
Acara makan siang bersama yang diadakan oleh Yuda merupakan perayaan atas diwisudanya Bara dengan nilai sempurna. Rasa bangga atas pencapaian putranya itu membuat Yuda dan Rania sangat bahagia. Apa lagi setelah ini mereka juga akan mempersiapkan pernikahan Bara dan juga Sadira yang telah direncanakan sebelumnya. Saat bersama keluarganya dan juga calon besannya membuat Rania melupakan pertemuannya dengan seseorang dari masa lalunya yang tadi sempat membuatnya khawatir. Apa lagi Sadira yang kini begitu dekat dengannya membuat Rania sangat bahagia karena tidak lama lagi gadis itu akan menjadi putrinya. Ya... bagi Rania tidak ada istilah menantu... ia malah menganggap istri putranya nanti adalah putrinya juga. Hal ini tentu karena dulu ia juga pernah merasakan bagaimana sakitnya menjadi menantu yang tidak diharapkan dan dibenci oleh ibu mertuanya.
Oleh karena itu sebisa mungkin ia menerima dengan ikhlas dan terbuka pada setiap gadis yang akan menjadi menantunya. Ia juga bersyukur karena Sadira adalah gadis yang baik dan bisa mengambil hatinya sehingga ia dengan mudah bisa menerima gadis itu meski awalnya sempat terhasut oleh Naya. Di acara makan siang itu pula Bara meminta agar tanggal pernikahannya dengan Sadira sekalian ditentukan. Sepertinya pemuda itu sudah tidak sabar dan tidak ingin membuang waktu untuk bisa segera meresmikan hubungannya dengan Sadira.
Setelah berembuk bersama, akhirnya diputuskan untuk mengadakan pernikahan di awal tahun saat Sadira mendapatkan libur musim dinginnya. Dan Bara mengajukan ide agar pernikahannya itu sekalian dilaksanakan di tanggal satu Januari dengan alasan ia ingin mengawali tahun baru dengan mengganti statusnya menjadi seorang suami. Ide ini pun langsung disetujui oleh semua orang terutama Sadira yang merasa jika ini menunjukkan sisi romantis dari calon suaminya itu. Selesai acara makan siang mereka semua kembali ke hotel tempat mereka menginap. Dan tanpa diketahui oleh semua orang jika semenjak keluar dari dalam restoran seseorang tengah mengamati Rania dan juga keluarganya.
Orang itu juga mengambil foto Rania dan keluarganya secara diam-diam. Setelah itu ia pun mengirimkan hasilnya kepada tuannya. Di tempat lain, seseorang tampak antusias saat menerima kiriman foto dari anak buahnya tentang Rania. Dia juga tersenyum lebar saat memperhatikan foto Bara yang berhasil diambil dengan sangat jelas.
"Hem... hanya dengan melihat wajahmu saja Rania pasti tidak akan bisa mengelak jika kamu adalah putraku..." gumamnya senang.
"Tunggulah papamu ini nak... sebentar lagi kita akan bersatu untuk selamanya..." sambungnya dengan yakin.
Sementara di dalam kamar hotelnya, Rania tampak kembali termenung karena teringat pada orang dari masa lalunya itu. Yuda yang baru saja keluar dari kamar mandi sehabis membersihkan diri pun kini bisa menyadarinya. Perlahan pria itu berjalan ke arah sang istri yang tengah melamun di depan jendela kamar mereka.
"Kamu kenapa sayang? dari tadi aku perhatikan jika sejak pulang dari wisuda Bara tadi kamu seperti tengah banyak fikiran..." tanya Yuda lembut.
Rania mendesah pelan. Sedari tadi ia sebenarnya tengah berperang dalam hatinya untuk jujur mengatakan semua yang tadi dilihatnya pada Yuda atau tidak. Sejak sebelum mereka menikah, Rania selalu jujur mengungkapkan semuanya pada Yuda termasuk masa lalunya dengan mantan suaminya. Karena itulah Yuda bisa dengan mudah memahami wanita itu meski tanpa mengucapkan kata-kata. Dan kali ini Rania merasa jika masa lalunya itu datang hanya akan mengusik rumah tangganya. Terutama Bara... dan setelah berfikir lagi sejenak ia pun memutuskan untuk mengungkapkan semuanya dengan jujur pada suaminya itu.
