BODYGUARD DADAKAN

BODYGUARD DADAKAN
Kritis


Pagi ini suasana yang semalam hujan deras terlihat lebih cerah. Sahir dan Samir ikut dalam pencarian sang adik setelah keduanya sepakat dengan ayah dan bundanya untuk berbagi tugas. Amira dan tuan Sam pun sepakat jika keduanya tetap menunggu di pos panitia untuk berjaga-jaga jika Sadira ditemukan oleh kelompok penyelamat lain. Sebab memang tim penyelamat di bagi beberapa kelompok. Hari semakin terang... sinar matahari pun mulai menghangatkan bumi karena saat ini cuaca terlihat sangat cerah.


Sahir dan Samir yang memutuskan untuk tetap bersama dalam satu kelompok, berjalan dengan langkah mantap sambil sesekali memanggil nama sang adik.


"Dira!" seru keduanya saling bergantian.


"Bara!" teriak Rafa dan Reno juga memanggil nama sang sahabat.


Kini mereka sudah mulai mendengar gemericik air terjun. Itu artinya mereka sudah mendekati lokasi curug. Suara derasnya air yang turun dari puncak menenggelamkan suara teriakan para tim penolong. Sementara Bara yang tengah membopong tubuh Sadira tampak sudah mulai kelelahan. Bahkan pandangannya pun sudah mulai kabur karena kepalanya yang pening. Sepertinya kondisi tubuhnya mulai menurun akibat mengenakan pakaian basah sejak semalam. Sedang Sadira sudah sangat lemah. Gadis itu sudah tidak lagi mengigau, namun ia sudah semakin kehilangan kesadarannya.


Bara yang berjuang keras untuk tetap berjalan sambil membopong Sadira pun akhirnya harus menyerah karena kondisinya yang juga ikut menurun. Kaki cowok itu sudah bergetar dan pegangannya pada tubuh Sadira pun melemah. Tampak beberapa kali Bara hampir saja menjatuhkan tubuh gadis dalam gendongannya itu. Pandangannya pun mulai buram begitu juga kesadarannya yang mulai menghilang.


Saat itu Sahir dan Samir beserta yang lainnya baru saja tiba di lokasi curug. Ketika menyisirkan pandangan ke sekitar curug mereka langsung melihat Bara yang tengah limbung dan akan terjatuh ke dalam sungai. Dengan cepat Sahir dan Samir berlari ke arah pemuda itu. Mereka sudah menduga jika yang sedang di bopong oleh Bara itu adalah adik mereka Sadira. Sebab keduanya mengenali pakaian yang dikenakan oleh gadis itu. Rafa dan Reno pun tak mau ketinggalan. Keduanya berlari kencang menyusuri tepi sungai yang cukup terjal itu demi menolong sang sahabat.


Tubuh Bara luruh ke bawah saat kesadarannya mulai menghilang. Meski begitu kedua tangannya tanpa sadar tetap menggenggam erat tubuh Sadira hingga tubuh gadis itu pun ikut terjatuh dan menimpa tubuh Bara. Saat Bara terjatuh ke aliran sungai bersama Sadira, Sahir sempat melihatnya.


"Dira!" serunya sambil berlari cepat ke arah Bara dan Sadira berada.


Samir dan yang lainnya pun langsung mengikuti Sahir. Tampak tubuh Bara dan Sadira mulai terhanyut aliran sungai. Sebab mereka terjatuh ke aliran sungai yang lebih dalam dan deras. Sahir langsung melompat ke dalam sungai diikuti oleh Samir, Rafa dan juga Reno. Sementara seorang senior lainnya langsung menghubungi petugas penyelamat melalui radio HTnya untuk segera menyusul ke lokasi mereka karena Bara dan Sadira telah ditemukan.


