BODYGUARD DADAKAN

BODYGUARD DADAKAN
Tidak Direstui


Anna yang diseret keluar oleh nyonya Sarah tampak tak bisa melawan mamanya. Ia pun pasrah dengan air mata yang terus meleleh dari kedua bola matanya. Untung saja adik-adiknya dan para sepupunya masih berada di halaman belakang sehingga mereka tidak mendengar keributan yang terjadi juga melihat Anna yang terseok-seok dibawa nyonya Sarah masuk ke dalam kamarnya. Sesampainya di dalam kamar nyonya Sarah langsung menjatuhkan Anna diatas tempat tidur.


"Kau benar-benar sudah membuat mama dan papa marah Anna!" serunya.


"Tapi kenapa ma? apa hanya karena perbedaan umur kami papa sama mama begitu membenci om Raja?"


"Karena dia sudah membuat kamu jadi seorang pembohong!" sentak nyonya Sarah.


Anna terdiam. Memang benar kini ia sudah beberapa kali berbohong pada mamanya saat ingin bersama Raja. Tapi bukan kebohongan besar... lalu mengapa kedua orangtuanya begitu mempermasalahkannya?


Saat itulah Amira masuk ke dalam kamar. Saat dilihatnya nyonya Sarah yang masih marah dan Anna yang terduduk di samping tempat tidur, ia pun berusaha mendekat dengan perlahan.


"Kakak..." panggilnya dengan suara sedikit bergetar.


Nyonya Sarah menoleh kearah Amira. Bisa dilihatnya wajah iparnya itu yang sedikit pucat. Ia merasa jika Amira juga syok seperti dirinya.


"Kakak... biarkan aku bicara dengan Anna..." ucap Amira.


Nyonya Sarah pun mengangguk. Pasalnya ia merasa masih marah pada putrinya itu dan itu tidak baik karena ia akan berbuat kasar padanya. Oleh karenanya nyonya Sarah berfikir lebih baik ia menenangkan dirinya dulu.


"Baiklah..." ucap nyonya Sarah akhirnya.


Setelah nyonya Sarah keluar dari dalam kamar Amira langsung menghampiri Anna dan memeluk gadis itu erat. Seketika Anna menumpahkan tangisnya dalam pelukan Amira. Amira tak mampu berkata-kata, hanya elusan lembut yang bisa ia berikan di punggung Anna. Dibiarkannya gadis itu menumpahkan rasa sedihnya hingga akhirnya Anna mulai menghentikan tangisannya.


"Maafkan bunda sayang... bunda tidak bisa membantu kamu dan om Raja..." ucap Amira lirih.


Air mata Amira pun ikut jatuh saat ia mengucapkannya. Rasanya saat ini Amira sangat tidak berdaya melihat Anna dan Raja. Yang ia tahu jika ini cinta pertama keduanya. Sungguh sakit jika akhirnya mereka harus berpisah karena terhalang oleh restu kedua orangtua Anna.


"Anna harus bagaimana bunda?" tanya Anna terdengar putus asa.


Sungguh memilih antara kedua orangtua dan orang yang dicintainya itu sangat sulit. Karena apa pun yang akhirnya akan ia pilih tetap saja hatinya akan sakit karena harus kehilangan salah satunya.


"Kamu tenangkan dirimu dulu sayang... dan biarkan om Raja memperjuangkanmu... kau juga harus berjuang untuk meyakinkan kedua orangtuamu bahwa pilihanmu itu sudah tepat, tapi kau jangan sekali-kali melawan kedua orangtuamu itu... karena mereka hanya berharap yang terbaik untukmu... bunda juga akan berusaha berbicara dengan unclemu... semoga dia bisa merestui kalian dan bisa membantu meluluhkan hati kedua orangtuamu..." kata Amira berusaha memberikan solusi terbaik pada Anna.


