BODYGUARD DADAKAN

BODYGUARD DADAKAN
Duel


Baru saja pesawat jet yang ditumpangi oleh Jimmy mendarat di bandara. Tampak beberapa anak buahnya menyambutnya. Begitu Jinmy menjejakkan kakinya di tanah salah seorang anak buah yang nenyambutnya langsung memberiakan laporannya.


Jimmy tampak menggerakkan giginya menahan amarah saat mendapat laporan dari anak buahnya jika rumah Amira dan tuan Sam diserang.


"Apa kalian sudah ke sana untuk membantunya?" tanyanya pada anak buahnya tersebut.


"Sudah tuan... tapi sampai sekarang orang yang kami kirim belum memberikan kabar kembali" lapornya.


"Kita langsung ke sana sekarang!" titah Jimmy yang langsung dipatuhi semua anak buahnya.


Dalam perjalanan menuju rumah Amira dan tuan Sam, Jimmy terus mengumpat mengutuk Castillo dan Vallery yang ia yakin adalah dalang dari penyerangan ini.


"Percepat mobil ini!" perintahnya pada sopir yang tengah mengemudikan mobilnya.


Sopir itu pun langsung menuruti perintah majikannya padahal sudah sejak tadi ia melajukan mobilnya dalam kecepatan tinggi. Jimmy tampak sudah tidak sabar untuk segera sampai karena ia tak bisa membayangkan jika Amira sendirian harus menghadapi kegilaan Vallery dan juga anak buahnya.


Sementara tuan Sam yang baru saja sampai di depan rumahnya tampak syok saat melihat rumah megahnya sudah porak poranda bagai terkena hujanan mortir saat perang. Para satpam dan pekerja rumahnya tampak bergelimpangan di setiap sudut. Lukas pun langsung memeriksa keadaan mereka dan ia langsung bernafas lega sebab mereka hanya terluka karena terkena peluru karet dan tak satu pun yang kehilangan nyawa.


Sedang tuan Sam langsung merangsek masuk ke dalam rumah untuk mencari keberadaan istrinya. Namun ia harus kecewa karena Amira tak ia temukan walau sudah memeriksa ke setiap sudut rumahnya.


"Meyaa.... kau dimana sayang...." teriaknya dengan frustasi.


Namun suara jawaban dari Amira tak didengarnya yang membuatnya bertambah frustasi.


"Aaaarrrrggh...." teriaknya sambil memukul dinding rumahnya.


"Tuan sepertinya nyonya Amira tidak berada di rumah namun dia belum jauh dari sini" kata Lukas yang baru saja mendatangi tuan Sam.


"Cepat cari posisi pastinya!" titah tuan Sam yang masih frustasi.


Saat keduanya sedang sibuk mencari keberadaan Amira tampak beberapa mobil memasuki halaman rumah tuan Sam. Saat mobil itu berhenti tampak beberapa orang turun dari sana bahkan diantara mereka tampak berwajah asing.


Tuan Sam dan Lukas yang menyadari jika ada yang datang langsung keluar untuk melihat siapa yang datang.


"Maaf kalian siapa dan ada perlu apa kemari?" tanya Lukas.


"Maaf bos kami ingin bertemu dengan tuan Sam" sahut Rudi.


"Saya Sam..." sahut tuan Sam.


"Bos..." panggil Rudi pada seseorang yang ada di dalam mobil.


Tampak seorang pria turun dari dalam mobil dan mendekati tuan Sam.


"Raja" ucap orang itu sambil mengulurkan tangannya.


"Jadi kau..."


"Ya ... aku Raja alias Jimmy" sahut Jimmy menurunkan tangannya karena tuan Sam tak juga membalas jabat tangannya.


"Apa maksud dari kedatanganmu kemari?"


"Aku hanya ingin menolong adikku" sahut Jimmy yang tahu jika tuan Sam cemburu padanya.


"Tuan..." Lukas berusaha menenangkan tuan Sam karena saat ini mereka memang membutuhkan bantuan dari semua orang.


"Baiklah... dari GPS yang ada pada Amira sepertinya dia masih ada disekitar sini tapi kami belum juga bisa menemukannya..." terang tuan Sam yang menyadari jika ia memang membutuhkan bantuan Jimmy untuk menemukan Amira.


"Kalian dengar itu? cepat susuri daerah sekitar sini dan temukan dimana adikku!" titah Jimmy pada anak buahnya yang berada disana.