Sahir berenang dengan cepat agar bisa meraih tubuh Sadira agar tidak tenggelam. Sementara Samir juga berusaha meraih tubuh Bara. Keduanya berhasil meraih tubuh Bara dan Sadira tepat waktu, dan dengan dibantu oleh Rafa dan Reno, akhirnya mereka berhasil membawa tubuh keduanya ke tepian. Memeriksa keadaan Bara dan Sadira membuat semuanya tahu jika keduanya dalam keadaan bahaya. Terutama Sadira yang entah sejak kapan sudah kehilangan kesadarannya. Tak ingin membuang waktu Sahir langsung menggendong tubuh adiknya itu di punggungnya dengan dibantu oleh Samir. Kemudian mereka pun melakukan hal yang sama pada Bara.


Samir yang memiliki tubuh lebih kuat dibanding Rafa dan yang lain akhirnya yang menggendong Bara di punggungnya. Dan mereka pun segera kembali ke perkemahan. Sesampainya di perkemahan semua orang sudah menunggu mereka. Terutama kedua orangtua Bara dan Sadira. Amira tidak dapat menahan air mata kesedihannya dan langsung berlari ke arah Sahir dan Samir saat melihat keduanya datang sambil menggendong Sadira dan Bara. Petugas medis yang sudah standby di sana pun langsung mengambil alih Sadira dan Bara untuk melakukan pertolongan pertama.


Setelah itu mereka pun langsung membawa keduanya ke dalam mobil ambulans yang memang sudah disiapkan disana. Keadaan keduanya kritis karena terkena Hipotermia dan harus segera mendapatkan perawatan serius. Amira dan tuan Sam langsung mengikuti mobil ambulans yang membawa putri mereka, begitu juga dengan kedua orangtua Bara. Sedang Sahir dan Samir akan menyusul setelah keduanya berganti pakaian. Tuan Sam sengaja mengendarai mobilnya sendiri dan menyuruh sang sopir untuk menyopiri mobil yang digunakan Sahir dan Samir agar keduanya tidak terlalu kelelahan.


Naya yang melihat keadaan Bara yang kritis tampak tidak bisa menyembunyikan kesedihannya. Ia pun memaksa kedua orangtua Bara untuk ikut bersama mereka ke rumah sakit. Karena mereka sudah mengenal Naya yang merupakan anak dari sahabat ibu Bara, mereka pun langsung mengizinkannya. Sepanjang perjalanan menuju ke rumah sakit, Naya tak henti-hentinya menyalahkan Sadira sebagai penyebab apa yang menimpa Bara sekarang. Ia bahkan menjelek-jelekkan gadis itu sebagai anak manja yang selalu mencari perhatian pada Bara. Hal ini tentu saja membuat ibu Bara sangat marah. Ia tahu putranya itu adalah anak yang sangat bertanggung jawab sehingga ia sudah sering mendapatkan kepercayaan dari pihak sekolah untuk menjadi ketua disetiap kegiatan yang diadakan disana.


"Tante tahu... sejak hari pertama gadis itu sudah mencari perhatian pada Bara, dia juga sudah sering merepotkan semua senior di sekolah..." adunya, berharap jika Rania ibu Bara mendukungnya.


"Benar-benar anak manja! awas saja... akan tante buat gadis itu menyesal karena sudah membuat Bara menjadi seperti itu..." sahut Rania berapi-api.


Sementara Yuda suami Rania hanya terdiam. Dalam hatinya ia masih kaget saat bertemu lagi dengan Amira yang dulu sempat dicintainya. Ya... Yuda memang kakak kelas Amira dulu yang sempat mendapatkan bogeman dari Amira karena telah berani menjadikannya bahan taruhan. Sempat di tolak Amira, dan dikejar-kejar oleh Maya, akhirnya ia malah jatuh cinta dengan Rania seorang janda satu anak. Ya... Bara memang bukan putra kandungnya... melainkan putra Rania dari suami pertamanya. Namun Yuda sangat menyayanginya seperti putra kandungnya sendiri. Begitu juga dengan Bara yang bahkan tidak mengetahui jika Yuda bukan ayah kandungnya, karena Rania yang memaksa Yuda untuk menyembunyikannya. Sebab saat itu Bara yang masih berusia dua tahun, dan Rania yang membenci mantan suaminya yang tega menceraikannya saat hamil Bara demi wanita lain.


