
Adzan subuh sayup-sayup terdengar di telinga Anna. Meski matanya masih terasa lengket namun gadis itu memaksakan dirinya untuk bangun dan melaksanakan kewajibannya sebagai seorang muslim. Setelah selesai beribadah gadis itu kembali tertidur karena masih mengantuk. Dan saat alarm jamnya berbunyi Anna langsung terlonjak dari tidurnya. Saat gadis itu memandang jam yang berada diatas nakasnya seketika kedua bola mata gadis itu langsung terbelalak. Bagaimana tidak... jam alarmnya menunjukkan pukul 06.30 itu artinya ia sudah hampir terlambat masuk sekolah.
Dengan gerakan kilat gadis itu langsung berlari ke kamar mandi dan membersihkan dirinya dengan singkat. Setelah itu ia segera berganti pakaian dan menyiapkan buku-bukunya yang belum sempat ia siapkan semalam. Baru setelahnya ia berlari keluar untuk segera berangkat ke sekolah. Ia bahkan tidak sempat berlari ke ruang makan untuk sarapan.
"Anna kau tidak sarapan dulu sayang?" tanya nyonya Sarah yang melihat putrinya berlari melewati ruang makan.
"Anna sarapan di sekolah saja ma..." sahut Anna sambil berhenti dan berbelok ke arah mamanya.
Gadis itu langsung mencium punggung tangan mamanya pamit.
"Kau berangkat dengan siapa? Adit tadi sudah berangkat dengan pak sopir..." kata nyonya Sarah menyadarkan Anna.
Gadis itu langsung tertegun.
"Biar aku saja yang mengantar Anna..." ucap Raja tiba-tiba.
Anna tidak menyadari jika sejak tadi pria itu juga tengah duduk di ruang makan.
"Tapi..."
"Tidak ada tapi-tapian... lebih baik kamu diantar om Raja saja biar tidak telat!" potong nyonya Sarah.
"Lagi pula papa dan uncle Sam juga sudah berangkat keluar kota sedang bundamu sudah pulang ke rumahnya" terang nyonya Sarah.
"Dan kau bawa ini... makanlah di jalan agar perutmu tidak kosong!" sambung nyonya Sarah sambil menyerahkan kotak makan dan botol minuman pada Anna.
"Ayo!" kata Raja sambil menarik tangan Anna.
Bagai kerbau yang dicucuk hidungnya Anna pun mengikuti langkah Raja. Keduanya langsung masuk ke dalam mobil Raja. Anna tampak gelisah saat sudah duduk disamping Raja yang berada dibalik kemudi.
"Pakailah sabuk pengamanmu!" titah Raja saat melihat gadis disebelahnya itu hanya duduk diam dan tak mengenakan sabuk pengaman.
"Apa perlu aku pakaikan?" tanyanya saat Anna tak meresponnya.
"Hah? ti... tidak usah... aku bisa sendiri" Anna terkejut dengan perkataan Raja dan langsung memasang sabuk pengamannya sendiri.
Raja tersenyum melihat tingkah Anna yang menurutnya sangat menggemaskan.
"Kau makanlah bekal dari mamamu sekarang..." kata Raja.
Anna hanya menurut dan segera membuka kotak bekal dari mamanya itu. Ternyata nyonya Sarah menyiapkan roti sandwich untuk putrinya itu. Dengan cepat Anna memakan sandwich dari mamanya. Akibat gugup berada di samping Raja membuat Anna lupa untuk minum membuat gadis itu sampai tersedak. Raja langsung menghentikan mobilnya dan mengambilkan air minum dari botol untuk Anna.
"Minumlah!"
Dengan wajah memerah karena tersedak dan malu Anna mengambil botol air minum pemberian Raja. Dengan perlahan ia pun meminumnya.
"Terima kasih..." ucap Anna setelah selesai minum.
"Sama-sama..." sahut Raja masih tersenyum sambil memandangi wajah Anna.
"Ehm... aku sudah selesai om... bisa kembali jalankan mobilnya?" ucap Anna yang menyadari jika Raja belum juga menjalankan mobilnya.
"Eh iya...maaf..." sahut Raja kemudian kembali menyalakan mobilnya.
Selama sisa perjalanan keduanya saling terdiam. Anna yang gugup hanya bisa memandang lurus ke depan. Sedangkan Raja sesekali pria itu mencuri pandang pada Anna.
"Aduh... kok lama banget perasaan jalannya..." batin Anna.
Sementara Raja tampak senyum-senyum saat melihat Anna yang terlihat gugup.
"Sudah sampai!" kata Raja membuat Anna terkejut dan menoleh ke arah pria itu.
"Kita sudah sampai di sekolahmu" ulang Raja.
