BODYGUARD DADAKAN

BODYGUARD DADAKAN
Selamat


Tuan Sam langsung menoleh ke arah putranya saat Sahir memanggilnya. Dengan penuh rasa penasaran, ia pun ikut memeriksa lemari yang ditunjuk oleh Sahir. Dan benar saja... dengan satu gerakan ringan ia bisa menggeser lemari penuh buku itu dengan mudah. Dan apa yang keduanya lihat dibaliknya sungguh mencengangkan. Ternyata di sana ada sebuah lorong yang gelap tanpa pencahayaan sama sekali. Sahir kembali memeriksa dinding di samping lorong. Sesuai dengan perkiraannya ternyata ada stop kontak lampu disana. Segera pemuda itu menekannya dan...


Byar!


Lampu langsung menyala di tengah lorong. Dapat dilihat jika lorong itu tidak terlalu panjang dan diujung sana terlihat sebuah pintu lain yang tertutup. Tuan Sam dan Sahir melangkahkan kaki mereka dan masuk ke dalam sana. Dalam hati keduanya sudah bisa menduga jika di balik pintu itu terdapat keberadaan Bara, Ricko dan tentu saja dokter Andrew. Dengan langkah pelan keduanya terus masuk ke dalam agar tidak menyadarkan dokter Andrew tentang kedatangan mereka. Sedang di luar Lukas juga sedang melewati ruang kerja dokter Andrew bersama Raja. Keduanya bisa melihat dengan jelas dimana lemari buku disana ada yang bergeser karena pintu ruangan yang terbuka lebar.


Tanpa kata keduanya langsung masuk ke dalam memeriksa. Seperti tuan Sam dan Sahir tadi, keduanya juga terkejut saat melihat ada pintu lorong di balik lemari buku dokter Andrew. Tahu jika saat ini pasti tuan Sam dan Sahir sudah masuk ke dalam sana, keduanya pun langsung menyusul. Di dalam ruangannya, dokter Andrew tengah menyiapkan sesuatu pada Ricko. Ia telah memindahkan brankar Ricko ke tengah ruangan agar ia lebih leluasa untuk melaksanakan niatnya pada pemuda itu.


Bara yang tidak berdaya karena tangan dan kakinya sudah diikat oleh dokter Andrew hanya bisa menatap Ricko sedih. Luka dikepalanya juga masih membuat pemuda itu merasakan sakit dan pusing di kepalanya itu. Sementara Ricko tampak sudah pasrah dalam menerima nasibnya untuk menjadi salah satu koleksi dari dokter Andrew. Ya... dapat dilihat oleh Ricko dan juga Bara jika dokter Andrew menyimpan banyak spesimen berupa organ tubuh baik dari hewan maupun manusia. Jadi saat ini ia yakin jika sesaat lagi akan menjadi bagian dari salah satu spesimen koleksi dari dokter gila itu. Untuk terakhir kali Ricko menoleh ke arah Bara yang ada di pojok ruangan. Ia bisa melihat jika pemuda itu juga sedang menatapnya dengan tatapan sedih dan tidak berdaya.


Dengan gerakan matanya Ricko seolah tengah mengatakan pesan terakhirnya pada Bara. Sebab saat ini seluruh tubuh Ricko sudah tidak dapat ia gerakkan lagi. Tampaknya dokter Andrew sudah menyuntiknya dengan obat pelumpuh otot.


"Tolong jaga Dira... jika kamu berhasil selamat" ucapnya dalam hati dan mencoba menyampaikannya melalui sorot matanya pada Bara.


Sedangkan Bara seolah memiliki kekuatan telepati sehingga ia merasa mengetahui apa yang sedang dikatakan Ricko melalui sorot matanya. Bara menggelengkan kepalanya pelan, menolak permintaan Ricko karena ia yakin jika pertolongan akan segera datang pada mereka.


"Bersiaplah!" kata dokter Andrew memutuskan percakapan dengan bahasa isyarat diantara keduanya.


