
Amira semakin merasakan sakit pada perutnya. Berkali-kali wanita itu mengerang menahan rasa sakit akibat kontraksi. Tangan tuan Sam pun sudah mulai terasa kebas akibat cengkraman Amira. Namun pria itu tetap sabar dan membantu istrinya agar mengatur nafasnya seperti saat mereka berlatih di tempat Amira senam kehamilan.
"Atur nafasmu sayang... ayo... tarik nafas... hembuskan!" ucap tuan Sam memberi aba-aba.
Amira pun mengikuti arahan dari suaminya itu. Sementara di depan sudah seperti sedang mengikuti balap rally saja. Jimmy dan Lukas sudah seperti pembalap dan co-drivernya. Lukas dengan cepat memberikan arahan kemana mereka harus melaju dan berbelok arah melewati mobil-mobil didepannya. Entah sudah berapa kali mereka dapat menerobos lampu lalu lintas sebelum lampu itu berubah merah karena Jimmy melajukan mobilnya bak pembalap.
Dan akhirnya mereka pun dapat tiba dengan cepat dan selamat sampai didepan rumah sakit. Tampak para dokter dan perawat sudah menunggu mereka dengan brankar yang sudah mereka siapkan. Saat mobil yang dikemudikan oleh Jimmy berhenti di depan mereka dengan sigap Lukas turun dan segera membuka pintu penumpang. Kemudian para petugas medis itu pun langsung memindahkan tubuh Amira ke atas brankar. Tuan Sam pun ikut turun dan tetap berada disamping istrinya itu saat menuju ke ruang persalinan.
Saat berada di lorong rumah sakit, berada diatas brankar menuju ke ruang persalinan kembali Amira melihat bayangan kedua orangtuanya hadir di hadapannya. Seketika rasa sakit yang ia rasakan menjadi sedikit berkurang ia rasakan karena rasa bahagia kedua orangtuanya ada bersamanya. Bahkan dapat ia lihat jika ayah dan ibunya tampak tersenyum.
"Ayah... ibu... terima kasih kalian berada disini..." batin Amira.
Tak lama mereka pun memasuki ruang persalinan. Tuan Sam yang semula disuruh untuk menunggu di luar ruangan kembali dipanggil masuk ke dalam karena permintaan dari Amira. Akhirnya tuan Sam pun dapat mendampingi istrinya melahirkan.
Lukas dan Jimmy pun tetap menunggu di depan ruang bersalin. Keduanya juga tampak mencemaskan keadaan Amira dan juga bayi yang dikandungnya. Apalagi setelah kejadian yang mereka lihat tadi. Tiba-tiba Lukas teringat jika ia belum menghubungi nyonya Sarah. Lalu dengan segera ia pun menghubungi adik dari tuannya itu.
Sementara di dalam ruang bersalin tampak Amira tengah berjuang untuk melahirkan anak-anaknya.
"Ayo nyonya ... tarik nafas dan dorong sekali lagi ... kepalanya sudah terlihat" ucap dokter yang menanganinya.
Amira pun kembali menarik nafasnya lalu mengejan dengan sekuat tenaga. Dan kali ini berhasil karena tak lama langsung terdengar suara tangisan bayinya.
"Alhamdulillah..." seru tuan Sam langsung mengecup kening Amira.
"Anak kita sudah lahir sayang..." ucapnya ditelinga Amira.
Amira yang tampak lelah hanya bisa tersenyum tipis. Tenaganya terasa terkuras. Namun saat dokter berkata jika masih ada satu lagi bayi yang harus dikeluarkan Amira kembali berusaha untuk mengumpulkan tenaganya.
"Ayo nyonya ... tinggal satu lagi..."
Amira hanya mengangguk. Sedang tuan Sam kembali menggengam tangan istrinya itu seolah menyalurkan kekuatan.
"Kamu pasti bisa sayang...." bisiknya ditelinga Amira.
Amira kembali mengejan untuk melahirkan bayi keduanya...
"Tidak usah buru-buru nyonya... tarik nafas... keluarkan... iya ... betul begitu... sekali lagi...iya ... setelah ini kita coba untuk mengejan lagi"
Amira mengangguk.
"Baik nyonya... kita mulai ... tarik nafas...sekarang" ucap sang dokter memberi arahan.
Amira pun kembali mengejan ...
Tuan Sam yang berada disamping Amira tak henti-hentinya berzikir agar Amira kembali lancar melahirkan anak kedua mereka.
