
Anna dan Sari berdiri dengan gelisah di depan ruang ganti Devan. Jika Sari gelisah karena gugup akan bertemu dengan idolanya lain halnya dengan Anna. Gadis itu sedari tadi tengah menahan sesuatu yang sedari tadi hendak keluar. Merasa jika mereka masih harus menunggu lama akhirnya Anna pun mencoba bicara pada Sari.
"Sari... kamu tunggu disini sebentar ya? aku mau ke toilet sebentar..." kata Anna yang sudah tidak bisa untuk menahan hajatnya.
"Baiklah tapi jangan lama-lama..." sahut Sari.
Anna pun mengangguk dan segera berlari ke arah toilet yang berada tak jauh dari tempat itu. Sari yang penakut sebenarnya ingin ikut dengan Anna tapi ia sangat ingin mendapatkan tanda tangan Devan hingga gadis itu memberanikan diri untuk tetap berada di tempatnya. Memang tempat itu sangat sepi karena sepanjang lorong menuju ruangan Devan sengaja di sterilkan agar Devan mendapatkan privasi disana. Saat Sari tengah mencoba untuk menguatkan dirinya agar tetap bertahan dan tidak ketakutan terdengar suara beberapa orang tengah menuju ke tempatnya. Gadis itu langsung menoleh kearah suara. Alangkah senangnya ia saat melihat jika Devan tengah berjalan ke arahnya bersama dengan tim managernya.
Sari langsung menghadang Devan dengan pandangan kagum saat pemuda itu hendak melintas di depannya.
"Kak Devan... bisa minta tanda tangannya?" tanya gadis itu dengan semangat.
"Heh kamu siapa? bagaimana kamu bisa ada di sini hah? dasar panitia tidak profesional... " potong salah satu tim manager Devan sambil menatap Sari dengan tajam.
"Ma... maaf kak saya..." ucap Sari ketakutan tak menyangka jika manager idolanya begitu galak.
"Sudahlah Ren... cuma tanda tangan saja ga merepotkan kali..." tegur Devan pada Rendy managernya.
"Ayo sini mana yang harus aku tanda tangani?" tanya Devan pada Sari yang terlihat pucat karena ketakutan.
"I.... ini.... di sini...kak..." tunjuk Sari pada sebuah poster Devan yang sedari tadi ia bawa.
"Nama kamu siapa?" tanya Devan pada Sari sebelum menuliskan tanda tangannya.
"Sari kak..."
Devan pun mengangguk dan dengan cepat ia menuliskan kata-kata untuk Sari dan juga tanda tangannya pada poster itu.
"Kamu sendirian di sini?" tanya Devan setelah mengembalikan posternya pada Sari.
"Ga kak... tadi aku sama teman aku... tapi dia masih ke toilet..." sahut Sari yang sudah mulai tenang.
"Kalau begitu ikut aku ke dalam sambil menunggu teman kamu kembali!" kata Devan membuat semua orang yang ada disana terkejut terlebih sang manager.
"Tapi Dev..." protes sang manager.
"Sudahlah..." potong Devan sambil menggandeng tangan Sari yang membuat gadis itu langsung berbunga-bunga.
Semua orang yang ada disana pun hanya bisa pasrah dengan kelakuan Devan yang tak seperti biasanya.
"Apa Devan sedang kerasukan?" bisik salah satu asisten Devan pada sang manager.
"Mana aku tahu?" sungutnya.
Mereka pun masuk ke dalam ruangan yang disediakan untuk Devan namun sebelumnya Devan menyuruh salah satu asistennya untuk menunggu teman Sari di luar.
Anna keluar dari dalam toilet dan bergegas kembali ke tempat Sari menunggunya. Ia khawatir jika temannya itu akan ketakutan karena ditinggal sendirian. Tapi saat sampai di tempat ia terakhir meninggalkan gadis itu ternyata Sari sudah tidak ada di sana. Anna langsung panik karena khawatir telah terjadi sesuatu pada gadis itu. Saat ia melihat ada seorang wanita yang tengah berdiri ditempat Sari semula berada ia pun segera menghampirinya.
"Maaf kak... apa kakak melihat ada seorang gadis tadi berdiri di sini?" tanya Anna dengan sopan.
"Apa kau Anna?" bukannya menjawab wanita itu malah balik bertanya pada Anna.
"I... iya... kak..." sahut Anna gugup.
"Dari mana dia tahu namaku?" batin Anna.
"Masuklah!" perintah wanita itu pada Anna sambil membukakan pintu ruangan Devan.
Meski ragu namun Anna akhirnya menurut. Mungkin saja didalam sana ada Sari dan wanita itu tahu namanya dari Sari.
