
Merasa tidak bisa menemukan petunjuk apa-apa di apartemen Ricko, akhirnya Samir memutuskan untuk pergi dari sana. Namun sebelumnya ia harus melakukan sesuatu terlebih dahulu di sana. Ya... apa lagi kalau bukan membersihkan tempat itu dari foto-foto sang adik. Meski Ricko mengaku jika ia hanya sekedar mengoleksi foto Sadira tapi tetap saja Samir tidak terima foto-foto sang adik dipajang oleh Ricko di kamarnya. Pemuda itu langsung menarik semua foto Sadira yang berada di dinding kamar Ricko dan memusnahkannya dengan membakarnya. Sedang foto Sadira yang berada di langit-langit kamar ia coret dengan menggunakan cat semprot yang ia temukan di bawah meja Ricko.
Melihat perbuatan Samir, Ricko hanya bisa terdiam dan pasrah. Ia sadat jika sahabatnya itu masih marah dengan perbuatannya mengoleksi foto Sadira di dalam kamarnya. Setelah selesai dengan kegiatannya Samir pun langsung pergi dari dalam apartemen Ricko tanpa mengucapkan kata pamit. Sepeninggal Samir, Ricko langsung menghampiri tong sampah tempat Samir tadi membakar semua foto-foto Sadira. Air mata pemuda itu langsung mengalir menggambarkan kesakitan di dalam hatinya saat ia sadar jika ia sudah tidak bisa menyelamatkan satu pun foto Sadira. Dan saat ia mendongakkan kepalanya ia hanya melihat foto Sadira yang sudah berubah menjadi hitam karena cat semprot yang digunakan oleh Samir untuk menutupi wajah gadis itu. Hati Ricko kembali hancur...
Dengan langkah lunglai ia berjalan ke arah nakas yang ada di samping tempat tidurnya dan meraih ponsel yang ada di atas sana. Sambil mendudukkan dirinya di tepi tempat tidur ia pun membuka ponselnya. Seketika di layar ponselnya muncul wajah Sadira yang ia pasang sebagai wall paper. Ricko tersenyum kecut karena hanya ini dan koleksi lain di dalam galeri ponselnya yang tersisa dari foto-foto Sadira yang masih ada padanya. Dengan lincah ia pun berpindah ke galery dimana disana masih ada foto-foto Sadira yang masih tersisa. Mungkin ini lebih baik sebab Samir tidak akan menduganya.
"Sebenarnya kamu sekarang ada dimana Ra?" gumamnya sambil menyentuh foto Sadira saat ulang tahunnya yang ke 16.
Ricko merasa sangat tidak berguna saat ia tidak bisa menemukan gadis pujaannya itu. Setelah puas memandangi foto Sadira ia pun menutup ponselnya. Sebelum ia mematikan ponselnya untuk merawat lukanya akibat perbuatan Samir tadi, Ricko terlebih dahulu mengganti wall papernya dengan gambar pemandangan malam dimana ada sebuah bintang yang bersinar disana. Ini ia lakukan sebagai pertanda jika bintang itu adalah Sadiranya. Dan dengan begini Samir tidak akan lagi curiga jika ia masih memiliki foto-foto Sadira.
"Kamu kenapa Sam?" tanya Sahir saat melihat wajah adiknya yang sedikit terluka.
"Ga pa-pa kok kak... tadi ga sengaja terbentur pintu..." sahut Samir menutupi kejadian yang sebenarnya.
Ia tidak ingin membuat sang kakak marah yang bisa dipastikan jika Ricko akan mendapatkan perlakuan yang lebih sadis dari yang sudah ia lakukan tadi pada pemuda itu jika Sahir tahu yang sebenarnya.
"Kok bisa?"
"Hem... tadi ga sengaja kepleset saat mau keluar dari apartemen Ricko dan nabrak pintu yang mau ketutup..." terang Samir.
