
Amira menatap nanar pada suaminya. Luka tuan Sam mengingatkannya pada kejadian saat nyonya Sarah ditusuk oleh orang suruhan Mela. Ada rasa trauma pada diri Amira, namun segera ditepisnya. Saat ini ia harus segera menolong suaminya. Dengan cepat Amira merobek pasminanya untuk menutup luka tuan Sam.
"Db... bertahanlah..." ucapnya dengan suara bergetar sambil menekan luka tuan Sam agar lukanya tak semakin mengeluarkan darah.
"Tenanglah Meyaa... aku... tidak apa-apa..." sahut tuan Sam berusaha tersenyum menahan rasa sakit dari timah panas yang kini bersarang di perutnya.
Dibelainya wajah Amira dengan tangannya yang bersimbah darah hingga wajah istrinya itu pun ikut kotor terkena noda darahnya.
"Kau... jangan khawatir... jagalah anak-anak..." sambungnya dengan wajah yang semakin memucat.
Wajah Amira sudah penuh dengan air mata dan noda darah suaminya. Wanita itu menggelengkan kepalanya sambil menatap wajah tuan Sam yang pucat.
"Kau bertahanlah B... sebentar lagi bantuan akan datang..." ucap Amira masih berusaha menutup luka suaminya.
Sementara di seberang mereka Keysha yang tadi sempat terjatuh saat cengkraman tuan Sam terlepas dari lehernya berusaha untuk bangkit sambil memegangi lehernya yang terasa sakit.
"Uhuk...uhuk..." suara batuknya terdengar lirih.
Mata Keysha membulat saat melihat tuan Sam yang tergeletak dipangkuan Amira dengan bersimbah darah dan Amira yang tampak berusaha menutup lukanya. Tapi bukan luka tuan Sam yang membuatnya terbelalak. Namun melihat posisi tuan Sam dan Amira yang membuat Keysha menjadi murka. Dalam fikirannya pada saat genting seperti ini keduanya masih saja menunjukkan kemesraan mereka.
Walau masih merasakan sakit dilehernya Keysha yang murka berjalan ke arah Amira dan tuan Sam. Ia bermaksud menyeret Amira agar menjauhi tuan Sam. Namun pergerakannya dapat terlihat oleh Amira dari sudut matanya. Dengan sigap diletakkannya tangan tuan Sam pada lukanya sendiri. Lalu ia membaringkan tubuh suaminya itu perlahan diatas tanah. Kemudian ia langsung berdiri dan menghadapi Keysha.
"Kalian berdua memang menjijikkan!" seru Keysha dengan penuh amarah.
"Kau yang lebih menjijikkan Key!" sahut Amira sambil memandang tajam kearah perempuan itu.
Tanpa ragu Amira langsung menyerang Keysha. Wanita itu pun terlihat tidak gentar menghadapi Amira. Sepertinya ia sudah tak perduli jika nanti akhirnya ia juga akan terluka. Yang ada dalam fikirannya hanyalah bagaimana caranya agar ia bisa melukai Amira. Dan dengan membabi buta ia pun melawan serangan Amira. Namun berkali-kali ia harus merasakan sakit disekujur tubuhnya akibat pukulan dan tendangan Amira. Hal itu bukan membuatnya takut malah menjadi semakin kalap. Apa lagi setiap pukulan balasannya tak pernah menyentuh Amira sedikitpun.
"Meyaa..." panggil tuan Sam.
Amira seketika menoleh kearah tuan Sam. Pria itu tampak semakin pucat. Dengan satu tendangan keras ke arah perut Keysha ia mengakhiri pertarungannya dengan wanita g**a itu. Keysha pun langsung tersungkur ke tanah dengan darah yang menyembur dari mulutnya. Seketika perempuan itu pun pingsan.
Amira langsung berlari ke arah tuan Sam dan kembali memeluk tubuh suaminya itu. Terasa oleh Amira jika tubuh suaminya mulai dingin. Amira pun mulai panik. Saat itulah mobil polisi dan ambulans tiba di tempat itu. Dengan cepat para petugas kepolisian membekuk para penjahat termasuk Siska dan Keysha. Meski Keysha pingsan namun wanita itu tetap dibawa dengan menggunakan mobil polisi. Sedang Lukas bergegas menghampiri tuan dan nyonyanya bersama petugas medis.
Para petugas medis langsung mengambil alih tuan Sam untuk dilakukan pertolongan pertama. Sandra langsung mendekat ke arah Amira dan memeluk tubuh sahabatnya itu yang sedang bergetar hebat karena mengkhawatirkan suaminya. Sedang Lukas berdiri disamping Dave. Setelah melakukan pertolongan pertama dan mengenakan alat bantu pernafasan pada tuan Sam, mereka pun membawa tuan Sam ke dalam mobil ambulans untuk dibawa ke rumah sakit.
