BODYGUARD DADAKAN

BODYGUARD DADAKAN
Musibah


Sejak Sandra pergi berbulan madu dengan Dave ia hanya beberapa kali saja menghubungi kedua orangtuanya dan juga Amira melalui vidio call. Tapi semuanya maklum dengan keadaan pengantin baru yang ingin lebih banyak menghabiskan waktu berdua. Sebenarnya ada rasa sedih dalam hati Amira karena merasa kini sahabatnya kembali jauh darinya. Tapi bukankah itu suatu hal yang wajar jika sudah memiliki keluarga sendiri? Amira juga tidak mau egois.


Kehadiran Kartika yang kini sering datang ke apartemennya sedikit mengurangi rasa sedih dan sepinya. Namun tetap saja Sandra adalah sahabat sejatinya. Meski begitu Kartika juga sudah menjadi teman yang baik untuk Amira. Keduanya juga menjadi semakin akrab. Kartika yang terbiasa hidup sendiri kini mulai merasakan arti keluarga. Meski ia sudah memiliki seorang kekasih namun kekasihnya itu bekerja di luar kota sehingga mereka jarang bertemu. Demikian juga saat bersama pak Dahlan dan bu Zaenab, Kartika merasa seperti memiliki orangtua karena sejak kecil ia berada di panti asuhan.


Seperti siang ini Kartika datang ke apartemen Amira sambil membawa brownies hasil karyanya untuk Amira. Saat Amira membuka pintu tampak wajah wanita itu sedikit pucat membuat Kartika panik.


"Kamu kenapa Ra? apa kau sakit?" tanya Kartika bertubi-tubi.


"Masuk dulu Tik..." sahut Amira sambil membukakan pintu lebih lebar pada Kartika.


Keduanya pun masuk ke dalam bersama kemudian Amira menutup kembali pintu apartemennya.


"Apa kau sakit Ra?" tanya Kartika khawatir.


"Aku ga pa-pa kok Tik... mungkin aku cuma masuk angin saja" terang Amira.


"Kok sepi Ra? kemana si kembar?" tanya Kartika yang tak melihat kedua anak Amira.


"Oh... Sahir dan Samir dibawa abah sama umi... mereka diundang makan siang oleh orangtua Dave..." terang Amira.


"Kau tidak ikut?" tanya Kartika karena tak biasanya Amira membiarkan kedua putranya pergi ke tempat baru tanpa dirinya.


"Aku sejak pagi merasa tidak enak badan... dari pada disana aku merepotkan jadi lebih baik aku tidak ikut" sahut Amira.


"Abah dan umi juga khawatir aku tidak bisa istirahat jadi mereka membawa Samir dan Sahir bersama mereka..." sambung Amira.


"Kalau begitu apa kau sudah makan siang?" tanya Kartika.


Amira hanya menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.


"Jangan begitu dong Ra... kau harus makan agar kau tidak bertambah sakit..." kata Kartika yang langsung menuju dapur untuk menyiapkan makan siang untuk Amira.


"Kamu ga usah repot-repot Tik..."


"Aku ga repot kok Ra... lagi pula hari ini aku sedang cuti jadi aku bisa menjagamu sampai abah dan umi pulang bersama kedua putramu" potong Kartika.


Kini Kartika pun sibuk memasak sup untuk Amira. Sementara Amira hanya bisa menunggu dan memperhatikan kegiatan Kartika dari meja makan yang ada di seberang dapur. Tak butuh waktu lama Kartika pun selesai membuat sup yang hanya berisi sayuran sebab Kartika tidak mau Amira menunggu lama. Meski hanya berisi sayuran namun ternyata rasanya sangat enak membuat Amira berselera untuk makan setelah mencicipi sup itu sedikit terlebih dahulu.


"Ini enak sekali Tik... rasanya segar membuat perutku tidak merasa mual..." ucap Amira sambil menambah makanannya.


"Iya Ra... aku sengaja membuatnya agar kau berselera untuk makan... setelah ini lebih baik kau minum obat lalu beristirahatlah..." kata Kartika.


"Hemm..." sahut Amira karena mulutnya masih penuh dengan makanan.


Setelah Amira selesai makan Kartika langsung membawa piring kotor bekas makan Amira dan langsung mencucinya meski Amira sudah melarangnya.


"Jangan begitu Ra... kau kan sedang sakit... lebih baik kamu istirahat saja dulu biar aku yang membereskan semuanya..." kata Kartika keukeh.


Akhirnya Amira pun pasrah dan masuk ke dalam kamarnya untuk beristirahat. Tak lama Kartika pun masuk ke dalam kamar Amira sambil membawakan obat.


