
Bara dan tuan Sam baru saja saling menjabat tangan mereka dengan erat saat tiba-tiba alarm kebakaran berbunyi. Tak lama asap tebal memasuki ruangan yang membuat semua orang panik termasuk para tamu undangan panik dan berteriak histeris terutama para wanita dan anak-anak. Tuan Sam dan Bara langsung berdiri dan langsung berlari ke arah kamar yang ditempati oleh Sadira. Para pengawal pun segera mengikuti pergerakan tuan mereka. Semua bergerak terarah dan tanpa rasa panik. Sebab mereka sudah memperkirakan hal ini akan terjadi.
Sementara Amira yang terlebih dahulu sampai di kamar Sadira panik tak mendapati putrinya dan juga kedua menantunya beserta Mahina. Ya... hanya tuan Sam dan yang lainnya yang tahu jika akan terjadi hal seperti ini di hari pernikahan Bara dan Sadira. Oleh karena itu mereka sudah mempersiapkan segalanya untuk menghadapi segala kemungkinan. Hanya saja agar tidak membuat panik, para wanita tidak ada yang diberitahu. Kecuali Sadira yang merupakan target utama.
"Dira tidak ada ditempatnya Db!" lapor Amira dengan suara bergetar karena menahan tangis saat tuan Sam dan yang lainnya tiba.
Tuan Sam langsung memeluk tubuh istrinya itu untuk memberikan ketenangan.
"Kamu tenanglah Meyaa... lebih baik kamu temani Aya dan juga Hana biar masalah ini kami yang akan mengurusnya..."
"Tapi..."
"Sudah... percayalah, putri kita akan baik-baik saja dan aku janji akan segera menemukannya dan membawanya kembali dengan selamat..." ucap tuan Sam dengan suara tegas untuk meyakinkan Amira.
Masih dengan kedua mata yang berkaca-kaca Amira memandang ke arah mata tuan Sam mencoba untuk menemukan kekuatan dari sana. Melihat keyakinan yang kuat terpancar dari kedua mata tuan Sam membuat Amira akhirnya menganggukkan kepalanya setuju. Kemudian tuan Sam menyuruh salah satu anak buahnya untuk mengantarkan Amira kepada kedua menantunya. Setelah itu ia segera meminta laporan dari Lukas mengenai rekaman kamera cctv untuk mengetahui siapa yang telah membawa putrinya.
"Seperti yang sudah kita duga tuan... orang itu lagi yang menculik nona Dira..." lapor Lukas setelah memeriksa rekaman kamera cctv.
Lukas memang bisa langsung mengenali dokter Andrew hanya dengan melihat postur serta gerak gerik yang dilakukan oleh dokter itu. Sebab Lukas selama ini masih terus mengawasi setiap gerakan dokter itu atas perintah tuan Sam. Jadi meski dokter Andrew mengenakan penutup kepala Lukas dengan cepat bisa mengenalinya.
"Mereka juga membawa nona Mahina tuan..." sambung Lukas.
"S***t! ternyata dia memiliki antek?"
"Benar tuan... dan meski mereka menggunakan penutup kepala, saya rasa antek orang itu adalah psikopat yang dikabarkan sudah mati bunuh diri itu tuan..." terang Lukas.
"Maksudnya?"
"Dipergelangan tangan antek dokter gila itu ada tato yang sama dengan tato yang dimiliki oleh psikopat itu" sambung Lukas.
Ya... saat persidangan kasus Hendry, Lukas juga hadir dan ikut menyelidiki kasus itu saat tahu jika dokter Andrew diminta sebagai tenaga ahli oleh pihak kepolisian. Sebab ia merasa jika dokter Andrew punya rencana tersembunyi karena menilai jika Hendry mirip dengan dokter itu. Jadi dia tahu dengan jelas ciri pada tubuh Hendry terutama yang khas pada pria itu. Saat dulu dokter Andrew lolos dengan hanya mendapatkan hukuman ringan membuat tuan Sam selalu waspada dan mencari cara untuk bisa menghentikan dokter itu untuk selamanya. Dan meski harus bertaruh dengan keselamatan sang putri namun mau tidak mau tuan Sam harus rela Sadira menjadi umpan. Karena hanya gadis itu yang bisa membuat dokter Andrew membuka topengnya dan memperlihatkan wajah aslinya.
