BODYGUARD DADAKAN

BODYGUARD DADAKAN
Hadapi Bersama


Anna merasakan detak jantungnya berpacu dengan cepat. Keringat dingin juga mulai membasahi sekujur tubuhnya. Ia ketakutan bukan karena takut melawan orang itu secara langsung, tapi ia tidak ingin orang itu tahu jika Anna mulai mencurigainya. Anna ingin mengumpulkan bukti yang kuat agar bisa menyeret orang itu ke hadapan semua orang. Ia tidak boleh ketahuan sekarang. Orang yang kini ia lihat hanya kedua kakinya itu tampak tengah membuka lemari yang ada disana. Anna kembali menahan nafasnya karena takut jika orang itu menyadari jika ada yang telah membuka dan memeriksa lemari itu sebelumnya. Untung saja sepertinya orang itu tidak menyadarinya dan setelah mendapatkan yang ia mau orang itu pun lalu keluar dari dalam kamar.


Saat Anna mendengar suara gemericik air, ia tahu jika orang itu tengah berada di dalam kamar mandi. Kesempatan itu pun tidak disia-siakan oleh Anna. Ia pun segera merangkak keluar dari bawah tempat tidur dan segera keluar dari dalam kamar. Naas saat ia baru saja hendak membuka jendela agar bisa keluar dari dalam sana ia mendengar pintu kamar mandi terbuka. Panik ia pun segera menyembunyikan dirinya dibalik kursi yang ada di sudut ruangan itu. Untung saja keadaan tempatnya bersembunyi agak sedikit remang membuat Anna tidak terlihat.


Dari balik kursi tempat persembunyiannya Anna mengintip apa yang tengah dilakukan oleh orang itu. Alangkah terkejutnya Anna saat mendapati jika orang itu adalah Rahmat yang baru saja keluar dari kamar mandi. Terlebih saat ia melihat dengan jelas jika pria itu berjalan normal dan juga tidak membungkuk. Sepertinya dia baru saja membersihkan diri selepas dari kebun. Anna tidak bisa berkutik dari tempat persembunyiannya karena Rahmat tidak kembali masuk ke dalam kamar. Pria itu malah mengambil gelas dan menuangkan air minum lalu duduk santai di kursi seberang tempat kursi dimana Anna bersembunyi dibelakangnya.


Tampak Rahmat meminum air yang tadi diambilnya dan menghabiskannya dalam satu tegukan. Sepertinya dia memang sedang kehausan. Kejadian berikutnya membuat Anna kembali syok. Bagaimana tidak, didepan matanya terlihat Rahmat mulai melepaskan kumis dan jenggotnya yang ternyata palsu. Dan dia semakin syok saat mengetahui wajah asli Rahmat.


"MB!" serunya tanpa bisa menahan dirinya lagi.


Pria itu tampak kaget saat mendengar suara Anna. Apalagi saat ia melihat Anna yang keluar dari balik kursi yang ada diseberangnya.


"Honey Bee..." sahutnya dengan suara tercekat.


Anna tidak tahu lagi akan perasaannya saat ini. Rasa senang dan marah menjadi satu. Senang karena ternyata suaminya memang masih hidup. Marah karena ternyata pria itu selama ini telah membohonginya dengan kematian palsunya dan menyembunyikan keberadaannya dari dirinya.


"Kenapa? kenapa kau bohong padaku MB?" serunya dengan suara penuh luka.


"Apa kau sengaja ingin menyiksaku huh?" sambungnya dengan berderai air mata.


Raja langsung mendekat ke arah Anna dan menarik wanita itu ke dalam pelukannya. Anna tampak memberontak dan memukuli dada Raja dengan perasaan kesal. Air matanya pun semakin deras tertumpah.


"Maafkan aku Honey Bee... aku terpaksa..." bisiknya dengan suara bergetar.


"Aku harus melakukan ini agar Julio tidak lagi mengganggumu dan juga putra kita... aku menunggu hingga pria itu mendapatkan hukumannya barulah kita bisa kembali bersama" terang Raja masih memeluk erat istrinya itu yang kini tengah terisak di dalam pelukannya namun sudah tidak lagi memukuli Raja.


Perlahan pria itu pun mulai menceritakan semua yang terjadi pada dirinya. Tentang saat dimana ia sempat dinyatakan meninggal dunia namun kemudian dapat kembali lagi meski dalam keadaan koma. Juga tentang rencananya setelah ia bisa kembali normal setelah menjalani terapi yang cukup lama.


"Apa kau selalu berada di sekitar kami selama ini?" tanya Anna saat isakannya mulai mereda.


Raja menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


"Jadi... saat aku melahirkan putra kita itu benar kau yang ada disana?" tanya Anna penasaran.


"Iya Honey Bee... aku juga yang telah mengazankan putra kita..." ungkap Raja yang membuat Anna kembali terisak.


