
Pagi ini Anna bangun dengan perasaan bahagia. Bagaimana tidak... semalam ia sudah resmi menjadi kekasih Raja. Pria yang selama ini ia panggil om namun sudah menguasai hatinya sejak lama. Wajah Anna yang berseri-seri juga menarik perhatian seluruh anggota keluarganya yang sudah berkumpul didepan meja makan.
"Kakak mimpi apa semalam... hingga kelihatan bahagia sekali?" tanya Adit menggoda Anna.
Bukannya marah Anna malah semakin tersenyum membuat keluarganya menjadi penasaran.
"Kakak lagi jatuh cinta ya?" tanya Ara sambil tersenyum pada kakak sulungnya itu.
"Heh? jatuh cinta? emang putri es bisa jatuh cinta?" cerocos Adit yang tidak bisa mengerem mulut lemasnya.
Pletak!
"Auwgh... ish kak kau ini kejam sekali pada adik tampanmu ini!" seru Adit sambil mengelus keningnya yang terasa panas akibat sentilan Anna.
"Sudah-sudah... lebih baik kalian segera sarapan nanti terlambat berangkat sekolah!" kata nyonya Sarah menghentikan keributan keduanya.
"Kakak jatuh cinta sama siapa? kak Devan ya?" tanya Ara yang masih penasaran.
"Ish... anak kecil darimana kamu tahu soal cinta-cintaan sih?" tanya Anna yang gemas dengan pertanyaan Ara.
"Dari kak Adit!" seru Ara membuat semua orang menatap horor pada bocah empat belas tahun itu.
"Kakak bahagia bukan karena jatuh cinta sayang..." ucap Anna hati-hati.
Ya... Anna tidak ingin keluarganya tahu jika kini ia memang sedang jatuh cinta. Apa lagi jika mereka tahu pria yang ia cintai adalah Raja dan sudah menjadi sepasang kekasih.
"Lalu karena apa?" tanya Ara yang masih saja penasaran.
"Karena... karena hari ini guru pembimbing kakak mau memberikan informasi tentang universitas yang ingin kakak masuki setelah lulus..." terang Anna terpaksa berbohong agar adik bungsunya itu tidak lagi banyak bertanya.
"O... aku kira kakak jadian dengan kak Devan..." ucap Ara yang terdengar sedikit kecewa.
"Kenapa kau terdengar kecewa Ra?" tanya Adit yang mulai memancing Ara.
"Aku kecewa karena tidak bisa pamer kalau pacar kak Anna itu kak Devan..." terang Ara.
"Sudah... kalian semua masih sekolah... jadi tidak ada yang namanya cinta-cintaan sebelum kalian lulus SMU!" putus tuan Bram menghentikan pembicaraan kedua anaknya yang menurutnya absurd.
Selesai sarapan Anna dan Adit bersiap berangkat ke sekolah diantar sopir. Demikian juga dengan Ara yang berangkat bersama tuan Bram. Nyonya Sarah seperti biasa mengantarkan suami dan anak-anaknya itu sampai di depan mobil masing-masing.
"Anna sayang... nanti kamu pulang dijemput sama om Raja ya..." bisik nyonya Sarah saat putrinya itu berpamitan.
Anna hanya menganggukkan kepalanya mendengar ucapan mamanya itu. Padahal dalam hatinya gadis itu tengah bersorak gembira karena Raja benar akan menjemputnya. Selama perjalanan ke sekolah kembali Adit menggoda kakaknya itu karena ia pun merasa penasaran dengan perubahan sikap Anna pagi ini. Namun Anna tak membiarkan adiknya yang satu itu mendapatkan apa yang diinginkannya dengan aksi tutup mulut.
Setelah menjalani jam pelajaran yang panjang dan melelahkan akhirnya waktu pulang pun tiba. Seperti biasa Anna kini berjalan keluar dari dalam kelas bersama Risa. Ya gadis sederhana itu kini sudah mulai dekat dengannya. Sama seperti saat dengan Sari dulu. Anna bisa dekat dengan Risa namun tidak terlalu dekat hingga mencampuri hal pribadi masing-masing. Dan keduanya merasa nyaman dengan hal itu. Saat keduanya baru saja sampai di tempat parkir tampak mobil Devan juga telah terparkir di sana. Dan sang pemilik langsung keluar menemui Anna ketika sudah melihat gadis itu keluar dari dalam sekolah.
"Anna!" panggil Devan.
Anna pun menghentikan langkahnya saat melihat Devan sudah berdiri dihadapannya. Sementara Risa langsung pamit untuk mengambil motornya. Setelah kepergian Risa, Anna menatap Devan dengan tatapan jengah. Gadis itu bahkan menghembuskan nafasnya dengan berat karena merasa mulai terganggu dengan sikap Devan yang gencar mendekatinya.
