BODYGUARD DADAKAN

BODYGUARD DADAKAN
Positif


Tuan Sam yang tidak mau di bantah langsung menuntun Amira ke dalam mobil. Sedang nyonya Sarah langsung mengekori mereka di belakang. Setelah mendudukkan Amira di samping tempat duduk pengemudi tuqn Sam langsung berlari kecil mengitari mobil ke kursi pengemudi. Sebelum tuan Sam membuka pintu mobil nyonya Sarah menarik tangannya terlebih dahulu.


"Jangan lupa kak periksanya di dokter Obgyn ya..." bisiknya pada tuan Sam.


Dahi tuan Sam langsung berkerut dan memandangi adiknya yang sudah mengembang senyumnya.


"Apa....?" tanyanya menggantung.


Nyonya Sarah hanya menganggukkan kepalanya dan menyuruh kakaknya itu untuk segera pergi ke rumah sakit. Tuan Sam pun langsung pergi tanpa banyak bertanya lagi. Kini hatinya mulai berdebar kencang mendengar pernyataan adiknya tadi. Sesekali diliriknya istrinya yang duduk di sebelahnya itu. Tampak Amira sudah menyandarkan kepalanya di kursi. Wajahnya masih agak pucat karena muntah tadi.


"Apa kamu mau makan dulu sebelum kita ke rumah sakit?" tanyanya lembut.


Amira hanya menggelengkan kepalanya pelan. Ia memang sedang tidak ingin makan apa-apa. Padahal perutnya sudah kosong karena tadi isi perutnya sudah keluar semua karena muntah.


"Kau makanlah sedikit... jangan sampai perut kamu kosong" ucap tuan Sam mencoba membujuk Amira.


Amira membuka matanya perlahan. Saat melihat jika mobil yang dikendarai tuan Sam berada di depan alun-alun kota seketika ia menegakkan tubuhnya.


"Bisakah kita berhenti sebentar di alun-alun B...? tiba-tiba aku ingin makan bubur ayam" ucapnya sambil menatap suaminya dengan wajah memohon.


Tuan Sam tersenyum dan segera memarkirkan mobilnya di dekat alun-alun tak lupa ia melepaskan jasnya dan menyimpannya di mobil. Kemudian keduanya pun langsung turun dari mobil dan segera mencari penjual bubur ayam. Tak lama mereka pun berhasil menemukannya dan Amira pun langsung memesan dua porsi bubur ayam.


"Memangnya kau bisa menghabiskan dua mangkuk bubur ayam sekaligus sayang?" tanya tuan Sam terkejut.


Pasalnya walau istrinya itu bertubuh chubby namun porsi makannya masih normal dan tak pernah berlebihan.


"Ga lah B... yang satu buat kamu" sahut Amira kalem.


"Apa?" tanya tuan Sam kaget.


Bukankah Amira tahu jika tuan Sam sama sekali tidak suka segala jenis bubur? apa istrinya itu sengaja sedang mengerjainya? tapi Amira bukan tipe orang yang suka jahil seperti itu pikir tuan Sam. Tak lama pesanan mereka pun datang. Dengan lahap Amira menyantap buburnya. Sedangkan tuan Sam masih menatap bubur miliknya dengan pandangan aneh.


"Ayo B... dimakan buburnya" suruh Amira saat melihat tuan Sam hanya memandangi buburnya.


"Meyaa... kau tahu kan aku tidak suka bubur?"


"Aku tahu"


"Lalu kenapa kau suruh aku makan?"


"Karena aku ingin sekali melihat kau makan bubur" sahut Amira dengan mata yang tiba-tiba langsung berkaca-kaca.


Melihat jika kini istrinya sedang mulai merajuk tuan Sam pun mau tidak mau akhirnya mulai mengambil sesendok bubur dan mulai menyuapkannya ke dalam mulutnya sendiri. Dengan wajah yang sangat memprihatinkan tuan Sam berusaha untuk menelan bubur itu ke dalam perutnya. Melihat jika suaminya menuruti permintaannya Amira langsung terlihat sangat bahagia. Bahkan dengan telaten ia memberikan air minum pada tuan Sam saat pria itu terlihat kesulitan menelan makanannya.


"Enak kan?" ucapnya sambil mengelap sisa bubur di sudut bibir tuan Sam lembut.


Tuan Sam mengangguk pelan. Padahal dalam hatinya ia sangat tersiksa dengan rasa bubur yang sangat tidak disukainya itu. Namun saat melihat wajah Amira yang sangat bahagia ketika melihatnya memakan bubur ayam itu membuat tuan Sam sedikit melupakan rasa tidak sukanya.


"Apa kau sudah kenyang B?" tanya Amira saat melihat suaminya berhenti menyuapkan makanannya ke dalam mulut.


