
Amira semakin merasakan kontraksi pada perutnya membuat wanita itu menyuruh sang sopir untuk mempercepat laju mobilnya. Tanpa membantah sang sopir langsung menambah kecepatan mobilnya. Bukan tanpa sebab... karena pria itu bisa melihat dari kaca spionnya jika Amira sudah semakin pucat. Pria itu bahkan nekat menerobos lampu merah demi mempercepat mereka agar bisa sampai di rumah sakit. Amira yang berusaha tetap tenang dan mengatur nafasnya seketika teringat dengan kedua buah hatinya yang masih berada di sekolah.
Sambil menahan rasa sakit ia segera menghubungi Raja. Ya hanya dia yang bisa ia andalkan saat ini untuk menjemput kedua putranya di sekolah. Karena ia tahu jika saat ini pasti suaminya tengah menyusulnya ke rumah sakit.
"Kakak...esshh..." panggil Amira sambil mengerang lirih begitu Raja menjawab telfonnya.
"Ada apa Ra? kau kenapa?"
"Kakak... bisa tolong... jemput Sahir dan Samir?esshh..." ucapnya masih dengan mengerang lirih menahan sakit.
"Kamu kenapa Ra?" tanya Raja lagi karena ia mendengar suara Amira yang seperti tengah menahan sakit.
"Aku sepertinya... akan melahirkan kak... kak Sam sedang menyusulku... jadi... aarrggh!" ucapan Amira terpotong dengan erangan kerasnya saat rasa sakit itu kembali datang dengan lebih hebat.
"Baiklah Ra... aku akan menjemput mereka... kamu yang kuat ya... sekarang kamu dimana dan sama siapa?"
"Aku ada di mobil kak... sama pak sopir... kami masih di jalan... menuju rumah sakit..." terang Amira terbata.
"Baiklah aku tutup dulu... kau berhati-hatilah!" ucap Raja kemudian mematikan ponselnya.
Kini Amira kembali berkonsentrasi mengatur nafasnya karena kontraksi itu semakin sering. Sang sopir terus melajukan mobilnya menuju ke rumah sakit. Sesampainya di rumah sakit ternyata tuan Sam dan Lukas sudah berada di sana. Tuan Sam langsung membuka pintu mobil dan membopong tubuh Amira begitu mobil berhenti di depan rumah sakit. Pria itu langsung membawa tubuh istrinya itu ke dalam sambil berteriak meminta pertolongan. Para perawat langsung sigap membawakan brankar dan memindahkan tubuh Amira ke sana. Dokter pun langsung datang dan memeriksa kondisi ibu hamil itu.
"Sepertinya nyonya sudah pembukaan lima tuan..." terang sang dokter pada tuan Sam.
Dokter pun menyuruh perawat untuk membawa Amira ke ruang persalinan karena pembukaan yang Amira alami termasuk cepat.
"Db!" panggil Amira saat dirinya hendak di bawa oleh para perawat.
"Dokter... izinkan saya mendampingi istri saya..." ucapnya mengetahui keinginan Amira.
Dokter pun menyetujui permintaan tuan Sam. Mereka pun segera menuju ruang persalinan dengan tuan Sam selalu berada disamping Amira sambil menggengam tangan istrinya itu dengan erat. Dan seperti perkiraan sang dokter pembukaan pada Amira berlangsung cepat hingga baru setengah jam ia berada di ruang bersalin kini Amira tengah berjuang mengeluarkan bayinya dari dalam rahimnya.
Karena ini kehamilan keduanya maka Amira dengan cepat mengikuti instruksi sang dokter saat menyuruhnya mengejan. Dengan tuan Sam yang berada disampingnya dan selalu memberinya kata-kata semangat Amira berjuang melahirkan buah hati ketiganya. Tak lama suara yang sangat dinantikan pun terdengar...
"Ooee... ooee...ooee..."
"Selamat tuan... nyonya... bayinya lahir dengan selamat dan sempurna... dan kali ini jenis kelaminnya perempuan..." ucap sang dokter yang memang merupakan dokter tempat Amira selama ini memeriksakan diri dan dia juga dokter yang dulu menangani Amira saat melahirkan Sahir dan Samir.
"Alhamdulillah..." ucap tuan Sam dan Amira bersamaan.
Meski masih kelelahan namun Amira selalu mengembangkan senyumnya. Perjuangannya terbayar saat mendengar tangis bayinya saat lahir ke dunia.