"Anna!" seru Sari saat melihat Anna masuk diantar oleh asisten Devan.
"Sari? kenapa kamu ga nunggu aku diluar?"
"Dia memang aku suruh nunggu kamu di sini..." Devan yang langsung menjawab pertanyaan Anna sambil tersenyum.
Anna tidak menanggapi Devan, ia malah memandang temannya Sari dengan wajah dongkol.
"Kamu sudah dapat tanda tangannya kan? kalau begitu kita pulang sekarang!" kata Anna tegas pada Sari.
"Tapi aku belum foto bareng kak Devan, Ann..."
"Kenapa tidak sekalian saja tadi?"
"Kak Devan bilang kalau lebih baik kita foto bertiga saja... kan kamu udah bantuin aku... jadi kita foto bareng aja..." sahut Sari dengan wajah memohon.
Anna mendengus kesal. Ia masih ingat dengan kelakuan Devan padanya di Bali. Di mana pemuda itu dengan seenaknya memeluk tubuhnya di depan umum.
"Please..." ucap Sari lagi.
"Baiklah..." sahut Anna akhirnya.
"Ayo kak... kita foto bersama!" kata Sari pada Devan yang sedari tadi memperhatikan Anna.
"Oke... tapi lebih baik pakai ponselku saja nanti hasilnya aku kirim ke ponsel kamu..." kata Devan sambil tersenyum licik.
Ketiganya pun kemudian berpose bersama dengan Devan berada ditengah diapit oleh Anna dan Sari.
"Ayo... satu... dua... tiga..." ucap Devan sambil mengambil gambar melalui ponselnya.
"Sekali lagi!" kata Devan dan mereka pun kembali berpose bersama.
Kemudian Devan langsung mengirim foto mereka ke ponsel Sari dengan nomor pribadi agar gadis itu tidak bisa menelfon balik dirinya.
"Terima kasih kak!" seru Sari saat mendapatkan kiriman foto dari Devan.
"Lihat Anna... baguskan?" ucap Sari sambil memperlihatkan foto yang baru saja diterimanya pada Anna.
Instingnya memberi tanda jika pemuda di depannya itu tengah menyembunyikan sesuatu.
"Tadi hasilnya tidak bagus jadi aku hapus saja..." kata Devan memberi alasan.
"Sudah ga pa-pa walau cuma satu juga... sekali lagi terima kasih ya kak..." ucap Sari tersenyum senang.
"Iya sama-sama..." sahut Devan tersenyum senang karena rencananya sudah berhasil.
"Kalau begitu kita pulang sekarang Sar..." ajak Anna yang memang sudah sejak tadi ingin pulang.
"Iya-iya... kak kami pulang dulu ya..." pamit Sari pada Devan dan yang lainnya.
Anna hanya menganggukkan kepalanya sebagai salam perpisahan. Kemudian gadis itu langsung menarik tangan temannya agar segera keluar dari tempat itu. Setelah Anna dan Sari keluar dari ruangan itu sang manager langsung menggeplak lengan Devan.
"Jadi karena gadis itu kamu bisa bersikap ramah pada penggemarmu?" tanya Bian sang manager.
Devan hanya tersenyum simpul. Ia malah sibuk melihat hasil jepretan kamera ponselnya yang tadi berhasil mengambil gambar dirinya dan Anna saja dalam satu frame. Bukan hanya itu ia juga berhasil mengambil gambar Anna sendirian saat gadis itu tengah berdebat dengan Sari. Wajah Anna yang terlihat dongkol pada foto itu justru membuat Devan gemas dan penasaran pada sosok gadis yang sudah mencuri hatinya sejak pertama kali mereka bertemu.
"Hei Dev... apa dia mangsa baru kamu?" senggol Bian yang membuyarkan lamunan Devan.
"Dia bukan mangsaku b***g**k! memangnya kau anggap aku ini apa? dia itu calon pendamping hidupku..." seru Devan.
"Cih... siapa juga yang mau percaya sama ucapan playboy cap singa macam kamu!" sahut Bian yang sudah sering melihat tingkah Devan yang sering mengejar wanita-wanita cantik.
"Tapi dia berbeda Dev... aku rasa kali ini kau akan kena batunya!" sambung Bian sambil terkekeh.
"Justru karena itulah sebabnya hanya dia yang bisa membuatku jatuh cinta pada pandangan pertama"ucap Devan sambil mengelus gambar Anna pada galeri ponselnya.
Sementara itu Anna dan Sari tengah berjalan menuju tempat parkir. Di sana sudah menunggu sopir Anna untuk menjemput keduanya.