"Iya nyonya ... bagus sekali... kepalanya sudah mulai terlihat... kita coba sekali lagi"
Dan Amira pun mulai mengatur nafasnya lalu kembali mengejan. Tangisan bayi keduanya membuat semua orang yang ada di dalam ruangan itu merasa lega. Tuan Sam kembali menciumi wajah istrinya itu. Ia tak perduli dengan tatapan para dokter dan perawat yang ada disana.
"Alhamdulillah sayang... anak-anak kita lahir dengan selamat..." ucap tuan Sam dengan suara bergetar.
Amira bahkan dapat melihat jika suaminya itu meneteskan air mata. Amira pun tersenyum menjawab perkataan suaminya itu. Tenaganya sudah terkuras habis... kini yang ia inginkan hanya beristirahat.
"Selamat tuan... nyonya kedua bayi anda berjenis kelamin laki-laki..." ucap sang dokter sambil tersenyum.
Tak lama kedua bayi itu pun di berikan pada tuan Sam untuk diadzani secara pergantian. Sementara Amira tengah ditangani oleh dokter untuk dijahit setelah melahirkan kedua bayinya secara normal.
"Nyonya... coba lihat kedua putra anda..." ucap seorang perawat bersama rekannya membawa kedua bayi Amira.
Amira yang baru selesai di jahit tampak sangat terharu dan bahagia melihat kedua bayinya sehat tanpa kurang suatu apa. Akhirnya usahanya untuk melindungi keduanya berhasil. Kini di dalam dekapannya kedua bayi mungil itu tampak nyaman tertidur.
"Terima kasih sayang... kau telah menjaga dan melahirkan kedua anak kita dengan selamat..." ucap tuan Sam sambil mengecup kening Amira.
Sementara Amira tampak tersenyum bahagia. Tanpa orang lain tahu saat ini Amira tengah tersenyum pada kedua orangtuanya yang sedari tadi hadir mendampinginya. Walau berwujud bayangan namun bagi Amira itu masih lebih baik dan membuatnya memiliki kekuatan lebih saat tadi melahirkan.
"Terima kasih ayah... ibu..." batin Amira.
Tak lama Amira pun dipindahkan ke ruang perawatan. Tampak tuan Sam selalu mendampingi istrinya itu. Saat keluar dari ruang persalinan Lukas dan Jimmy langsung menyambut keduanya. Mereka sangat bahagia karena persalinan Amira berjalan lancar. Tuan Sam pun langsung memberitahu jika kedua anaknya berjenis kelamin laki-laki yang disambut dengan ucapan syukur dan selamat dari keduanya.
Tak lama tampak tuan Bram datang dengan nyonya Sarah. Keduanya juga sangat bahagia saat mengetahui jika Amira berhasil melahirkan kedua anaknya dengan selamat. Tuan Bram dan nyonya Sarah memang hanya datang berdua sedang ketiga anak mereka sengaja ditinggal di rumah.
"Selamat ya kak... Amira..." ucap nyonya Sarah dan tuan Bram bersamaan.
Kemudian tuan Bram dan nyonya Sarah memeluk tuan Sam secara bergantian.
"Terima kasih..." sahut tuan Sam.
Nyonya Sarah lalu menghampiri Amira yang masih berada diatas brankar dan memeluknya.
"Maaf Ra... kami tidak dapat membantu apa-apa saat penyerangan rumah kalian..." ucapnya.
"Ga pa-pa kak... yang penting sekarang semuanya baik-baik saja..." sahut Amira sambil tersenyum.
"Lalu bagaimana dengan orang yang menyerang rumah kalian kak? apa semua sudah tertangkap?" tanya tuan Bram pada kakak iparnya itu.
"Mereka semua sudah ditangkap Bram..." kata tuan Sam.
"Syukurlah..." sahut tuan Bram.
Sementara Jimmy tengah menghubungi anak buahnya untuk memastikan jika Vallery tidak dapat lolos dari jeratan hukum dengan mudah. Dia juga berencana untuk membuat perhitungan dengan Castillo sebab pria itu pasti tidak akan tinggal diam saat tahu jika adiknya tertangkap. Setelah itu barulah ia menemui Amira di ruang perawatannya.
Saat melihat Jimmy datang Amira terlihat sangat bahagia. Ia tak menyangka jika Jimmy bisa cepat menemuinya.
"Kak Raja..." panggilnya.
"Selamat ya Ra... kau sudah menjadi seorang ibu sekarang..." ucap Jimmy dengan suara bergetar.
Ia tak dapat menyembunyikan rasa harunya karena gadis kecil yang dulu dikenalnya kini sudah menjadi seorang ibu.
"Kakak..."
