
Rendra sampai di rumahnya dan terlihat jika rumahnya itu sudah ramai. Bendera kuning pun sudah dikibarkan di depan rumah. Tergesa Rendra masuk ke dalam rumah. Tampak di ruang tamu jenazah Siska sudah dibaringkan di tengah ruangan. Kedua anaknya pun tampak duduk disamping jenazah. Wajah keduanya tampak sembab. Meski tidak dekat dengan sang mama Deni juga tampak terpukul. Bocah itu pun tampak menggenggam tangan sang kakak erat. Rendra berjalan perlahan mendekat. Dua anak yang tengah berduka itu pun seketika menoleh ke arah Rendra.
Deg!
Jantung Rendra langsung merasa berhenti berdetak. Bagaimana tidak... netra kedua anaknya memancarkan kebencian padanya. Meski mulut keduanya terkunci namun mimik wajah dan pandangan keduanya bisa menggambarkan betapa keduanya tengah menahan amarah padanya. Rendra menjatuhkan dirinya didepan jenazah Siska dengan kepala menunduk. Tangannya bergetar dan hendak menyentuh wajah wanita yang semalam dipukulinya dengan kejam.
"Jangan sentuh mamaku!" teriak Ayana tiba-tiba, membuat tangan Rendra terhenti dan semua orang yang ada disana terkejut.
Deni juga sudah memeluk tubuh kakaknya itu mencoba menahan amarah sang kakak. Rendra dan yang lainnya tampak terkejut melihat interaksi keduanya yang sangat dekat. Padahal selama ini keduanya tampak sebaliknya dan malah seperti bermusuhan. Sepertinya kematian Siska berhasil menyatukan keduanya.
"Jangan begitu nak... dia papamu... suami mamamu... biarkan dia melihat mamamu untuk terakhir kalinya..." ucap salah seorang pelayat yang berusia baya.
"Bukankah anda bilang mama saya kotor dan tidak pantas untuk anda sentuh hah? lalu kenapa anda ingin menyentuhnya?" cecar Ayana yang tidak memperdulikan perkataan pelayat tadi.
Semua orang terdiam. Mereka tampak tidak ingin ikut campur dalam permasalahan keluarga yang tidak mereka ketahui. Satu persatu pelayat lebih memilih untuk berpindah ke depan rumah dan membiarkan keluarga inti berada di dalam. Ayana masih terlihat menatap papanya dengan tatapan nyalang. Tiba-tiba terdengar suara seseoarng yang sangat dibenci oleh Ayana dan sekarang juga Deni.
"Assalamualaikum... maaf ma... aku baru tahu..." ucap Jihan sambil mendekat ke arah bu Hasna.
Ia tampak tidak enak untuk langsung menghampiri Rendra karena di depan masih banyak tetangga yang melayat. Saat wanita itu hendak mendekat ke arah Deni, tiba-tiba bocah itu malah beringsut ke arah kakaknya. Pandangan mata bocah itu pun terlihat memancarkan kebencian pada Jihan, membuat wanita itu sesaat tertegun. Namun saat ia ingin menanyakannya seseorang datang mengejutkan semua orang.
"Siska!" seru orang itu dan langsung memeluk jenazah Siska.
"Tante Keysha..." panggil Ayana lirih.
Keysha menoleh ke arah Ayana dan Deni dengan pandangan berduka.
"Kenapa dengan mamamu sayang? kenapa bisa jadi begini? apa yang sebenarnya terjadi padanya?" berondong Keysha yang tidak menyangka jika sahabatnya itu meninggal begitu cepat.
Padahal beberapa hari yang lalu mereka baru saja bertemu dan berbincang bersama. Bahkan saat itu Siska tampak sangat bahagia saat bertemu dengannya. Tapi kini wanita itu malah telah tiada. Apa lagi ia melihat jenazah Siska terdapat banyak luka lebam di wajahnya, membuat Keysha curiga.
"Siska kecelakaan nak..." kata bu Hasna cepat.
"Kecelakaan?"
"Iya... semalam ia keluar sambil membawa mobil... dan tiba-tiba kami dapat kabar jika dia kecelakaan..." sambung bu Hasna lagi.
Jelas wanita itu berbohong. Dia juga mengatakan hal yang sama pada semua orang yang melayat. Dan dia juga sudah menutup mulut semua orang yang ada di rumah agar mengikuti skenarionya. Ia tidak ingin putranya terseret dan masuk ke dalam penjara. Ia bahkan juga menggunakan alasan itu untuk memaksa kedua anak Siska agar ikut tutup mulut. Ia yakin kedua bocah itu akan mau melindungi papa mereka agar tidak dipenjara. Dan ia pun merasa lega... karena kedua anak itu pun diam saja saat bu Hasna berbohong pada semua orang.
