
Disebuah ruangan terlihat seorang pria paruh baya tengah terbaring lemah diatas tempat tidurnya. Ia sama sekali tidak dapat bergerak atau pun mengeluarkan suaranya. Meski pun ia sepenuhnya dalam keadaan sadar namun entah mengapa ia tidak dapat mengendalikan anggota tubuhnya sendiri. Hanya kedua bola matanya yang bisa bergerak bebas. Sedangkan mulutnya hanya bergerak kaku dan mampu mengeluarkan suara. Entah sudah berapa lama ia berada di tempat ini ia juga tidak tahu pasti. Sebab sejak ia sadar pertama kali dan berada di tempat itu ia tak lagi bisa mengetahui waktu yang telah berlalu karena tidak ada jam atau apa pun sebagai penunjuk waktu.
Tapi ternyata ia tidak sendirian di ruangan itu, karena tidak jauh dari tempatnya terbaring, ada seorang wanita yang juga dalam kondisi yang sama dengannya. Kedua orang itu sudah mirip dengan mayat hidup dimana keduanya hanya bisa terbaring diatas tempat tidur tanpa bisa melakukan apa-apa. Tak berapa lama terlihat pintu ruangan itu terbuka dari luar, dan tampak seseorang masuk ke dalam sambil membawa nampan berisi makanan. Sepertinya ia akan memberikan kedua orang itu makanan.
"Sudah waktunya makan..." ucap orang itu dengan nada ceria.
"Baiklah... siapa dulu diantara kalian yang ingin makan?" tanyanya pada kedua orang yang berbaring dihadapannya itu.
Namun tentu saja tidak ada yang menjawab pertanyaan orang itu.
"Ah... tentu saja kaulah yang harus makan terlebih dahulu... bukankah begitu tuan Danu?" ucap orang itu sambil melangkah ke arah Danu sambil membawa nampan berisi makanan.
"Sekarang buka mulut anda tuan... aaakk!"
Perlahan tuan Danu pun membuka mulutnya untuk menerima suapan makanan.
"Bagus! nah... sekarang giliran anda nyonya..." ucap orang itu lagi lalu menggeser tubuhnya ke arah Maya.
"Aaakk!"
Maya pun membuka mulutnya dan mulai makan. Begitulah... orang itu terus menyuapi keduanya secara bergantian hingga seluruh makanan yang dibawanya habis. Setelah selesai menyuapi keduanya, orang itu pun segera membereskan sisa makanan keduanya.
"Sekarang saatnya kalian berdua minum obat..." ucap orang itu ambil menyeringai.
Maya dan Danu pun mulai terlihat cemas dan ketakutan saat mendengar perkataan orang itu. Bagaimana tidak... karena setiap kali keduanya selesai meminum obat yang diberikan oleh orang itu keduanya bukannya merasakan tubuh mereka menjadi lebih baik, tapi malah sebaliknya... mereka merasakan tubuh mereka terasa sakit seakan seluruh tulang mereka dicabut dan tubuh mereka jadi semakin lemah dan akibatnya mereka jadi tidak bisa menggerakkan anggota tubuh mereka sendiri meski mereka sudah memaksakan diri. Tapi tentu saja keduanya tidak bisa melawan saat orang itu memaksa keduanya untuk minum obat.
"A... a... a...." gumam tuan Danu tidak jelas.
"Apa? kamu ingin bicara apa?" tanya orang itu saat mendengarkan gumaman Danu yang tidak jelas.
"A... a... a..."
"Ah... kamu pasti penasaran kenapa aku melakukan semua ini?" tanyanya yang membuat Danu mengedipkan matanya seolah mengiyakan perkataannya.
"Balas dendam tentu saja..." ucap orang itu sambil tersenyum membuat Danu memelototkan matanya.
"Kamu fikir setelah sekian tahun lamanya aku akan melupakan begitu saja semua kesalahanmu padaku dan juga mamaku... PAPA?" kata orang itu sambil menatap tuan Danu tajam.
"Kematian mamaku harus terbalaskan... bukan begitu? tapi aku ingin main-main dulu sebentar dengan kalian berdua sebelum mengirim kalian ke neraka..." sambungnya.
Danu dan Maya langsung bergumam tak jelas dari tempat tidurnya. Tapi orang itu sama sekali tidak memperdulikannya. Dia malah terkekeh saat Maya dan Danu bergumam tak jelas dan tampak tengah berusaha untuk menggerakkan tubuh mereka.
"Jangan membuang-buang tenaga kalian... sebab setelah ini kalian berdua akan sangat membutuhkannya" ucap orang itu yang membuat keduanya kembali terdiam.
"Apa kalian ingin tahu apa yang akan aku lakukan pada kalian hem?" tanyanya sambil mendekatkan wajahnya.
"Mamaku mati dengan cara gantung diri... jadi, kalian juga harus mati dengan cara yang sama" sambungnya.
Orang itu pun segera menunjukkan seutas tali tambang yang sudah dipersiapkannya sejak tadi. Lalu ia pun memasang tali itu di palang kayu yang ada di tengah ruangan. Kemudian ia pun memapah tubuh Maya yang kaku dan memasangkan tali gantungan itu dilehernya. Mata wanita itu langsung berkaca-kaca... ia tidak ingin mati dengan cara seperti ini.
