
Setelah meninggalkan nyonya Sarah di kamar Amira langsung menemui Anna dan Adit untuk makan siang bersama. Kedua anak itu langsung makan dengan lahap saat Amira menemani kedua makan. Rasanya kerinduan mereka untuk bisa makan bersama dengan Amira telah tercapai.
"Kalian sangat suka ya dengan masakan bik Marni?" tanya Amira saat melihat keduanya sangat lahap.
"Iya bun... ditambah lagi kami sudah sangat lapar..." sahut Anna setelah selesai makan.
"Maaf ya ... kalian harus menunggu bunda dulu..." kata Amira yang merasa bersalah karena kedua anak itu harus menahan lapar menunggunya.
"Ga pa-pa bun... emang mama kenapa? Apa mama sakit?" tanya Adit yang baru saja selesai makan. Amira menggelengkan kepalanya.
"Ga... mama kalian hanya sedang tidak enak badan saja... nanti kita main bersama ya... biar mama kalian istirahat"
"Iya bun..." sahut keduanya serempak.
"Bunda ke kamar mama kalian dulu ya... setelah itu kita bisa main bareng" ucap Amira sambil tersenyum.
Kedua bocah itu pun mengangguk dan segera berlari ke ruang bermain. Sedang Amira pergi ke kamar nyonya Sarah sambil membawa barang yang tadi dibelinya di apotek.
"Kak... boleh aku masuk?" tanya Amira setelah mengetuk pintu kamar nyonya Sarah.
"Iya Ra ... masuk saja..." terdengar jawaban nyonya Sarah.
"Bagaimana kak... apa kakak suka dengan sotonya?" tanya Amira saat sudah memasuki kamar.
"He eh ... suka Ra... sangat suka" ucap nyonya Sarah dengan wajah berbinar.
Amira pun dapat melihat bekas makan nyonya Sarah yang terlihat bersih karena semua isinya sudah tandas.
"Aku senang kakak sangat menyukainya. Aku fikir karena tadi kakak sempat mual mungkin saja kakak akan kehilangan selera makan ..." kata Amira.
Nyonya Sarah tersenyum tampak ia sangat senang Amira sangat memperhatikannya.
"Kak... apa kakak bulan ini sudah datang bulan?" tanya Amira hati-hati.
"Memangnya kenapa Ra?"
"Bukan apa-apa ... hanya saja karena tadi tiba-tiba saja kakak mual hanya karena mencium bau masakan bik Marni, jadi aku berfikir mungkin saja kakak..." Amira menggantung kalimatnya yang membuat nyonya Sarah menutup mulutnya sendiri dengan kedua tangannya.
"Apa kau fikir aku..."
Amira mengangguk.
"Memang bulan ini aku sudah telat Ra... tapi aku fikir itu biasa karena beberapa bulan ini aku juga sudah sering terlambat datang bulan" terang nyonya Sarah.
"Apa kakak tidak mau mencoba untuk mengeceknya terlebih dahulu?" tanya Amira.
"Iya Ra... aku akan mengeceknya nanti aku akan meminta mas Bram membelikan testpack sepulang dari kantor" kata nyonya Sarah.
"Tidak perlu kak.... ini aku sudah membelikannya untukmu saat tadi sekalian membeli soto" kata Amira sambil memberikan bungkus plastik pada nyonya Sarah.
"Kau sudah membelikannya Ra?" tanya nyonya Sarah terharu.
Amira hanya tersenyum dan mengangguk.
"Terima kasih Ra... kau memang sudah seperti saudara kandungku sendiri yang selalu dapat aku andalkan" ucap nyonya Sarah sambil memeluk Amira erat.
"Kakak.... jangan begitu... aku jadi ingin menangis..." kata Amira sambil melepaskan pelukan nyonya Sarah.
"Ya sudah kakak istirahat saja dulu... besok pagi kakak cek ya... biar anak-anak aku yang menemani" sambung Amira sambil membetulkan selimut nyonya Sarah agar wanita itu dapat beristirahat dengan nyaman.
Nyonya Sarah pun menuruti perkataan Amira. Ia pun mulai memejamkan matanya, sedang Amira segera keluar dari kamar untuk menemani Anna dan Adit bermain. Kedua bocah yang sudah lama tidak bermain dengan Amira sangat bahagia ketika Amira bermain dengan mereka. Bahkan keduanya tidak mau disuruh tidur siang seperti dulu. Amira pun dapat mengerti karena keduanya sudah semakin besar. Sore hari saat Amira tengah kebingungan hendak membersihkan diri karena tidak membawa baju ganti, nyonya Sarah mengajaknya ke kamar tuan Sam.