"Apa selama ini putra kita sudah sering bertemu denganmu MB? hingga tak sekali pun ia merengek ingin bertemu denganmu kecuali saat kami baru kembali kemari..."


"Benar Honey Bee... maaf... aku menemui putra kita diam-diam... hanya saja aku tidak dapat menahan diriku untuk tidak menunjukkan padanya jika aku papanya... aku juga ingin menemuimu... tapi untuk menemuimu langsung aku tidak bisa... hanya disaat kau tertidur saja aku baru bisa menemuimu"


"Jadi apa malam itu aku tidak sedang bermimpi?" tanya Anna merujuk pada mimpi-mimpinya yang bertemu dengan Raja.


"Iya... aku benar-benar datang untuk menemuimu... aku tidak tahan jika tidak bisa menyentuhmu Honey Bee..." ucap Raja sambil menghapus air mata Anna.


"Aku sangat mencintai kalian... hingga aku rela melakukan apa pun untuk melindungi kalian berdua..." sambungnya sambil menyentuh bibir merah Anna yang masih bergetar dengan ibu jarinya.


Perlahan Raja mendekatkan wajahny pada Anna dan melabuhkan ciuman lembut pada bibir istrinya itu. Kerinduan yang mendalam membuat keduanya langsung terbuai. Sentuhan lembut yang saling mereka berikan membuat keduanya melayang dan tanpa aba-aba Raja langsung membopong tubuh Anna dan membawanya ke dalam kamar. Disana keduanya menuntaskan kerinduan yang selama ini terpendam. Kali ini Anna bisa merasakan jika Raja benar-benar nyata ada dihadapannya. Dan mereka melakukannya dalam keadaan sama-sama sadar.


Deru nafas keduanya masih terdengar memburu saat keduanya baru saja selesai dengan kegiatan panas mereka. Anna meletakkan kepalanya didada bidang Raja sambil memeluk tubuh suaminya itu seolah masih tak percaya jika apa yang terjadi barusan adalah nyata.


"Apa kau akan tetap menyamar seperti ini MB?" tanya Anna sambil mendongakkan kepala agar bisa menatap suaminya.


"Untuk sementara biarkan tetap seperti ini Honey Bee... Julio masih belum tertangkap dan menjalani hukumannya... aku takut jika dia saat ini sedang mengincar putra kita..." sahut Raja sambil memandang wajah Anna sendu.


"Tidak apa-apa... yang terpenting kini aku tahu kau masih hidup dan berada didekat kami... itu sudah cukup. Dan mari kita hadapi b*j**g*n itu bersama-sama!" ucap Anna dengan nada berapi-api.


"Ternyata istri kecilku ini sekarang sudah mulai bisa berkata kasar ya?" kata Raja sambil menyentil hidung istrinya itu lembut.


"Auch! sakit MB..." rengek Anna yang membuat Raja semakin terkekeh.


Raja menatap wajah Anna dengan ekspresi penuh penyesalan.


"Maafkan aku selama ini sudah membuatmu sering menangis..." ucapnya tulus.


"Tapi kau tahu... jika aku jujur saat itu maka kita akan sulit mengelabuhi Julio... karena hormon ibu hamil sulit untuk dikendalikan..."


"Tidak apa-apa... aku sudah memaafkanmu... mengetahui kau selamat saja sudah membuat kemarahanku karena kebohongan yang kau buat itu sirna... aku sangat mencintaimu MB... jangan buat aku merasakan sakit seperti dulu lagi..."


"Tidak akan Honey Bee..." sahut Raja sambil mengecup puncak kepala Anna dengan lembut.


"Akh... Sultan! aku lupa... dia pasti sudah bangun dan mencariku!" pekik Anna tiba-tiba saat menyadari jika ia sudah meninggalkan putranya itu terlalu lama.


"Maafkan aku yang sudah membuatmu jadi lemas begini..." ucapnya yang membuat wajah Anna menjadi merona.


"Bagaimana aku kembali ke rumah jika kakiku lemas begini?" tanyanya pada Raja.


"Aku akan memapahmu..."


"Tapi..."


"Bilang saja kau tadi terpeleset dan aku membantumu..." potong Raja.


Anna pun mengangguk setuju. Setelah Raja juga mengenakan pakaiannya mereka pun keluar dari tempat itu setelah sebelumnya Raja memastikan jika tidak ada orang lain yang akan melihat saat mereka keluar. Sesampainya di pintu belakang rumah orangtua Anna mereka dikejutkan dengan keberadaan nyonya Sarah yang sepertinya tengah mencari Anna.


"Anna... dari mana saja kau sayang? Sultan tadi terbangun dan tidak menemukanmu di kamar..."


"Apa Sultan rewel ma?" tanya Anna yang mengkhawatirkan keadaan putranya.


"Tadi sempat menangis sebentar tapi langsung diam saat mama memberikannya puding... sekarang katakan... kamu dari mana?"


