BODYGUARD DADAKAN

BODYGUARD DADAKAN
Ancaman Baru


Seharian ini Raja menemani Sultan bermain. Meski begitu Raja tidak bisa menikmati waktunya bersama sang putra. Fikirannya terbelah setelah mendengar kabar Julio melarikan diri. Meski ia sudah mengabarkan pada tuan Sam dan tuan Bram namun tetap saja ia tidak merasa tenang. Semua orang menyuruhnya untuk tetap tenang dan tetap berada di samping Anna, karena jika Julio ingin menghabisi keturunan Raja maka pria itu pasti akan ke Inggris mencari Anna.


"Papa! aam... yuk!" oceh Sultan sambil menyodorkan potongan buah pada Raja.


Raja menoleh dan tersenyum pada putranya itu.


"Aaa..." Raja pun membuka mulutnya agar Sultan bisa menyuapinya.


Bocah itu pun menjerit lirih saat Raja pura-pura menggigit jemarinya yang gemuk.


"Papa... akal! atit pa..." ujarnya dengan memasang wajah memelas.


"Maafin papa ya..." ucap Raja sambil mengelus jemari Sultan serta meniupnya lembut.


Bocah yang hampir berusia dua tahun itu tampak terkekeh karena geli akibat Raja yang meniup jemari tangannya. Sore harinya sebelum Anna pulang dari rumah sakit Raja mengantarkan putranya kembali ke apartemen Anna. Raja bahkan sudah memandikan dan mengganti pakaiannya. Bi Siti yang melihat itu tersenyum bahagia.


"Andai saja non Anna tahu... dia pasti sangat bahagia... ya Allah mudahkanlah jalan mereka untuk bisa segera bersatu dan jauhkanlah dari segala mara bahaya..." do'anya dalam hati.


"Aku titip Sultan ya bi..." ucap Raja saat berpamitan untuk kembali ke apartemennya.


"Iya tuan..." sahut bi Siti sambil tersenyum.


"Baik-baik ya boy... jangan nakal sama mama!" kata Raja pada putranya.


Seolah mengerti bocah itu pun menganggukkan kepalanya.


"Yes papa!" sahutnya yang membuat Raja gemas pada putranya itu.


Diciumnya pipi gembul Sultan cukup lama membuat bocah itu kembali terkekeh geli karena terkena bulu halus pada rahang Raja. Setelah itu Raja pun bergegas kembali ke apartemennya karena Anna sebentar lagi datang. Benar saja... baru saja Raja menutup pintu apartemennya, Anna keluar dari dalam lift. Wanita muda itu tampak kelelahan karena hari ini ia sangat sibuk di rumah sakit. Namun wajahnya masih terlihat cerah apa lagi saat sampai di dalam apartemen ia melihat putranya sudah rapi menyambut kedatangannya.


Sementara itu di belahan dunia yang lain...


Seorang pria tengah menelfon orang kepercayaannya dari dalam sebuah pondok kayu di tengah hutan.


"Bagaimana? apa kau sudah bisa membawaku keluar dari tempat ini?" tanyanya dengan tidak sabar.


"Iya tuan... besok saya akan menjemput tuan dan kita akan menyeberang ke Mexico, ada titik dimana mereka tidak melakukan penjagaan karena menganggap tempat itu terlalu ekstrim untuk dilewati... tapi saya jamin tuan akan aman melewatinya..." terang anak buah Julio.


"Baiklah Mac... aku percaya padamu! aku tidak ingin menghabiskan sepuluh bulan lagi untuk bisa menghabisi keturunan Jimmy..."


"Iya tuan... saya mengerti"


Julio pun mematikan ponselnya dan segera mengemas barang-barang yang sekiranya ia butuhkan saat akan menyeberang ke Mexico. Bukan hanya barang kebutuhan hidup... tapi dokumen dan juga uang serta beberapa surat berharga yang bisa ia gunakan untuk melanjutkan hidupnya setelah ia menghabisi keturunan Jimmy.


Jika saja istri Jimmy melahirkan seorang putri mungkin ia akan melepaskannya... tapi wanita itu malah melahirkan bayi laki-laki. Itu artinya Jimmy masih memiliki garis keturunan yang akan membawa namanya. Jadi Julio tidak akan menerimanya... jika garis keturunan keluarganya berakhir maka begitu juga dengan Jimmy. Pria itu tidak boleh memiliki keturunan yang akan membawa namanya nanti.