Ricko memandang wajah dokter Andrew yang terlihat dingin dan seperti monster. Sudah tidak ada lagi wajah ramah dan kebapakan yang selama ini ditunjukkannya saat ia bersama Ricko dulu. Sungguh dokter Andrew benar-benar mirip serigala berbulu domba yang sesungguhnya karena berhasil berklamufase dengan sangat baik. Ia juga bahkan sempat membuat Ricko hampir menjadi seperti dirinya saat dulu berusaha mendoktrinnya untuk memiliki Sadira dan nanti akhirnya menyakitinya. Untung saja rasa cintanya pada gadis itu menyadarkannya untuk menjadi tetap waras. Ricko merasa lebih beruntung dibandingkan mamanya dulu yang menyakiti dirinya sendiri hanya karena cinta.


Cinta pada Sadira bukanlah cinta yang merusak seperti kata dokter Andrew padanya. Cinta pada Sadira malah membuatnya menjadi pribadi yang lebih baik. Saat ini hanya satu penyesalannya. Ia belum sempat melepaskan papanya dan juga Maya. Ya... saat ini Ricko merasa jika balas dendamnya itu hanya sia-sia karena hanya akan membuat dirinya lebih terluka dan tidak bisa menikmati hidupnya. Mamanya juga tidak akan pernah bisa hidup kembali. Ia kini sudah bisa merelakan mamanya yang memilih jalan pintasnya. Ia juga mulai berusaha untuk memaafkan sesalahan papanya dan juga Maya. Dokter Andrew tampak mengambil pisau bedah yang sudah dipersiapkannya. Tadi ia sudah membuat tanda di area dada Ricko hingga ke bagian perut pemuda itu. Sepertinya dokter gila itu ingin mengambil salah satu organ tubuh Ricko saat pemuda itu masih hidup.


"Aku ingin tahu... kenapa kamu bisa berubah lemah Ricko? apa karena cinta pada gadis itu yang membuatmu jadi seorang pembangkang?" tanya dokter Andrew yang tak membutuhkan jawaban dari Ricko.


Dokter Andrew lalu mulai menggoreskan pisau bedahnya pada kulit Ricko, membuat pemuda itu langsung meringis karena merasakan sakit. Namun ia tak bisa bergerak sama sekali. Ya... Ricko yang dalam pengaruh obat pelumpuh otot memang masih bisa merasakan sakit ditubuhnya, meski ia tidak dapat menggerakkan anggota tubuhnya sendiri. Bara pun tampak meringis menahan ngilu seperti ikut merasakan sakit yang dirasakan oleh Ricko saat melihat dokter Andrew perlahan menyayat tubuh Ricko. Dan tampaknya dokter itu saat ini masih ingin bermain-main, karena dokter Andrew tidak menyayatkan pisaunya dalam.


"Lihatlah... bagian atas dagingmu cukup bagus... kamu memang cukup menjaga kebugaran tubuhmu..." ucap dokter Andrew seperti sedang menerangkan tentang obyek penelitian.


Darah sudah mulai membanjiri brankar tepat Ricko diletakkan. Meski dokter Andrew tidak mengiriskan pisau bedahnya terlalu dalam tapi masih mengakibatkan luka yang mengeluarkan banyak darah.


"Sekarang kita lihat... apakah organ dalam tubuhmu juga dalam keadaan bagus..." ucapnya lagi sambil mulai menyayat lebih dalam.


Ricko menggerang kesakitan dan darah semakin deras mengalir dari lukanya. Dalam fikirannya Ricko sudah menyangka jika saat ini nyawanya sudah akan melayang ditangan dokter Andrew. Ricko memejamkan matanya pasrah. Bayangan sang mama yang menyambutnya membuatnya sedikit menyunggingkan senyumnya. Setidaknya ia akan segera bertemu dengan sang mama yang sudah lama ia rindukan.


Braak!


"Angkat tangan!" seru seseorang dari arah belakang dokter Andrew.


Dokter Andrew terkejut hingga menjatuhkan pisau bedah yang dipegangnya ke lantai. Ia tidak menyangka jika ada yang mengetahui tempat rahasianya. Perlahan dokter itu pun mengangkat tangan dan membalikkan badannya. Ia melihat tuan Sam dan Sahir sudah berdiri dihadapannya. Tuan Sam bahkan sudah mengarahkan pistolnya kepadanya.