Anna mengangukkan kepalanya faham. Ya walau bagaimana pun ia tak mungkin melawan kedua orangtuanya sendiri demi Raja. Meski pria itu telah bertahta dihatinya namun tetap saja bagi Anna kedua orangtuanya adalah yang paling utama.


"Sekarang kau beristirahatlah..." ucap Amira lembut.


"Apa kau sudah sholat isya'?" tanyanya pada Anna.


Gadis itu menggelengkan kepalanya tanda ia belum melaksanakan kewajibannya itu.


"Sholatlah! dan minta pada Allah jalan terbaik bagi semuanya... setelah itu tidurlah karena besok kau masih harus berangkat ke sekolah..." lanjut Amira.


Anna mengangguk patuh, kemudian Amira pun keluar dari kamar Anna. Saat turun ke lantai bawah ia melihat tuan Sam dan Raja baru saja keluar dari ruang kerja tuan Bram. Melihat interaksi keduanya bisa dipastikan jika suaminya sudah bisa menerima hubungan Raja dan Anna. Amira pun menghela nafas lega. Setidaknya kini ia dan tuan Sam ada dalam satu pemikiran.


"Aku pulang dulu..." pamit Raja pada tuan Sam dan Amira setelah Amira mendekat.


"Kakak tidak pamit pada..."


"Tidak Ra... aku takut malah akan membuat mereka tambah emosi..." potong Raja yang tahu jika yang maksud Amira adalah tuan Bram dan nyonya Sarah.


"Ya kau pulanglah dulu Raja... biar nanti aku akan berusaha membujuk mereka..." ujar tuan Sam.


"Kakak hati-hati..." pesan Amira yang takut jika Raja tidak berkonsentrasi menyetir karena kejadian tadi.


Raja pun menganggukkan kepalanya. Setelah kepergian Raja, Amira menatap lekat suaminya.


"Apa kau sungguh akan membantu mereka berdua Db?"


"Tentu saja Meyaa... karena aku tahu jika Raja orang yang bisa dipercaya dan setia..."


Amira tersenyum mendengar perkataan suaminya.


"Kau memang yang terbaik Db..." ucap Amira sambil memeluk tuan Sam.


Tuan Sam hanya tersenyum dan langsung membalas pelukan Amira. Ia tahu jika istrinya itu pasti tertekan dengan pengakuan Raja dan Anna tadi. Karena itu ia tak ingin membuat Amira merasa bersalah jika mendukung Anna dan Raja. Sementara Raja yang sudah berada di dalam mobilnya tampak memandang ke arah kamar Anna yang kini terlihat agak gelap. Raja menarik nafasnya berat. Kemudian ia pun mengemudikan mobilnya keluar dari kediaman tuan Bram dan nyonya Sarah.


Namun bukannya pulang ke apartemennya pria itu justru membelokkan mobilnya ke sudut dekat rumah nyonya Sarah dan memarkirkan mobilnya di sana. Pria itu kemudian keluar dari dalam mobil dan berjalan ke arah samping rumah nyonya Sarah yang tidak terjangkau oleh kamera keamanan di rumah itu. Bertahun-tahun bersahabat dan berkunjung ke rumah tuan Bram dan nyonya Sarah membuat Raja tahu dimana saja titik kamera keamanan rumah itu berada.


Dengan gesit pria itu memanjat tembok pembatas rumah dan masuk ke halaman samping. Dengan hati-hati ia berjalan mendekat ke kamar Anna berada. Suatu keberuntungan karena di depan balkon kamar Anna terdapat sebuah pohon mangga. Dengan cekatan Raja memanjat pohon itu untuk menjangkau kamar Anna. Tak butuh waktu lama pria itu sudah berada diatas balkon kamar Anna. Dengan perlahan ia mencoba untuk membuka pintu balkon.


"Honey Bee!" panggilnya pelan saat ia sudah berada didepan gadis itu.


