
Sudah dua hari Ricko dalam keadaan koma, tapi tidak sekali pun orangtuanya datang untuk menjenguknya. Tuan Sam yang curiga pun belum bisa mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada kedua orangtua Ricko sehingga mereka sampai tidak menjenguk pemuda itu di rumah sakit. Padahal keadaannya kritis. Hingga pada sore harinya Ricko mulai tersadar. Dokter langsung memeriksa keadaan pemuda itu dan bersyukur bahwa keadaannya semakin membaik. Luka yang dideritanya menutup dengan sempurna dan hanya menunggu proses penyembuhannya saja. Sadira yang sudah membaik dan sudah pulang ke rumahnya pun menjenguk Ricko bersama Amira dan tuan Sam. Ricko tampak lebih sehat meski belum bisa banyak berbicara.
Bara juga datang bersama kedua orangtuanya untuk menjenguk Ricko. Meski penasaran, namun tuan Sam dan yang lainnya tidak berani bertanya tentang keberadaan kedua orangtua Ricko yang tidak pernah menjenguknya. Dan setelah menjalani perawatan selama satu minggu akhirnya Ricko pun diizinkan untuk pulang ke rumahnya. Keanehan yang terjadi pada kedua orangtua Ricko juga di rasakan oleh yang lainnya. Hingga saat mengantarkan pemuda itu pulang, Samir sudah tidak dapat menahan dirinya untuk bertanya.
"Rick... boleh gua tanya sesuatu?" tanya Samir sambil menyetir mobilnya.
"Tanya aja..."
"Orangtua lu kemana? kenapa ga pernah jenguk saat lu ada di rumah sakit..."
Ricko menghela nafasnya pelan. Ia tahu jika saat seperti ini akan terjadi juga akibat kejadian yang menimpanya dengan dokter Andrew. Tapi apakah ia bisa berkata jujur pada Samir? apa pemuda itu tidak akan mencapnya sebagai seorang psikopat juga seperti dokter Andrew jika ia tahu apa yang sudah dilakukannya pada papanya dan juga ibu tirinya selama ini? Sungguh Ricko sangat takut jika hal itu yang terjadi. Sebab ia tidak akan mungkin lagi bisa dekat dengan Samir dan keluarganya terutama Sadira. Mereka pasti tidak akan membiarkan gadis itu dekat dengan seorang psikopat.
"Mereka ada di villa keluarga gua Sam... sebenarnya mereka tidak pernah pergi ke luar negeri seperti yang selalu gua katakan..." terang Ricko yang memilih untuk berbohong pada Samir.
"Lalu kenapa mereka sama sekali tidak menjenguk saat lu ada di rumah sakit? apa sebegitu tidak perdulinya mereka... ya meski aku tahu jika ibu Maya itu ibu tiri lu, tapi setidaknya papa lu juga harusnya mau menjenguk kan?"
"Mereka ga mungkin bisa menjenguk gua Sam... sebab mereka sendiri juga sedang sakit..." sahut Ricko menggantung.
"Sakit? sakit apa sampai bisa berjamaah seperti itu?"
"AIDS..."
Ciiitt!
Seketika Samir menghentikan mobilnya secara mendadak karena kaget dengan pernyataan Ricko barusan.
"Lu ga sedang becanda kan?" tanyanya kaget.
Ricko hanya menggelengkan kepalanya pelan untuk meyakinkan Samir. Sebenarnya Ricko sendiri berharap jika kebohongannya ini juga bisa jadi kenyataan. Sebab meski ia sudah berniat melepaskan papanya dan juga Maya, namun tidak bisa dipungkiri jika hatinya masih ingin keduanya merasakan kesakitan sebagai balasan atas rasa sakit yang dirasakan mamanya dulu. Dan penyakit yang tidak dapat disembuhkan itu bisa sebagai solusi bagi hatinya untuk sedikit meringankan rasa sakit hatinya pada keduanya.
"Karena itulah gua menutupi semuanya..." sambung Ricko.