"Ini minumlah Ra... semoga kau bisa lekas sembuh..." kata Kartika sambil menyerahkan sebuah pil obat dan segelas air putih pada Amira.


Amira pun mengangguk dan menerima obat itu dan bersiap untuk meminumnya. Namun saat itu tiba-tiba saja terdengar suara ledakan keras dari luar kamar dan seketika gedung apartemen itu bergetar hebat dan dinding serta lantai di kamar Amira retak dan mulai roboh. Amira langsung menjatuhkan obat dan gelas yang ada ditangannya karena kaget. Kartika pun tak kalah kaget tak menduga jika terjadi ledakan di gedung apartemen keduanya.


Debu langsung beterbangan memenuhi seluruh ruangan yang membuat keduanya terbatuk dan kehilangan penglihatan mereka karena suasana langsung menjadi berkabut.


"Ayo kita keluar dari sini Tik..." kata Amira sambil bangun dari tempat tidurnya.


Kartika tampak masih syok dan tak bergerak dari tempatnya. Amira pun langsung menarik tangan temannya itu untuk segera keluar dari dalam kamar. Begitu keduanya keluar dari dalam kamar pemandangan mengerikan terpampang jelas di depan mereka. Tampak sebagian dari ruangan telah hancur dan terlihat jika sebentar lagi atap apartemen akan roboh.


Amira kembali menarik tangan Kartika agar mengikutinya ke pintu keluar apartemen. Baru saja Amira membuka pintu apartemen atap dan lantai dibelakangnya mulai roboh. Dengan cepat Amira menyeret Kartika keluar dari dalam apartemen. Diluar Amira dan Kartika dapat melihat para pengawal yang berjaga didepan apartemen Amira sudah tewas tertimpa lantai atas yang jebol. Pemandangan itu tentu saja sangat mengerikan bagi keduanya apa lagi bagi Amira yang mengenal dekat mereka sejak mereka mengawalnya.


Sambil tertatih dan menutup hidungnya dengan ujung kerudungnya Amira membimbing Kartika untuk turun lewat tangga darurat sebelum gedung itu semakin roboh. Sementara di luar gedung banyak orang yang sudah berkumpul begitu juga dengan para wartawan yang ingin meliput kejadian tersebut. Seketika seluruh media memberitakan tentang runtuhnya sebuah gedung apartemen mewah di pusat kota. Para petugas kepolisian dan juga paramedis pun sudah berada di lokasi dan sedang melakukan penyelamatan.


Mereka bekerja dengan cepat untuk mencari korban selamat sebelum gedung itu semakin ambruk. Dan benar saja tak berapa lama lantai atas gedung kembali miring dan roboh ke arah gedung yang berada di sampingnya. Para petugas kepolisian dan paramedis pun terpaksa menjauh agar tidak menjadi korban. Demikian juga dengan para wartawan yang langsung dilarang untuk mendekat.


Tuan Sam yang tengah rapat di kantornya dikejutkan dengan kedatangan salah satu bawahannya yang menginterupsi jalannya rapat. Meski takut akan kemarahan tuan Sam namun orang itu terpaksa masuk karena ada berita penting yang harus disampaikannya.


"Ada apa kau berani masuk kemari?" tanya Lukas dengan suara datar.


"Ma... maaf tuan... saya kemari untuk memberitahu jika sebaiknya tuan melihat berita yang sedang ada di televisi..." terang orang itu.


Dengan cepat Lukas langsung menyalakan televisi yang juga tersedia di ruangan rapat. Dan alangkah terkejutnya mereka semua yang ada di sana saat melihat berita tentang robohnya gedung apartemen tempat tuan Sam tinggal. Di sana dijelaskan jika gedung itu roboh setelah sebelumnya terjadi ledakan di sana yang diduga disebabkan oleh bom yang di pasang tepat dilantai bagian tengah gedung.


Bahkan bagian atas gedung juga sudah roboh menimpa gedung yang ada di sebelahnya. Tuan Sam langsung teringat dengan Amira dan kedua putra kembarnya. Tanpa fikir panjang ia langsung pamit pada semua orang dan pergi menuju gedung apartemennya. Lukas yang selalu berada dibelakangnya pun tak ketinggalan. Keduanya langsung masuk ke dalam mobil tuan Sam dan Lukas langsung mengemudikannya dengan kecepatan tinggi. Tuan Sam hanya terdiam selama dalam perjalanan. Fikirannya kalut memikirkan keadaan istri dan kedua anaknya. Begitu pun dengan Lukas, ia tak bisa membayangkan apa yang terjadi pada nyonya dan kedua putra kembarnya itu.