Meski merasa aneh namun Sahir tidak mau ambil pusing lagi karena saat ini ia sudah tidak sabar untuk segera sampai di rumah. Kemudian Sahir pun segera melajukan mobilnya pulang ke rumah. Baru saja keduanya hampir sampai di depan gerbang komplek rumah mereka, terlihat jika mobil tuan Sam dan dua mobil lain di belakangnya yang Samir dan Sahir kenali sebagai mobil Raja dan tuan Bram. Tanpa fikir panjang Sahir langsung mengarahkan mobilnya untuk mengikuti rombongan mobil tuan Sam dan yang lainnya. Instingnya mengatakan jika ini berkaitan dengan keberadaan Sadira.
Samir seakan mengetahui pemikiran sang kakak sehingga ia sama sekali tidak mempertanyakan tindakan Sahir. Keduanya mengikuti rombongan didepannya dalam diam. Sementara itu tuan Sam dan yang lainnya sudah menyadari keberadaan Sahir dan juga Samir dibelakang mereka. Namun mereka tidak mencegah kedua kembar itu untuk mengikuti mereka karena saat ini fokus mereka semua adalah keberadaan Sadira. Kurang lebih 45 menit kemudian rombongan itu sampai disebuah kawasan yang cukup terpencil di pinggiran kota dan cukup jauh dari pemukiman penduduk.
Sebuah tempat yang merupakan sebuah tanah kosong yang penuh dengan rerumputan. Meski begitu ada jalan setapak yang masih bisa dilewati oleh mobil terbukti dengan adanya jejak bekas ban mobil yang tercetak disepanjang jalan tersebut. Walau pun terlihat mustahil namun mereka tetap menyusuri jalan itu berbekal sinyal GPS dari kalung Sadira. Dan benar saja, di ujung jalan terlihat sebuah mobil terparkir yang mereka kenali sebagai mobil yang digunakan oleh penculik Sadira. Setelah menghentikan mobil, mereka sekua kemudian turun dengan sikap waspada. Anak buah tuan Sam dan Raja bahkan sudah mengeluarkan pistol mereka untuk berjaga-jaga.
Amira yang tidak sabar langsung berlari ke arah mobil tersebut disusul yang lainnya. Saat mereka sudah dekat dengan mobil tersebut baru diketahui jika mobil tersebut dalam keadaan kosong. Meski begitu melihat sebuah kardus mesin cuci yang tergeletak di bagasi mobil yang terlihat lewat jendela kaca membuat Amira sedikit memiliki keyakina jika sang putri berada di dalam sana. Walau pun ada fikiran buruk pada nasib Sadira saat melihat kondisi mobil yang sengaja ditinggalkan di tempat terpencil seperti ini. Tak mau berspekulasi, tuan Sam langsung membuka bagasi mobil tersebut dan mengeluarkan kardus itu. Ada rasa takut pada diri tuan Sam saat menyadari jika kardus tersebut terasa sangat ringan saat ia mengangkatnya.
Saat tuan Sam baru saja meletakkan kardus tersebut di atas tanah, Amira langsung menerobos dan membuka paksa bagian atas kardus. Dan betapa terkejutnya ia saat tak menemukan sang putri di dalam sana melaikan hanya sebuah kalung milik Sadira yang tergeletak di sana.
"S***t!" teriak tuan Sam frustasi.
Sementara Amira tampak syok saat tak menemukan Sadira. Dengan bergetar ia pun meraih kalung Sadira dan langsung menciuminya dengan air mata yang bercucuran. Tuan Sam pun langsung memeluk tubuh sang istri yang sudah bergetar karena menangis. Sementara anak buah tuan Sam dan yang lainnya langsung berpencar mencari petunjuk di sekitar tempat itu. Dan setelah 15 menit mencari mereka kembali berkumpul dengan tangan hampa. Mendapati hal itu Amira semakin menangis histeris karena sang putri sudah menghilang selama beberapa hari. Sebagai seorang ibu ia sangat mengkhawatirkan nasib putrinya itu.