"Tadi saat wisuda Bara aku melihat dia mas..." ungkap Rania dengan mata berkaca-kaca.
Sungguh meski sudah bertahun-tahun lamanya nyatanya luka dalam hatinya masih saja terasa sakit saat ia kembali melihat wajah mantan suaminya.
"Dia?"
"Benny"
Yuda menghembuskan nafasnya berat... ia tahu jika pria itu sudah sangat menyakiti Rania di masa lalu. Yuda pun menarik Rania untuk masuk ke dalam pelukannya. Ia tahu saat ini istrinya itu pasti merasa sangat sakit hati sekaligus juga takut.
"Tenanglah... dia tidak akan pernah bisa mengambil Bara dari tangan kita..." ucap Yuda lembut sambil mengelus punggung Rania agar wanita itu merasa lebih tenang.
"Pokoknya aku tidak rela orang itu mengakui Bara sebagai putranya setelah dia membuang kami mas" isak Rania di dada Yuda.
"Aku tahu sayang... kamu jangan khawatir mas akan melakukan apa pun untuk mencegahnya" janji Yuda yang membuat Rania sedikit merasa lega.
"Lagi pula bukankah wajah Bara juga mirip denganku hem? jadi dia tidak akan bisa menggunakan kemiripan wajah sebagai patokan untuk mengklaim Bara sebagai anaknya..." sambung Yuda yang membuat Rania bisa sedikit menyunggingkan senyumannya.
Benar... wajah Bara dan Yuda memang sedikit mirip sehingga sampai saat ini tidak ada yang menduga jika Bara bukan putra kandung Yuda. Apa lagi Rania dan Yuda yang sudah tidak memiliki sanak saudara membuat tidak ada seorang pun yang tahu tentang rahasia tersebut. Apa lagi Rania juga sudah pindah dari kota asalnya sejak lama. Sepertinya Tuhan juga hendak melindunginya dari orang-orang kejam dari masa lalunya itu dengan memberikan perlindungan tak terduga.
"Sudah... lebih baik sekarang kita pergi tidur agar besok kita tidak ketinggalan pesawat..." ujar Yuda yang langsung diangguki oleh Rania.
Ya... mereka memang lebih baik cepat kembali ke kota asal mereka agar tidak diganggu lagi oleh mantan suaminya itu. Keesokan harinya semua orang berkumpul di bandara karena hari ini tuan Sam dan yang lainnya akan kembali ke Indo. Begitu juga dengan Bara dan keluarganya. Bara harus rela meninggalkan Sadira sebab gadis itu masih harus melanjutkan kuliahnya. Karena itu juga semua persiapan pernikahannya dengan Bara akan diurus oleh sang bunda dan calon mama mertuanya. Bara terlihat sangat keberatan meninggalkan tunangannya itu namun karena ia juga harus mulai mengurus perusahaan papanya mau tidak mau ia pun harus kembali ke Indo. Apa lagi ini juga sebagai perwujudan usahanya dalam mempersiapkan diri sebelum menjadi seorang suami.
"Ingat... jangan memforsir diri untuk terus belajar, harus jaga kesehatan dan jangan sampai telat makan..." nasehatnya pada Sadira yang diangguki oleh gadis itu tanpa protes.
Melihat sikap Bara yang begitu protektif pada sang putri membuat tuan Sam dan Amira semakin yakin untuk melepas putri mereka pada Bara. Meski harus dengan sedikit drama karena Bara yang enggan berpisah dengan Sadira akhirnya mereka pun masuk ke dalam pesawat dan kembali ke Indo. Di dalam pesawat Rania menghembuskan nafasnya lega karena mantan suaminya tidak pernah lagi menampakkan batang hidungnya setelah kemarin terlihat berada di acara wisuda Bara.