"Bagaimana dengan alat pelacak yang ada pada Dira? apa masih bekerja?" tanya tuan Sam pada Lukas yang langsung menjawab dengan menggelengkan kepalanya lemah.
"Apa maksudmu semua alat pelacak yang aku pasangkan pada putriku itu semua sudah dirusak?"
"Sepertinya begitu tuan... bahkan alat pelacak yang disembunyikan dibalik gaun pun tidak menampakkan sinyalnya... sepertinya mereka menggunakan alat sensor untuk memeriksa apakah ada alat pelacak ditubuh nona Dira..." ucap Lukas yang membuat tuan Sam kini menjadi khawatir.
Namun tiba-tiba...
Biip... biip... biip...
"Bara?" tanya tuan Sam saat mendengar suara dari ponsel yang dipegang oleh pemuda itu.
"Oh... ini sinyal dari GPS yang aku pasang di jepit rambut Dira pa..." terang Bara sambil tersenyum lega karena alat pelacaknya luput dari alat sensor dokter Andrew.
"Aku ingin mendengarkan penjelasanmu nanti tentang hal ini anak muda... tapi sekarang kita harus segera menyusul Dira agar kita tidak terlambat untuk menyelamatkannya..." ucap tuan Sam mengisyaratkan pada Bara untuk memimpin pencarian
"Aku mengerti pa..." sahut Bara yang kemudian memimpin jalan menuju mobil untuk mencari Sadira.
Di tempat lain tampak Hana dan Aya yang syok saat tahu jika Sadira menghilang. Amira dan yang lainnya berusaha menenangkan kedua ibu hamil itu agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan karena HPL keduanya yang sudah dekat.
"Ma... maafkan kami bunda... karena tidak bisa menjaga Dira..." ucap Ayana dengan suara bergetar saat Amira memeluknya bersama Hana.
Sementara Hana hanya bisa sesenggukan karena syok dan sedih karena hilangnya Sadira.
"Sudah sayang... ini bukan salah kalian berdua..." ucap Amira mencoba untuk menenangkan kedua menantunya itu.
Oma Ayana dan kedua orangtua Hana juga tidak bisa berbuat banyak untuk bisa menenangkan keduanya. Hanya Amira yang kini bisa membuat Ayana dan Hana menjadi sedikit tenang. Sedang Sahir dan Samir sudah bergabung dengan tuan Sam dan yang lainnya setelah tadi sempat menenangkan istri mereka masing-masing meski tidak bisa sepenuhnya membuat kedua ibu hamil itu tenang.
Sementara itu dokter Andrew tampak tersenyum puas saat membawa Sadira keluar kota dengan menggunakan mobil vannya. Meski kini ia harus membawa gadis lain yang tadi bersama Sadira. Semula dokter Andrew akan meninggalkan gadis yang bersama Sadira itu di lorong. Tapi Hendry malah membawa gadis itu ikut meski harus menggotong tubuh gadis itu sendirian. Sepertinya Hendry tertarik dengan gadis chubby itu. Tapi itu tidak masalah bagi dokter Andrew karena baginya yang terpenting ia sudah mendapatkan Tara nya.
"Apa kita akan tetap dengan rencana awal dokter?" tanya Hendry sambil menyetir.
"Tentu saja... mereka sudah tidak bisa mengikuti kita karena semua alat pelacak sudah kita matikan dan buang..." ujar dokter Andrew puas.
"Ok..." sahut Hendry singkat.