Saat Amira dan yang lainnya tengah kebingungan mencari petunjuk tentang keberadaan Sadira, di tempat lain gadis itu tengah menjalankan rencananya untuk bisa membebaskan dirinya dari sang penculik. Menyadari jika keadaan dirinya yang kini lumpuh mendadak membuat gadis itu menduga jika sang penculik telah melakukan sesuatu terhadap dirinya. Hal itu diperkuat dengan dirinya yang diharuskan meminum obat setiap kali ia habis makan. Dengan kecerdikannya Sadira berusaha untuk tidak menelan obat tersebut dengan cara menyelipkannya dibawah lidahnya. Bi Ijah yang polos tidak mengetahui hal tersebut dan menyangka jika Sadira benar-benar telah meminum obat yang diberikannya. Di saat bi Ijah meninggalkannya, Sadira langsung meludahkan obat tersebut sejauh mungkin agar tidak ditemukan oleh bi Ijah atau pun sang penculik.
Dan benar saja, efeknya Sadira langsung bisa menggerakkan jarinya saat ia tak menelan obat itu beberapa jam dari jadwal ia meminum obat tersebut. Meski lambat namun perlahan pengaruh obat yang membuat tubuhnya lumpuh itu pun mulai menghilang. Dan saat tengah malam, Sadira sudah bisa menggerakkan tubuhnya meski masih terasa kaku dan tak bertenaga. Tampaknya ia masih harus bersabar dan tetap berpura-pura masih lumpuh sembari menunggu keadaan tubuhnya lebih baik lagi. Keesokan harinya Sadira merasakan keadaan tubuhnya semakin membaik sehingga saat sarapan ia pun bersemangat untuk menghabiskan makanannya agar ia memiliki tenaga lebih.
"Akhirnya kamu kembali Tara... tidak lama lagi kita pasti akan pergi jauh karena sekarang keluargamu pasti juga sudah mulai menyerah setelah menemukan kalung milikmu itu..." gumam orang itu saat mengunjungi Sadira yang tengah tertidur di kamarnya.
Tanpa orang itu ketahui jika Sadira mendengarkan segalanya. Dalam hatinya ia mengutuk orang itu yang telah membuatnya terpisah dari keluarga dan orang-orang yang disayanginya. Namun Sadira tetap mempertahankan aktingnya yang pura-pura tidur. Saat orang itu meninggalkan kamarnya, Sadira pun perlahan membuka kedua matanya.
"Kau salah dokter... jika menganggap aku dan keluargaku akan menyerah begitu saja dengan semua permainanmu... kita lihat saja nanti siapa yang akan memenangkan permainan yang telah kau mulai, tapi akan aku pastikan jika dirimu lah yang akan kalah dan aku akan kembali kepada keluargaku!" batin Sadira sambil menatap tajam ke arah pintu kamar yang kini telah tertutup.
Keesokan harinya...
Keadaan Sadira semakin membaik, dan dia semakin bisa membuang obat yang diberikan oleh bi Ijah tanpa ketahuan. Karena kini tangannya sudah bisa ia gerakkan dengan sempurna sehingga ia bisa menyelipkan obat-obat tersebut di bawah kasurnya. Meski kakinya masih belum bisa ia gerakkan dengan sempurna namun Sadira kini juga sudah mendapatkan lagi suaranya. Hal ini sudah sangat disyukurinya. Seakan kembali mendapatkan keajaiban, siang ini ia mendengar suara seseorang yang sangat dikenalinya dari arah luar kamarnya.
Tidak bisa dipungkiri detak jantung gadis itu pun langsung bergerak cepat saking merasa bahagia karena mendapatkan secercah harapan untuk bisa mendapatkan pertolongan. Dan ternyata suara yang didengar oleh Sadira tidaklah salah. Karena di lantai bawah rumah dimana Sadira disekap ada seseorang yang tengah berkunjung ke sana.