"Apa?" tanya Anna ketus.
"Bisa kita bicara sebentar?"
"Sebentar lagi aku dijemput... jadi katakan saja apa mau kamu!" kata Anna cepat.
"Hah... tak bisakah kau bersikap ramah sedikit saja denganku?" keluh Devan membuat Anna membelalakkan matanya geram.
"Iya... iya... aku hanya ingin kita berteman Anna..." ujar Devan saat melihat Anna yang mulai kesal.
"Kita bisa berteman... tapi kau jangan bersikap seperti penguntit seperti itu... karena aku tidak suka" sahut Anna langsung.
"Baiklah... kalau begitu bisakah kau aku antar pulang?" tawar Devan.
Namun belum sempat Anna menjawab terdengar bunyi klakson mobil yang membuat keduanya menoleh ke asal suara. Anna langsung tersenyum saat mengetahui jika suara klakson itu berasal dari mobil Raja yang baru saja datang.
"Maaf aku sudah dijemput..." ucap Anna sambil berlari meninggalkan Devan yang masih mematung melihat tingkah Anna yang terlihat sangat gembira saat mobil jemputannya tiba.
Pemuda itu pun memperhatikan saat Anna tampak antusias membuka pintu depan penumpang dan bukannya belakang seperti biasa saat ia dijemput oleh sopir keluarganya. Tunggu... itu bukan mobil yang kemarin menjemput gadis itu di sekolah. Dan Anna mengapa memilih duduk di depan dekat sopir? batin Devan penasaran. Segera pemuda itu masuk ke dalam mobilnya dan berniat membuntuti gadis itu.
Sementara Anna tampak tersenyum pada seseorang yang kini berada disampingnya sambil menyetir.
"Om bilang apa sama mama hingga diizinkan untuk menjemputku di sekolah?" tanya Anna setelah ia memasang sabuk pengamannya.
"Hanya bilang ingin mentraktirmu saja... setelah kau membantuku semalam..." sahut Raja sambil tersenyum.
"Apa kau sudah lapar Honey Bee?"
"Heum..." sahut Anna sambil mengangguk senang.
Raja pun langsung mengarahkan mobilnya ke sebuah restoran yang berada tak jauh dari sekolah Anna. Keduanya langsung turun dari dalam mobil setelah mereka sampai di depan restoran. Raja langsung mengajak Anna masuk ke ruang privat yang sudah ia pesan sebelumnya. Ia tidak ingin acara makan siangnya dengan Anna terganggu dengan pengunjung lainnya. Tanpa mereka sadari jika kini ada seseorang yang tengah memperhatikan keduanya dengan perasaan campur aduk.
Apa lagi saat melihat Anna yang terlihat sangat bahagia saat digandeng mesra oleh pria dewasa itu. Hatinya seakan diremas dan terasa sangat sakit entah kenapa... Tapi Devan tidak bisa gegabah... mungkin saja itu papanya Anna atau mungkin juga omnya bukan? batin Devan mencoba menenangkan dirinya. Ia pun ingin membuntuti keduanya ke dalam restoran saat tiba-tiba ponselnya berbunyi dari dalam saku celananya.
"S**t! siapa yang menelfon sih?" gerutu Devan namun ia tetap mengambil ponselnya untuk mengetahui siapa yang menghubunginya.
"Halo..." ucap Devan begitu ia selesai menggeser tombol hijau pada ponselnya.
"Dev... kau kemana saja heh? syuting sudah mau dimulai!" seru Bian sang manager terdengar murka.
"Iya... iya... aku sedang di jalan... tunggu saja sebentar lagi aku juga sampai..." sahut Devan dan langsung mematikan ponselnya.
Pemuda itu pun mengurungkan niatnya untuk mengikuti Anna ke dalam restoran dan memilih untuk kembali ke dalam mobilnya.
"Dasar b***g**k! mentang-mentang sudah populer kelakuannya seenak jidatnya!" umpat Bian marah.
Sementara Anna dan Raja baru saja selesai menyantap makan siang mereka.
"Apa kau menyukainya?" tanya Raja saat melihat Anna yang menghabiskan semua pesanannya.
"Iya... apa lagi aku sangat lapar tadi..." sahut Anna sambil menganggukkan kepalanya.
"Tadi siapa?" tanya Raja.
"Siapa?" Anna malah balik bertanya karena tidak tahu siapa yang dimaksud oleh Raja.
"Tadi... yang berbicara denganmu di depan sekolah..." terang Raja terlihat sedang berusaha tetap tenang.
"Oh... itu kak Devan... salah satu alumni di sekolahku... kenapa?"
"Apa dia menyukaimu?" tanya Raja.
"Apa itu terlihat jelas?"
"Hemm... iya..."
"Apa kau marah?" tanya Anna sambil memandang wajah kekasihnya.
