
Samir terlihat sangat bahagia saat keluar dari kamarnya sore itu. Amira yang tengah membuat camilan bersama Sadira pun langsung bertanya saat melihat putranya seperti hendak pergi keluar.
"Kamu mau ke mana Sam?"
"Aku mau keluar sebentar bunda... temanku mengajak ketemuan..." sahut Samir sambil tersenyum.
"Teman apa pacar?" potong Sadira yang melihat gelagat kakaknya yang terlampau bahagia untuk sekedar bertemu dengan seorang teman.
"Heh anak kecil... mau tahu urusan orang dewasa aja..." potong Sahir yang membuat Sadira mengerucutkan bibirnya sebal.
Bukan tanpa alasan Sahir melakukannya, sebab ia sudah bisa menduga jika Samir hendak pergi menemui Hana. Ia sengaja membiarkan adiknya itu untuk berjuang mendapatkan kekasih hatinya. Samir yang merasa tertolong mengucapkan terima kasih pada Sahir dengan pandangan matanya. Sedang Sahir membalasnya dengan isyarat tangan agar sang adik tetap bersemangat mengejar Hana. Karena ia merasa jika ang adik memang cocok dengan gadis itu.
Tak butuh waktu lama Samir sudah sampai di rumah Hana. Di depan rumah tampak Hana sudah menunggunya. Samir keluar dari dalam mobil dan segera menghampiri gadis itu. Hana tampak sangat cantik dan imut dengan mengenakan setelan kaos dan celana jins. Terlihat sederhana namun justru itu yang membuat Samir terpesona.
"Kakak sudah datang?" tanya Hana saat Samir mendekatinya.
"Iya... ayah dan ibumu mana? kakak harus pamit dan minta izin pada mereka..." sahut Samir gentle yang membuat Hana merona.
Rasanya sudah seperti kencan betulan saja.
"Iya kak... akan aku panggilkan..." kata Hana lalu gadis itu pun segera masuk ke dalam rumahnya.
Tak berapa lama tampak Hana keluar dengan seorang wanita dewasa yang kemungkinan adalah ibunya karena wajah mereka yang mirip.
"Assalamualaikum tante..."
"Waalaikum salam..."
"Saya Samir tante... saya teman Hana dan sore ini saya minta izin untuk mengajak Hana pergi keluar... bolehkan tante?"
Ibu Hana tampak tersenyum dan terpesona dengan sopan santun Samir. Meski pemuda itu mengatakan jika mereka berdua berteman, namun sebagai seorang ibu ia tahu jika pemuda yang ada dihadapannya ini tengah berusaha untuk mendekati putrinya Hana. Karena tadi Hana sudah menjelaskan siapa Samir yang ternyata merupakan kakak Sadira membuat ibu Hana merasa tenang melepas putrinya pergi bersama Samir.
"Boleh saja nak Samir... tapi tante minta jangan terlalu sore pulangnya... sebab Hana tidak terbiasa pergi berdua dengan teman prianya..."
"Iya tante... insyaallah sebelum maghrib Hana sudah saya antar pulang ke rumah..." kata Samir yang membuat ibu Hana semakin merasa lega.
"Ma... Hana pamit dulu..." ucap Hana sambil mencium punggung tangan mamanya.
"Saya juga tante..." sambung Samir yang juga melakukan hal yang sama dengan Hana yakni mencium punggung tangan ibu Hana.
"Wah... benar-benar anak yang sopan... cocok untuk dijadikan menantu..." gumam ibu Hana dalam hati sambil tersenyum.
Samir sengaja mengajak Hana ke mall untuk membeli kado seperti alasan yang ia kemukakan untuk mengajak gadis itu keluar berdua. Dengan polosnya Hana langsung menunjukkan tempat dimana mereka bisa membeli kado untuk adik teman Samir itu. Samir pun hanya mengikuti Hana karena sesungguhnya momen berdua seperti inilah yang diinginkannya.
"Kak... bagaimana jika kita ke toko perhiasan?" tanya Hana saat keduanya baru memasuki area mall.
"Baiklah... bagaimana menurutmu saja..." sahut Samir.