Sesampainya di depan gedung apartemen yang sudah roboh dan hanya terlihat puing-puing saja yang tersisa tuan Sam berlari dan berusaha untuk menerobos masuk demi memgetahui keadaan istri dan kedua putra kembarnya. Namun petugas kepolisian langsung menahannya dan menjauhkannya dari gedung demi menjaga keselamatannya sendiri.


"Tidaakk... aku mohon biarkan aku masuk! istri dan kedua anakku masih ada di dalam sana..." teriak tuan Sam dalam bahasa inggris frustasi ambil berontak ingin tetap masuk ke dalam gedung yang kini sudah hampir rata dengan tanah.


"Tidak tuan... anda tidak boleh masuk ke dalam itu akan sangat berbahaya bagi keselamatan anda sendiri!" seru salah satu petugas polisi yang berusaha menahannya.


"Tuan sudahlah... lebih baik kita turuti perintah mereka..." kata Lukas ikut berusaha menasehati tuan Sam agar tidak berbuat nekat.


Perlu lebih dari dua petugas kepolisian dan juga Lukas untuk bisa menahan tuan Sam dan membawanya ke tempat yang lebih aman. Saat itulah terdengar suara yang membuat hati tuan Sam sedikit lega.


"Ayah!" teriak dua bocah balita secara bersamaan.


Tuan Sam pun langsung menoleh ke asal suara dan matanya langsung terbelalak saat melihat kedua buah harinya berlari kearahnya. Tuan Sam pun langsung berjongkok sambil merentangkan kedua tangannya untuk menyambut kedua putranya yang ternyata selamat. Kedua bocah kembar itu pun langsung masuk ke dalam pelukan tuan Sam sementara di belakang mereka tampak pak Dahlan dan bu Zaenab berjalan menyusul.


"Bunda dimana?" tanya Samir.


Deg...


Tuan Sam langsung mengurai pelukannya dan memandang wajah kedua putranya itu silih berganti.


"Apa maksud kalian? apa bunda tidak bersama kalian?" tanya tuan Sam pada kedua putranya itu.


Kedua bocah itu langsung menggelengkan kepalanya secara bersamaan membuat tuan Sam lemas dan dadanya langsung terasa sakit.


"Sahir dan Samir tadi ikut dengan kami makan siang diluar tadi nak Sam..." terang pak Dahlan yang sudah berada di dekat ketiganya.


"Iya... tapi Amira..." sambung bu Zaenab tak bisa melanjutkan kalimatnya karena sedih namun tuan Sam tahu apa itu artinya.


Amira masih berada di dalam gedung saat ledakan itu terjadi...


Tuan Sam langsung merogoh kantung jasnya dan mengeluarkan poselnya. Ia berusaha menghubungi ponsel Amira... namun sampai panggilan kelima tak ada jawaban meski masih ada nada tersambung.


"S***t!" sungut tuan Sam.


Kemudian ia pun mencoba menghubungi ponsel kepala pengawal yang menjaga Amira. Tapi kali ini bukan hanya tak diangkat bahkan nada sambung pun tak terdengar hanya suara operator yang menyatakan jika ponsel yang dihubungi sedang tidak aktif atau di luar jangkauan. Bagaimana bisa tuan Sam menghubungi sebab posel itu telah hancur bersama pemiliknya yang sudah tertimpa reruntuhan gedung apartemen.


Setelah tidak dapat menghubungi pengawalnya tuan Sam pun bertambah panik. Kini ia tidak tahu apakah Amira dan para pengawalnya berhasil selamat atau malah telah tewas. Tuan Sam langsung merasakan tubuhnya menjadi lemas dan hampir saja ia tumbang jika saja Lukas tidak sigap menangkap tubuhnya agar tidak terjatuh ke tanah.


"Ayah!" teriak kedua bocah kembar yang melihat ayah mereka hampir terjatuh.


Pak Dahlan segera membantu Lukas untuk memapah tubuh tuan Sam dan membawanya untuk masuk ke dalam gedung hotel yang berada tak jauh dari gedung apartemen yang roboh dan mendudukkannya di kursi lobi hotel itu. Sedang bu Zaenab menggandeng Sahir dan Samir sambil mengikuti ketiga pria itu dari belakang. Gedung hotel tempat mereka kini berada memang kini digunakan untuk menampung korban yang berhasil selamat. Namun mereka tak melihat sosok Amira diantara korban selamat yang berada di sana.