
Setelah hampir dua jam berbincang dengan sahabatnya, Siska pun bergegas pulang. Ia harus menyiapkan makan siang bagi keluarganya, terutama untuk kedua anaknya. Ya meski tidak dekat dengan mamanya, Deni putra bungsu Siska selalu saja memakan masakan buatan sang mama. Dan itu sudah membuat Siska bahagia. Walau bagaimana pun hubungan darah masih kental diantara keduanya meski selama ini nyata jika suaminya dan keluarganya mencoba membuat jarak antara ibu dan anak itu. Jadi demi kedua anaknya Siska berusaha untuk kuat dan meraih hati putra bungsunya perlahan.
Tidak seorang pun yang tahu alasannya mau menikah dengan orang yang jelas-jelas tidak mencintainya dan bahkan sangat membencinya. Fikiran Siska kini melayang pada hampir 17 tahun yang lalu saat dirinya tengah berjuang untuk menata hidupnya setelah baru saja keluar dari penjara. Kehidupan mewah yang dulu selalu ia rasakan saat bersama orangtua dan juga Keysha tidak bisa lagi ia rasakan. Hingga ia harus berjuang keras untuk mencari pekerjaan demi menyambung hidup. Statusnya yang mantan napi membuatnya semakin sulit mendapat pekerjaan meski itu pekerjaan kasar. Dan saat seperti itu banyak tawaran untuk dirinya menjajakan diri dari teman pergaulannya yang dulu. Tapi Siska sudah bukan Siska yang dulu... memang penjara membuatnya terkurung dari dunia luar, tapi disana pula ia menemukan ketenangan karena teman satu selnya yang mengajarinya untuk mengenal agama. Meski mereka juga orang suci, tapi sepertinya hidayah sudah menyentuh mereka sehingga berusaha menjadi manusia yang lebih baik. Dan Siska pun ikut terbawa.
Sehingga saat keluar dari penjara wanita itu lebih memilih untuk mengerjakan pekerjaan halal yang menguras tenaga dari pada cepat mendapatkan rupiah tapi dengan cara haram. Sehingga sudah bisa ditebak, wanita itu sangat kesulitan untuk mendapatkan pekerjaan. Bahkan Siska pernah nekat memulung demi bisa membeli sebungkus nasi untuk mengganjal perutnya dengan uang halal. Saat ia memulung itulah ia bertemu dengan nyonya Ratri... oma dari Restu... suaminya. Teringat jelas dalam ingatan Siska saat itu sudah seharian ia memulung, namun hasilnya masih sangat sedikit. Jika dijual pun hasilnya tidak sampai lima ribu... tak cukup untuk membeli sebungkus nasi dan minuman teh tawar. Sedangkan sejak kemarin ia belum makan dan hanya menganjal perutnya dengan air keran yang ia temukan di masjid tempatnya beribadah dan mengistirahatkan tubuhnya sejenak.
Ya... semenyedihkan itu hidupnya saat itu. Ia juga tidak punya tempat tinggal dan tidur pun menggelandang di sembarang tempat. Memang Siska kehilangan segalanya saat masuk dalam penjara. Harta orangtuanya habis untuk menyewa pengacara, ditambah dengan beban hutang akibat gaya hidup mewahnya dulu membuat Siska juga kehilangan rumah kedua orangtuanya. Siska ingat hari itu... dengan langkah gontai karena lemas tak memiliki tenaga ia tetap berusaha untuk mencari barang bekas untuk ia pungut demi membeli sesuatu untuk mengisi perutnya. Tiba-tiba ia melihat diseberang jalan ada tumpukan kardus yang lumayan banyak. Dan itu membuat matanya langsung berbinar.
Tanpa berfikir dan menoleh kiri kanan, Siska melangkahkan kakinya dengan tergesa untuk menyeberang. Ia tidak ingin ada yang lebih dulu mendahuluinya mengambil tumpukan kardus itu. Namun karena itulah akhirnya ia malah celaka. Tanpa ia sadari jika dari arah sampingnya ada sebuah mobil yang melaju dengan kecepatan tinggi hingga tidak dapat dihindarkan saat itu juga tubuh ringkihnya langsung tertabrak dengan keras. Yang lebih menyedihkan lagi bukannya berhenti, sopir mobil itu malah semakin memacu kencang mobilnya dan meninggalkan Siska di tempat kejadian. Daerah yang sepi membuat mobil itu bisa langsung lolos. Mungkin pengemudi mobil itu berfikir jika ia hanya menabrak pemulung yang tidak akan bisa menuntut balik sehingga ia sama sekali tidak merasa bersalah meninggalkan orang yang ditabraknya di tengah jalan.