"Ini... semua pakaianmu sudah ada di sini Ra..." kata nyonya Sarah sambil membuka lemari pakaian yang ada di dalam sana.
"Tapi sejak kapan kak semua bajuku ada di sini?".
"Sejak kau menikah dengan kak Sam... saat kita pergi ke gedung semua pakaianmu langsung dipindahkan kemari" terang nyonya Sarah sambil tersenyum kemudian ia pun meninggalkan Amira untuk membersihkan diri.
Setelah membersihkan diri dan melaksanakan sholat ashar Amira langsung pergi ke dapur untuk membantu bik Marni membuat camilan sore.
"Kamu tunggu di luar aja Ra... biar kami yang membuat camilannya" kata bik Marni yang langsung diamini oleh Art lainnya.
"Ga pa-pa bik... udah lama aku ga bikin kayak gini lagi... kangen" ujar Amira.
"Jangan Ra... kami ga enak sama tuan dan nyonya... kami masih bisa memanggil namamu saja sudah sangat baik...." ujar bik Marni.
Memang Amira tak mau bekas teman sejawatnya itu mengganti panggilan mereka padanya menjadi nyonya setelah ia menikah dengan tuan Sam. Ia merasa lebih nyaman dengan panggilan mereka sebelumnya.
"Ga pa-pa... kan cuma bantu goreng" sahut Amira keukeuh.
Akhirnya semua Art yang ada di sana pun tak dapat melarang Amira. Sebenarnya mereka merasa sangat bersyukur karena Amira tak melupakan mereka dan masih mau bergaul dengan mereka walau status Amira telah berubah.
Selesai membuat camilan Amira dan para Art nyonya Sarah membawanya ke ruang depan agar dapat dinikmati seluruh keluarga terutama para pria yang sebentar lagi pulang dari kantor. Baru saja Amira meletakkan camilan itu di atas meja tampak Anna dan Adit yang sudah langsung mencomot salah satu gorengan kesukaan mereka.
"Kalian suka?" tanya Amira saat kedua bocah itu terlihat lahap memakan camilannya.
"Memang nyonya Sarah sangat jarang mememberi mereka gorengan Ra... tapi entah kenapa tadi tiba-tiba nyonya ingin dibuatkan gorengan" ungkap bik Marni.
Amira hanya mengangguk dan hendak memanggil nyonya Sarah. Namun ternyata nyonya Sarah sudah terlihat mendekati mereka.
"Apakah gorengannya sudah jadi?" ucapnya begitu melihat beberapa piring tersaji di meja penuh dengan gorengan.
"Iya nyonya..." sahut bik Marni.
Nyonya Sarah pun langsung duduk disamping kedua anaknya dan mengambil gorengan lalu segera memakannya.
"Kakak mau teh?" tanya Amira memberikan segelas teh hangat saat melihat iparnya itu terlihat sedikit tercekat karena makan terburu-buru.
Nyonya Sarah mengangguk dan segera menerima gelas teh pemberian Amira dan langsung meminumnya. Amira tersenyum melihat tingkah nyonya Sarah yang terlihat sedikit aneh. Saat itulah para pria pulang dari kantor. Ketika melihat pesta gorengan terjadi di rumahnya tuan Bram terlihat sedikit terkejut. Pasalnya istrinya bukan seorang penggila gorengan.
Nyonya Sarah biasanya hanya memakan gorengan satu atau dua buah saja setiap kali ia makan. Tapi kini terlihat ia bahkan memakan sepiring penuh gorengan untuk dirinya sendiri. Dan tampak sangat keberatan saat Amira menggodanya untuk meminta salah satu gorengan yang ada dipiringnya.
"Sar... apa perut kamu gak bengah nanti?" tanya tuan Bram yang khawatir dengan tingkah istrinya itu.
Nyonya Sarah hanya menggelengkan kepalanya dan melanjutkan makannya.
"Kak... lebih baik kalian mandi saja dulu..." kata Amira pada tuan Bram dan tuan Sam yang masih terpaku melihat tingkah nyonya Sarah.
Amira bahkan harus menggandeng tangan tuan Sam yang terlihat sedikit syok melihat adiknya yang bisa memakan gorengan sebanyak itu.
"Sarah kenapa Ra?" tanya tuan Sam saat keduanya sudah berada di dalam kamar tuan Sam.
"Aku juga belum tahu B... tapi sepertinya kita akan mendapatkan keponakan baru..." ucap Amira sambil tersenyum yang langsung membuat tuan Sam terkejut.
"Maksudmu?"