Dengan segera anak buah Jimmy pun menyebar untuk mencari keberadaan Amira. Begitu pun dengan tuan Sam dan Lukas kini bergabung dengan Jimmy dan juga Rudi. Namun sebelumnya tuan Sam menyuruh sebagian pengawalnya untuk tinggal dan membantu menolong para pekerja yang terluka menunggu paramedis tiba.


Ditempat lain....


Amira masih mengawasi sekitarnya dari tempat persembunyiannya. Tak berapa lama tampak beberapa orang asing lain datang ke tempat itu. Bahkan diantara mereka ada seorang perempuan bule yang sepertinya merupakan pemimpin mereka.


Para orang asing itu langsung masuk ke dalam bangunan rumah yang masih belum jadi tersebut. Sesampainya di dalam tampak Vallery sangat geram saat melihat beberapa anak buahnya tertimpa balok kayu dan juga batu bata. Bahkan salah satu diantaranya kakinya terluka karena tertembus oleh besi cor.


"Ada apa ini hah! bagaimana bisa kalian terluka seperti ini!" teriak Vallery.


"Maaf nona... sepertinya tempat ini sudah dipasangi jebakan..." sahut salah satu anak buahnya yang bernama Mark.


"Jebakan? siapa juga yang memasang jebakan di tempat seperti ini!" seru Vallery geram.


"Mungkin wanita itu nona..." sahut Cody anak buahnya yang lain.


"B*****t!" teriak Vallery geram.


"Cepat cari wanita itu sampai ketemu!" sambungnya.


"S**t!"


"D***t"


Teriak mereka bersamaan dan lalu terjatuh karena terpeleset oleh cat yang berceceran di anak tangga.


"W**t h**l!" teriak mereka saat bokong mereka mencium lantai setelah terguling dari anak tangga.


Seketika teman mereka yang lain langsung berdatangan. Mereka sangat terkejut melihat keadaan teman mereka yang sudah tak karuan dengan tubuh berlumuran cat.


"Waw jadi ingat dengan si Kevin..." celetuk Mark.


"Kevin? siapa itu Kevin?" sahut Joey bingung.


"Itu si Kevin yang mengerjai dua pencuri yang berusaha masuk ke dalam rumahnya..." terang Mark yang teringat dengan film kesukaannya saat anak-anak.


Mendengar itu rekan Mark yang lain hanya bisa melongo. Bisa-bisanya pria macho itu mengingat film jadul yang sangat fenomenal di zamannya itu. Sedangkan Mark malah dengan santainya kembali memeriksa tempat itu untuk mencari jebakan lain yang mungkin ada.


Sementara Amira yang sedari tadi memperhatikan jika tak ada lagi yang datang ke tempat itu mulai keluar dari tempat persembunyiannya. Ia bermaksud melihat apa yang terjadi di dalam sana. Dengan perlahan Amira berjalan mengendap-endap berusaha mengintip apa yang terjadi di dalam rumah itu. Dilihatnya beberapa orang asing itu telah menjadi korban dari jebakan yang dibuatnya. Amira tersenyum tipis namun ia tak mau besar kepala karena dilihatnya masih ada beberapa orang yang masih tak tersentuh oleh jebakannya.


"Aku harus membuat mereka merasakan jebakanku yang tersisa..." batin Amira.


Kemudian ia pun kembali mengendap-endap menghampiri jebakan buatannya yang masih utuh. Kemudian ia pun melemparkan batu didekat jebakan itu agar orang-orang yang mengejarnya itu terpancing ke dalam jebakannya. Benar saja dengan cepat mereka segera bergerak kearah suara yang dibuat Amira.


Tak berapa lama terdengar suara mengaduh beserta erangan kesakitan saat orang-orang itu kembali terkena jebakan Amira. Suara umpatan dan makian pun keluar dari mulut mereka.


"S**t***c*p" teriak Vallery yang geram dengan kebodohan anak buahnya yang begitu mudah masuk dalam perangkap.


Seketika para pria itu pun langsung menutup mulut mereka walau masih terdengar desisan mereka menahan rasa sakit karena tubuh mereka yang tertimpa kantung-kantung semen.


"Come out-come out little pussy!!" panggil Vallery pada Amira agar wanita itu mau keluar dari persembunyiannya.


Vallery bahkan sudah mengetuk-ngetuk dinding yang ada di ruangan itu dengan ujung pipa besi yang baru ditemukannya. Suara wanita itu sudah terdengar dingin dan menyeramkan mirip nenek sihir yang sedang mengejar anak-anak incarannya.


