
Anak buah Jimmy kelimpungan mencari keberadaan Amira. Sudah seluruh sudut tempat itu mereka cari tapi tak ada tanda-tanda keberadaan wanita itu.
"Jangan-jangan wanita itu lari ke dalam hutan..." cetus salah seorang diantara mereka.
Temannya yang lain pun saling pandang. Bukankah cara wanita itu lari dari tempatnya disekap pun sudah terlihat nekat? jadi bukan tidak mungkin jika benar wanita gendut itu lari ke dalam hutan. Mereka pun lalu berpencar dan mulai mencari Amira ke dalam hutan.
Sedang Amira yang mulai merasa lapar sedang kebingungan mencari sumber makanan. Ia baru pertama kali berada di hutan selebat ini. Dulu saat bersama Anna dan Adit mereka hanya melewati hutan kecil dan tak jauh dari pemukiman. Tapi kini Amira menyadari jika ia berada ditengah hutan belantara yang sangat jauh dari pemukiman.
Pertama-tama Amira mencoba mencari air untuk menghilangkan rasa hausnya. Diamatinya sekitarnya.... tanpak beberapa tanaman liar disana. Namun tak ada yang bisa ia ambil airnya. Amira pun melanjutkan langkahnya sambil tetap mencari sumber makanan dan air untuknya. Setelah beberapa saat berjalan ia pun menemukan tanaman Kantung Semar yang cukup banyak. Amira langsung senang dan langsung memeriksa tanaman itu apakah masih terdapat air bersih didalamnya.
Setelah beberapa kali menemukan Kantung Semar yang sudah berisi serangga akhirnya ia dapat menemukan yang benar-benar masih bersih. Walau belum pernah mencoba sebelumnya Amira langsung meminum air yang ada di dalam tanaman Kantung Semar itu karena ia sudah sangat kehausan. Walau air yang ada di dalam tanaman itu tidak seberapa namun cukup menghilangkan rasa hausnya.
Amira segera mengumpulkan beberapa buah Kantung Semar lagi untuk persediaannya. Kemudian ia pun melanjutkan perjalanannya. Perutnya yang tadi sempat berdamai saat ia meminum air dari tanaman Kantung Semar kini mulai berdemo lagi. Mau tidak mau Amira harus segera mengisi perutnya karena ada dua janin didalam perutnya. Amira kembali memeriksa sekelilingnya mencari sesuatu yang bisa ia makan.
Saat Amira mulai kebingungan tiba-tiba ia melihat pohon Murbei. Dengan cepat Amira memetik buah-buah Murbei yang terlihat sudah matang dan langsung memakannya. Bak anak kecil yang baru saja melihat makanan Amira langsung memakan buah Murbei tersebut dengan lahab. Entah sudah berapa banyak buah Murbei yang sudah ia makan sampai akhirnya ia merasa cukup kenyang. Kemudian Amira pun beristirahat sejenak sambil memandang sekelilingnya yang penuh pepohonan dan tampak seperti tak ada akhirnya.
Setelah merasa cukup istirahat Amira mulai memetik beberapa buah Murbei lagi untuk persediaannya makan. Kemudian ia pun melanjutkan perjalanannya. Amira semakin menajamkan indera pendengaran dan penciumannya agar bisa segera menemukan sungai. Karena itu satu-satunya cara baginya untuk menemukan pemukiman.
Saat hari sudah lewat tengah hari Amira mulai mencium bau sungai. Dengan riang Amira mempercepat langkahnya. Ia juga semakin menajamkan pendengarannya untuk mendengarkan suara gemericik air. Tak lama ia pun mulai mendengarnya. Amira pun langsung menuju sumber arah suara air itu untuk menemukan sungai. Benar saja setelah beberapa saat mencari wanita itu akhirnya berhasil menemukan sungai yang dicarinya.
Namun ia harus kecewa saat melihat sungai yang ditemuinya merupakan sungai berarus deras dan dalam. Sedangkan Amira tidak bisa berenang. Saat ini ia sangat meruntuki kecerobohannya yang tak mau langsung belajar berenang pada tuan Sam saat suaminya itu menawarinya. Mau tidak mau Amira harus mencari jalan lain untuk menyeberangi sungai. Saat ia menyusuri pinggir sungai ia terkejut saat mengetahui jika arus sungai yang deras itu menuju arah air terjun.