"Itu belum pasti B... hanya perasaanku saja yang melihat tingkah kak Sarah yang sedikit aneh" ucap Amira lagi.
"Kau mandi saja dulu..." sambung Amira sambil mendorong tubuh suaminya ke kamar mandi.
"Baiklah... tapi setelah ini kau jelaskan lagi padaku maksudmu tadi" kata tuan Sam yang langsung masuk ke dalam kamar mandi.
Amira mendesah pelan. Jika benar nyonya Sarah hamil maka akan semakin ramai rumah mereka nanti. Sedang dia di rumah hanya berdua dengan tuan Sam walau pun juga ada Art disana. Tapi tetap saja itu berbeda.
Rasanya Amira sedikit iri karena nyonya Sarah yang telah memiliki anak dan bahkan kini mungkin ia tengah mengandung anaknya lagi. Sedang Amira...
"Ah Amira... apa yang sedang kau fikirkan? kau baru saja menikah dan kau sudah sedih karena belum hamil? kau bahkan baru beberapa kali melakukannya dengan suamimu..." batin Amira sambil menepuk dahinya pelan dan mengelengkan kepalanya.
Amira pun lalu menyiapkan pakaian yang akan dikenakan oleh suaminya dan meletakkannya diatas tempat tidur. Saat tuan Sam keluar dari kamar mandi ia terlihat segar dengan wangi maskulin yang menenangkan.
"Kau ingin minum kopi B?" tanya Amira saat melihat suaminya itu keluar dari kamar mandi.
"Hem... ya nanti aku minum di ruang depan dengan Bram" kata tuan Sam sambil mengenakan pakaiannya.
Amira pun hendak keluar untuk membuatkan suaminya kopi. Namun di tahan oleh tuan Sam.
"Tunggu dulu Ra... sekarang jelaskan dulu maksud kamu tadi" ucap tuan Sam yang masih mengancingkan kemejanya.
"Hemm... itu hanya perkiraanku saja B... apalagi tadi kak Sarah juga mual saat mencium masakan bik Marni" terang Amira yang kini membantu suaminya itu mengancingkan kemejanya.
Setelah selesai Amira pun merapikan tampilan suaminya.
"Sudah selesai...." ucapnya sambil menatap suaminya.
"Kalau begitu kita menginap dulu disini malam ini" usul tuan Sam.
"Aku juga ingin tahu apa benar Sarah memang hamil" sambungnya sambil menarik tangan Amira ke dalam dekapannya.
"Kalau benar hamil kau mau apa B?" tanya Amira menatap suaminya.
"Aku akan lebih bekerja keras agar kita bisa secepatnya menyusul mereka" bisik tuan Sam yang membuat tubuh Amira menjadi merinding.
"Kau ini...." ucap Amira sambil memukul dada suaminya pelan.
"Tapi kau ingin seperti mereka juga kan?" kata tuan Sam yang kini menatap mata istrinya lembut.
Ia tahu jika Amira sering merasa kesepian saat di rumah mereka. Amira tersenyum.
"Aku tak ingin terlalu memaksakan diri B... lagi pula kita kan baru saja menikah lebih baik kita nikmati moment kita berdua saja dulu ..." ujarnya menenangkan suaminya.
Tuan Sam tersenyum dan kembali memeluk istrinya itu.
"Kau benar..." kemudian dikecupnya pucuk kepala Amira lembut.
"Sudah... kau ingin kopi kan? akan ku buatkan..." ucap Amira mengurai pelukannya.
Keduanya pun keluar dari kamar bersama. Sore itu kediaman nyonya Sarah kembali ramai dengan kehadiran tuan Sam dan Amira yang memutuskan untuk menginap semalam disana. Anna dan Adit seakan tak lelah mengajak Amira bermain bersama. Amira pun tampak tak keberatan menemani keduanya. Tuan Sam dan tuan Bram pun terlihat mengobrol akrab apalagi dengan kedatangan Lukas yang menambah keramaian. Sedang nyonya Sarah setelah menghabiskan gorengan malah asyik menonton drakor kesayangannya bak anak ABG.
Setelah selesai mengantarkan Anna dan Adit tidur Amira menghampiri nyonya Sarah dan mengingatkannya untuk melakukan pengecekan esok pagi. Sedang para pria tampaknya masih betah ngobrol bersama. Saat semua masih terlelap dan azan subuh pun belum terdengar, nyonya Sarah tampak terbangun dari tidurnya. Perlahan ia berjalan ke kamar mandi yang ada di dalam kamarnya. Dikeluarkannya testpack yang dibelikan Amira. Rasanya jantung nyonya Sarah berdegup kencang saat menunggu hasilnya...