"Semoga kemarin adalah yang terakhir kalinya aku melihat wajah si b***g**k itu..." do'anya dalam hati.
Setelahnya kehidupan semua orang berjalan sebagai mana mestinya. Bara mulai menjalani hari-harinya bekerja di perusahaan Yuda. Meski selalu merasakan rindu pada Sadira namun pria muda itu tidak goyah dan tetap serius dalam pekerjaannya meski itu perusahaan milik papanya. Sementara itu hubungan Ricko dan Mahina juga semakin dekat. Ricko bahkan sering meluangkan waktu untuk menyambangi gadisnya di London. Dan karena hal itu hubungannya dengan Bara pun menjadi dekat. Karena gadis pujaan mereka berdua tinggal di tempat yang sama. Ricko bahkan terpengaruh dengan Bara dan ingin segera menikahi Mahina. Bara bahkan memberikan ide agar mereka nantinya bisa melangsungkan pernikahan secara bersamaan seperti yang terjadi pada Sahir dan Samir.
Bara baru saja selesai melakukan meeting dengan salah satu kliennya di sebuah restoran. Tiba-tiba saja seseorang menghampirinya saat ia tengah berjalan menuju ke mobilnya.
"Bara!" panggil orang itu dengan antusias.
Bara yang merasa tidak mengenal orang tersebut terpaksa berhenti melangkah sambil menoleh dan mengeryitkan dahinya.
"Maaf... kamu pasti kaget ya karena saya bisa mengenalmu..." ucap orang itu sambil tersenyum saat keduanya sudah saling berhadapan.
"Perkenalkan... saya Benny Sanjaya..." sambungnya sambil mengulurkan tangannya.
"Bara Prayuda..." sahut Bara menyebutkan nama lengkapnya.
Mendengar nama lengkap Bara orang itu tampak mengernyitkan dahinya tak suka. Bagaimana tidak... Benny tadinya berharap jika Rania memberikan nama belakangnya pada Bara. Tapi ternyata ia malah memberikan nama suami barunya pada Bara yaitu Prayuda.
"Ehem... maaf anda tahu dari mana nama saya?" tanya Bara sopan.
Sungguh saat ini sebenarnya ia ingin langsung mengakui Bara sebagai putra kandungnya jika tidak teringat bahwa Rania terang-terangan menutupi masa lalunya. Dan tampaknya suami barunya juga ikut mendukung wanita itu. Mengingat itu Benny sungguh merasa geram. Bisa-bisanya Rania tidak mengakui jika ia adalah ayah biologis dari Bara.
"Jadi tuan Benny... apakah ada hal yang ingin anda bicarakan dengan saya?" tanya Bara langsung.
Ia yakin jika Benny pasti memiliki suatu maksud saat memanggilnya tadi. Bara tahu jika Benny adalah salah satu yang pengusaha sukses di Indo, jadi ia merasa jika Benny memiliki tujuan saat menyapanya tadi. Sebab orang sesibuk Benny tidak mungkin menemui seseorang yang tidak ia kenal jika tidak memiliki urusan yang serius. Saat mendengar ucapan Bara, Benny tersenyum senang. Ternyata insting putranya pada bisnis sangat tajam. Dan ia yakin jika itu menurun dari dirinya.
"Begini... saya ingin mengajak kerja sama... dan kalau ada waktu saya harap kita bisa mengadakan pertemuan di tempat yang lebih nyaman..." terang Benny berusaha memancing Bara.
"Baiklah... kita bisa mengadakan pertemuan lain waktu sebab saat ini saya masih harus menemui klien lain"
"Tidak apa-apa... ini kartu nama saya... jika sudah memiliki waktu silahkan kamu menghubungi saya" ujar Benny dengan ramah sambil mengulurkan kartu namanya pada Bara.