Fikiran Amira langsung buntu.... ia tak tahu bagaimana caranya agar bisa turun ke bawah air terjun tersebut. Saking lelah dan hampir putus asa karena menemui jalan buntu wanita yang selalu tegar itu pun akhirnya meneteskan air mata. Kini ia seperti menyesali keputusannya lari dari tempatnya disekap karena disana ia masih bisa berlindung dari ganasnya alam liar dan bisa mendapat makanan yang cukup bagi janin yang sedang dikandungnya. Tapi nasi sudah menjadi bubur untuk kembali ke tempat semula pun Amira tak tahu jalannya.
Setelah puas menangis Amira pun mulai menghapus air matanya pelan. Amira sadar ia tak boleh berputus asa. Dengan perlahan ia menyusuri tebing dekat air terjun yang di temukannya. Ia mencari tanah yang agak landai agar ia bisa turun ke bawah. Dengan berpegangan dengan akar-akar pohon yang keluar dari tanah karena kemiringannya Amira mulai menuruni tebing.
Ia melakukannya dengan sangat hati-hati karena tanah yang dipijaknya cukup licin sedang ia hanya mengenakan flat shoes sebagai alas kakinya. Berkali-kali Amira hampir saja tergelincir dan jatuh terguling ke bawah jika ia tidak berpegangan erat pada dahan dan akar pohon yang bisa diraihnya. Cukup lama waktu yang ia butuhkan untuk sampai di bawah air terjun.
Sesampainya dibawah Amira kembali mengistirahatkan tubuhnya sebentar sambil memakan buah Murbei yang tadi sempat dibawanya. Setelah itu Amira membersihkan dirinya seadanya agar dapat melaksanakan ibadahnya. Selesai beribadah fikirannya kembali menjadi tenang. Amira kembali memindai sekelilingnya dan memutuskan untuk mengikuti arus sungai di bawah air terjun.
Namun sebelumnya ia harus mencari cara agar dapat menampung air untuk minum karena kantung semar yang ia bawa sebelumnya sudah jatuh dan hilang saat ia mencoba turun tadi. Ia juga harus mencari bahan makanan lain untuk mengisi perutnya nanti karena buah Murbei yang dibawanya tadi sudah habis ia makan. Setelah berkeliling mencari disekitar tempat itu akhirnya ia menemukan batang bambu yang patah namun cukup panjang untuk diisi air. Setelah dibersihkan Amira pun mengisi bambu itu dengan air dan menutupnya dengan menjejalkan daun talas.
Lalu Amira mulai mencari bahan makanan dan menemukan beberapa Jamur Kancing yang tumbuh liar di sana. Juga buah Ciplukan yang bisa ia makan. Setelah dirasa cukup Amira pun kembali berjalan menyusuri pinggir sungai berharap dapat segera menemukan pemukiman.
...............
Tuan Sam yang tiba dikantor polisi bersama Lukas menjadi kecewa karena pihak kepolisian belum juga mendapatkan informasi yang akurat tentang keberadaan Amira. Setelah keluar dari kantor polisi ia dan Lukas langsung menuju daerah S tempat anak buahnya sedang menyisir untuk mencari istrinya itu. Saat mereka tiba di daerah S tiba-tiba sinyal GPS pada cincin Amira kembali menyala.
Tuan Sam langsung memimpin anak buahnya untuk mencari lokasi tepatnya Amira berada.
"Tuan ... sepertinya nyonya masih bergerak di daerah ini" tunjuk Lukas pada peta digitalnya.
"Bisa kau beri tahu daerah mana itu?" tanya tuan Sam.
"Air terjun?"
"Iya tuan..." sahut Lukas.
"Itu berarti Amira berada di daerah aliran sungai..." gumam tuan Sam.
"Lukas cepat siapkan hellikopter penyelamat kita akan mencarinya dari udara!" perintah tuan Sam.
Lukas pun langsung melaksanakan perintah tuannya dan langsung memanggil dua buah hellikopter penyelamat untuk mencari Amira. Kemudian ia dan tuan Sam langsung menuju tempat terbuka agar dapat menaiki salah satu hellikopter tersebut bersama seorang petugas penyelamat sementara yang lain dinaiki oleh anak buah tuan Sam untuk pengamanan. Setelah menaiki hellikopter mereka segera menuju ketempat sinyal GPS Amira berasal.
Setelah terbang beberapa saat akhirnya mereka tiba dititik dimana sinyal itu berasal.
"Coba kalian lihat ke bawah! apakah kalian bisa melihat keberadaan istriku?" kata tuan Sam pada anak buahnya.