"Terima kasih sayang... kau telah membuat keluarga kita semakin lengkap dengan kehadiran putri kita..." bisik tuan Sam ditelinga Amira setelah sebelumnya ia menghadiahi istrinya itu dengan kecupan di keningnya.
Setelah sang bayi dibersihkan tuan Sam pun segera menadzani putrinya. Diluar ruang bersalin tampak seluruh keluarga sudah berkumpul. Mereka tampak tidak sabar untuk melihat bayi Amira. Setelah dipindahkan ke ruang perawatan kedua putra Amira langsung menemui bunda mereka. Saat tadi dijemput oleh Raja keduanya sangat penasaran ketika Raja mengatakan alasannya yang menjemput mereka dan bukannya Amira.
"Bunda... dedek bayinya dimana?" tanya Samir begitu dua bocah itu masuk ke ruang perawatan Amira bersama Raja.
"Sebentar lagi dedeknya dibawa kemari nak... yang sabar ya..." jawab tuan Sam yang diangguki oleh Amira.
Tak lama yang mereka tunggu pun tiba. Perawat membawa bayi Amira ke ruang perawatannya. Sahir dan Samir sangat antusias melihat adik bayinya.
"Ayah adeknya cewek atau cowok?" tanya Samir sambil menatap kagum pada adik bayinya itu.
"Adeknya cewek kakak..." terang tuan Sam.
"Apa kalian sudah memilihkan nama untuknya?" tanya Raja yang juga terpesona dengan bayi Amira.
"Sadira..." ulang Raja sambil menatap bayi kecil yang tengah tertidur didalam boxnya itu.
Kali ini pun wajah putri tuan Sam dan Amira masih mirip dengan ayahnya seperti juga dengan kedua kakaknya. Amira pun tampak sudah pasrah ketiga putra dan putrinya itu lebih mirip dengan ayah mereka dibanding dengan dirinya. Bahkan Sadira hanya memiliki jejak Amira dibibir dan rambut lebatnya saja.
Sore harinya nyonya Sarah datang dengan tuan Bram dan juga ketiga buah hati mereka. Lukas juga membawa istrinya Lusi yang kini tengah berbadan dua. Sedangkan Sandra hanya bisa vidio call karena ia ikut dengan Dave tinggal di London setelah acara resepsi pernikahan Lukas. Pak Dahlan dan bu Zaenab juga datang menjenguk setelah mendapat kabar kelahiran bayi Amira begitu juga dengan bu Wati. Bu Wati jadi merasa memiliki cucu sendiri karena Amira sudah ia anggap seperti putrinya sendiri.
Dua hari Amira dirawat di rumah sakit setelah melahirkan. Kemudian ia pun pulang ke rumahnya dengan diantar tuan Sam. Sesampainya di rumah ia disambut oleh seluruh anggota keluarga dan juga sahabatnya. Bahkan Sandra juga datang bersama Dave dari London. Dan seminggu setelah kelahiran Sadira, tuan Sam dan Amira pun mengadakan aqiqoh untuk putri bungsu mereka.
Saat selesai acara Raja yang menginap di rumah Amira pun berpamitan pada wanita yang kini ia anggap sebagai adiknya itu. Ia harus mengurus perusahaan yang baru dirintisnya di New York. Ia yang menggunakan identitas baru harus mulai membangun usahanya itu kembali dari nol di negeri paman Sam itu. Dan kali ini tak ada sedikit pun ada hubungannya dengan dunia hitam.
"Apa kakak akan lama disana?" tanya Amira sendu.
Ia merasa kebersamaanya dengan Raja selalu saja singkat. Padahal ia menemukan sosok kakak pada pria itu.
"Mungkin lebih dari dua tahun Ra... aku tidak bisa memastikannya..." terang Raja.
"Tapi bagaimana dengan orang-orang dari masa lalu kakak? apa kakak tidak takut ada yang akan membalas dendam pada kakak?" tanya Amira khawatir pada keselamatan Raja.
"Kamu jangan khawatir... kakak akan tetap menjaga kerahasiaan identitas kakak... semua akan diurus oleh Rudi... kakak hanya akan mengawasi..." kata Raja yang mengerti akan kekhawatiran Amira.
"Emmm... apa kakak tidak berfikir untuk berumah tangga?" tanya Amira hati-hati.
Karena ia berfikir jika Raja juga membutuhkan seorang pendamping yang mengerti akan dirinya dan membangun keluarganya sebdiri. Mungkin dengan begitu Raja akan berfikir untuk menetap di Indo dan ia bisa dekat dengan kakaknya itu. Dan mereka akan menjadi keluarga besar yang bahagia.