"Sahir!" titah tuan Sam pada putranya yang membuat Sahir langsung melangkah ke depan untuk memeriksa keadaan Ricko.


Sahir terperangah saat melihat keadaan Ricko yang mengenaskan. Terlihat luka yang menganga di bagian depan tubuhnya. Untung saja luka itu belum terlalu dalam hingga organ dalam tubuhnya belum terlihat dari luar. Tapi luka itu pun bukan luka yang kecil karena sudah mengeluarkan banyak darah.


"Ayah... Ricko membutuhkan paramedis!" seru Sahir panik.


Pemuda itu tampak bingung dengan apa yang harus ia lakukan untuk menolong temannya itu karena ia bukan mahasiswa kedokteran.


"Tutup lukanya dokter!" perintah tuan Sam pada dokter Andrew sambil mengarahkan pistolnya ke kepala dokter gila itu.


Dokter Andrew tampak tidak bergeming. Dokter itu malah terlihat santai dan malah menikmati saat melihat Ricko yang sudah mulai sekarat.


Dengan malas dokter Andrew kembali berbalik dan menghadap ke arah Ricko. Ia kemudian mengambil peralatannya dan mulai menjahit luka Ricko. Saat itulah dari arah pintu terlihat Raja dan Lukas masuk. Mereka berdua pun terkejut saat melihat keadaan di dalam sana. Tuan Sam memerintahkan Lukas untuk memanggil paramedis untuk menangani Ricko. Sementara Raja membebaskan Bara. Setelah menjahit luka Ricko, dokter Andrew diperintahkan untuk menyingkir oleh tuan Sam agar Sahir dan Lukas bisa membawa Ricko keluar terlebih dahulu dengan menggunakan brankar. Dibelakangnya ada Raja yang memapah Bara. Sementara terakhir dokter Andrew yang tetap dalam todongan pistol oleh tuan Sam menyusul mereka semua.


Begitu keluar dari dalam rumah, terlihat dua buah ambulans dan petugas paramedis sudah menunggu di halaman rumah dokter Andrew. Tak lama juga datang mobil polisi yang juga sudah dipanggil oleh Lukas. Dokter Andrew akhirnya diserahkan oleh tuan Sam kepada petugas kepolisian yang langsung menangkap dokter itu dan membawanya ke dalam mobil tahanan. Bara dan Ricko langsung dibawa ke rumah sakit dengan ambulans. Tuan Sam dan yang lainnya pun mengikuti ke rumah sakit. Rumah dokter Andrew pun kemudian disegel oleh pihak kepolisian untuk penyelidikan. Bi Ijah dan satpam rumah dokter Andrew juga ditahan untuk dimintai keterangan sebelum diputuskan menjadi tersangka.


Sesampainya di rumah sakit Ricko langsung ditangani secara intensif. Sebab meski dokter Andrew sudah menjahit luka pemuda itu namun Ricko mengalami kekurangan darah akibat lukanya yang sempat mengeluarkan banyak darah dan dokter itu tidak memberinya transfusi darah. Setelah memastikan Ricko dan Bara mendapatkan penanganan yang baik, tuan Sam pun segera menyusul ke kamar perawatan Sadira. Pria itu tentu saja sangat mengkhawatirkan keadaan sang putri karena tadi ia belum sempat mengeceknya secara pasti.


"Ayah!" seru Sadira saat melihat sang ayah memasuki ruang perawatannya.


"Sayang..." sahut tuan Sam langsung memeluk putrinya itu yang tengah duduk diatas brankarnya.


"Bagaimana keadaanmu sayang?" tanyanya lembut.


"Alhamdulillah baik ayah..." sahut Sadira sambil tersenyum.


"Bagaimana keadaan kak Bara dan kak Ricko?"


"Mereka baik sayang... sekarang kamu harus cepat sembuh agar bisa berterima kasih pada mereka..." ucap tuan Sam menyembunyikan keadaan Ricko yang parah.