Samir pun akhirnya mengangguk mengerti dengan pemikiran temannya itu. Ya... bagaimana mungkin membiarkan orang lain tahu tentang penyakit yang sangat mematikan sekaligus juga memalukan itu. Jika mengingat masa lalu tuan Danu yang terkenal sering bergonta ganti pasangan selingkuh dari mama Ricko maka hal seperti ini mungkin saja terjadi. Masa lalu papa Ricko diketahui oleh Samir sebenarnya terjadi tanpa sengaja. Saat itu Samir yang tengah bertandang ke rumah Ricko tanpa sengaja mendengar perdebatan ayah dan anak itu saat ia baru saja menumpang ke toilet. Saat itu Ricko terdengar sangat marah saat sang ayah ingin mengajak Ricko makan malam bersama istri barunya. Dan Ricko langsung menolak dengan mengatakan jika ia tak akan pernah sudi makan malam dengan pelakor yang membuat mamanya bunuh diri.
Setelah mendengar alasan dari Ricko, Samir pun tidak lagi merasa penasaran dengan nasib tuan Danu dan juga Maya. Keduanya pun tidak lagi membahas kedua orang itu lagi selama sisa perjalanan. Ricko mengucapkan terima kasih saat Samir sudah mengantarnya sampai ke rumah dengan selamat. Apa lagi pemuda itu juga sampai mengantarkannya hingga ke dalam kamarnya. Bi Ratmi tampak bahagia saat Ricko sudah bisa kembali ke rumah. Putra majikannya itu sudah tampak lebih baik dari terakhir saat ia menjenguknya di rumah sakit. Wanita baya itu tampak menyiapkan beberapa hidangan khusus untuk menyambut kepulangan Ricko. Ricko pun mengajak Samir untuk makan siang bersama sebelum pemuda itu pulang. Dan Samir pun menyetujuinya.
Setelah Samir pulang, Ricko tampak melamun di balkon kamarnya. Fikirannya melayang dengan segala rencana yang sudah disusunnya saat baru tersadar di rumah sakit. Dalam hatinya pemuda itu sedang memantapkan hatinya untuk bisa melepaskan papanya dan juga ibu tirinya. Ibu tiri... baru kali ini Ricko mengakui wanita itu sebagai ibu tirinya. Segala kenangan pahit akibat kehadiran wanita itu di dalam keluarganya membuatnya tak ingin menganggap wanita itu sebagai seorang ibu meski hanya sebagai ibu tiri. Tapi kejadian kemarin yang menimpanya membuatnya ingin mulai mengikhlaskan semuanya... baik itu perselingkuhan papanya, perceraian kedua orangtuanya dan juga kematian mamanya. Ricko ingin memulai hidupnya yang baru tanpa adanya dendam dan rasa sakit dari masa lalu.
Satu bulan kemudian...
Ricko menapaki tangga villa tempatnya menyekap papanya dan juga ibu tirinya dengan langkah pelan. Bukan karena dihatinya masih ada rasa berat untuk melakukan rencananya, tapi ia ingin menikmati setiap momen yang ada saat ini. Ya... hari ini Ricko memutuskan untuk melepaskan papanya dan Maya. Ia akan membiarkan kedua orang itu untuk melanjutkan hidup mereka tanpa mau ikut terlibat lagi di dalamnya. Benar... Ricko sudah memutuskan untuk meninggalkan semuanya dan memilih untuk menjadi dokter relawan di tempat terpencil setelah ia mendapatkan gelarnya nanti. Ia ingin mengabdikan diri untuk merawat orang-orang yang tinggal di daerah pedalaman.
Bukan tanpa alasan Ricko melakukannya, ia hanya ingin mewujudkan cita-cita mamanya dulu yang juga ingin menjadi dokter dan mengabdi di daerah pedalaman. Namun cita-citanya luntur saat ia harus menikah dengan tuan Danu karena perjodohan. Meski begitu dulu mamanya sempat berkata bahwa ia tidak pernah menyesal melepas impiannya menjadi dokter, karena pada akhirnya ia jatuh cinta pada suaminya dan akhirnya bisa memiliki Ricko. Dan itulah alasan Ricko ingin menjadi seorang dokter, yaitu ingin mewujudkan salah satu impian sang mama.