Karena itu saat ia bisa melarikan diri Julio sudah merencanakan akan menghabisi keturunan Jimmy dengan tangannya sendiri mumpung bocah itu masih kecil dan belum bisa melawan. Baginya lebih baik membunuh anak kecil dari pada menunggu mereka dewasa dan akan melawannya kelak. Tidak ada hal adil di dalam kamusnya semua harus sesuai dengan keinginannya dan selalu menguntungkannya.


Sudah sepuluh bulan ia bertahan di tengah hutan karena penjagaan di perbatasan yang sangat ketat. Disamping itu anak buah Rudi juga ikut berjaga. Sepertinya pria itu juga ingin membalas kematian Jimmy bosnya. Julio harus bersabar mencari celah agar bisa ke Mexico dengan identitas palsunya. Baru kemudian ia akan pergi ke tempat keturunan Jimmy berada dan langsung menghabisinya.


Pagi mulai datang... sinar mentari tampak malu-malu menembus kelebatan hutan saat seseorang mengetuk pintu pondok dimana Julio tinggal. Dengan tergesa Julio yang memang sudah menunggu hingga tidak bisa tertidur dengan tenang sejak semalam langsung membukakan pintu. Di depan pintu pondok tampak seorang pria kulit hitam tersenyum padanya.


"Selamat pagi bos!"


"Pagi... bagaimana? apa kita bisa berangkat sekarang?" tanya Julio tidak sabar.


"Apa tidak sebaiknya bos sarapan dulu? perjalanan kita sangat jauh dan berbahaya bos..." kata pria itu yang ternyata adalah Mac.


Sebenarnya ia sendiri juga sangat lapar karena semalaman berjalan menembus hutan demi menghindari petugas yang mengawasi perbatasan. Julio mendengus kesal... tapi apa yang dikatakan oleh anak buahnya itu benar. Ia belum sarapan... dan ia tidak mungkin bisa makan di jalan seenaknya karena medan yang sulit serta berusaha menghindar dari para Ranger yang berjaga.


Dia pun mempersilahkan Mac untuk masuk. Untung ia masih mempunyai sisa roti dan daging ham serta makanan kaleng yang beberapa waktu lalu dikirimkan oleh anak buahnya yang lain. Keduanya pun langsung makan dengan lahap meski hanya menu sederhana. Setelahnya mereka pun segera beranjak dari tempat itu dan menyusuri hutan dengan panduan peta yang dibawa oleh Mac.


"Jangan khawatir tuan... saya tahu bagaimana cara melewati tempat ini..." kata Mac yang tahu jalan fikiran tuannya.


Segera pria itu mengeluarkan sesuatu dari dalam ransel besarnya. Ternyata itu semacam parasut yang sudah disiapkan oleh Mac sebelumnya. Setelah memasangkan parasut pada dirinya sendiri Mac mengajak Julio untuk ikut dengannya.


"Apa yang akan kau lakukan Mac?"


"Kita akan melakukan paragliding tuan... hanya dengan cara ini kita bisa melewati jurang di depan sana..." terang Mac.


Julio pun akhirnya menurut dan mengikuti semua instruksi dari Mac. Mereka pun membuat ancang-ancang setelah Julio memasang pengaman ditubuhnya bersama Mac. Keduanya pun berlari menuju ujung tebing demi mendapatkan angin. Mac bertindak sebagai pilot tandem paragliding. Julio hanya pasrah duduk di depan karena ia sama sekali buta tentang hal ini. Sementara Mac sebenarnya baru pertama kali ini menjadi pilot. Selama lima bulan terakhir ia memang kursus paragliding demi bisa menyelamatkan tuannya. Tapi ia tentu saja tidak bisa jujur pada Julio karena bisa-bisa ia yang akan kehilangan nyawa.


Beruntung angin bertiup cukup kencang membuat mereka bisa langsung terbang ke udara. Meski baru pertama kali menjadi pilot namun Mac cukup mahir karena dulu ia juga sering melakukan olah raga eksrim lain seperti terjun payung. Hampir satu jam lamanya mereka mengudara. Setelah beberapa kali mencari tempat pendaratan akhirnya mereka pun mendarat dengan aman di sebuah padang rumput. Mac langsung membereskan peralatannya agar tidak meninggalkan jejak. Sementara Julio langsung menghubungi anak buahnya yang lain untuk menjemput mereka.