Sesampainya di rumah sakit, Bara dan Sadira langsung ditangani oleh para petugas medis. Keadaan Sadira yang lebih parah membuat gadis itu langsung ditangani dengan lebih serius. Gadis itu mengalami Hipotermia parah hingga membuat keadaannya sangat kritis. Sementara keadaan Bara yang lebih ringan membuat kedua orangtuanya bisa bernafas lega. Tuan Sam dan Amira masih berada diluar ruangan IGD saat Sahir dan Samir tiba. Kedua kakak Sadira itu pun tampak khawatir pada keadaan sang adik. Bara baru saja keluar dari ruang IGD dan dibawa ke ruang perawatan biasa setelah kondisinya dinyatakan stabil. Sedang Sadira masih ditangani oleh para dokter yang bekerja keras untuk menyelamatkan nyawanya.


Hampir dua jam Sadira ditangani oleh para dokter di dalam sana, hingga akhirnya ia dibawa ke ruang ICU untuk mendapatkan perawatan intensive. Amira tidak dapat menahan rasa sedihnya saat melihat sang putri berada didalam sana dengan tubuh dipenuhi dengan selang sebagai alat penunjang hidup. Amira sama sekali tak menyangka putrinya yang selalu ceria dan penuh semangat bisa berada dalam keadaan seperti ini. Tuan Sam pun memeluk istrinya itu berusaha memberikan kekuatan meski didalam hatinya ia pun merasakan hal yang sama. Tak berbeda dengan Sahir dan Samir. Keduanya sangat menyayangi adik bungsu mereka itu, meski sering kali mereka bertengkar namun itu hal yang wajar dan tidak berlangsung lama.


Tengah malam Bara mulai tersadar. Perlahan ia mengerjapkan matanya mencoba memahami dimana kini dirinya berada. Saat meyadari jika ia tengah berada di salah satu kamar rumah sakit, fikirannya langsung tertuju pada Sadira. Ia sangat khawatir dengan keadaan gadis yang sudah dicintainya itu.


"Dira..." gumamnya lirih.


Rania yang mendengar suara putranya langsung terbangun dan memeluk tubuh Bara sambil menangis.


"Bara... kau sudah sadar nak..." ucapnya sambil berlinang air mata.


Yuda tertidur di sofa pun ikut terbangun dan langsung menghampiri brankar Bara.


"Alhamdulillah... akhirnya kamu sudah sadar nak" kata Yuda sambil menitikkan air mata.


Bara memang kesayangannya meski bukan darah dagingnya sendiri. Ia tetap menganggap Bara putra kesayangannya hingga kini meski Rania juga sudah melahirkan dua putra untuknya.


"Iya nak... kami ada di sini..." sahut Yuda.


Sementara Rania masih sesenggukan meski kini hatinya mulai tenang karena sang putra sudah sadar. Tak lama dokter dan seorang perawat datang untuk memeriksa kondisi Bara setelah tadi Yuda memencet bel untuk memanggil mereka.


"Syukurlah... keadaan Bara sudah membaik dan sepertinya hanya butuh istirahat beberapa hari baru setelahnya bisa kembali ke rumah..." terang sang dokter.


"Alhamdulillah... terima kasih dok..." ucap Yuda yang langsung diangguki oleh sang dokter.


"Dira... dimana dia sekarang dok?" tanya Bara yang sangat mengkhawatirkan gadisnya itu.


"Kenapa kamu malah menanyakan gadis pembuat masalah itu sih Bar? apa tidak cukup dengan perbuatannya yang sudah membuatmu jadi seperti ini?" sentak Rania yang telah termakan omongan Naya.


"Dira bukan gadis pembuat masalah ma..." sahut Bara tak terima.


"Bukan pembuat masalah bagaimana? lihat dirimu sekarang... jika bukan karena dia lalu karena siapa?"


"Sudah ma... jangan buat Bara tertekan... dia baru saja sadar..." kata Yuda berusaha menenangkan istrinya.


"Dia terjatuh ma... dia tidak membuat masalah!" seru Bara tak mau kalah.