Anna mengangguk dan tersenyum kaku. Bibir gadis itu terasa kelu meski hanya untuk mengucapkan kata terima kasih. Dengan terburu-buru Anna mencoba melepaskan sabuk pengamannya. Namun karena gugup gadis itu tak juga bisa melepaskan sabuk pengamannya itu. Tiba-tiba Raja mendekatkan tubuhnya ke arah Anna yang membuat gadis itu terkesiap dan menahan nafasnya.
"A... apa... yang om lakukan?" ucap Anna lirih namun masih terdengar oleh Raja.
"Aku hanya ingin membantu membukakan sabuk pengamanmu sayang..." sahut Raja yang membuat Anna semakin membeku.
"Apa? sayang? om Raja baru saja memanggilku sayang?" batin Anna dengan hati tak karuan.
Wajah gadis itu pun sudah memerah
"Ehm... terima kasih om..." ucap Anna akhirnya setelah Raja selesai dan ia bisa mengatur kembali detak jantungnya yang tadi sempat berdetak tak karuan.
"Sama-sama..." sahut Raja sambil tersenyum.
Anna langsung membuka pintu mobil dan bergegas keluar dari sana. Namun belum sempat gadis itu menutup kembali pintu mobil suara Raja kembali mengejutkannya.
"Apa boleh nanti siang aku menjemputmu?" tanya Raja membuat jantung Anna kembali tak karuan.
"Tapi aku biasa dijemput sopir om..." sahut Anna.
Ada nada kecewa dalam suara gadis itu saat mengatakannya.
"Baiklah tidak apa-apa... kau yang rajin belajarnya ya... jangan terlalu lelah!" ucap Raja kemudian.
Anna pun mengangguk kemudian menutup pintu mobil. Sejenak gadis itu memandang ke arah mobil Raja sebelum akhirnya ia berlari ke dalam sekolah. Raja yang melihat itu tambah tersenyum lalu melajukan mobilnya. Anna terengah-engah saat sampai di kelasnya. Untung saja gurunya belum datang hingga ia bisa merasa lega. Saat ia duduk dibangkunya ia terkejut saat menyadari jika Sari tidak duduk disebelahnya. Ketika ia mengedarkan pandangannya terlihat jika gadis itu malah kini duduk di samping Mayang anak terpopuler di sekolah.
"Jangan terkejut... sejak fotonya dengan Devan tersebar, anak-anak populer itu kini mendekatinya..." kata Risa yang kini duduk disampingnya.
"Oh..." ucap Anna singkat.
"Sepertinya aku salah menilaimu selama ini Sari..." batin Anna.
Ada rasa sedih yang ia rasakan tapi Anna tidak mau memikirkannya berlarut-larut. Baginya apa yang sudah ia lakukan untuk Sari murni karena ia menganggap gadis itu adalah temannya. Dan dia tidak mengharapkan apa pun dari Sari untuk membalasnya.
Saat jam istirahat pun Sari terlihat bergabung dengan geng Mayang. Dan saat berpapasan dengan Anna gadis itu seolah tak mengenalnya. Anna semakin kecewa dengan sikap temannya yang berubah begitu cepat. Anna menghela nafasnya pelan. Ia teringat dengan perkataan papanya yang menginginkannya agar bisa menjaga diri dari teman yang hanya ingin memanfaatkannya.
"Mungkin papa benar... aku terlalu polos hingga tidak mengetahui jika selama ini hanya dimanfaatkan saja oleh Sari..." batin Anna.
"Apa kau sedih Ann?" tanya Risa yang sepertinya mulai sekarang akan duduk disampingnya.
"Sedikit..." aku Anna.
"Tapi aku bersyukur karena setidaknya aku tidak akan dimanfaatkan olehnya lagi..." sambung Anna sambil tersenyum pada Risa.
"Kalau begitu bagaimana jika sekarang kita berteman..." kata Risa.
"Bukankah kita memang teman satu kelas?" tanya Anna.
"Maksudku teman yang lebih dekat atau bahkan sahabat..." kata Risa sambil mengulurkan tangannya pada Anna.
"Baiklah..." sahut Anna menyambut uluran tangan Risa.
Keduanya pun tersenyum.
Tak terasa jam pulang sekolah pun berbunyi. Para siswa langsung berhamburan keluar dari dalam kelas mereka masing-masing. Tampak kini Sari sudah resmi menjadi anggota geng Mayang. Sehingga gadis itu pun keluar dari kelas bersama geng itu. Anna hanya menghembuskan nafasnya pelan... ia harus ikhlas menerima kenyataan jika orang yang selama ini ia anggap sebagai teman bisa dengan cepat melupakannya demi mendapat teman baru.
"Ayo kita keluar bareng!" ajak Risa membuat Anna kembali tersenyum.