Anna yang terpejam sambil menangis pun perlahan membuka matanya demi mendengar suara kekasihnya. Seketika gadis itu bangun dan duduk diatas tempat tidurnya saat melihat pria yang dicintainya itu sudah berada dihadapannya. Raja yang berjongkok agar bisa sejajar dengan Anna langsung menghapus air mata yang masih meleleh dipipi kekasihnya itu.


"Jangan menangis lagi sayang..." ucapnya lembut.


"Kau tidak apa-apa MB?" tanya Anna sambil menatap wajah kekasihnya yang terlihat agak lebam akibat perbuatan papanya tadi.


"Bibirmu berdarah..." sambungnya saat melihat sudut bibir Raja yang terluka.


"Ini tidak apa-apa... jangan khawatir" ucap Raja sambil menampilkan senyumnya seolah menunjukkan jika dia baik-baik saja.


"Aku akan mengobatimu..." kata Anna yang langsung beranjak mencari kotak obat di lemari kamarnya.


Raja beranjak duduk di tepi tempat tidur Anna. Tak lama gadis itu sudah mendekat dengan kotak obat ditangannya. Ia pun mendudukkan dirinya di samping Raja dan menghadap ke arah pria itu. Perlahan dibersihkannya luka Raja sebelum ia memberikan obat luka disana. Raja yang terbiasa terluka menganggap luka diwajahnya hanya luka kecil biasa. Namun ia tak menolak saat Anna merawatnya.


"Apa ini sakit?" tanya Anna saat perlahan menekan luka Raja dengan alkohol.


"Tidak... aku pernah mendapatkan yang lebih parah dari ini..." sahut Raja.


"Maafkan papaku..." ucap Anna setelah selesai merawat luka Raja.


"Ssstt... jangan merasa bersalah Honey Bee... ini sudah resiko yang harus aku tanggung saat mengungkapkan hubungan kita pada kedua orangtuamu..."


"Tapi seharusnya papa tidak melakukan kekerasan padamu MB..."


"Aku tahu... tapi kita harus maklum... dia sedang emosi..."


Anna memeluk Raja dengan erat. Ia merasa jika mungkin saja ini terakhir ia bisa memeluk kekasihnya itu. Karena kedua orangtuanya pasti akan melarangnya bertemu dengan Raja. Raja membalas pelukan Anna tidak kalah erat. Pria itu juga merasakan apa yang dirasakan oleh Anna saat ini. Keduanya saling berpelukan untuk beberapa saat.


"Jika nantinya kedua orangtuamu tetap tidak mau merestui kita aku harap kamu bisa menerimanya dan tidak melawan pada kedua orangtuamu Honey Bee..."


"Apa kau akan meninggalkan aku?" tanya Anna yang kini sudah mulai lagi berkaca-kaca.


"Aku tidak akan meninggalkanmu... tapi jika kedua orangtuamu tetap pada pendirian mereka aku bisa apa? meski begitu kau bisa pastikan jika selamanya kau adalah wanita satu-satunya dalam hatiku... meski kita tidak bisa bersama..." ungkap Raja sambil menangkupkan tangannya diwajah Anna.


Anna memandang wajah Raja sendu. Mengapa kisah cintanya bisa setragis ini? bertahun-tahun memendam rasa... dan saat rasa cintanya terbalas kini malah terhalang oleh restu kedua orangtuanya.


Raja mengecup bibir Anna lembut, seolah ini adalah kecupan perpisahan mereka. Ya meski belum pasti namun kejadian tadi membuat keduanya pesimis akan bisa melanjutkan hubungan keduanya.


"Aku mencintaimu Anna... hingga maut menjemputku... kau harus yakin itu..." ucap Raja sambil membersihkan bibir Anna yang sedikit basah dengan ibu jarinya.


"Kau juga harus tahu jika hanya kau yang berhak atas hatiku..." sahut Anna.


Keduanya kembali berpelukan.