"Pa... tolong kasih tahu Bara... bagaimana keadaan Sadira..." ucap Bara memohon pada sang ayah, sebab hanya pria itu yang mengerti akan dirinya.


"Tenanglah... nanti papa akan mencari tahu tentang keadaan gadis itu... sekarang lebih baik kau istirahat saja dulu..." bujuk Yuda.


Bara akhirnya mengangguk lemah, dan mulai merebahkan kembali tubuhnya untuk beristirahat. Dokter pun lalu pamit undur diri. Yuda langsung membawa Rania keluar dari dalam ruang perawatan Yuda untuk menasehati istrinya itu agar tidak terlalu keras pada Bara. Setelahnya ia pun mencoba mencari informasi tentang Sadira. Yuda menghela nafasnya pelan saat melihat Amira dan keluarganya berada di depan ruangan ICU. Ternyata keadaan gadis itu lebih parah dari Bara. Ini membuktikan jika gadis itu tidak sedang mencari perhatian Bara seperti perkataan Naya. Pria itu pun mendekat ke arah mereka dan mencoba bertanya pada tuan Sam.


"Maaf... boleh saya tahu bagaimana keadaan putri anda?" tanya Yuda pada tuan Sam.


Tuan Sam memandang Yuda intens, ia ingat siapa pria yang ada dihadapannya saat ini. Bagaimana ia bisa lupa pada pria yang sempat mengejar Amira dan membuatnya dulu terbakar cemburu hingga nekat untuk langsung menyatakan perasaannya pada Amira.


"Ehem... saya ayah dari Bara... pemuda yang ditemukan bersama putri anda..." terang Yuda yang mendapat tatapan tajam dari tuan Sam.


"Oh... iya... bisa anda lihat sendiri, keadaannya belum juga membaik... dia masih kritis... maaf saya belum sempat mengucapkan terima kasih pada putra anda yang telah menemukan putri saya terlebih dahulu hingga membuatnya ikut terluka..." kata tuan Sam yang akhirnya bisa meredam rasa cemburunya saat mengetahui jika Yuda adalah ayah Bara.


Sementara Amira tampak masih dalam keadaan melamun karena memikirkan keadaan putrinya. Tampak ia didampingi oleh kedua putranya duduk di bangku depan ruangan ICU. Ia bahkan tidak memperhatikan Yuda, sebab saat di perkemahan Yuda dan istrinya tidak pernah bertemu langsung dengan Amira dan tuan Sam.


"Bagaimana dengan keadaan putra anda? apa sudah lebih baik?" tanya tuan Sam.


"Alhamdulillah... dia sudah sadar... dan dia menanyakan keadaan putri anda" sahut Yuda.


"Putra anda anak yang baik... meski sedang terluka masih saja memikirkan putri saya, adik kelasnya... sekali lagi saya ingin mengucapkan terima kasih pada putra anda... jika ada waktu saya ingin menemuinya untuk mengucapkannya secara langsung..."


"Silahkan saja... lagi pula dia juga masih akan dirawat disini selama beberapa hari untuk memulihkan kondisinya..."


Kedua pria itu pun saling bersalaman sebelum akhirnya Yuda pamit untuk kembali ke kamar perawatan putranya. Yuda sengaja tidak menyapa Amira karena tidak ingin mengejutkan wanita itu akan kehadirannya disaat yang kurang tepat ini. Lagi pula ia juga tidak ingin membuat tuan Sam kembali cemburu padanya. Di ruang perawatannya, Bara tampak masih mendiamkan sang mama. Bukan apa-apa... sebab tadi Rania kembali menyatakan ketidak sukaannya pada Sadira saat Yuda sedang keluar. Tampaknya hasutan Naya benar-benar sudah mempengaruhinya.


Dalam hatinya Bara masih khawatir pada keadaan Sadira meski Yuda sudah berjanji akan mencari tahu tentang keadaan gadis itu.


"Aku mohon ya Allah... tolong selamatkan Sadiraku... jangan biarkan sesuatu yang buruk terjadi padanya..." batin Bara.