Hana pun mengajak Samir menuju toko perhiasan langganannya. Disana mereka langsung ditunjukkan beberapa model perhiasan yang cocok untuk para remaja. Karena Samir berkata jika usia adik temannya itu seumuran Hana. Lagi-lagi Hana tak merasa aneh dengan keterangan Samir. Gadis itu malah langsung sibuk memilih mana sekiranya perhiasan yang cocok untuk diberikan sebagai kado. Lalu mata gadis itu tertumbuk pada sebuah kalung dengan liontin berbentuk tetes air. Bentuknya yang sederhana dan mungil membuat gadis itu sangat menyukainya. Jika saja ia memiliki uang maka akan ia beli untuk dirinya sendiri. Sayang saat ini ia hanya sedang menemani Samir untuk membelikan kado.
"Apa kau menyukainya?" tanya Samir tiba-tiba yang membuat Hana sedikit terkejut.
Dengan gugup gadis itu pun tersenyum.
"Ah aku rasa yang ini bagus kak... sederhana namun terlihat indah dan mewah..." sahut Hana.
"Baiklah... kita ambil yang ini saja..." kata Samir yang langsung memanggil pegawai toko itu untuk membelinya.
Hana tampak kagum dengan sikap Samir, ia bahkan mulai berfikir jika Samir membeli kalung itu untuk seseorang yang istimewa seperti kekasih misalnya, dan bukan sekedar adik dari temannya. Memikirkan itu entah mengapa Hana merasa hatinya sakit. Sejak mengenal Sadira meski tidak pernah bertemu langsung dengan kedua kakak kembarnya, Hana sudah sering kali mendengarkan kisah tentang keduanya dari Sadira. Bahkan foto-foto mereka terpajang di beberapa sudut ruangan di rumah mereka. Dan tanpa ia sadari Hana jadi tertarik pada Samir yang mana dari cerita Sadira merupakan seorang yang bersifat ceria dan sedikit jahil.
Dan saat tadi pertama kali mereka bertemu langsung, Hana bisa langsung melihat perbedaan dari kedua kembar itu. Ya... ia langsung mengenali Sahir yang datar dan Samir yang ceria.
"Apa yang kau fikirkan Hana? mana mungkin kak Samir menyukaimu pada pertemuan pertama... apa lagi kini dia tengah membeli kado untuk seseorang yang istimewa... sedang kamu cuma gadis cupu yang selalu dibully jika tidak ada Dira..." batin Hana sambil memandangi Samir yang sedang melakukan pembayaran.
"Apa kau ingin membeli sesuatu mumpung kita masih di sini?" tanya Samir setelah menyelesaikan pembayarannya.
Hana hanya menggelengkan kepalanya pelan. Sungguh moodnya langsung hancur saat menyadari jika saat ini mungkin Samir telah memiliki tambatan hati. Tiba-tiba Samir menggandeng tangan Hana yang membuat gadis itu tersentak. Namun Samir justru terkesan cuek dengan tingkahnya.
"Ayo kita cari makan!" serunya sambil tersenyum dan menarik tangan Hana lembut.
Hana pun menurut dan mengikuti langkah Samir. Keduanya lalu pergi ke sebuah cafe yang ada di dalam mall tersebut. Di sana keduanya memesan minuman dan juga makanan ringan. Hana yang sempat bad mood, langsung berubah ceria saat Samir dengan mudah merubah suasana hatinya dengan lelucon dan juga candaannya. Tepat pukul lima sore keduanya keluar dari dalam mall. Dan Samir pun langsung mengantarkan Hana pulang ke rumahnya.
Sejak saat itu Samir jadi sering menghubungi Hana dan mengajaknya keluar setelah mendapatkan nomor ponsel gadis itu. Hana pun merasa bahagia meski ia masih belum berani menceritakan kedekatannya dengan Samir pada Sadira dan juga Ayana. Apa lagi masih ada hal yang mengganjal dihati Hana. Ya... ia masih mengira jika Samir sudah memiliki kekasih yang merupakan penerima kalung berliontin tetes air yang ia pilihkan.