Tuan Sam hanya mengangguk pelan. Sejujurnya ia sudah sangat tersiksa sejak tadi saat harus memakan bubur itu. Melihat tuan Sam yang hanya mengangguk Amira pun mengambil mangkuk bubur tuan Sam yang masih berisi setengahnya dan langsung memakannya.


"Kenapa kau yang memakannya Meyaa... nanti perut kamu bengah" ucap tuan Sam.


"Ga pa-pa... lagi pula aku masih lapar" sahut Amira dan melanjutkan makannya.


Benar saja tak berapa lama bubur yang ada di dalam mangkuk milik tuan Sam sudah tandas. Dan Amira pun tanpa sengaja bersendawa karena kenyang. Tuan Sam tersenyum melihat tingkah Amira yang cukup aneh sejak pagi. Setelah membayar mereka pun melanjutkan perjalanan ke rumah sakit. Sesampainya di sana mereka pun langsung menuju ke ruangan dokter obgyn. Melihat ruangan dokter yang akan ditemuinya Amira langsung menoleh kearah suaminya meminta penjelasan.


"Kau tunggu saja hasil pemeriksaan dokter nanti... jadi sekarang kamu jangan protes dulu" kata tuan Sam tegas.


Amira pun menurut dan tak mau berdebat dengan suaminya itu. Mereka pun duduk dibangku yang ada di depan ruang pemeriksaan untuk menunggu giliran. Untung saja mereka datang masih cukup pagi sehingga mereka tak perlu menunggu lama untuk mengantri nomor urutan mereka. Selama menunggu Amira pun kembali mengingat kapan terakhir ia mendapatkan tamu bulanannya. Kalau tidak salah sudah hampir satu bulan ini dia telat.


"Apa benar aku hamil?" batin Amira.


"Nyonya Amira" panggil seorang perawat.


"Iya..."


"Silahkan masuk"


"Terima kasih"


Tuan Sam dan Amira pun masuk ke dalam ruang pemeriksaan. Tampak seorang dokter wanita yang berusia paruh baya tersenyum menyambut keduanya.


"Selamat pagi nyonya...tuan..."


"Pagi dok..." jawab keduanya berbarengan.


"Kapan terakhir nyonya mendapatkan menstruasi?"


"Seingat saya sudah lebih dari satu bulan yang lalu dok" jawab Amira.


"Belum dok"


"Kalau begitu silahkan melakukan tes urine terlebih dahulu nanti suster akan membantu nyonya"


"Baik dok"


Amira pun diantar oleh perawat untuk melakukan tes di kamar mandi yang juga tersedia di dalam ruangan itu. Tak berapa lama keduanya pun kembali ke ruang pemeriksaan. Tuan Sam yang menunggu sudah tampak tak sabar mengetahui hasilnya.


"Bagaimana hasilnya dokter?" tanya tuan Sam begitu dokter memeriksa hasilnya.


"Hemm... selamat tuan, nyonya Amira positif hamil dan usia kandungannya sudah tiga minggu" kata dokter tersebut dengan senyum lebar. Tuan Sam yang mendengar itu langsung memeluk istrinya dengan erat. Bahkan ia menciumi kening Amira. Dokter dan perawat yang melihat tingkah tuan Sam hanya bisa mengulum senyum mereka. Sedang Amira tampak mematung masih tak percaya jika dirinya benar hamil. Guncangan pada pundaknya oleh tuan Sam baru membuat Amira tersadar.


"Aku hamil B?" tanyanya pada tuan Sam.


"Iya Meyaa... kau hamil!" sahut tuan Sam.


"Ini bukan mimpi kan?"


Tuan Sam menggelengkan kepalanya dan menoleh pada dokter untuk meminta kepastian yang membuat dokter ikut menganggukkan kepalanya. Melihat itu Amira tak dapat menahan air matanya.


"Kenapa kau menangis Meyaa?"


"Aku bahagia B... akhirnya aku dan kak Sarah bisa sama-sama hamil" ucap Amira masih dengan air mata yang berlinang.


"Baiklah nyonya ... untuk saat ini saya hanya akan memberikan obat serta vitamin dan saya harap nyonya dapat menjaga kesehatan agar janin yang ada dalam kandungan nyonya juga sehat" kata dokter.


"Baik dokter" ucap Amira dengan suara bergetar.


Setelah itu keduannya pun pamit dan keluar dari ruang pemeriksaan. Tampak tuan Sam yang jadi over protective pada Amira. Pria itu langsung saja memapah tubuh Amira. Padahal wanita itu masih sanggup berjalan sendiri. Namun karena tak mau membuat keributan karena sudah pasti tuan Sam sama sekali tak mau di bantah maka Amira pun hanya menurut saja. Tuan Sam mendudukkan Amira di bangku depan apotek sedang dia sendiri menebus obat.