Kini ia sudah tidak berminat lagi untuk merebut gadis milik dokter itu karena ada gadis lain yang kini mencuri perhatiannya. Ya... wajah cantik Mahina berhasil menarik perhatian Hendry karena gadis itu tetap terlihat begitu cantik meski bertubuh chubby. Hal ini membuat pandangannya tentang gadis cantik sedikit berubah. Jika dulu tubuh proporsional termasuk penting, tapi kini sepertinya tidak berlaku lagi bagi Hendry setelah melihat kecantikan teman dari gadis incaran dokter Andrew itu.
Kini pencarian Sadira dilakukan bukan hanya melalui jalur darat, tapi juga udara. Tuan Sam sudah menyuruh Bara untuk membagikan koordinat keberadaan Sadira kepada seluruh anak buahnya. Jadi kini semua orang bisa melihat pergerakan Sadira yang dibawa oleh dokter Andrew. Dave yang mengetahui jika putrinya juga ikut diculik juga mengerahkan anak buahnya demi melacak keberadaan Mahina. Untung saja Dave juga memasang alat pelacak pada putrinya. Jadi kini bukan hanya sinyal milik Sadira saja yang terpantau tapi juga milik Mahina. Dan semua orang cukup merasa lega saat sinyal keduanya terlihat masih berdampingan. Itu artinya keduanya berada di tempat yang sama.
Dokter Andrew sengaja tidak membawa Sadira ke villa miliknya. Ia sengaja menyewa pada pemilik villa lain yang berada berada jauh di luar kota. Dia sengaja bersembunyi sementara waktu agar bisa mengecoh tuan Sam dan anak buahnya sebelum akhirnya ia akan membawa Sadira ke luar negeri. Sementara itu Mahina dan Sadira yang berada di bagian belakang mobil sudah mulai tersadar. Mahina yang terlebih dulu sadar mulai mengerjapkan kedua kelopak matanya perlahan. Samar ia melihat ke sekelilingnya dan menyadari jika dirinya tengah berada di dalam sebuah kendaraan terlebih dengan goncangan yang ia rasakan bisa dipastikan jika kendaraan yang membawanya itu tengah berjalan entah kemana. Ia juga menyadari jika saat ini kedua tangan dan kakinya sudah dalam keadaan terikat. Saat ia menoleh ke samping ia melihat jika Sadira juga berada disampingnya dengan keadaan yang tak jauh beda.
Baru saja ia hendak beringsut untuk mendekat ke arah Sadira terlihat jika gadis itu juga mulai tersadar. Terbukti dengan pergerakan yang dilakukan oleh gadis itu.
"Kak Dira..." panggil Mahina dengan suara lirih agar tidak terdengar oleh orang yang tengah mengemudikan kendaraan yang membawa keduanya namun ia yakin Sadira masih bisa mendengar suaranya.
Sadira mengerjap perlahan dan menoleh ke asal suara dan ia pun terkejut saat melihat Mahina ada di depannya dalam keadaan terikat. Ia juga baru menyadari jika dirinya juga dalam keadaan yang sama.
"Nana? a... apa yang telah terjadi?"
"Sepertinya ada yang sudah menculik kita kak..." terang Mahina polos.
Sadira terdiam dan mencoba untuk mengingat hal terakhir yang terjadi pada dirinya. Ia pun kembali mengingat saat alarm kebakaran berbunyi dan saat dua petugas pemadam yang datang dan membawa Ayana dan Hana sementara dirinya dan Mahina mengikuti mereka dari belakang. Lalu tiba-tiba saja ada yang membekap mulutnya dan kemudian ia tidak ingat lagi apa yang terjadi selanjutnya.
"Apakah dokter gila itu yang sudah menculikku lagi?" batin Sadira.
Ya... tidak ada orang lain yang akan kelakukan hal ini kepadanya selain dokter Andrew.
"Jadi benar kata ayah jika berita pernikahanku akan membuat dokter gila itu meledak... huh! apa kali ini ayah bisa segera melacak keberadaanku?" batin Sadira cemas.