"Aku dari kebun belakang ma... tadi mainan Sultan tertinggal di sana... dan ketika aku akan kembali aku terpeleset dan jatuh... untung ada pak Rahmat yang mau membantuku..." terang Anna.


"Oh astaga... apa kau baik-baik saja sayang? pak Rahmat terima kasih sudah menolong putri saya..." ucap nyonya Sarah pada pak Rahmat alias Raja.


"Sama-sama nyonya..." sahut pria itu dengan suara serak.


"Ayo sayang... mama bantu kamu ke kamar..." kata nyonya Sarah mengambil alih untuk memapah Anna.


Anna mengangguk dan mengikuti langkah mamanya pelan. Anna sempat memandang ke arah Raja dan dibalas dengan kerlingan dan senyuman tipis saat Anna berlalu dari hadapan pria itu bersama sang mama. Dalam hati Anna merasa tidak enak karena sudah berbohong pada mamanya. Tapi apa mau dikata ia tidak mungkin bisa berkata jujur.


Malam harinya saat ia akan menidurkan putranya tiba-tiba pintu kaca di balkon kamarnya diketuk oleh seseorang dari luar. Anna pun menggendong putranya dan berjalan untuk melihat siapa yang berada di luar sana. Seketika senyumannya mengembang saat melihat Raja sudah berada di hadapannya. Demikian juga dengan Sultan. Balita itu langsung membuka matanya lebar saat melihat sang papa.


"Papa..." panggilnya sambil merentangkan tangannya ingin Raja menggendongnya.


Raja langsung mengambil Sultan dari gendongan Anna setelah pintu kaca itu terbuka. Ketiganya pun langsung bercengkrama sebagai keluarga bahagia. Sultan terlihat senang saat kedua orangtuanya bisa bermain bersama dengannya. Ini adalah keinginannya sejak lama meski ia tidak bisa mengungkapkannya. Keceriaan balita itu saat Raja dan Anna bermain bersamanya cukup menggambarkan betapa hal inilah yang sangat diinginkannya sejak lama. Lelah bermain bersama kedua orangtuanya Sultan pun akhirnya tertidur. Balita itu bahkan masih menggenggam tangan kedua orangtuanya dengan kedua tangannya yang mungil. Seolah ia tidak ingin kedua orangtuanya terpisah lagi.


"Lihatlah putra kita Honey Bee... dia terlihat sangat bahagia bisa bersama kita berdua..." ujar Raja saat melihat tingkah putranya yang menggenggam tangannya dan juga Anna.


"Hemm... aku rasa dia sudah menginginkannya sejak lama MB... hanya saja dia belum bisa mengungkapkannya..." sahut Anna.


Raja mengangguk setuju. Ada rasa sesal karena telah membuat dua orang yang dicintainya itu merasa sedih.


"Kau kenapa?" tanya Anna yang melihat raut sedih suaminya.


"Maaf... karena telah membuat kalian berdua menderita..."


"Jangan begitu... aku tahu kau pun kerasakan hal yang sama..." ucap Anna sambil mengelus pipi Raja.


Raja dan Anna melepaskan genggaman putra mereka. Kemudian Raja memindahkan putranya itu ke dalam boxnya yang berada disisi tempat tidur. Sultan terlihat sama sekali tidak terganggu dengan yang dilakukan oleh papanya. Sepertinya balita itu sudah begitu lelap dalam tidurnya karena tadi ia melewati jam tidurnya.


Raja memeluk Anna dengan erat, ia seakan belum puas melepas rindunya pada sang istri. Maklum saja sudah begitu lama ia hanya bisa menyentuh Anna diam-diam, bahkan tanpa disadari oleh wanita itu sendiri. Kini saat sang istri telah mengetahui segalanya ia tak bisa lagi menahan semua rasa yang selama ini ia pendam.


"I love you Honey Bee..." ucapnya lembut kemudian mengecup bibir Anna yang selalu membuatnya tergoda.


Anna pun hanya pasrah dengan perlakuan suaminya karena ia pun merasakan hal yang sama. Saat keduanya kembali larut dalam g**r*h tiba-tiba terdengar bunyi ketukan di pintu kamar Anna.


Tok... tok... tok...


Kedua insan yang tengah dilanda h**r*t pun terpaksa menghentikan kegiatan mereka.


Tok... tok... tok...


Kembali terdengar suara pintu di ketuk dari luar.


"Anna... kau sudah tidur sayang?" terdengar suara nyonya Sarah.


"Ehm... sebentar ma..." sahut Anna dengan sedikit gugup.


Raja mendengus kesal namun ia tidak bisa protes. Anna yang memahami suaminya hanya tersenyum kecil. Ia pun segera melangkah untuk membukakan pintu. Sementara Raja mengekori dari belakang Anna lalu bersembunyi dibelakang pintu.