Ayana sangat tahu itu karena sang mama sering mengajaknya serta. Dan sikap mamanya ini yang membuat keluarga papanya semakin membencinya karena mengira memberi pengaruh buruk pada Ayana. Padahal sang mama mengira dengan membawa putrinya serta untuk membuktikan jika ia ke sana hanya untuk bertemu sahabatnya dan tidak lebih. Sebab jika mengajak bertemu di tempat lain entah mengapa sang mama justru merasa tak nyaman.


Entah rahasia apa yang membuat mamanya bisa terikat dengan keluarga Suryono dan menikah dengan sang papa. Jika Ayana menanyakannya pada sang mama, dia hanya mengatakan jika itu sudah takdir... dan alasan sebenarnya akan diberitahukan pada saat Ayana dan Deni dewasa. Hanya itu yang diungkapkan oleh sang mama. Dan tanpa sadar Ayana pun meniru sikap mamanya yang selalu terlihat devensif pada semua orang termasuk pada sang papa dan juga adiknya. Tapi hari ini saat bertemu dengan Dira, dia bisa bersikap sesuai dengan karakter aslinya. Ia tidak harus berpura-pura sombong dan acuh karena entah bagaimana Dira sudah menyentuh hatinya. Dan Ayana sangat menyukainya. Bersama Dira ia menemukan dirinya yang sebenarnya. Gadis belasan tahun yang masih polos dan banyak mimpi. Bukan seseorang yang memakai topeng seperti yang selalu dilakukannya dan sang mama di rumah.


Dulu di sekolah lamanya ia masih tetap memakai topeng karena disana banyak dari saudara keluarga papanya yang juga bersekolah disana. Sehingga ia tetap harus menjalani karakter sombongnya di sekolah. Di sekolah baru ini, Ayana merasa bebas. Karena meski masih merupakan sekolah elit namun bukan sekolah dimana keluarga besar papanya turun temurun menimba ilmu disana. Dimana semua orang seolah tengah mengawasinya.


Melihat omanya yang terdiam, Ayana langsung melangkahkan kakinya ke dalam rumah tanpa menghiraukan omanya yang masih berada di depan rumah. Jika semua orang mengatakan rumahku adalah surgaku maka bagi Ayana adalah sebaliknya.