Butuh waktu selama dua jam sebelum akhirnya anak buahnya yang lain tiba untuk menjemput Julio. Setelah itu mereka langsung pergi ke tempat aman yang mereka siapkan untuk bos mereka. Setelah itu mereka akan membawa Julio ke bandara agar bisa segera ke Inggris. Selama perjalanan menuju markasnya Julio tampak terus mengembangkan senyumnya.


"Kali ini semua akan berjalan sesuai dengan rencanaku... Jimmy, sebentar lagi kau akan berkumpul dengan keluarga kecilmu di neraka..." batin Julio.


Sedang di Oxford, Anna tampak sedang berdebar karena ini adalah hari dimana ia akan melaksanakan wisudanya. Ya... Anna berhasil menyelesaikan pendidikannya tepat waktu. Dan kini saatnya ia mendapatkan gelarnya. Hari ini dimana ia mendapatkan gelar yang selama ini ia perjuangkan membuatnya teringat pada Raja. Meski sudah lebih dari dua tahun pria itu tiada namun Anna masih saja merindukannya. Apa lagi pria itu juga sering mendatanginya dalam mimpi. Membuat Anna gagal move on. Ditambah adanya Sultan membuat Anna semakin menutup hatinya dari pria lain.


Namun tampaknya hal ini sama sekali tidak membuat keluarganya keberatan. Mereka juga sama sekali tidak pernah menyinggung agar Anna mencari pengganti Raja. Dan hari ini kerinduan Anna pada suaminya semakin menjadi karena teringat pengorbanan suaminya itu yang rela pindah dari New York demi menemaninya kuliah di Oxford.


"Andai saja kau masih berada disini MB..." gumam Anna sambil memandangi foto Raja di ponselnya.


"Anna!" panggil Risa yang juga datang untuk menghadiri acara wisudanya.


"Risa!"


"Selamat ya Ann... akhirnya kau bisa meraih cita-citamu..." ucap Risa sambil memeluk Anna erat.


"Terima kasih Ris... selamat juga kau sebentar lagi akan menjadi ibu..." sahut Anna yang melihat sahabatnya itu tengah berbadan dua.


Ya Risa memang sedang mengandung anak pertamanya setelah menunggu hampir dua tahun.


"Selamat ya Ann..." ucap Zaeed menyalami Anna.


"Terima kasih..."


"Dimana keluargamu Ann?" tanya Risa.


"Itu mereka!" tunjuk Anna pada keluarganya yang terlihat heboh karena memperebutkan Sultan.


Sultan memang selalu jadi rebutan karena sampai saat ini ialah cucu satu-satunya di dalam keluarga. Tibalah saat dimana para wisudawan untuk berfoto bersama keluarga masing-masing setelah mereka sebelumnya berfoto bersama sesama wisudawan. Saat mereka berfoto Anna merasa sedikit sendu karena tak ada Raja disisinya. Seandainya saja bisa ia ingin dapat berfoto bersama suaminya itu dan juga putranya.


"Ayo Ann... lihat kemari! iya... begitu... tersenyum!" perintah Adit yang kali ini menjadi fotografer dadakan.


Anna pun menyunggingkan senyuman terbaiknya. Saat ini ia tengah difoto berdua bersama putranya Sultan. Saat itu di sekitarnya juga banyak wisudawan lain yang juga tengah berfoto sehingga Anna tak menyadari jika saat ini disebelah putranya telah berdiri seseorang yang amat dirindukannya.


"Sudah!" seru Adit yang mendapatkan foto yang diinginkannya.


"Bagaimana hasilnya?" tanya Anna penasaran.


"Nanti aku kirimkan langsung ke ponselmu kak" ujar Adit sambil mengotak atik ponselnya.


Tak lama terdengar notif pada ponsel Anna yang menandakan jika Adit telah mengirim foto-foto yang telah di rekamnya. Anna langsung tersenyum bahagia saat melihat hasil jepretan Adit tadi.


"Oke... sekarang kita semua akan berfoto bersama!" kata tuan Bram.


Ia pun menyuruh asistennya untuk mengambil gambar mereka sekeluarga bersama dengan keluarga tuan Sam dan juga Dave. Senyum mengembang diwajah mereka terutama seseorang yang berada dibelakang Sultan dan tepat disamping belakang Anna.