Bara pun menerima kartu itu sambil tersenyum lalu berpamitan karena ia harus segera menemui kliennya di tempat lain. Setelah kepergian Bara, Benny tersenyum puas karena usahanya untuk mendekati Bara berjalan dengan mulus.
"Lihat saja Rania... secepatnya aku akan mendapatkan kepercayaan putra kita hingga aku bisa memberitahukan padanya tentang kebenarannya bahwa akulah ayah kandungnya dan bukan si Prayuda k***r*t itu!" sungut Benny.
Setelahnya ia pun segera kembali masuk ke dalam mobilnya dan meninggalkan tempat itu. Benny memang ke tempat itu hanya untuk mencegat Bara... selainnya ia tidak ada urusan.
Sore harinya...
Bara pulang ke rumah kedua orangtuanya dengan wajah lelah. Seharian ini ia sibuk bertemu dengan para klien yang berada di tempat yang berbeda. Ia bahkan tidak pulang bersama sang papa karena harus berada di luar seharian. Ya... Bara memang sering pulang pergi bersama sang papa jika ke kantor. Tidak seperti orang lain yang lebih suka berkendara sendiri. Ini ia lakukan untuk bisa lebih memiliki waktu bersama sang papa setelah ia disibukkan dengan pekerjaannya di perusahaan. Ia memang sedekat itu dengan Yuda selama yang ia ingat dalam hidupnya.
"Papa sudah pulang ma?" tanyanya setelah mencium pipi sang mama begitu ia bertemu dengan wanita itu di ruang makan.
"Sudah sayang... dia sedang membersihkan diri di kamar..." sahut Rania sambil menyelesaikan kegiatannya menata meja makan.
Bara pun mengangguk.
"Ada acara apa ma... kok masih sore begini mama sudah menyiapkan makan malam?" tanya Bara penasaran.
Sebab mereka sekeluarga biasa makan malam setelah hari gelap.
"Tadi papa bilang kalau ada rekan bisnisnya yang akan ikut makan malam bersama... jadi mama sengaja bersiap-siap..."
"Oh..."
"Sudah sana kamu bersihkan diri dulu!" perintah Rania.
Bara pun langsung menurut.
Saat makan malam pun tiba...
Rania sudah berdandan cantik demi bisa membuat sang suami bangga di depan rekan kerja baru suaminya. Ia juga menyuruh ketiga putranya untuk tidak melakukan acara diluar dengan teman-teman mereka demi agar keluarga mereka bisa menyambut rekan kerja yang merupakan rekan baru dibisnis suaminya itu.
"Kamu tampak sangat cantik sayang..." bisik Yuda saat melihat penampilan sang istri malam ini.
"Terima kasih mas... semua ini aku lakukan hanya untuk kamu..." sahut Rania yang selalu saja merasa tersanjung saat Yuda memujinya.
Tak lama seseorang mengetuk pintu kamar mereka. Ternyata itu salah satu pelayan yang mengatakan jika tamu mereka sudah datang. Yuda dan Rania pun keluar dari dalam kamar untuk menyambut tamu mereka. Di lantai bawah sudah ada Bara dan kedua adiknya yang sudah menyambut tamu mereka terlebih dahulu.
"Saya tidak menyangka jika rekan baru yang papa saya bilang itu adalah anda tuan..." ujar Bara sambil tersenyum pada tamu papanya.
"Ha... ha... ha... saya juga tidak menduga jika anda anak dari Yuda..." sahut orang itu tergelak.
"Jadi apa anda hanya mengelola anak perusahaan tuan Yuda?" tanya orang itu seolah mengejek.
"Benar tuan... tapi itu memang permintaan saya karena merasa belum berpengalaman untuk mengurus kantor pusat..." sahut Bara telak.
"Wah... kamu memang anak muda yang suka kerja keras rupanya..." ujar orang itu akhirnya.
Bara hanya tersenyum menanggapi tamu papanya itu. Sebenarnya ia merasa tidak nyaman pada orang yang ada dihadapannya itu. Entah apa alasannya Bara juga tidak tahu.