Tuan Danu tampak terkejut saat melihat Ricko kembali mengunjunginya. Entah sudah berapa lama putranya itu tidak lagi datang menemuinya. Ada rasa rindu dihati pria itu karena walau bagaimana pun Ricko adalah putranya. Meski ia tahu jika kedatangan pemuda itu hanya ingin kembali menyiksanya dan juga Maya. Sementara Maya terlihat sudah pasrah dengan apa yang akan menimpanya. Selama dikurung bersama di sini ia sudah banyak berfikir. Dan dia sudah sampai pada satu keputusan yaitu menerima semuanya sebagai karmanya.
"Mulai saat ini kalian berdua bebas..." ucap Ricko yang membuat sepasang suami istri dihadapannya itu terkejut.
Tuan Danu dan Maya yang masih belum bisa menggerakkan anggota tubuhnya dan bersuara hanya bisa memandang Ricko dengan tatapan terkejut dan tidak mengerti dengan maksud dari pemuda itu barusan. Tak lama masuk seorang suruhan Ricko yang biasa mengurus keduanya dan selalu menyuntikkan obat pelumpuh otot. Orang itu kembali menyuntikkan sesuatu pada keduanya namun kali ini bukan obat yang biasa ia berikan pada keduanya melainkan obat penawar agar keduanya bisa kembali normal.
"Kalian tunggu setidaknya satu jam dari sekarang maka perlahan tubuh kalian akan kembali normal..." terang orang tersebut tenang.
"Setelah ini saya harap kalian berdua tidak menaruh dendam pada saya karena saya hanya orang suruhan putra kalian..." sambung orang itu lalu meninggalkan tuan Danu dan Maya di ruangan tersebut karena dia juga harus bersiap meninggalkan tempat itu sesuai perintah Ricko.
Cukup 20 menit yang dibutuhkan orang suruhan Ricko untuk bersiap dan meninggalkan villa karena memang ia tidak membawa banyak barang selama tinggal di sana. Karena semua fasilitas sudah disedikan oleh Ricko. Bukan hanya orang tadi, tapi juga pegawai villa lain yang bertugas mengurus tempat itu. Mereka semua segera pergi meninggalkan tempat tersebut. Hanya sebuah mobil tersisa yang mereka tinggalkan untuk digunakan oleh tuan Danu dan Maya untuk kembali ke kota. Sementara Ricko sudah dalam perjalanan menuju bandara karena hari ini ia akan langsung terbang ke luar pulau dan akan melanjutkan perjalanan darat demi mencapai desa tempatnya mengabdi.
Kemarin dia sudah sempat berpamitan pada Samir dan juga Sahir. Ia bahkan mengadakan pesta perpisahan sederhana dengan teman-teman lainnya terutama di klub pecinta alam. Ia juga berpamitan khusus pada Sadira. Meski hingga saat ini gadis itu belum juga mengetahui perasaannya yang sebenarnya tapi Ricko bahagia karena sempat menghabiskan waktu berdua dengan gadis itu di taman bermain. Ricko tersenyum kecil saat mengingat momennya bersama Sadira saat menikmati semua wahana di sana.
"Aku harap setelah ini perasaanku padamu akan berubah dari cinta seorang pria pada wanitanya menjadi cinta seorang kakak pada adiknya... karena aku tahu jika cinta antara saudara akan kekal selamanya..." batin Ricko sambil menatap foto Sadira yang tengah tersenyum pada ponselnya.
Foto itu foto terbaru yang ia ambil secara terang terangan ketika keduanya tengah berada di taman bermain. Mungkin ini yang terbaik bagi semuanya... karena setidaknya kini ia merasa memiliki seorang adik yang imut seperti Sadira. Ricko hendak melangkahkan kakinya ke pintu keberangkatan saat ia mendengar seseorang memanggil namanya...