Amira yang melihat suaminya seperti sedang menyembunyikan sesuatu pun mengerti jika pasti ada hal buruk yang menimpa kedua pemuda itu. Namun ia tidak mungkin menanyakannya karena menjaga agar Sadira tidak tertekan.


"Kamu istirahatlah lagi... biar kak Samir yang akan menjagamu..." kata tuan Sam yang langsung dipatuhi oleh Sadira.


Kemudian tuan Sam keluar dari dalam sana diikuti oleh Amira.


"Ada apa Db... apa terjadi sesuatu yang buruk pada Bara dan Ricko?" tanya Amira saat keduanya sudah berada diluar ruang perawatan Sadira.


"Ini tentang Ricko... dokter gila itu tadi hendak mengoperasinya untuk mengambil organ tubuhnya. Untung kami datang tepat waktu hingga hal itu gagal ia lakukan. Tapi dia sudah sempat menyayat tubuh pemuda itu hingga kehilangan banyak darah..." terang tuan Sam yang membuat Amira terkejut.


Wanita itu langsung menutup mulutnya dengan kedua tangannya dan mata yang berkaca-kaca. Ia tidak bisa membayangkan betapa mengerikannya situasi yang dihadapi oleh Ricko saat itu. Dan hal ini terjadi kerena pemuda itu ingin menyelamatkan Sadira.


"Lalu Bara?" tanya Amira yang juga mengkhawatirkan kekasih putrinya itu.


"Bara baik-baik saja... hanya saja tubuhnya sangat lemah dan sulit digerakkan. Entah apa yang sudah dilakukan oleh dokter itu padanya... tapi menurut pemeriksaan dia akan baik-baik saja" terang tuan Sam.


"Alhamdulillah... tapi Ricko akan selamat kan Db?" tanya Amira cemas.


"Insya Allah..." ucap tuan Sam sambil memeluk Amira.


Beberapa jam kemudian...


Bara sudah berada di dalam ruang perawatan dan sudah mulai bisa menggerakkan tubuhnya. Kedua orangtuanya pun sudah datang menjenguknya. Sementara Ricko kondisinya sudah mulai stabil setelah mendapatkan perawatan intensif dan juga transfusi darah. Sadira yang kondisinya sudah semakin membaik akhirnya tahu tentang kondisi Ricko yang sebenarnya. Gadis itu sungguh merasa sangat bersalah sebab karena dirinya Ricko harus bertaruh nyawa. Meski semua orang berkata jika itu sama sekali bukan salahnya, namun tetap saja rasa bersalah itu menyusup ke dalam hatinya.


Saat ini Sadira tengah duduk diatas kursi rodanya memandangi wajah Ricko yang masih pucat dan terdapat alat pernafasan yang menempel dihidungnya. Meski sudah tertutup selimut rumah sakit, namun Sadira tahu jika bekas luka akibat perbuatan dokter Andrew pasti sangat parah. Terbukti dengan tubuh pemuda itu yang tidak mengenakan pakaian di bagian atasnya agar tidak mengganggu luka pemuda itu.


"Maafkan Dira kak... karena Dira kakak jadi seperti ini..." tangis gadis itu sambil menggenggam sebelah tangan Ricko.


Sementara Ricko tampak tenang dalam keadaan komanya meski wajahnya masih pucat. Ya... akibat lukanya ia pun mengalami koma. Sebab dokter sengaja menyuntikkannya obat agar pemuda itu tidak sadarkan diri dan tidak merasakan kesakitan akibat luka yang dideritanya. Dilain pihak, tuan Sam dan yang lainnya merasa penasaran karena orangtua Ricko tidak datang menjenguknya. Meski hanya memiliki ayah dan ibu tiri bukankah seharusnya mereka juga datang ke rumah sakit karena mengkhawatirkan keadaan pemuda itu?


Yang lebih aneh adalah saat mereka kini tidak mengetahui keberadaan kedua orang itu meski sebelumnya beredar kabar jika keduanya tengah berlibur keluar negeri. Bahkan tidak ada catatan jika keduanya pergi meninggalkan negeri ini. Tuan Sam mau tidak mau ia pun merasa terusik dan menyuruh agar Lukas segera mencari tahu secepatnya.