"Tenang saja... kakak bahagia Ra..."
"Db... dia..." kata Amira pada tuan Sam yang sedari tadi berada di sampingnya.
"Aku tahu..." ucap tuan Sam.
"Kalian sudah saling kenal?" tanya Amira penasaran.
"Dia datang karena wanita itu..." terang tuan Sam.
"Wanita itu?"
"Vallery... namanya Vallery..." terang Jimmy.
"Maaf karena aku, kalian jadi terseret..." kata Jimmy.
"Apa mereka musuh kakak?" tanya Amira.
Jimmy hanya mengangguk dengan wajah menyesal karena masalahnya Amira dan keluarganya jadi terlibat.
"Tapi kalian jangan khawatir aku akan menyelesaikan semuanya... dan akan kupastikan tak akan ada lagi yang akan menganggu kalian" ucap Jimmy.
Amira tersenyum bahagia. Raja dan suaminya sudah saling kenal dan kini ia merasa jika keluarganya kembali berkumpul.
"Kakak sudah melihat anak-anakku?" tanya Amira.
"Ya... kakak sudah melihatnya tadi diruang NICU" jawab Jimmy.
Mereka pun berbincang ringan hingga perawat datang karena saatnya anak-anak Amira menyusu pada ibunya. Jimmy pun pamit keluar sedang tuan Sam tetap disana menemani istrinya sambil menggendong salah satu putra mereka sehingga Amira dapat menyusui bayinya secara bergantian.
Di tempat lain tuan Castillo tampak marah karena mendapat kabar jika Vallery ditahan karena penyerangan begitu juga seluruh anak buahnya yang ikut bersama adiknya itu. Mau tidak mau ia harus turun tangan untuk dapat membebaskan adik kesayangannya itu.
Sedang Jimmy yang sudah kembali ke rumah yang sengaja dibelinya saat mencari keluarganya dulu. Di sana ia mendapat laporan dari bawahannya jika Castillo akan datang sendiri untuk membantu adiknya agar terbebas dari masalah hukum.
"Tidak semudah itu Castillo... kau dan adikmu akan membayar semua yang telah kalian lakukan pada Amira!" ucap Jimmy geram.
Setelah itu Jimmy pun segera menyusun rencana agar dapat membalas perbuatan kakak beradik itu. Saat semuanya telah ia susun dengan rapi ia pun bersiap untuk melaksanakan rencananya.
"Tunggulah Amira... setelah ini aku akan meninggalkan semuanya dan aku akan kembali padamu sebagai Raja... kakak yang akan selalu bersamamu dan juga melindungimu..." batin Jimmy.
Tekad Jimmy sudah bulat ia untuk keluar dari dunia hitam, ia juga sudah mempersiapkan semuanya bahkan jika ia harus dipenjara untuk mempertanggungjawabkan semua perbuatannya selama ini. Ia ingin hidup dengan damai setelah menemukan Amira...
Lain lagi dengan keadaan Amira...
Setelah tiga hari dirawat di runah sakit Amira dan kedua bayinya akhirnya diizinkan untuk pulang. Sebuah pesta kecil diadakan oleh nyonya Sarah untuk penyambutan. Tampak bu Wati yang baru bisa bertemu Amira sejak penyerangan sangat bahagia hingga ia langsung memeluk Amira saat Amira baru saja sampai.
"Amira... syukurlah semua baik-baik saja..." ucapnya.
"Iya bu... terima kasih sudah mau datang" sahut Amira.
"Tentu saja nak... maaf saat itu ibu tidak bisa langsung datang karena ibu sangat syok mendengar kejadian itu di berita tv" terang bu Wati.
"Tidak apa-apa bu..." sahut Amira sambil menggenggam tangan mantan ibu kosnya itu.
"Coba ibu lihat anak-anakmu..." ucap bu Wati sambil mendekati perawat yang membawa kedua bayi Amira.
"Masyaallah... lucu sekali mereka..." seru bu Wati saat melihat kedua bayi Amira yang gembul.
"Apa kalian sudah memberi mereka nama?" tanya bu Wati sambil mengambil alih salah satu bayi Amira dari perawat yang membawanya.
"Belum bu... nanti saja sekalian saat acara aqiqah..." jawab tuan Sam sambil menuntun Amira untuk duduk.
"Iya baiklah..." sahut bu Wati yang sibuk memandangi bayi Amira yang ada dalam gendongannya.
Hai readers.... bisa kasih masukan buat nama baby twins Amira? silahkan beri saran di kolom komentar... ditunggu partisipasinya.... terima kasih🥰🥰