"Kak!" panggil Mahina yang membuyarkan lamunan Sadira.
"Ya?"
"Kita harus bisa melarikan diri dari mereka kak!" ucap Mahina sambil menatap Sadira tegas.
Terlihat sekali jika saat ini Mahina sama sekali tidak merasa panik atau pun takut.
"Kau benar... cepat geser kemari agar aku bisa membuka ikatan di tanganmu..." kata Sadira yang langsung dituruti oleh Mahina.
Dengan cepat Mahina menggeser tubuhnya ke arah Sadira. Lalu ia pun berbalik sehingga tangannya yang terikat ke belakang tepat di depan wajah Sadira. Setelahnya Sadira langsung berusaha untuk membuka ikatan ditangan Mahina dengan menggunakan mulutnya. Untung Sadira memiliki gigi yang sehat dan juga kuat sehingga gadis itu bisa menggunakan giginya untuk menarik tali yang mengikat Mahina tanpa merasakan ngilu. Meski kesusahan tapi setelah usaha beberapa kali akhirnya Sadira berhasil membuka simpul tali yang mengikat Mahina. Segera setelah merasa tali yang mengikat tangannya terlepas, Mahina langsung membuka ikatan di kakinya masih dengan posisi tubuh masih berbaring di lantai kendaraan. Kemudian ia pun membuka ikatan pada tangan Sadira. Setelah itu ia segera memeriksa keadaan dengan beringkut ke bagian depan untuk mengintip sementara Sadira sudah membuka ikatan kakinya.
Perlahan Mahina melongokkan kepalanya mengintip bagian depan mobil. Terlihat dua orang pria yang tidak dikenalnya tengah berbincang dengan salah satu diantaranya sambil mengemudi. Tak lama Sadira pun mendekat dan ikut mengintip seperti Mahina. Keduanya berhasil mencuri dengar rencana kedua orang yang telah menculik mereka. Setelah merasa mendapatkan informasi yang mereka butuhkan, kedua gadis itu pun merosotkan lagi tubuh mereka ke lantai mobil.
"Apa yang harus kita lakukan kak?" tanya Mahina dengan berbisik.
"Coba kita periksa pintu belakang mobil ini... apa bisa kita buka?" bisik Sadira.
Mahina pun mengangguk. Lalu dengan perlahan keduanya beringsut ke pintu belakang mobil dengan cara merayap agar tidak diketahui oleh para penculik mereka. Saat mencapai pintu belakang mobil, Sadira segera meraih handel pintu dan mencoba untuk membukanya dengan perlahan agar tidak menimbulkan suara yang bisa memancing perhatian dokter Andrew dan anak buahnya. Sementara Mahina mengawasi ke arah depan untuk berjaga-jaga. Meski agak sulit, tapi akhirnya Sadira bisa membuka pintu belakang mobil dokter Andrew. Sadira tidak langsung membuka pintu mobil sebab takut jika terlihat dari kaca spion depan. Lagi pula mobil yang mereka tumpangi juga masih berjalan dengan kecepatan tinggi.
Untuk beberapa saat Sadira menahan pintu mobil agar tidak terbuka lebar sambil menunggu momen untuk bisa keluar tanpa menimbulkan celaka. Tak berapa lama terasa jika laju mobil mulai menurun dan sesekali terjadi goncangan yang cukup keras yang menandakan jika jalanan yang mereka lalui tidak begitu mulus. Kali ini Sadira tidak mau menyia-nyiakan kesempatan. Ia langsung melepas pegangan tangannya sehingga pintu belakang mobil dokter Andrew langsung terbuka lebar.
"Kita loncat sekarang Na!" seru Sadira begitu pintu mobil terbuka lebar.
Mahina pun mengangguk setuju dan keduanya langsung berdiri dan bersiap untuk meloncat meski di depan mereka jalanan terlihat terjal dan penuh dengan lubang.