BODYGUARD DADAKAN

BODYGUARD DADAKAN
Kembali Sadar


Sudah dua hari Sadira tidak sadarkan diri dan dirawat di ruang ICU. Ayana yang mendapatkan kabar dari Amira tentang keadaan gadis itu pun merasa sangat sedih dan khawatir. Sayangnya ia masih berada di sekolah asrama sehingga tidak leluasa untuk izin keluar. Namun ia berjanji akan segera menjenguk Sadira saat libur akhir pekan tiba. Sementara Bara keadaannya semakin membaik. Tuan Sam juga sudah menemui pemuda itu secara langsung dan mengucapkan terima kasih karena sudah menolong putrinya meski akhirnya Bara ikut terluka. Yuda tampak bangga pada sang putra yang benar-benar menunjukkan tanggung jawabnya dalam menjalankan tugasnya. Sementara Rania tampak agak syok saat mengetahui jika Sadira ternyata merupakan putri pengusaha ternama di kotanya.


Bahkan para sosialita temannya selalu saja menyanjung istri pengusaha itu yang terkenal low profile. Amira memang hanya sesekali bergaul dengan para sosialita dan hanya sebatas mengikuti acara amal dan tidak dengan yang lainnya. Bara tampak memberanikan diri untuk meminta izin pada tuan Sam agar bisa menjenguk Sadira. Tanpa fikir panjang tuan Sam pun langsung mengizinkannya. Bara langsung melonjak girang di dalam hatinya saat mendapatkan izin dari tuan Sam. Rasa rindunya sungguh sudah tidak tertahan pada gadis pujaannya itu.


Malam harinya dengan menggunakan kursi roda, Bara meminta diantarkan oleh seorang perawat untuk melihat keadaan Sadira saat kedua orangtuanya sedang kembali ke rumah. Kedua mata Bara memanas saat memandang gadis yang dicintainya itu tergeletak tak berdaya di dalam ruang ICU dengan berbagai alat penunjang kesembuhannya. Ia pun meminta izin pada Amira untuk menemui Sadira. Amira yang masih setia menunggui sang putri pun mengabulkannya saat Bara sudah mengatakan siapa dirinya.


Perlahan Bara mendorong kursi rodanya memasuki ruang ICU. Tampak Sadira masih terlelap dengan alat bantu pernafasannya. Dengan bergetar Bara mencoba untuk menggenggam tangan Sadira yang putih. Didekatkannya telapak tangan Sadira di pipinya.


"Aku sudah ada di sini Ra... bangunlah sayang..." ucapnya sambil menggenggam tangan Sadira erat.


Tak terasa air matanya pun langsung menetes di pipi pemuda itu dan tanpa ia sadari air matanya itu ikut membasahi punggung telapak tangan Sadira. Hati Bara terasa sakit saat melihat Sadira yang masih tidak sadarkan diri. Bara memejamkan matanya menikmati sentuhan tangan Sadira yang terasa sedikit dingin. Tiba-tiba ia merasa sesuatu bergerak perlahan dan itu adalah jemari Sadira. Cepat Bara membuka matanya mencoba memastikan jika yang baru saja ia rasakan benar jemari Sadira. Dan benar saja, terlihat jemari Sadira perlahan bergerak bahkan mulai menyentuh pipinya.Tak lama mata gadis itu pun ikut mulai terbuka.


"Ra..." panggil Bara lembut.


"Ka... kak..." sahut Sadira lirih saat gadis itu sudah benar-benar membuka matanya.


"Alhamdulillah... kamu benar-benar sudah sadar Ra..." seru Bara bahagia.


Dengan cepat ia pun memanggil perawat dengan memencet tombol di sebelah brankar Sadira. Tak lama perawat dan dokter pun datang dan Bara dipersilahkan untuk menunggu di luar. Amira yang melihat dokter dan perawat berlari masuk ke dalam ruangan Sadira pun tampak cemas, ia takut terjadi sesuatu yang buruk pada putrinya itu. Bara yang terlihat keluar dari ruang ICU tak lama setelah dokter dan perawat masuk pun langsung mendapatkan pertanyaan dari Amira. Dan Bara pun memberikan jawaban yang sangat membahagiakannya. Bagaimana tidak... putrinya kini telah sadar... dan tengah diperiksa oleh dokter yang merawatnya.


Tak lama terlihat seorang gadis berhijab berlari ke arah Amira dan langsung memeluk wanita itu dengan erat.


"Tante..."


"Ayana..."


"Bagaimana keadaan Sadira tante? maaf aku baru bisa kemari..." ucap Ayana sendu.


"Tidak apa-apa sayang... kau tahu... baru saja Sadira sadar dan sedang diperiksa oleh dokter..." terang Amira yang membuat Ayana berseru bahagia.