Siang hari sesaat sebelum jenazah Siska hendak dibawa untuk disholatkan dan dimakamkan, Dira datang bersama kedua orangtuanya. Gadis itu memang tidak datang bersama teman satu kelasnya yang lain, karena hari itu sebenarnya Dira tidak berangkat ke sekolah karena tengah sakit flu. Namun saat mendapat pesan dari teman sekelasnya yang mengabarkan jika mamanya Ayana meninggal remaja itu pun langsung meminta izin kepada kedua orangtuanya untuk melayat ke rumah Ayana. Tuan Sam dan Amira pun mendampingi putri bungsu mereka karena mereka tahu jika Ayana adalah sahabat dari putri mereka. Meski selama ini mereka belum sempat bertemu dengan anak itu.
"Aku turut berduka cita Ay... yang sabar ya..." ucap Dira sambil memeluk sahabatnya itu.
Ayana kembali menangis dipelukan Dira. Gadis itu seolah menemukan sandarannya disaat berduka bersama Dira. Karena sedari tadi ia berusaha kuat demi adiknya Deni.
"Kami sekeluarga turut berduka cita pak Rendra..." ucap tuan Sam tulus.
Tuan Sam juga mengenal Rendra karena keduanya sama-sama pengusaha meski tidak kenal dekat.
"Terima kasih..." sahut Rendra lirih.
Sedang Amira hanya menganggukkan kepalanya dan menangkupkan telapak tangannya sebagai tanda duka cita. Saat melihat ke arah jenazah keduanya tampak terkejut. Bagaimana tidak... Siska adalah seseorang dari masa lalu mereka. Meski tidak berhubungan baik karena Siska adalah sahabat Keysha, wanita yang berusaha mengganggu rumah tangga mereka. Bahkan Siska sempat melukai tuan Sam demi membantu sang sahabat. Namun keduanya berusaha memaafkan kesalahan wanita itu di masa lalu, apa lagi kini Siska sudah meninggal dunia. Sementara disudut ruangan tampak seseorang tengah berkaca-kaca. Bukan hanya karena kepergian sang sahabat tapi juga karena kedatangan Amira dan tuan Sam di sana. Setelah melihat jenazah Siska, Amira pun mendekat ke arah dua anak yang sedang kehilangan sang mama.
"Kalian yang sabar ya... do'akan mama kalian agar tenang disana..." ucapnya lembut sambil mengelus puncak kepala Ayana dan Deni.
Kedua anak itu pun tampak menangis tergugu. Apa lagi saat Amira memeluk keduanya dengan lembut. Sungguh tanpa orang lain tahu saat ini kedua anak itu sedang dalam ketakutan yang sangat setelah kematian sang mama. Karena ada seorang pembunuh sedang berkeliaran di rumah mereka.
"Ayah... bunda... boleh aku menginap disini untuk menemani Aya?" pinta Dira pada kedua orang tuanya.
Tuan Sam dan Amira saling pandang, selama ini Dira belum pernah menginap di rumah temannya. Dan ini yang pertama, itu pun karena mereka yakin jika Dira ingin menghibur sahabatnya yang sedang berduka.
"Jika papa Aya memperbolehkan... ayah setuju saja" jawab tuan Sam sambil memandang Rendra meminta izin dari pria itu.
"Iya... tidak apa-apa... lagi pula Ayana pasti senang ada yang menemaninya..." sahut Rendra sambil tersenyum dan memandang putrinya.
"Baiklah... biar nanti sopir yang akan mengantarkan baju gantinya..." ucap tuan Sam yang tidak ingin putrinya merepotkan keluarga temannya, apalagi mereka tengah berduka.
Tepat setelah sholat dhuhur jenazah Siska dikebumikan. Tampak raut wajah sedih pada keluarga yang ditinggalkan. Terutama kedua anak wanita itu yang kini menjadi piatu. Setelah acara pemakaman, tuan Sam dan Amira yang tengah berjalan ke arah mobil mereka terkejut saat Keysha menghadang keduanya. Wajah tuan Sam langsung mengeras saat wanita yang telah banyak melakukan kesalahan padanya itu berani menampakkan diri dihadapannya. Amira yang melihat sikap suaminya langsung mengelus lengan suaminya agar pria itu mau menahan emosinya.
"Maafkan aku Sam... Amira... aku mohon maaf atas kesalahanku dulu... terutama kamu Sam... maaf dulu aku begitu egois dan bahkan tega mencelakai Karina..." ucap Keysha tulus.
Ya... sejak tadi di rumah duka ia sudah memikirkannya. Apa lagi sebelum Siska meninggal, wanita itu juga sudah sempat menasehatinya. Amira dan tuan Sam pun dapat melihat ketulusan dimata Keysha. Terlihat wanita itu sudah banyak berubah setelah terakhir kali pertemuan mereka.
"Kami sudah memaafkanmu sejak lama... semoga kau tidak mengulangi lagi kesalahanmu di masa lalu Key..." kata tuan Sam yang membuat Keysha menghembuskan nafasnya lega.
"Terima kasih... aku juga minta maaf atas nama Siska... dia hanya ingin melindungiku saat itu..."
"Kami tahu... kami juga sudah memaafkannya, apa lagi kini dia sudah tenang disana..." sahut tuan Sam.