Benar... Anna tidak boleh menangisi Sari yang tidak benar-benar menganggapnya teman. Dan semoga Risa adalah teman yang akan menjadi sahabat sejatinya nanti. Kedua gadis itu pun berjalan beriringan keluar dari dalam kelas. Saat Anna dan Risa sampai di depan sekolah tampak disana sedang ada kehebohan. Sebuah mobil sport baru saja memasuki halaman sekolah. Para siswa penasaran siapa pemilik mobil tersebut. Namun sang pemilik mobil tidak langsung keluar dan seperti sedang menunggu seseorang dari dalam mobil.
Mayang dan gengnya tampak saling berbisik karena penasaran dengan si pemilik mobil. Dan saat Anna dan Risa berjalan melewati mobil itu tiba-tiba pintu mobil terbuka. Terlihat Devan keluar dari dalam mobil dan langsung menyapa Anna.
"Siang Anna..." sapa Devan menampilkan senyum menawannya.
Para siswa tampak syok saat melihat adegan yang ada didepan mata mereka. Terutama Sari dan juga Mayang.
"Ada apa kau kemari?" tanya Anna ketus.
"Tentu saja untuk menjemputmu" sahut Devan masih dengan wajah tersenyum.
"Aku sudah dijemput sopir!" kata Anna lalu melangkah menuju mobil keluarganya yang sudah menunggu.
"Tapi kau bisa menyuruh sopirmu itu untuk pulang kan?" tanya Devan sambil mensejajari langkah Anna.
"Tidak bisa... orangtuaku tidak membiarkan aku pergi dengan orang yang tidak mereka kenal" sahut Anna.
Sementara Risa hanya bisa diam menjadi pendengar antara keduanya karena kini Anna sudah menggandeng tangannya dengan tidak sadar sehingga gadis itu terpaksa mengikuti langkah Anna.
"Kalau begitu aku akan mengikutimu ke rumah dan berkenalan dengan orangtuamu jadi besok aku bisa mulai menjemputmu di sekolah" kata Devan tak menyerah.
"Kau!" seru Anna sambil melototkan matanya dan menunjuk wajah Devan dengan telunjuknya.
Hati Anna merasa sangat kesal dengan tingkah Devan yang membuatnya pusing setelah tadi masalahnya dengan Sari.
"Ehm... Ann... aku juga pulang dulu ya..." kata Risa yang membuat Anna terkejut.
Gadis itu pun menoleh ke arah Risa. Sedang Risa langsung mengangkat tangannya yang dipegang Anna.
"Oh maaf Ris... aku ga sengaja..." kata Anna kemudian melepaskan tangannya.
"Iya ga pa-pa... aku pulang dulu ya..." pamit Risa.
"Iya... sekali lagi maaf ya..."
Risa hanya mengangguk lalu berjalan ke arah parkiran tempat ia memakirkan motornya.
"Jadi... aku boleh ikut ke rumahmu?" tanya Devan tak menyerah.
"Terserah!" seru Anna langsung meninggalkan Devan dan masuk ke dalam mobil keluarganya.
"Cie... cie... ternyata yang ngefans itu kak Devan to... bukan malah sebaliknya..." seru Adit yang sedari tadi memperhatikan dari dalam mobil.
Anna hanya mendelik dan memberikan tatapan tajam pada adik lelakinya itu.
"Iya... iya... maaf..." ucap Adit langsung saat menyadari jika kakaknya benar-benar masih bad mood.
Sang sopir pun segera melajukan mobilnya meninggalkan halaman sekolah. Sementara Devan langsung berlari kembali ke mobilnya untuk menyusul Anna. Namun langkahnya terhalang saat Sari sudah berdiri menghadangnya.
"Kak Devan..."
"Minggir! aku tidak ada urusan denganmu!" potong Devan membuat Sari langsung pucat dan melangkah minggir.
Dengan cepat Devan masuk ke dalam mobil dan melajukan mobilnya menyusul mobil Anna. Sedang Sari tampak madih mematung tak menyangka jika Devan akan mengusirnya dengan kasar.
"Heh apa benar katamu jika kau dekat dengan Devan? sepertinya sekarang aku malah meragukanmu setelah melihat sikap Devan tadi padamu..." kata Mayang tiba-tiba membuat Sari terkejut dan bertambah pucat.
"Jangan-jangan selama ini kamu yang sudah berbohong mengaku-ngaku dekat dengan Devan padahal sesungguhnya tidak" sambung Cinta salah satu anggota geng Mayang.
"Cuih! ga banget deh aku bisa dibohongi gadis culun macam kamu!" seru Mayang lalu meninggalkan Sari sendirian diikuti oleh temannya yang lain.
Sementara Sari tampak tengah menahan amarahnya karena perlakuan Devan. Ia tak terima jika idolanya itu menolaknya dan malah memilih Anna.