Sementara ia sendiri juga sudah memakai teropong untuk mencari Amira. Hellikopter itu pun berputar-putar untuk mencari Amira. Sedang dibawah sana Amira tengah duduk dibawah pohon setelah berjalan cukup jauh dari arah air terjun. Saat itulah ia mendengar suara hellikopter mendekat. Dengan segera Amira berlari ke tepi sungai berharap penumpang hellikopter tersebut melihatnya.
Namun saat ia tiba di tepi sungai tampak jika hellikopter itu sudah menjauh. Tak lama tampak datang lagi sebuah hellikopter yang lain. Dengan cepat Amira berusaha mencari perhatian dengan mengibarkan pasminanya yang kebetulan berwarna merah. Namun kembali hellikopter itu menjauh dari tempatnya berdiri. Tapi Amira tak mau menyerah. Ia lalu mengambil ranting kayu yang cukup panjang dan mengikatkan pasminanya pada batang tersebut dan mengibarkannya.
Tak lama ia kembali mendengar suara hellikopter yang kembali mendekat. Amira pun kembali mengibarkan pasminanya sambil mengangkat ranting pohon itu tinggi-tinggi.
Dari atas ketinggian hellikopter yang membawa tuan Sam dan Lukas melintasi aliran sungai menuju air terjun. Tuan Sam tampak fokus meneliti setiap sudut yang dilewati oleh hellikopternya melalui teropong yang dipegangnya. Namun ia tak menemukan apa pun. Ia pun lalu meminta sang pilot untuk mengelilingi daerah tempat sinyal itu berasal.
Tiba-tiba terdengar suara dari hellikopter yang ditumpangi anak buahnya yang terbang dibelakang hellikopter yang ditumpanginya.
"Lapor tuan sepertinya baru saja kami melihat seseorang mengibarkan kain di sekitar air terjun"
"Cepat putar balik!" perintah tuan Sam pada pilot di depannya.
Pilot pun segera melaksanakan perintah tuannya. Sementara tuan Sam kembali fokus menatap sekitaran aliran sungai dibawah air terjun. Setelah beberapa saat mencari ia pun melihatnya. Tampak Amira tengah mengoyangkan ranting pohon yang ujungnya diikat dengan kain merah yang sepertinya itu kerudungnya karena ia dapat melihat rambut istrinya itu yang diikat kebelakang asal.
"Cepat turunkan aku!" perintahnya pada petugas petugas penyelamat yang berada disampingnya.
Petugas itu pun segera memasangkan jaket dan helm pengaman pada tuan Sam lalu mengikatkan tubuh tuan Sam dengan tali pengaman yang akan digunakan untuk turun kebawah. Tak lupa petugas itu juga memberikan jaket dan helm lain untuk diberikan pada Amira. Setelah semuanya beres tuan Sam pun diturunkan dari hellikopter yang tetap mengudara menuju ke tempat Amira.
Dibawah Amira yang melihat sebuah hellikopter terbang agak rendah diatasnya. Sepertinya mereka melihatnya dan ada seseorang yang akan turun untuk menjemputnya. Segera Amira melepaskan ikatan pasminanya pada ranting pohon tadi dan segera pengenakannya untuk menutupi kepalanya. Benar saja tak lama tampak seseorang turun dari dalam hellikopter dengan menggunakan tali pengaman. Saat seseorang itu semakin dekat ia dapat melihat jika orang itu adalah tuan Sam suaminya.
Seketika air mata Amira luruh dan membasahi kedua pipinya. Ia sangat bahagia karena orang yang sangat dirindukannya kini datang kepadanya untuk menyelamatkannya. Saat kaki tuan Sam baru saja menyentuh tanah, Amira langsung berlari kearah suaminya itu dan memeluknya. Tangisnya pun langsung pecah di dada suaminya itu saat Tuan Sam melingkarkan tangannya ke tubuh Amira.
"Tenanglah kau sudah selamat" ucap tuan Sam lembut sambil mengusap kepala Amira.
Tuan Sam pun mengurai pelukannya pada Amira dan segera mengenakan jaket serta helm pada Amira lalu memasangkan tali pengaman pada istrinya itu. Setelahnya tuan Sam pun memberitahu pada petugas penyelamat di dalam hellikopter untuk menarik keduanya ke dalam hellikopter. Lalu ia pun kembali memeluk tubuh Amira saat keduanya ditarik keatas.