Amira bersikeras untuk dapat mendampingi suaminya. Namun terhalang karena ada dua bayi yang harus dijaganya. Bahkan kini keduanya tampak mulai rewel dan menangis keras. Akhirnya Dave yang mendampingi Sam sahabatnya. Sedang Lukas membawa mobil tuan Sam bersama Amira dan kedua bayinya juga Sandra. Mereka pun mengikuti mobil ambulans dari belakang.
Sesampainya di rumah sakit tuan Sam langsung dibawa ke ruang operasi untuk segera mengeluarkan peluru dari dalam perutnya. Amira pun menyusul bersama kedua bayinya juga Lukas dan Sandra. Amira yang semula terhambat masuk ke dalam rumah sakit karena membawa bayi akhirnya diijinkan masuk karena ia istri korban. Lagi pula wajahnya yang masih kotor oleh darah membuat para petugas medis juga akan melakukan pemeriksaan padanya. Demikian juga dengan kedua bayinya setelah mendengarkan keterangan Sandra.
Setelah menjalani pemeriksaan dan berganti pakaian karena pakaiannya yang kotor, Amira pun langsung menuju ruang operasi untuk menunggui suaminya. Lukas, Dave dan Sandra pun menemaninya. Operasi tuan Sam berjalan hampir satu jam lamanya. Entah sudah berapa kali Amira mondar mandir di depan ruang operasi. Bahkan kedua bayinya sudah tertidur setelah tadi Amira sempat menyusui keduanya. Mereka tertidur di dalam stroller yang memang dibawa dari rumah sebelum mereka berangkat.
Saat dokter keluar dari dalam ruang operasi, Amira langsung menghampirinya. Wajah wanita itu tampak tegang menunggu informasi tentang hasil operasi yang dijalani tuan Sam.
"Keluarga pasien?"
"Iya dok... saya istrinya" sahut Amira cemas.
"Begini... peluru yang bersarang di perut pasien sudah dapat kami keluarkan. Untung saja peluru itu tidak mengenai organ vitalnya yaitu ginjal tuan Sam. Jika sedikit saja peluru itu melenceng maka akibatnya akan fatal" terang sang dokter.
"Saat ini pasien sudah dalam keadaan stabil namun masih harus masuk ruang ICU. Jika keadaannya terus stabil maka besok pagi sudah bisa dipindahkan ke ruang perawatan biasa..." lanjutnya.
"Terima kasih dokter..." ucap Amira.
"Sama-sama nyonya... sekarang pasien akan dibawa ke ruang ICU terlebih dahulu..."
"Bisa saya melihat suami saya dok?"
"Bisa nyonya... tapi setelah di ruang ICU... itu pun hanya boleh satu orang tiap kunjungan..." kata dokter tersebut.
Setelah tuan Sam dipindahkan diruang ICU Amira langsung menjenguk suaminya itu. Melihat tuan Sam yang biasanya terlihat gagah namun kini tampak pucat dengan berbagai alat medis yang berada di tubuhnya membuat Amira menitikkan air matanya. Setelah duduk di kursi yang berada disamping brankar tuan Sam Amira pun mendekatkan tubuhnya disamping suaminya itu. Digenggamnya tangan tuan Sam lalu ditempelkannya dipipinya yang sudah basah karena air mata.
"Db... bertahanlah... aku dan anak-anak masih membutuhkanmu..." ucapnya lirih.
Tampak disudut kedua mata tuan Sam yang terpejam ada air mata yang meleleh. Amira yang menyadarinya langsung menghapus air mata itu dengan ujung jarinya.
"Kau tenanglah Db... aku dan anak-anak akan selalu menunggumu..." lanjut Amira.
Dielusnya wajah tuan Sam yang terlihat pucat. Rasanya sangat cepat melihat perubahan pada wajah suaminya yang tadi sore masih terlihat segar tapi kini sudah berubah pucat.
"Aku mencintaimu Db..." bisiknya lembut ditelinga tuan Sam.
Berharap suaminya mau bertahan demi dirinya dan juga kedua putra kembar mereka. Amira mencium kening suaminya dengan lembut lalu mengucapkan kata pamit karena harus mengurus kedua buah hati mereka.
"Db... aku pergi dulu untuk menjaga anak-anak... bertahanlah dan cepat sembuh agar keluarga kecil kita dapat berkumpul kembali..." ucap Amira dengan air mata yang berlinang.