"Kak Ricko!"
Ricko pun langsung membalikkan tubuhnya dan terkejut saat melihat seseorang yang berdiri tidak jauh dari hadapannya.
"Dira?"
Sadira berlari ke arah Ricko dan langsung memeluk pemuda itu dengan erat.
"Kakak kenapa pergi ga bilang Dira?" tanyanya manja saat sudah melepas pelukannya.
Ricko terkekeh pelan. Sikap gadis itu yang manja membuatnya benar-benar yakin jika Sadira memang lebih cocok untuk menjadi adiknya.
"Kakak kan kemarin sudah bilang kalau hari ini kakak akan pergi..." sahut Ricko yang tak melepas senyumannya.
"Iya... tapi aku fikir kakak akan pergi nanti sore..." potong gadis itu tidak mau kalah.
"Iya maaf..." ucap Ricko mengalah.
Dibelakang gadis itu ternyata juga sudah ada Samir dan Sahir juga Amira dan tuan Sam. Ternyata mereka sekeluarga sengaja datang untuk mengantarkannya. Hari ini Ricko seperti kembali mendapatkan keluarga barunya. Kedua mata pemuda itu bahkan kini berkaca-kaca. Seandainya sang mama masih hidup tentu semua akan terasa lebih sempurna.
"Hati-hati disana ya Rick... ingat jangan lupa jaga kesehatan..." ucap Sahir sebagai salam perpisahan.
Amira dan tuan Sam pun mengucapkan salam perpisahan mereka pada Ricko. Sadira bahkan memberikan sebuah hadiah pada Ricko sebagai kenang-kenangan. Setelah semua orang berpamitan giliran Samir yang memberikan salam perpisahannya. Pemuda itu bahkan membawa Ricko sedikit menjauh dari keluarganya demi mendapat privasi lebih.
"Gua ga bisa berkata banyak sama lu Rick... lu teman sekaligus sahabat gua yang sudah berkorban banyak buat adik gua dan gua sangat berterima kasih karena itu. Gua tahu lu masih cinta sama adik gua itu, seandainya dia juga bisa mencintai lu... gua pasti merestui kalian. Sayangnya adik gua itu cintanya sama orang lain yang juga baik kayak lu... jadi gua ga bisa berbuat banyak... yang gua ingin sekarang adalah agar lu bisa cepat move on dari adik gua itu dan segera mendapatkan seseorang yang bisa mengisi hati lu dengan cinta yang lebih banyak dari yang bisa lu bayangkan..." ucap Samir panjang lebar.
"Terima kasih Sam... gua juga berterima kasih lu masih mau jadi teman gua meski lu udah tahu tingkah aneh gua sama adek lu dulu" ungkap Ricko mengenang saat Samir memergoki dirinya yang mengoleksi foto candid Sadira.
"Gua tahu lu orang baik Rick... karena itu meski pun gua sempat marah tapi gua coba untuk mengerti atas semua tindakan lu itu karena gua juga pernah merasakannya..." sahut Samir.
Keduanya pun saling berpelukan sebagai sahabat. Dan saat panggilam bagi para penumpang untuk naik ke dalam pesawat, Ricko bisa melangkah dengan lebih ringan karena ia tahu jika kini ia bisa memulai lembaran baru hidupnya dengan tenang. Sementara itu tuan Danu dan Maya sudah kembali ke rumah kakek Ricko. Keduanya sepakat untuk pindah dari sana dan membiarkan Ricko hidup tenang disana. Sudah cukup dosa yang mereka perbuat dulu yang membuat pemuda itu kehilangan kebahagiaannya di usia muda. Namun kejutan justru menampar mereka saat bi Ratmi mengatakan jika Ricko sudah memutuskan untuk pergi ke daerah pedalaman sebagai sukarelawan dan meninggalkan semuanya termasuk rumah dan juga perusahaan.