"Alhamdulillah ya Allah..." ucapnya penuh syukur.


Tuan Sam dan kedua putra kembarnya pun terlihat datang dan segera mendekat saat melihat Amira dan yang lainnya berkumpul di depan ruangan Sadira.


"Ada apa Meyaa? apa yang terjadi pada putri kita?"


"Dira... Db, dia sudah sadar..." ucap Amira langsung memeluk suaminya.


"Alhamdulillah..." ucap tuan Sam dan kedua putra kembar mereka.


Bara tampak terdiam diatas kursi rodanya. Ia tengah mengira-ngira siapa dua pemuda kembar yang datang bersama tuan Sam. Bukan tanpa alasan, karena jujur saja ia agak merasa cemburu melihat kedekatan keduanya dengan tuan Sam dan istrinya.


"Ayana... kamu disini nak?" tanya tuan Sam pada Ayana.


Sementara Sahir tampak memandang Ayana dengan datar.


"Iya om... saya baru saja datang dari asrama..." terang Ayana.


"Terima kasih sudah mau datang menjenguk Sadira..." ucap tuan Sam.


"Sama-sama om... lagi pula Dira sahabat saya... dan dia telah membantu banyak pada saya..." sahut Ayana tulus.


"Oh iya... Bara... kamu juga disini?"


"Iya om... saya baru saja menjenguk Dira..." ungkap Bara.


Sementara tuan Sam dan kedua kakak Sadira menatap Bara penuh tanya yang membuat pemuda itu salah tingkah. Untung saja saat itu dokter keluar dari ruangan ICU dan membuat perhatian semua orang langsung teralihkan.


"Bagaimana keadaan putri saya dokter?" tanya tuan Sam.


"Syukurlah... putri anda telah melewati masa kritisnya dan bisa segera dipindahkan ke ruang perawatan biasa..." terang sang dokter yang membuat tuan Sam dan yang lainnya merasa lega.


Setelah dokter pergi, tak lama ruang ICU pun terbuka dan tampak Sadira keluar dibawa oleh para perawat menggunakan brankar menuju ruang perawatan biasa. Semua orang pun langsung mengikutinya termasuk Bara. Dengan dibantu oleh perawat yang tadi mendampinginya. Setelah dipindahkan ke ruang VVIP Sadira sudah diperbolehkan untuk dijenguk asal tidak terlalu lama. Meski Bara ingin ikut menjenguk Sadira di ruang perawatan, namun perawat yang mengantarnya mengatakan jika ia harus segera kembali ke ruangannya karena sudah pergi terlalu lama. Bara pun tidak bisa membantah dan hanya bisa menurutinya.


Sementara di ruang perawatannya, Sadira tampak mulai membaik apa lagi Ayana juga berada di sampingnya. Namun sebenarnya ada seseorang yang ia cari sedari tadi. Bara... ya... Bara... rasanya tadi ia melihat cowok itu menjenguknya di ruang ICU sebelum dokter dan perawat datang untuk memeriksanya. Apakah tadi ia hanya bermimpi saja? Sadira merasa sedih... entah mengapa ia berharap jika tadi yang dilihatnya benar Bara. Tapi ia tidak bisa bertanya langsung pada keluarganya karena bisa-bisa kedua kakak kembarnya akan langsung mengolok-oloknya.


"Apa benar itu tadi kamu kak? jika benar, dimana kamu sekarang?" batin Sadira dengan hati gelisah.


Perlahan ia mengingat saat terakhir ia bersama Bara sebelum akhirnya ia tidak sadarkan diri.


"Apa kamu yang membawaku ke perkemahan kak?" batin Sadira lagi.


Ia ingat jika malam itu mereka berdua kehujanan semalaman. Tapi meski telah berlindung di bawah pohon yang cukup besar, namun tetap saja tidak bisa melindungi mereka berdua dari derasnya air hujan. Sementara Bara yang baru saja merebahkan dirinya langsung merasa terganggu dengan kedatangan Naya. Gadis itu sengaja datang dengan membawa berbagai macam buah tangan untuk menarik perhatian Bara.


"Malam Bara... gimana? kamu udah baikan kan?" tanya Naya sambil tersenyum manis.


Namun sayang Bara malah menampakkan wajah datar dan enggan menjawab pertanyaannya. Naya pun menjadi kikuk tak tahu harus berkata apa agar suasana diantara keduanya menjadi cair. Untung saja tak lama kedua orangtua Bara datang yang membuat Naya merasa sedikit lega karena Raisa yang begitu ramah padanya. Tapi itu pun tak lama karena Bara langsung berkata jika ia mengantuk dan langsung memejamkan matanya. Meski Rania masih ingin agar Naya berlama-lama di ruangan Bara, namun bagi gadis itu jika Bara tidur maka itu tidak ada gunanya. Sebab yang ia inginkan adalah dekat dengan Bara dan bukan ibunya.