"Terima kasih dokter karena sudah mau menjadi dosen pembimbing saya untuk menyelesaikan skripsi sekaligus memberikan rekomendasi untuk magang saya nanti..." ucap Ricko.
Ya... suara yang di dengar oleh Sadira dari kamarnya adalah suara Ricko yang tengah bertandang ke rumah dosen pembimbingnya di kampus.
"Bukan masalah Rick, karena kamu adalah mahasiswa saya yang sangat berprestasi membuat saya bangga bisa membimbing kamu" sahut sang dosen.
"Kalau begitu saya permisi dulu dokter Andrew dan terima kasih atas waktunya..." pamit Ricko.
"Iya... kalau begitu akan saya antar kamu keluar"
Ricko pun mengangguk setuju. Keduanya pun berjalan keluar dari dalam rumah. Sementara di dalam kamarnya kini Sadira tengah panik karena kesempatannya untuk meminta bantuan pada Ricko akan hilang jika pemuda itu pergi dari sana tanpa menyadari tentang keberadaannya. Oleh karena itu dengan bersusah payah Sadira berusaha untuk turun dari tempat tidurnya. Ia bertekad untuk menarik perhatian Ricko agar menyadari keberadaannya di sana.
Bruuk!
Sadira langsung terjatuh dari tempat tidurnya saat ia berguling. Meski terjatuh cukup keras dan merasakan sakit di punggungnya, namun Sadira bersyukur karena jatuhnya tidak menimbulkan suara keras yang bisa membuat bi Ijah dan pemculiknya curiga. Tanpa menghiraukan rasa sakit yang dideritanya, Sadira berusaha menyeret tubuhnya dengan bertumpu pada kedua tangannya menuju ke arah balkon kamarnya. Meski sulit ia berusaha untuk menyeret tubuhnya dengan cepat karena ia harus berpacu dengan waktu agar tidak sampai kehilangan kesempatan untuk meminta tolong pada Ricko.
Rasanya lama sekali hingga akhirnya Sadira bisa mencapai pintu kaca menuju balkon. Ya... Sadira mengetahui ini karena bi Ijah sering mengajaknya duduk di balkon dengan menggunakan kursi roda sambil memberikan doktrin tentang masa lalunya. Dari sana ia juga akhirnya tahu jika kamarnya tepat menghadap ke halaman depan rumah tersebut. Sehingga Sadira sangat yakin jika dari sana ia bisa melihat keberadaan Ricko saat ini. Dengan sekuat tenaga Sadira berusaha membuka pintu kaca tersebut dengan kedua tangannya agar bisa terbuka cukup lebar hingga ia bisa menyeret tubuhnya melewati pintu tersebut. Untung saja pintu kaca itu adalah pintu geser sehingga Sadira tidak terlalu kesulitan membukanya.
Setelah berhasil melewati pintu, Sadira kembali menyeret tubuhnya untuk mendekat ke arah pagar pembatas balkon. Pagar yang terbuat dari teralis besi itu membuat Sadira langsung bisa melihat pemandangan di bawahnya. Tampak Ricko tengah berbincang dengan dokter Andrew di samping mobilnya. Sadira mengintip sambil berharap jika dokter Andrew tidak menunggui Ricko hingga pemuda itu meninggalkan kediamannya. Dan harapannya terkabul. Karena dari arah dalam tampak seorang berseragam pelayan menghampiri dokter Andrew dan mengatakan jika ada telfon untuknya dari rumah sakit. Sehingga mau tidak mau dokter Andrew pun langsung kembali ke dalam rumah untuk menerima panggilan telfon tersebut.
Melihat Ricko yang hendak masuk ke dalam mobilnya setelah kepergian dokter Andrew, Sadira langsung melemparkan sebuah pot bunga yang ada di dekatnya ke arah Ricko. Ia sudah tidak perduli jika dokter Andrew dan yang lainnya mendengar suaranya. Yang ia tahu ia harus membuat Ricko tahu jika dirinya ada di rumah dokter Andrew.