Hingga dua minggu kemudian, tiba-tiba Samir menghubunginya dan memintanya untuk menemaninya pergi ke acara temannya. Hana merasa jika ini mungkin acara ulang tahun yang Samir katakan. Meski merasa enggan namun ia tidak bisa menolak ajakan Samir. Dan malam itu Hana pun berdandan untuk pertama kalinya karena akan pergi ke pesta bersama Samir. Bahkan ibunya merasa pangling saat melihat sang putri berhias. Meski hanya make up natural namun tetap saja Hana tampak menakjubkan.
"Wah... anak mama cantik sekali malam ini..." puji sang mama.
Hana hanya tersenyum kecil.
Ting... tong...
Terdengar bunyi bel yang menyelamatkan Hana dari godaan kedua orangtuanya.
"Assalamualaikum om... tante..." sapa Samir yang sudah berdiri di depan pintu saat Hana dan kedua orangtuanya membuka pintu.
"Waalaikum salam..." sahut ketiganya.
Saat melihat Hana, Samir tampak terpesona dengan penampilan gadis itu malam ini.
"Ehem..."
Deheman ayah Hana sontak membuat Samir tersadar dari rasa takjubnya. Samir pun langsung meminta izin pada kedua orangtua Hana untuk mengajak Hana pergi. Dan kedua orangtua Hana pun mengizinkannya asal tidak pulang larut. Samir pun menyanggupinya dan mereka berdua pun berpamitan. Selama perjalanan tampak Samir sesekali melirik ke arah Hana yang terlihat sangat cantik. Sementara Hana terlihat agak gugup. Bukan apa-apa... ia hanya sedang mempersiapkan hatinya saat nanti melihat Samir memberikan hadiahnya pada gadis yang dicintainya itu.
Setelah perjalanan dua puluh menit, mereka pun sampai di sebuah restoran yang bernuansa alam. Terlihat lampu-lampu dekorasi yang membuat suasana terlihat sangat romantis. Jujur Hana sangat kagum dengan suana itu. Tapi ada yang terasa agak aneh, karena tempat itu terlihat sepi untuk sebuah pesta ulang tahun. Sebab disana tidak terlihat siapa-siapa.
"Kakak... apa kita datang terlalu awal?" tanya Hana gugup.
"Tidak... kita datang tepat waktu" sahut Samir tenang.
"Tapi... tidak ada siapa-siapa disini, apa kita salah alamat?" tanya Hana lagi.
"Tentu saja tidak... karena aku yang memesan tempat ini untuk kita berdua..." sahut Samir yang membuat Hana terkejut.
"U... untuk kita berdua?"
"Iya... ayo kita masuk ke dalam..." ajak Samir sambil menggandeng tangan Hana.
"Tanganmu terasa dingin... apa kau gugup?" tanya Samir saat merasakan tangan Hana yang dingin.
Hana hanya bisa mengangguk karena saat ini mulutnya seakan terkunci karena mendapatkan kejutan dari Samir. Samir lalu mengajak Hana untuk duduk di sebuah meja yang khusus untuk dua orang. Dengan lembut Samir menarik kursi untuk Hana duduk, baru setelahnya ia pun duduk di depan Hana. Tak lama menu makanan mereka pun datang. Lagi-lagi Hana terkejut, karena itu adalah makanan kesukaannya.
"Apa kau menyukai makanannya?" tanya Samir saat Hana baru saja menyuapkan makanannya ke dalam mulut.
Hana kembali mengangguk. Samir tersenyum senang. Tidak sia-sia ia mengorek keterangan dari sang adik untuk mencari segala sesuatu tentang kesukaan Hana termasuk menu makanan favoritnya. Setelah selesai makan Samir mengajak Hana pergi ke sudut lain restoran. Ternyata di sana terpampang pemandangan kota di malam hari. Ya restoran itu memang terletak di atas bukit dekat kota yang memperlihatkan suasana kota di malam hari.
"Wah... indah sekali kak..." seru Hana.
"Apa kau belum pernah kemari?"
"Belum..." sahut Hana sambil menggelengkan kepalanya.