"Sekali lagi terima kasih... aku permisi..." pamit Keysha.
Amira dan tuan Sam pun mengangguk.
"Alhamdulillah Db... Keysha tampaknya sudah berubah..." ucap Amira saat Keysha menjauh dari mereka.
"Iya... semoga dia tetap berjalan di jalan yang benar..." sahut tuan Sam.
Setelah pemakaman Siska, Dira benar-benar menginap di rumah Ayana untuk menghibur sahabatnya itu. Sedari sore Ayana mengurung dirinya di dalam kamar. Begitu juga dengan Deni. Namun bocah itu malah ikut di dalam kamar sang kakak. Keduanya ditemani oleh Dira.
Malam harinya...
"Ay... kamu makan ya... dari pagi kamu dan Deni belum makan kan?" ajak Dira.
"Aku ga lapar Ra..." sahut Ayana lirih.
"Den... kamu juga makan ya..." bujuk Dira pada Deni berharap bocah itu menurut dan bisa membuat Ayana juga ikut makan.
Namun Deni pun hanya menggelengkan kepalanya.
"Kenapa? kamu pasti laparkan?" tanya Dira.
"Aku ga akan makan kalau kak Aya juga ga makan" sahut Deni yang membuat Ayana langsung menoleh ke arah sang adik.
"Lihatlah Ay... Deni juga ga mau makan... lebih baik kamu makan ya... jadi Deni juga mau makan" bujuk Dira tak mau menyerah.
Melihat wajah adiknya yang terlihat sedikit pucat membuat Ayana trenyuh. Ia tahu jika keduanya bahkan belum makan sejak semalam. Bagaimana mungkin mereka bisa menelan makanan jika keduanya masih teringat dengan kematian sang mama yang sangat tragis.
"Ay... kasihan mama kalian... pasti tidak tenang disana jika melihat anak-anaknya kelaparan..."
Akhirnya Ayana pun mengangguk. Dira pun menyiapkan makanan yang tadi sudah dibawanya dari dapur untuk mereka bertiga. Kemudian ketiganya pun makan dalam diam. Sesekali air mata Ayana menetes mengingat sang bunda. Begitu juga dengan Deni tak berbeda keadaannya dengan sang kakak. Setelah makan ketiganya kembali terdiam. Mereka sibuk dengan fikiran mereka masing-masing.
"Ay... aku mau sholat isya'... kamu sama Deni mau ikut sholat berjamaah?" tanya Dira saat melihat jam dinding yang menunjukkan pukul 8 malam.
Ayana dan Deni sedikit tersentak. Jujur selama ini keduanya jarang menjalankan ibadah yang satu itu. Siska dulu memang sering mengingatkan keduanya namun tetap saja tanpa contoh dari keluarga yang lain membuat keduanya terkadang malas menjalankan ibadahnya. Kedua kakak beradik itu pun akhirnya mengangguk. Dan mereka bertiga menjalankan ibadahnya dengan Deni sebagai imam. Selesai beribadah Ayana dan Deni merasakan ketenangan. Fikiran mereka pun sedikit terbuka dan tidak terlalu larut dalam kesedihan. Apa lagi Dira juga mengajak keduanya untuk membacakan ayat Al- Quran untuk mendo'akan mama mereka.
"Terima kasih Ra... karena kamu hati kami merasa tenang sekarang..." ucap Ayana saat mereka baru saja selesai berdo'a.
"Sama-sama Ay... aku juga senang jika kamu sekarang sudah merasa lebih tenang" sahut Dira.
Kemudian mereka pun memutuskan untuk beristirahat. Namun Deni tidak mau kembali ke kamarnya sendiri karena dia masih takut dengan pembunuh mamanya yang berkeliaran di rumah mereka. Akhirnya mereka bertiga tidur dalam satu kamar. Sebenarnya Ayana pun memiliki ketakutan yang sama dengan sang adik namun ia tidak mau menunjukkannya apa lagi ada Dira yang belum tahu apa-apa. Gadis itu masih berperang dalam hatinya untuk memberitahukan yang sebenarnya pada Dira atau tidak. Karena ia takut untuk melibatkan sahabatnya itu dalam permasalahannya apa lagi hal itu dapat mengancam nyawa. Namun ia juga tidak bisa memendamnya sendiri. Adiknya Deni masih terlalu kecil untuk dapat ia ajak bertukar fikiran dalam menghadapi masalah yang terjadi. Dan trauma karena melihat pembunuhan mama mereka membuat Ayana tak tega dengan sang adik.
"Mungkin lebih baik aku jujur pada Dira... dia gadis yang cukup dewasa dan dapat dipercaya..." batin Ayana sambil memandang wajah sahabatnya yang tertidur di sampingnya.
Ayana pun mencoba untuk mengistirahatkan tubuhnya sebelum besok ia akan menceritakan semuanya pada Dira. Ia pun akhirnya tertidur dengan memeluk tubuh adiknya Deni yang berada di samping kirinya.