Karena itulah Naya pun segera pamit pulang dengan alasan sudah malam. Rania pun maklum dan membiarkan gadis itu pulang. Sementara Yuda tampak tidak begitu menyukai Naya. Sebab gadis itu mengingatkannya pada gadis-gadis macam Maya dan Celia. Mereka adalah gadis masa lalu Yuda yang memiliki karakter hampir sama dengan Naya, manja dan memandang rendah orang lain. Serta menganggap jika semua keinginannya harus terpenuhi bagaimana pun caranya.


"Ma... mama menyukai gadis itu?" tanya Yuda saat Naya sudah meninggalkan ruang perawatan Bara.


"Tentu saja pa... Naya gadis yang cantik dan manis... siapa yang tidak akan menyukainya?"


Yuda menghela nafasnya pelan. Ia tak mengerti mengapa istrinya tidak bisa merasakan jika gadis seperti Naya itu penuh kepalsuan.


"Kenapa pa? apa papa tidak menyukainya?" tanya Rania tak mengerti jalan fikiran suaminya.


"Apa mama yakin dia benar-benar tulus ma? jangan sampai kejadian mama dulu terulang pada Bara..." sahut Yuda terpaksa mengingatkan luka lama sang istri yang pernah terluka akibat pengkhianatan wanita yang dianggapnya baik dan tulus namun ternyata malah menusuknya dari belakang dan malah merebut suaminya.


"Maksud papa apa?" tanya Rania dengan wajah memerah saat teringat dengan luka lama yang telah ia kubur dan lupakan.


"Papa hanya berharap mama bisa bersikap netral dan tidak langsung percaya pada sikap manis seseorang... karena bisa saja mereka hanya menutupi sifat aslinya..." ucap Yuda tegas.


Sebagai seorang pria yang dulu sudah sering berhubungan dengan wanita macam Naya, ia bisa langsung merasakan jika gadis itu termasuk gadis yang memiliki sifat culas. Sikap manisnya hanya ditujukan untuk meraih apa yang diinginkannya. Rania tampak tertegun dengan ucapan Yuda. Dalam hatinya ia mulai berfikir apakah perkataan suaminya itu ada benarnya? Memang saat berkata jika Dira itu gadis manja pembuat masalah ia langsung merasa marah karena melihat putranya jadi terluka sehingga ia pun langsung percaya begitu saja perkataan Naya tanpa menyelidiki kebenarannya.


Sementara saat ia bertemu dengan ayah gadis itu ia baru tahu jika Dira adalah putri tuan Sam. Dan perkataan Yuda barusan seperti menyadarkannya karena para teman sosialitanya juga sering berbincang tentang keluarga tuan Sam yang terkenal harmonis dan memilki anak-anak yang pintar dan mandiri. Jadi benarkah gadis itu manja dan pembuat masalah seperti perkataan Naya? atau mungkinkah Naya telah berbohong demi mendapat perhatiannya?


Yuda mendudukkan dirinya diatas sofa dan memilih untuk memejamkan matanya sebentar. Sedang Bara yang ternyata masih belum tertidur tersenyum saat mendengar pembelaan Yuda pada Sadira. Ia yakin sang papa akan merestui hubungannya dengan Sadira. Rasanya Bara ingin agar waktu cepat berganti pagi agar ia bisa kembali mengunjungi Sadira. Dia benar-benar merindukan gadis itu meski baru beberapa jam yang lalu mereka bertemu. Apa lagi ia masih ingin menyatakan perasaannya pada gadis yang telah mengisi hatinya itu dan berharap gadis itu pun memiliki perasaan yang sama dengannya.


Keesokan harinya...


Sadira sudah tampak jauh lebih baik. Ayana yang datang pagi-pagi sekali untuk menemani sahabatnya menggantikan Amira membuat Sadira semakin bersemangat. Kedua gadis itu tampak menghabiskan waktu saling bertukar cerita. Saat keduanya tengah bercengkrama terdengar suara pintu ruang perawatan Sadira diketuk dari luar. Keduanya langsung saling pandang, karena biasanya jika Amira atau keluarga Sadira yang lainnya datang, mereka akan langsung masuk ke dalam tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.


Kreet....


"Selamat pagi Dira..." sapa seseorang yang membuat wajah Sadira langsung merona...


Ayana yang melihatnya pun langsung tersenyum menyadari jika ada yang berbeda pada sahabatnya itu.