Saat menunggu obat Amira memandang sekelilingnya tampak beberapa ibu hamil yang juga sedang menebus obatnya. Perut mereka yang membuncit membuat aura keibuan mereka sangat terlihat. Tanpa sadar Amira mengelus perutnya sendiri. Kini sudah ada satu nyawa di dalam rahimnya. Tak terasa air matanya kembali menetes.Ia teringat pada kedua orang tuanya. Andai saja mereka masih hidup tentu kebahagiaannya akan semakin sempurna. Namun ia juga tak ingin mengingkari takdir. Jika saja kedua orang tuanya masih ada mana mungkin ia bisa merantau jauh dan akhirnya bisa bertemu dengan tuan Sam hingga menjadi suaminya.


Takdir memang terkadang terasa sangat meyakitkan namun selalu ada hikmah dibaliknya. Dan Amira merasa bersyukur takdirnya yang semula pahit karena kehilangan kedua orang tuanya secara bersamaan telah membuatnya bertemu dengan orang-orang baik sehingga akhirnya ia bisa bertemu dan menikah dengan tuan Sam yang jika dulu dalam mimpi pun ia tak dapat membayangkannya.


"Kamu kenapa Meyaa?" tanya tuan Sam saat kembali dari menebus obat.


"Aku tidak apa-apa B..."


"Baiklah kita pulang saja sekarang" kata tuan Sam.


"Kau tidak ke kantor?"


"Tidak ... aku sudah bilang pada Lukas untuk menggantikan aku hari ini" terangnya sambil memapah Amira menuju ke mobil. Saat keduanya dalam perjalanan pulang ponsel Amira berdering. Tertera nama iparnya nyonya Sarah di layar ponsel.


"Halo Ra... bagaimana hasilnya? apa kau hamil?" tanya nyonya Sarah begitu Amira mengangkat panggilannya.


"Iya kak... aku hamil"


"Benarkah...? ah... syukurlah jadi kita bisa melakukan kegiatan bumil bersama" ucap nyonya Sarah.


"Mana kakakku?"


Amira menempelkan ponselnya ke telinga suaminya.


"Ya?" kata tuan Sam.


"Kak kalau bisa kau jangan berangkat ke kantor dulu... beri perhatian pada Amira karena ini kehamilan pertamanya" nasehat nyonya Sarah.


"Aku tahu" jawab tuan Sam singkat.


"Baiklah hati-hati di jalan dan suruh Amira segera beristirahat setelah sampai di rumah"


"Iya..."


Nyonya Sarah pun mengakhiri panggilannya.


"Sudah" ucap tuan Sam dan Amira pun menarik kembali ponselnya dan memasukkannya ke dalam tasnya.


"Kak Sarah bilang apa?"


"Dia bilang kau harus banyak istirahat karena ini kehamilan pertamamu" terang tuan Sam.


Amira mendengus pelan. Ia tahu arti istirahat yang dimaksud oleh suaminya itu. Itu berarti ia tak akan diperbolehkan untuk melakukan sesuatu bahkan pekerjaan sepele sekali pun. Dan itu akan membuat Amira merasa bosan karena tak bisa melakukan apa-apa. Saat mereka sampai di rumah tuan Sam tak membiarkan Amira turun sendiri dari mobil. Pria itu bahkan menggendong Amira ala bridal style saat akan masuk ke dalam rumah walau Amira sudah menolaknya.


Tapi bukan tuan Sam namanya jika keinginannya bisa ditolak meskipun itu dari istrinya sendiri. Akhirnya Amira pun pasrah dengan perlakuan suaminya yang kelewat romantis. Setelah membawa Amira ke dalam kamar dan mebaringkannya diatas tempat tidur tuan Sam langsung menyuruh Amira untuk beristirahat. Sementara ia segera memanggil seluruh pegawai rumahnya untuk berkumpul. Dia memberitahukan kepada mereka semua tentang kehamilan Amira dan meminta mereka untuk ikut menjaga Amira dan juga kandungannya. Mendengar kehamilan nyonyanya semua pegawai di rumah tuan Sam ikut bahagia dan mereka pun berjanji menjaga nyonya mereka dengan baik. Tuan Sam pun merasa senang dengan kesetiaan semua pegawainya.


Sementara di London Keysha sedang merasa senang karena kini hotel miliknya sudah mulai bisa berjalan normal. Hal ini tak luput dari suntikan dana seorang investor baru yang ia temui setelah ia kehilangan beberapa investor lamanya.


"Sebentar lagi aku sudah bisa meninggalkan London untuk kembali merebut Sam dari si gendut itu..." batin Keysha saat melihat laporan perkembangan hotelnya yang semakin baik.