Terlihat perubahan pada wajah Raja saat tadi ia menjawab jika Devan menyukainya.
"Tidak... selama kau tidak mau menanggapinya..." sahut Raja dingin.
Anna tersenyum menyadari jika pria dewasa yang ada disampingnya tengah cemburu padanya.
"Tentu saja aku tidak akan pernah menanggapinya... karena dihatiku hanya ada namamu..." kata Anna cepat tak mau kekasihnya itu semakin merasa cemburu.
Raja langsung tersenyum mendengar perkataan Anna. Sesungguhnya ia tadi sempat merasa cemburu saat melihat seorang pemuda yang terlihat berusaha mendekati kekasih kecilnya itu. Apa lagi dapat dilihat jika usia keduanya tidak terlampau jauh berbeda membuat Raja menjadi tidak percaya diri. Ya diusianya yang sudah sangat matang ia jadi tidak percaya diri saat ada pemuda yang seusia dengan Anna yang mencoba untuk mendekati kekasihnya itu. Meski ia yakin jika perasaan Anna tidak akan berubah hanya karena pemuda itu lebih muda dari Raja. Tapi jika kedua orangtua Anna tahu semuanya apakah mereka akan merestui dirinya untuk menjadi menantu mereka? sedang masih ada pemuda lain yang sebaya dengan Anna.
"Kenapa kau melamun MB?" tanya Anna yang melihat Raja terdiam.
"Kau masih memikirkan dia?" tanya Anna tentang Devan tanpa berani menyebut nama pemuda itu karena takut kekasihnya marah.
"Jika dia menemui kedua orangtuamu dan memintamu pada mereka bagaimana?" tanya Raja sambil memandang wajah Anna dengan sendu.
Anna langsung meraih tangan Raja dan menggenggamnya dengan erat.
"Aku tidak akan pernah mau menerimanya... karena disini... hanya ada namamu MB..." tunjuk Anna pada dadanya dengan menempelkan tangan Raja disana.
Gadis polos itu tidak menyadari jika perbuatannya barusan bisa saja membahayakan dirinya sendiri jika saja Raja itu bukan orang yang baik. Karena tidak bisa dipungkiri jika perbuatan Anna tadi bisa membangkitkan sesuatu pada diri Raja. Apa lagi saat ini keduanya hanya berdua didalam ruangan yang tertutup. Raja menangkupkan kedua telapak tangannya pada wajah Anna dan memandangi wajah kekasihnya itu dengan gemas. Betapa tidak tindakan gadis itu sudah membuat Raja saat ini ketar ketir.
"Jangan kau ulangi perbuatan kamu tadi... apa lagi saat kita hanya berdua seperti ini..." kata Raja dengan suara berat.
"Hah?" tanya Anna dengan wajah polosnya.
"Sudahlah lebih baik aku antar kau pulang..." ucap Raja yang sudah mulai merasa gerah.
Anna pun hanya mengangguk patuh. Sesungguhnya gadis itu masih tidak mengerti dengan ucapan Raja tadi namun ia tak mau ambil pusing. Meski ia ingin menghabiskan waktu lebih lama dengan Raja namun jika pria itu sudah memutuskan untuk mengantarkannya pulang ia mau bilang apa?
Tak lama keduanya pun sudah berada di dalam mobil Raja. Untuk sesaat keduanya terdiam larut dalam fikiran mereka masing-masing.
"Nanti malam aku akan kembali ke New York Honey Bee..." ucap Raja tiba-tiba.
Anna yang kaget dengan ucapan kekasihnya itu langsung menoleh kearah Raja. Ia memandang wajah pria yang ada disampingnya itu dengan tatapan seolah meminta penjelasan.
"Kita bicara di apartemenku..." putus Raja yang tahu jika Anna membutuhkan penjelasan darinya.
Kemudian Raja pun mengarahkan mobilnya ke arah apartemennya. Selama perjalanan ke sana keduanya kembali terdiam. Anna yang fikirannya bekecamuk antara marah dan juga sedih. Ya ia marah mengapa kekasihnya itu bisa memutuskan untuk kembali ke New York saat baru saja mereka jadian. Sedih karena ia harus kembali berpisah dengan Raja.
Sementara Raja kini tengah merangkai kata agar ia bisa menjelaskan posisinya yang memang tidak bisa meninggalkan bisnisnya di New York terlalu lama karena sebenarnya saat ini perusahaannya tengah menghadapi masalah disana dan harus dia yang menyelesaikannya secara langsung. Mungkin ini adalah salah satu ujian yang harus keduanya hadapi saat baru saja menjalin hubungan. Raja hanya bisa berharap kekasih kecilnya itu bisa bersikap dewasa dan mau menerima penjelasannya nanti. Toh ini juga demi masa depan keduanya nanti jika restu dari keluarga Anna bisa ia dapatkan.