Akibat benturan keras dari tabrakan itu Siska langsung tidak sadarkan diri. Beruntung saat itu ada mobil lain yang lewat dan penumpangnya mau menolong lalu membawanya ke rumah sakit. Karena terluka parah hingga jika sedikit saja terlambat maka nyawanya akan melayang. Itu pun Siska harus menjalani operasi dulu demi menyelamatkan nyawanya. Dan lagi-lagi orang yang menolongnya itulah yang menanggung semua biaya operasi dan pengobatannya selama di rumah sakit. Dan orang itu adalah ibu Ratri. Bahkan selama Siska dirawat di rumah sakit pasca operasi, wanita itu selalu datang untuk menjenguk Siska yang diketahui sudah tidak memiliki keluarga. Dan dari situlah keduanya menjadi dekat, dan Siska menjadi hutang nyawa pada bu Ratri.
Siska akhirnya mendapatkan kesempatan untuk membalas hutang budinya pada bu Ratri saat wanita itu memintanya bantuannya untuk menjadi istri dari cucu laki-lakinya satu-satunya. Awalnya Siska tentu saja menolak dengan membeberkan semua aib masa lalunya karena ia tidak ingin dianggap memanfaatkan kebaikan dari wanita tua itu. Tapi nyatanya bu Ratri malah semakin yakin jika Siska memang orang yang tepat untuk cucunya. Dan trek recordnya yang mantan napi malah menjadi poin penting bagi wanita itu untuk tetap memilih Siska menjadi cucu mantunya. Siska saat itu pun tak mengerti alasan dari bu Ratri... namun akhirnya ia pun menyetujuinya demi membalas budi.
Dan saat ia diperkenalkan pada keluarga wanita itu dan juga cucunya, wanita itu juga jujur tentang masa lalu Siska yang membuat mereka langsung menolak dan mencemooh Siska saat itu juga. Mereka juga menganggap Siska memanfaatkan wanita tua itu untuk mendapatkan hidup mewah. Namun bu Ratri selalu membelanya dan bahkan mengancam sang cucu agar mau menikah dengan Siska. Mendapat penolakan Siska pun sempat ragu untuk terus mengikuti permintaan bu Ratri. Namun wanita itu malah mengajaknya menemui seseorang yang langsung membuat fikiran langsung berubah dan mantap untuk mengabulkan permintaan bu Ratri.
Siska menghembuskan nafasnya pelan. Hutang nyawa pada bu Ratri membuatnya menjalani hidup bak di neraka bersama suaminya. Penolakan diawal pernikahan tak membuatnya menyerah. Semua demi mewujudkan keinginan wanita yang telah menyelamatkan nyawanya itu. Dan kesabarannya perlahan membuahkan hasil. Suaminya yang semula sangat membencinya perlahan luluh dan mau menerimanya. Hingga mereka dikaruniai dua orang anak. Namun semua berubah saat lima tahun lalu bu Ratri meninggal dunia. Semua langsung berbalik. Ternyata sang suami hanya berbohong dalam menerima dirinya dan yang paling menyakitkan pria itu masih berhubungan dengan kekasihnya tanpa sepengetahuannya dan bu Ratri. Perselingkuhan sang suami yang didukung keluarganya membuat hubungan terlarang itu bisa berjalan dengan mulus selama belasan tahun.
Dan yang paling menyakitkan Siska adalah saat suami dan keluarganya malah mendekatkan putra bungsunya pada wanita itu dengan selalu membuat celah agar ia terlihat sebagai ibu yang tak becus merawat sang putra, yang membuat sang putra menganggapnya bukan ibu yang baik. Terlalu menyakitkan hidup bersama dalam keluarga itu tapi Siska sudah kepalang basah. Dia harus menepati janjinya pada bu Ratri jika ia akan menjauhkan suami dan keluarganya dari wanita bernama Jihan itu. Ya... wanita yang dicintai oleh sang suami dan merupakan menantu impian mertuanya adalah Jihan. Hanya dia dan bu Ratri saja yang tahu alasan mengapa wanita itu tak boleh masuk dalam keluarga Suryono.
Siska memarkirkan mobilnya di halaman rumah. Kemudian dia pun bergegas ke kamar untuk berganti pakaian lalu langsung ke dapur untuk menyiapkan makanan untuk kedua anaknya. Ya hanya mereka berdua yang masih mau memakan masakan yang dibuatnya. Namun Siska tak perduli. Baginya jika kedua anaknya mau memakan makanan yang dibuatnya itu sudah sangat membahagiakannya. Dan untuk yang lainnya ia sudah tidak perduli. Jika bukan karena telah memberikan janjinya pada bu Ratri demi membalas budinya sudah sejak lama ia meninggalkan suaminya itu.
Di sekolah, Ayana dan Dira semakin dekat. Bahkan Dira mengajaknya untuk menginap di rumahnya akhir pekan nanti. Namun Ayana yang sebenarnya memendam masalah dalam keluarganya menolak tawaran itu dengan halus. Bukan apa-apa... ia tidak mungkin meninggalkan sang mama sendirian walau cuma semalam. Tanpa seorang pun yang tahu jika setiap malam Ayana selalu saja melihat sang mama yang sering menangis sendirian. Walau tidak pernah menanyakan alasannya pada sang mama tapi Ayana tahu jika semua itu karena ulah sang papa. Ya... sebagai seorang remaja ia sudah bisa mengerti tentang masalah kedua orang tuanya. Perselingkuhan sang papa sudah berkali-kali dipergokinya. Dan entah mengapa seluruh keluarga malah mendukung perbuatan bejat itu, sehingga mereka semakin leluasa.