"A... a... a..." gumam Danu berusaha mengeluarkan suaranya.
"Ha... ha... ha... kamu tidak bisa mencegahku pak tua... kamu yang membuat mamaku menderita dan meregang nyawa, sekarang kamu harus melihat bagaimana g*****mu ini juga meregang nyawa di depan matamu sendiri!" ucap sang putra dengan wajah dingin.
Dan sekali sentak, tubuh Maya langsung tertarik keatas dengan kepala yang sudah tergantung di tali gantungan yang ditarik oleh Ricko. Seketika Maya merasakan tercekik dilehernya, namun tubuhnya sama sekali tidak dapat bergerak. Hanya lidahnya yang menjulur keluar dari mulutnya dengan bola mata yang melototlah yang memperlihatkan perjuangan wanita itu dalam melawan rasa sakit di lehernya. Danu menitikkan airmatanya karena tidak bisa menolong istri mudanya itu.
"A... a... a...." Danu berusaha mengeluarkan suaranya lagi tapi terap saja sia-sia.
Keadaan Maya semakin lemah, lidahnya sudah semakin terjulur keluar dan bahkan matanya sudah memutih pertanda jika wanita itu tengah sekarat. Tiba-tiba saja Ricko melepaskan tali yang dipegangnya. Dan tubuh Maya pun langsung meluncur jatuh ke lantai. Dan... bruuk! tubuh Maya langsung membentur lantai. Maya langsung terbatuk dan menghirup udara dengan hidungnya sebanyak-banyaknya. Tubuhnya yang masih kaku membuatnya ia tidak dapat memegangi lehernya yang terasa sangat sakit. Danu terlihat lega saat melihat Ricko melepaskan istrinya.
"Kamu fikir aku itu seorang pembunuh sepertimu tuan Danu? tidak-tidak... mamaku wanita yang sangat baik, jadi bagaimana mungkin ia melahirkan seorang pembunuh? aku hanya ingin menyiksa kalian hingga ajal kalian menjemput... karena itu hukuman setimpal untuk manusia rendah seperti kalian...." ucap Ricko dengan wajah datar.
Lalu dengan kasar ia pun menyeret tubuh Maya dan meletakkannya kembali ke atas tempat tidur. Kemudian ia pun berpindah pada Danu sang ayah.
"Kau begitu membanggakan ketampanan dan kekayaanmu bukan? sekarang aku sudah mengambil semua kekayaannmu... dan tinggal wajah ini... wajah yang sudah membuat mamaku menderita seumur hidupnya..." Ricko mengambil sebilah pisau dan menempelkan pisau itu tepat diwajah sang ayah.
"Bukan hanya wanita yang membanggakan wajahnya, tapi pria juga... termasuk kamu! kita lihat... apakah g****kmu itu masih mau melihatmu jika wajahmu ini rusak?"
Tanpa aba-aba Ricko tiba-tiba meneteskan sesuatu diwajah Danu yang membuat pria itu langsung menjerit kesakitan meski suara yang keluar dari mulutnya hanyalah erangan saja. Seketika wajah Danu langsung melepuh dan mengeluarkan aroma daging terbakar.
"Bagaimana? apakah sakit?" tanya Ricko dengan senyum iblisnya.
"Ini belum seberapa dengan kesakitan mamaku!" serunya sambil menjambak rambut Danu yang membuat pria itu kembali meringis kesakitan.
Puas menyiksa pasangan itu, Ricko pun melangkah meninggalkan ruangan itu. Namun sebelumnya ia masih sempat mengatakan sesuatu pada keduanya.
"Kalian cinta sejati bukan? jadi nikmatilah hari-hari kebersamaan kalian berdua selamanya disini..." ucap Ricko sebelum ia menutup pintu ruangan itu.
Maya hanya bisa meneteskan airmatanya mengingat segala dosanya dimasa lalu terutama saat ia dengan pongah merebut Danu dari istri pertamanya. Begitu pun Danu... pria yang kini wajahnya rusak akibat perbuatan Ricko putranya sendiri itu pun tampak teringat saat dimana dirinya selalu saja menyakiti hati istrinya dengan terus berselingkuh. Hingga puncaknya saat ia membawa Maya sebagai istri keduanya hingga mengakibatkan istri pertamanya itu bunuh diri. Ia fikir Ricko telah melupakan kenangan pahit itu... tapi ia salah, putranya itu justru tengah menunggu kesempatan untuk membalaskan semuanya padanya dan juga Maya.
"Maafkan papa... Ricko" batin tuan Danu dengan pandangan kosong.
Penyesalan kini bersarang dihati pria paruh baya itu saat mengingat dosa-dosanya dimasa lalu. Dosa yang kini tengah ditagih sang anak untuk dibayar atas setiap kesakitan yang telah ia sebabkan pada istri pertamanya dulu. Tidak ada yang akan menolong keduanya karena tidak ada yang tahu kepergian keduanya. Karena Ricko telah merancang alasan yang paling masuk akal atas ketidak hadiran sang ayah dan ibu tirinya beberapa hari terakhir. Entah sampai kapan Ricko akan menyekap dan menyiksa keduanya... tidak ada yang tahu.