Rambut Hana yang tergerai malam ini tampak indah tertiup angin membuat sesekali memperlihatkan leher jenjangnya. Tiba-tiba Samir menggenggam tangan Hana yang membuat gadis itu sedikit tersentak dan menoleh ke arah Samir.
"Hana... ada yang ingin aku katakan padamu saat ini... aku harap kamu tidak merasa keberatan..." ucap Samir sambil menatap wajah Hana yang sudah mulai merona.
"Sebenarnya sejak pertama aku melihatmu, aku sudah merasa jatuh cinta... dan malam ini aku ingin memintamu untuk menjadi kekasihku... apa kamu bersedia?" tanya Samir yang membuat Hana langsung berkaca-kaca.
Sungguh ia sama sekali tidak menduga jika Samir juga memiliki perasaan yang sama dengannya.
"Hei... jangan menangis... aku tidak akan memaksamu jika kamu tidak mencintaiku..." ujar Samir sambil menghapus air mata Hana yang sudah menggenang disudut matanya.
"Bukan... bukan itu kak..." sahut Hana sambil menggelengkan kepalanya pelan.
"Aku... aku hanya tidak menyangka jika kakak juga mempunyai perasaan yang sama denganku... aku... aku juga mencintaimu kak..." sambung Hana yang membuat Samir langsung memeluk tubuh Hana dengan erat.
"Terima kasih... kamu sudah mau menerimaku cintaku Hana..."
Hana mengangguk di dalam pelukan Samir. Lama keduanya berada dalam posisi itu. Kemudian Samir mengurai pelukannya perlahan dan mengambil sesuatu dari dalam kantong celananya. Tampak sebuah kotak beludru berwarna biru tua di dalam telapak tangannya. Dan Hana pun langsung mengenalinya...
"Ini..."
"Ya... sesungguhnya aku membelinya untukmu Hana..." ucap Samir sambil membuka kotak itu dan mengambil kalung yang ada di dalamnya.
Perlahan Samir membalikkan tubuh Hana untuk membelakanginya. Lalu ia menyibakkan rambut Hana dan memasangkan kalung itu di leher jenjang kekasihnya itu. Hana mengelus liontin kalung itu dengan perlahan. Ia tidak menyangka jika kalung yang ia inginkan ternyata memang untuk dirinya.
"Terima kasih kak..." ucap Hana saat sudah berbalik ke arah Samir.
"Sama-sama..." sahut Samir lalu ia pun mengecup kening Hana dengan lembut.
Hana tampak memejamkan matanya meresapi apa yang dilakukan Samir padanya. Setelahnya Samir kembali memeluk tubuh Hana dengan lembut. Ia memang tak melakukan hal yang lebih karena ia dididik untuk tidak berlaku diluar batas sebelum resmi dalam pernikahan. Hana dan Samir menikmati pemandangan yang ada dihadapan mereka dengan saling berpelukan.
Di tempat lain tampak Ricko tengah uring-uringan karena papanya dan juga ibu tirinya tidak juga kembali ke rumah mereka dan betah tinggal bersamanya. Hal ini membuat pemuda itu mulai berfikir untuk kembali melakukan teror agar keduanya angkat kaki dari rumah sang kakek. Sebab sejak keduanya tinggal bersamanya ia tidak bisa lagi bebas pergi ke apartemennya untuk menikmati semua hasil karyanya tentang Sadira. Apa lagi akhir-akhir ini ia sulit menambah koleksi fotonya tentang Sadira akibat kesibukannya karena ulah sang papa yang menginginkannya belajar mengelola perusahaan setelah ia pulang dari kampusnya.
Hal ini tentu saja membuatnya jarang lagi berkumpul dengan teman sesama pecinta alam. Dan ini berarti ia jadi susah mendekati Sahir dan Samir agar ia bisa lebih dekat dengan Sadira. Kali ini Ricko mulai tersenyum misterius saat sebuah ide cemerlang melintas dikepalanya.
"Lihat saja... akan aku buat kalian menyesal sudah mengacaukan hidupku yang selama ini sudah tenang..."