"Kau tidurlah..." kata Raja setelah mengurai pelukannya.


Raja membaringkan Anna diatas tempat tidur lalu menutupi tubuh gadis itu dengan selimut.


"Aku pulang dulu..." pamitnya setelah mengecup kening Anna dalam.


Anna mengangguk pelan dan mulai memejamkan matanya. Raja pun beranjak pergi setelah melihat kekasihnya itu mulai tertidur. Setelah menutup pintu balkon pria itu kembali turun lewat pohon mangga. Lalu kembali memanjat keluar tembok pagar.


Sejak kejadian malam itu kedua orangtua Anna melarang gadis itu menemui Raja. Bahkan sang sopir diharuskan menjemput Anna dulu baru kemudian Adit. Mereka tak ingin kecolongan Anna kabur menemui Raja saat pulang sekolah. Namun kekhawatiran mereka tampaknya tak beralasan karena Anna sama sekali tidak berniat untuk kabur. Gadis itu hanya berubah semakin dingin saat di rumah. Kini tak lagi terdengar suara ceria gadis itu walau hanya sekedar bercanda dengan adik-adiknya.


Rutinitas Anna hanya berangkat sekolah dan setelah itu ia langsung masuk ke dalam kamarnya. Tak pernah lagi gadis itu ikut berkumpul meski sekedar menonton tv bersama keluarganya. Saat sang adik bertanya ia hanya menjawab sekenanya. Perubahan sikap Anna tentu membuat kedua orangtuanya merasa sedikit bersalah. Namun mereka yakin jika lambat laun Anna akan melupakan Raja.


Sementara Raja sudah kembali ke New York karena tidak bisa meninggalkan pekerjaannya lebih lama. Dan usaha terakhirnya untuk membujuk tuan Bram dan istrinya sebelum ia kembali ke New York juga gagal. Tuan Sam yang berusaha membantu pun tampaknya tidak bisa berbuat apa-apa karena adik dan juga iparnya itu cukup keras kepala. Dan alasan yang mereka gunakan juga cukup membuat tuan Sam tak bisa berkutik karena keduanya mengungkit masa lalu Raja yang mantan mafia.


Pagi ini seperti biasa keluarga tuan Bram sarapan bersama di meja makan. Anna tetap dengan sikap dinginya yang bagai robot dalam melakukan kegiatannya. Meski berkali-kali kedua orangtuanya dan adik-adiknya mencoba mencairkan suasana dan mengajaknya bicara tapi tetap saja tak ada senyum atau jawaban lepas darinya. Hanya menjawab singkat pada setiap pertanyaan yang ditujukan padanya.


"Sampai kapan kamu akan bersikap dingin seperti ini Anna?" tanya nyonya Sarah yang sudah tidak tahan dengan sikap putrinya itu.


Namun gadis itu hanya diam dan melanjutkan makannya seolah tak mendengar perkataan mamanya. Ketika nyonya Sarah hendak menekan Anna tiba-tiba salah satu Art datang dan memberitahu jika ada tamu yang mencari Anna. Nyonya Sarah dan tuan Bram pun langsung keluar untuk mencari tahu siapa tamu tersebut. Dan ternyata orang itu adalah Devan. Pemuda itu tampak langsung tersenyum ramah saat kedua orangtua Anna menemuinya.


"Maaf om... tante... saya kemari ingin meminta izin untuk bisa mengantar Anna ke sekolah... dan kalau boleh nanti siang saya juga akan mengajak Anna pergi makan siang bersama..."


Tuan Bram memandang pemuda yang ada dihadapannya itu tajam. Meski ia tidak begitu menyukai Devan karena track recordnya yang sering bersama wanita namun setidaknya pemuda itu bisa membuat Anna melupakan Raja. Akhirnya dengan berat hati ia pun mengizinkan Devan mendekati putrinya. Mendapat lampu hijau dari ayah Anna membuat Devan merasa bahagia.