Sementara Ricko setelah keluar dari tempatnya menyekap Danu dan Maya segera bergegas menuju ke kantor. Mulai hari ini ialah pemimpin tertinggi di perusahaannya. Semua sudah ia atur agar tidak ada yang curiga tentang menghilangnya Danu dan Maya. Apa lagi tanda tangan Danu yang membuat Ricko otomatis menggantikan pria itu di puncak pimpinan perusahaan. Tidak ada yang curiga... semua tampak normal... jika ada yang bertanya tentang Danu dan Maya, Ricko menjawab jika keduanya tengah berlibur ke luar negeri setelah sang ayah memutuskan untuk pensiun dan menyerahkan perusahaan kepadanya.
Kinerja Rickonyang cemerlang dengan cepat membuat semua orang melupakan keberadaan Danu di perusahaan. Begitu juga dengan Maya, teman sosialitanya bahkan sudah tidak pernah menghubunginya lagi sejak Ricko mengatakan jika Maya tengah berlibur bersama Danu dan tidak ingin di ganggu. Ricko yang kini sibuk sudah sangat jarang mendatangi Danu dan Maya. Tapi ia telah menyuruh seseorang untuk mengawasi keduanya dan memberi mereka makanan. Tak lupa juga memberikan obat yang akan tetap membuat keduanya tidak berdaya. Danu merasa sedikit bersyukur karena Ricko tak lagi menyiksanya dan juga Maya. Meski tidak dapat menggerakkan tubuhnya tetapi ia dan Maya dibiarkan hidup dan masih diberikan makan.
Tak terasa bulan pun berganti...
Sadira tak menyangka jika dua hari lagi ia akan menginjak usia 17 tahun. Meski tak ingin merayakan ulang tahunnya secara meriah, tapi ia sudah merencanakan sesuatu yang spesial dihari kelahirannya itu. Ya... di momen ulang tahunnya kali ini ia akan memperkenalkan Bara sebagai kekasihnya secara resmi kepada kedua orangtuanya. Oleh karena itu Sadira berencana mengadakan makan malam bersama agar suasana menjadi lebih akrab dan santai. Hal ini tentu saja disetujui oleh kedua sahabatnya dan juga kedua kakak kembarnya.
Semua persiapan dilakukan dengan teliti agar semuanya sempurna. Hati Sadira semakin berdebar saat semakin dekat dengan acara. Ia sangat berharap akan mendapatkan restu dari kedua orangtuanya atas hubungannya dengan Bara. Dan akhirnya hari itu datang juga... malam ini sekitar jam setengah tujuh malam, Sadira dan keluarganya sudah bersiap untuk pergi ke restoran dimana acara ulang tahun Sadira akan dilaksanakan. Meski tidak mengenakan pakaian khusus, namun gadis itu tampak sangat cantik dengan balutan rok selutut yang membungkus tubuh mungilnya. Di atas kepalanya Sadira mengenakan bandana berbentuk mahkota bunga demi menandakan jika ia lah yang sedang berulang tahun.
Semua orang tampak bahagia selama acara berlangsung. Dan setelah selesai makan malam, Bara memberanikan diri untuk berbicara serius didepan semuanya.
"Selamat malam semua... sebenarnya ada yang ingin saya katakan pada om Sam dan juga tante Amira..." ucap Bara berusaha tenang.
"Sebenarnya saya sudah lama jatuh cinta dengan Sadira putri om dan juga tante... dan ingin menjadikannya kekasih saya. Tapi karena Sadira berjanji untuk tidak berpacaran sebelum berumur 17 tahun, maka saya menundanya... namun karena kini Sadira telah berusia 17 tahun, bolehkah saya memohon izin untuk meminta Sadira menjadi kekasih saya?"
"Apa kamu serius Bara?" tanya tuan Sam.
"Iya om... saya serius, dan saya juga akan membuktikan jika saya tidak hanya menginginkan Sadira sebagai kekasih saja tapi juga pendamping seumur hidup saya..." sahut Bara tanpa ragu.
"Tapi kalian terlalu muda..." cetus Amira yang kaget dengan keseriusan Bara.
"Saya tahu tante... oleh karena itu saya akan menggunakan waktu untuk mempersiapkan masa depan kami berdua... sambil menunggu usia kami matang" terang Bara yang membuat Amira sedikit merasa lega karena kemungkinan Sadira menikah masih lama.
Tak jauh dari tempat itu tampak seseorang tengah meradang mendengarkan percakapan Bara dengan kedua orangtua Sadira. Tidak... bisa-bisanya ia terlambat dan didahului oleh seorang pemuda ingusan seperti Bara. Ini tidak bisa dibiarkan... Sadira adalah miliknya... dan tidak ada yang akan bisa merubah itu. Tak lama terlihat Sadira menjauh dari keluarganya, sepertinya gadis itu hendak menuju ke toilet. Tanpa ia sadari jika ada seseorang yang tengah mengikuti langkahnya.