Ayana tahu jika yang membuat sang mama paling bersedih adalah sikap sang adik yang justru malah menerima pelakor itu dan merestui kelakuan bejat papanya. Karena itulah ia tak bisa dekat dengan sang adik. Ada rasa dendam tersendiri pada adiknya itu. Jika diberi kesempatan ingin rasanya ia membalas semua kesakitan yang diderita sang mama. Tapi apa dayanya hanya seorang anak ingusan. Ia tak punya kuasa untuk melawan para orang dewasa. Saat bel pulang sekolah berbunyi seperti para sisawa lainnya Ayana dan Dira pun bergegas keluar dari dalam kelas dan berjalan menuju gerbang sekolah.
Dan hari ini untuk pertama kalinya Ayana dijemput dengan mobil keluarga. Ayana yang mengenali mobil yang biasanya hanya khusus untuk mengantarkan adiknya sudah menunggu di depan gerbang. Setelah berpamitan dengan Dira, ia pun melangkah malas menuju mobil yang menjemputnya. Saat Ayana membuka pintu disamping sang sopir ia bisa melihat jika di bagian belakang sudah ada sang adik yang tampak sibuk dengan ponselnya. Ia pun hanya diam dan tak menyapa sang adik. Setelah Ayana memasang sabuk pengamannya sang sopir pun langsung melajukan mobilnya.
"Anak mama sudah pulang semua?" sambut Siska saat melihat kedua anaknya masuk ke dalam rumah.
"Iya ma..." sahut Ayana sambil tersenyum dan langsung memeluk sang mama.
Sedang Deni langsung melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamarnya. Siska menghela nafasnya pelan saat melihat tingkah sang putra.
"Sabar ya ma... suatu saat semua akan baik-baik saja..." ucap Ayana sambil mengelus lengan mamanya.
"Iya sayang..." sahut Siska sambil tersenyum.
"Sekarang cepat ganti pakaianmu... lalu kita makan bersama... jangan lupa ajak adikmu..." sambungnya.
Tok... tok... tok...
"Ayo turun Den... mama udah nunggu di meja makan!" serunya di depan pintu kamar Deni.
Tanpa menunggu jawaban dari Deni, Anaya langsung melanjutkan langkahnya ke ruang makan. Tak lama setelah Ayana berlalu, pintu kamar Deni pun terbuka. Bocah sepuluh tahun itu pun melangkah dengan gontai menyusul sang kakak. Sungguh... sebenarnya ia tak benar-benar membenci sang mama. Tapi perlakuannya yang ia anggap membeda-bedakan antara dirinya dan sang kakak membuatnya kecewa. Tanpa diketahuinya jika itu hanya hasutan yang dihembuskan oleh sang papa dan keluarganya. Apa lagi setiap ia membutuhkan sang mama saat ada kegiatan di sekolahnya bukannya sang mama yang datang melainkan tante Jihan yang ia tahu jika itu teman papanya.
Tanpa ia tahu jika semua itu telah diatur oleh orang-orang yang ingin memisahkan seorang ibu dari putranya. Namun begitu saat makan siang sebenarnya saat yang disukainya. Sang mama selalu saja memasakkan menu kesukaannya. Dia juga selalu menemaninya dan sang kakak makan bersama.
"Hari minggu besok mama ingin mengajak kalian berdua untuk berlibur bersama... apa kalian mau?" tanya Siska pada kedua anaknya saat mereka baru saja menyelesaikan makannya.
"Mau ma! kita mau kemana?" seru Ayana.
Sementara Deni tampak sedikit terkejut. Ia tak menyangka jika sang mama akan mengajaknya berlibur.
"Bagaimana Den? apa kamu mau ikut?" tanya Siska lagi.
"I... iya ma..." sahut Deni sedikit tergagap karena masih terkejut.
"Baiklah... besok kita akan pergi berlibur ke puncak... bagaimana?"
"Yey! itu baru seru... makasih ma..." seru Ayana gembira.
Sedang Deni hanya tersenyum tipis. Meski begitu sesungguhnya hatinya juga sama bahagia.
"Baiklah... kalau begitu hari sabtu siang kita langsung berangkat... jadi mama harap kalian nanti langsung bersiap jadi besok sepulang sekolah langsung berangkat..."
Ayana dan Deni langsung menganggukkan kepalanya setuju.
"Tapi mama harap kalian tidak memberi tahu rencana kita pada papa dan yang lainnya... sebab mereka akan pergi ke resepsi pernikahan tante Naya..."
"Jadi kita tidak pergi bersama mereka ma?" tanya Deni.
"Iya sayang... sebab kali ini mama hanya ingin kita bertiga yang pergi... apa kamu keberatan?"
"Ga kok ma..." sahut Deni yang mulai menampakkan senyumnya.
Siska langsung tersenyum bahagia. Ya ia memang sengaja memanfaatkan momen ini untuk mendekatkan diri dengan kedua anaknya terutama dengan si bungsu.