Ia pun kembali mengecup kening suaminya itu sebelum akhirnya ia melangkah keluar dari dalam ruangan ICU. Amira langsung menghampiri Lukas saat baru keluar dari dalam ruangan ICU.
"Lukas... kau urus orang-orang itu! jangan sampai mereka ada yang lolos. Terutama kedua perempuan j*l**g itu!" kata Amira dengan wajah dingin.
"Baik nyonya... saya pastikan mereka tidak akan ada yang lolos dan akan mendapatkan hukuman yang setimpal" jawab Lukas.
Aura dingin pada diri Amira membuat Lukas teringat dengan sikap tuannya yang juga bersikap sama saat merasa marah.
"Ternyata nyonya Amira sama dinginnya dengan tuan Sam saat marah!" batin Lukas.
"Nyonya sebaiknya anda menginap di hotel yang sudah saya siapkan..." kata Lukas yang tidak ingin nyonyanya dan kedua putranya terlalu lama di rumah sakit.
"Tapi aku masih ingin menemani suamiku Lukas" tolak Amira yang masih ingin bersama tuan Sam.
"Tapi nyonya... rumah sakit tidak baik untu kedua putra nyonya..." bujuk Lukas.
"Iya Ra... kasihan kedua bayimu... mereka masih terlalu kecil untuk tetap berada disini..." Sandra pun ikut membujuk sahabatnya itu.
"Biar aku dan Lukas yang menunggui Sam disini" sambung Dave.
Akhirnya Amira pun mengangguk pasrah mengikuti perkataan semua yang ada disana.
"Nyonya akan diantar oleh sopir kita... jadi nyonya jangan khawatir dan nona Sandra juga akan menemani nyonya..." kata Lukas.
"Iya Ra... aku akan menemanimu" sambung Sandra.
Amira pun akhirnya pergi ke hotel bersama Sandra juga kedua bayinya. Selama perjalanan ke hotel Amira tampak melamun. Fikirannya melayang saat pertama bertemu dengan tuan Sam. Bayangan setiap kejadian pada dirinya dan tuan Sam hingga sekarang membuat air matanya kembali meleleh.
"Yang sabar Ra... aku yakin kak Sam pasti kuat dan akan bertahan demi kalian..." ucap Sandra sambil memeluk Amira.
Ia tahu jika Amira tengah memikirkan nasib suaminya. Wanita mana yang tidak khawatir jika dalam posisi Amira saat ini. Tapi Sandra tahu jika Amira wanita yang tangguh. Ia akan bertahan dari apa pun apa lagi ada dua bayi yang masih membutuhkannya. Namun ia juga tak bisa membayangkan jika tuan Sam sampai tak selamat. Karena ia tahu setangguh-tangguhnya Amira sesungguhnya ia sangat lemah jika tentang orang yang ia cintai.
Sementara di rumah sakit Lukas masih mengawasi proses hukum pada Keysha dan orang-orang yang membantunya termasuk Siska melalui orang suruhannya. Dave pun mengirim anak buahnya untuk membantu. Melihat Amira yang dalam keadaan rapuh membuat pria itu yakin jika Amira sangat mencintai tuan Sam.
"Kau sangat beruntung Sam... Amira sangat mencintaimu..." gumam Dave saat ia menjenguk keadaan tuan Sam di ruang ICU.
Sementara itu... sesampainya di hotel Amira dan Sandra langsung masuk ke dalam kamar mereka untuk beristirahat. Sandra langsung menghubungi kedua orangtuanya untuk mengabarkan peristiwa yang baru saja terjadi. Kedua orangtua Sandra pun terkejut mendengar penuturan putri mereka itu dan mendo'akan agar tuan Sam bisa segera sembuh dan Amira juga bisa kuat menghadapi semuanya.
Sedang di dalam kamarnya Amira tengah menatap kedua putranya. Sahir dan Samir tampak tenang dalam tidurnya. Melihat wajah kedua putranya yang sangat mirip dengan tuan Sam membuatnya kembali teringat dengan keadaan tuan Sam saat ini. Air mata Amira kembali menetes membayangkan tubuh tuan Sam yang dipenuhi peralatan medis. Hatinya terasa sangat sakit karena tuan Sam adalah cinta satu-satunya dalam hidup Amira setelah cintanya pada ayahnya.
Terima kasih atas semua dukungannya baik itu komentar, like maupun hadiah atas karyaku ini. Terima kasih juga sudah selalu mengikuti setiap partnya. Maaf jika slow update karena kesibukan mengurus kehidupan nyata dan bukan cuma novel ini saja karyaku yang on going. Jadi maaf jika menunggu lama karena menunggu giliran🙏🙏 Terima kasih semua...