Amira yang tengah bersembunyi merasakan aura menyeramkan mulai menyelimuti dirinya. Dengan perlahan dielusnya perutnya yang membuncit.


"Jangan rewel dan merepotkan bunda ya sayang.... bunda harus menghadapi nenek sihir itu dulu agar kita selamat" ucapnya dalam hati.


Sambil mengucapkan bismillah Amira mengambil batang bambu yang tergeletak di samping kakinya. Lalu ia pun keluar dari tempat persembunyiannya dan menghadapi Vallery.


Melihat kedatangan Amira semua anak buah Vallery langsung mengarahkan senjatanya pada ibu hamil itu. Bukannya takut Amira malah melangkah dengan pasti kearah Vallery yang sudah menunggunya di tengah ruangan. Vallery lqngsung menyuruh anak buahnya untuk menurunkan senjata mereka karena ia sendiri yang akan mengurusi Amira.


"Apa maumu? kenapa kau mengejarku hah?" tanya Amira.


Vallery memberikan kode pada penterjemahnya. Lalu seorang pria berbadan kurus tampak mengartikan ucapan Amira pada Vallery. Mendengar ucapan pria itu Vallery tersenyum miring pada Amira. Lalu wanita bule itu pun mengatakan sesuatu yang membuat semua pria yang ada disana tertawa terbahak-bahak.


Walau tak mengerti dengan ucapan wanita yang ada dihadapannya itu Amira sudah bisa menduga jika wanita itu sedang menghinanya. Tak lama sang penterjemah pun mengartikannya pada Amira.


"Maaf nyonya... nona Vallery bilang jika ia sangat terkejut dengan selera dari tuan Jimmy yang menyukai wanita gendut mirip karung seperti anda" terang pria itu dengan wajah ketakutan.


Pasalnya saat melihat Amira ia ingat jika ia pernah melihat wanita itu saat viral mengendarai moge dengan berpakaian pengantin. Ia tahu jika Amira termasuk wanita bar-bar jika sudah marah.


"Heh... katakan pada bule krempeng itu ya ... mending aku karung yang berisi dari pada dia yang krempeng macam papan penggilesan!" sahut Amira yang langsung emosi dengan perkataan Vallery.


Vallery langsung menatap tajam pada sang penterjemaah meminta penjelasan.


"Eh terjemahkan setiap perkataanku yang sebenarnya ga usah kamu rubah sedikit pun!" sambung Amira.


Dengan takut-takut pria itu pun menjelaskan perkataan Amira pada Vallery. Tampak wajah wanita itu memerah menahan marah setelah tahu arti dari perkataan Amira dan dia pun mulai mengeluarkan perkataan dengan bahasa yang tidak Amira mengerti. Bumil itu pun terlihat sudah tidak sabar mendengarkan perkataan Vallery.


"Shut up!" teriak Amira yang sudah emosi sampai ke ubun-ubun.


"Eh bilang pada bule itu kalau mau gelut ya gelut aja ga perlu pake kebanyakan cincong!" seru Amira pada sang penterjemah.


Dengan bergetar pria kurus itu pun menterjemahkan perkataan Amira pada Vallery. Wanita bule itu pun langsung tersenyum dan memasang kuda-kuda untuk menyerang Amira.


"Nah gitu dong jadi ga kebanyakan menghabiskan tenaga buat ngomong!" sungut Amira yang mulai bersiap melayani lawannya.


Para anak buah Vallery tampak mundur kebelakang seolah memberikan ruang untuk kedua wanita itu bertarung. Vallery langsung berlari dan menerjang Amira dengan menggunakan pipa besi yang dibawanya. Melihat itu Amira langsung menagkisnya dengan tongkat bambu yang tengah dipegangnya. Keduanya langsung mengadu kekuatan saat pipa besi dan tonkat bambu mereka saling beradu.


Berkali-kali Vallery berusaha mendaratkan pipa besinya pada tubuh Amira namun ternyata bumil itu dapat bergerak dengan lincah menghindari serangannya. Sehingga berkali-kali Vallery hanya bisa menyentuh angin. Saat Vallery tengah geram dan memukulkan pipa besinya kesembarang arah tiba-tiba Amira menyarangkan tendangannya pada perut Vallery beberapa detik setelah wanita itu berhasil menghindari serangan Vallery.


Vallery langsung terhuyung ke belakang. Dipegangnya perutnya yang terasa sakit terkena tendangan Amira. Anak buahnya yang mencoba membantu langsung ditepisnya.


"Sial ternyata perempuan hamil itu bisa juga melawanku!" seru Vallery dalam hati.