"Kau lihat kan Ann... kalau kak Devan itu baik banget..." ucap Sari saat keduanya sudah berada di dalam mobil.
"Kau tahu dia tadi bahkan menggandeng tanganku saat mengajakku ke ruangannya..." sambung Sari dengan wajah berseri membayangkan saat Devan dengan lembut menggandeng tangannya.
"Cih... pasti orang itu mempunyai maksud terselubung pada Sari... ya Allah... kenapa aku punya teman yang begitu polos sih? mudah banget untuk menipunya..." batin Anna yang merasa antara kasihan dan kesal dengan sikap temannya itu.
Sepanjang perjalanan Sari berceloteh tentang kebaikan Devan padanya membuat Anna menjadi kesal dan pusing. Untung saja jalanan lengang sehingga sopir bisa mengantarkan Sari ke rumahnya dengan cepat meski ia melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Setelah Sari turun dari mobil Anna langsung menyandarkan kepalanya pada sandaran kursinya. Wajah gadis itu terlihat lelah.
"Nona tidak apa-apa?" tanya sang sopir yang melihat keadaan Anna dari kaca spion.
"Ga pa-pa kok pak... hanya pusing soalnya tadi disana ramai banget dan saling berdesakan... aku ga biasa..." ucap Anna lemah.
"Kalau begitu nona istirahat saja dulu... nanti kalau sudah sampai akan saya bangunkan..."
"Iya pak... terima kasih..." sahut Anna langsung memejamkan matanya.
"Sama-sama non..." sahut sang sopir.
"Non Anna benar-benar berbeda dengan gadis zaman sekarang... biasanya mereka suka sekali berkumpul dan bersenang-senang... sedang nona Ann malah sebaliknya..." batin sang sopir.
Keesokan paginya...
Anna yang baru saja duduk di kursi makan langsung di berondong pertanyaan oleh Ara. Gadis yang sudah mulai remaja itu sangat penasaran dengan acara perpisahan kakak kelas Anna karena mengundang artis ternama Devan.
"Bagaimana kak? apa kak Devan lebih tampan aslinya dibanding saat dilayar kaca?"
"Aku tidak tahu..." sahut Anna cuek.
"Ish kakak... kan katanya kak Sari sudah mendapatkan tanda tangannya dan juga foto bareng... bahkan kakak juga ikut foto bersama..." cecar Ara.
"Kenapa kau tidak tanya sama Sari saja sekalian?" sahut Anna lagi.
"Sudah-sudah... kalian sarapan saja dulu... jangan berdebat pagi-pagi..." lerai nyonya Sarah.
Mendengar ucapan mamanya Ara langsung diam tapi ia memajukan bibirnya pertanda gadis itu tengah kesal karena tidak bisa mengorek keterangan dari sang kakak. Sementara tuan Bram dan Adit tampak tidak terpengaruh. Keduanya langsung memakan sarapan mereka tanpa berkomentar apa pun. Selesai sarapan Anna bersiap berangkat ke sekolah bersama Adit diantar oleh pak sopir. Sedang Ara diantar ke sekolah oleh tuan Bram karena searah dengan kantornya.
"Kakak benar tidak memperhatikan jika kak Devan itu tampan?" tanya Adit yang mulai muncul sifat jahilnya.
"Iya..." sahut Anna singkat.
"Kalau begitu bagaimana dengan aku?"
"Ada apa dengan kamu?"
"Apakah aku tampan?"
"Maksudnya?"
"Kalau kakak bilang aku tampan maka aku akan mencoba menjadi model dan aktor seperti kak Devan... secara kak Devan yang menurut kakak tidak tampan saja bisa jadi idola apa lagi aku yang kakak bilang tampan..." ucap Adit dengan narsisnya.
Plakk!
"Auch...sakit kak..." keluh Adit sambil mengusap lengannya yang perih akibat perbuatan Anna.
"Mimpi itu malam hari.... bukan siang bolong begini!" sungut Anna yang kesal karena kejahilan Adit.
"Ye... siapa yang mimpi? orang kemarin aku memang dapat tawaran jadi model iklan dari teman papa..." sahut Adit bangga.
"Emang iklan apaan?" tanya Anna serius.
"Iklan sabun colek merk NYoNya...ha...ha.. ha.." sahut Adit tertawa karena berhasil mengerjai kakaknya.
"Adiiiit!"seru Anna yang hendak kembali menggeplak adiknya itu.
Tapi Adit sudah terlebih dahulu membuka pintu mobil dan berlari keluar karena ternyata mereka sudah sampai didepan gerbang sekolah.