"Untuk saat ini belum Ra... mungkin nanti jika kakak menemukan belahan jiwa kakak seperti kamu menemukan Sam..." sahut Raja sambil tersenyum.
"Aku memang sudah bisa menerimamu sebagai adikku dan bukan lagi wanitaku... tapi sampai saat ini belum ada yang bisa menggetarkan hatiku seperti dulu saat aku jatuh cinta padamu..." batin Raja.
"Hemm... baiklah aku do'akan kakak akan segera menemukan jodoh kakak... meski pun itu wanita bule..." ujar Amira.
"Memang kenapa kalau kakak dapat wanita bule? bukannya itu akan memperbaiki keturunan seperti Sandra?" goda Raja.
"Iya... tapi nanti kakak tidak akan tinggal disini lagi seperti Sandra..." ungkap Amira dengan nada sendu.
"Hei... Sandra kan seorang wanita... jadi wajar jika ia mengikuti suaminya... sedang aku nanti akan menjadi suami... jadi istriku pasti juga akan mengikutiku kemana pun aku pergi..." kata Raja membuat Amira menyungingkan senyumnya.
"Kalau begitu janji ya... kalau kakak sudah menemukan wanita yang cocok menjadi istri maka kakak akan kembali dan tinggal disini meski pun nanti istri kakak bule..." ucap Amira.
"Iya... kakak janji..." sahut Raja.
Tak terasa hari dimana Raja akan pergi ke New York akhirnya tiba. Tuan Sam dan Amira sengaja mengantar Raja hingga ke bandara. Ketiga putra dan putri mereka pun ikut serta. Kepergian Raja yang akan lama membuat Amira tampak sedih. Meski begitu ia tak mau membebani kakak angkatnya itu. Ia juga berharap agar Raja bisa menemukan jodohnya disana agar kakaknya itu tidak kesepian.
"Kakak... bolehkah aku memberikan kalung pemberianmu itu pada Sadira? karena namanya sangat cocok dengan kalung itu..." ungkap Amira saat terakhir kali Raja berpamitan padanya.
"Boleh saja Ra..."
"Kalau begitu kakak saja yang memakaikannya..." ucap Amira sambil memberikan kalung itu pada Raja.
Memang dari rumah Amira sengaja membawa kalung itu di kantong celananya. Ia ingin Raja sendiri yang memasangkan kalung itu pada Sadira. Raja pun mengambil kalung pemberiannya dulu pada Amira dari tangan wanita itu. Lalu ia pun memakaikan kalung itu pada Sadira. Raja bahkan merangkap tali kalung itu agar tidak terlalu panjang saat dikenakan oleh Sadira.
Bayi mungil itu pun tampak tak keberatan dan tak terusik dengan kalung yang kini melingkar di lehernya. Raja tersenyum puas saat melihat Sadira mengenakan kalung yang dulu ia pesan khusus untuk Amira. Lebih baik memang kalung itu dikenakan oleh Sadira dari pada Amira. Karena bagaimana pun juga bisa saja tuan Sam akan salah faham nantinya. Menyangka jika masih ada rasa Raja pada Amira. Meski tak pernah mengatakan dengan gamblang tapi sebagai sesama pria tuan Sam bisa merasakan jika dulu Raja juga memiliki rasa pada Amira. Hanya saja wanita itu tak pernah menyadarinya.
Setelah mengantar Raja keluarga tuan Sam pun kembali ke rumah mereka. Beberapa minggu kemudian Amira mendapatkan kabar bahagia dari Sandra. Akhirnya setelah hampir satu tahun ia pun mengandung anak pertamanya bersama dengan Dave. Amira sangat bahagia mendapatkan kabar jika sahabatnya tengah mengandung. Meski hanya lewat vidio call Amira langsung mengucapkan selamat pada sahabatnya itu. Ibu hamil itu tampak sangat bahagia meski kini ada di negeri orang. Dave menjadi suami yang sangat pengertian pada istrinya itu. Karenanya tanpa sepengetahuan Sandra ia telah menerbangkan pak Dahlan dan bu Zaenab ke London begitu ia mendapatkan kabar kehamilan istrinya itu.
Dave tahu jika istrinya membutuhkan kehadiran kedua orangtuanya disaat kehamilannya. Berada di negeri asing akan terasa berat pada kehamilan Sandra meski Dave dan keluarganya memperlakukan Sandra dengan sangat baik. Tapi tetap saja dengan berada dekat dengan kedua orangtuanya di saat kehamilan pertamanya akan membuat ibu hamil itu akan lebih rileks dan tidak terlalu stres.