
Di sebuah ruang tahanan... seorang wanita sedang meremas koran yang baru saja dibacanya. Tampak di koran itu gambar tuan Bram yang sedang menggandeng nyonya Sarah terlihat di depan sebuah hotel. Dan terdapat artikel dengan judul yang membuatnya sangat geram. Dalam artikel tersebut diterangkan jika keduanya tengah mempersiapkan pernikahan kakaknya.
"Awas kamu mas... kamu sudah menipuku dan lebih memilih perempuan itu..." desisnya.
"Dan kau Sarah ... kakakmu sudah membuat wajahku cacat. Lihat saja akan aku lenyapkan kau Sarah untuk membalas sakit hatiku pada suami dan kakakmu..." sambungnya sambil tersenyum sinis.
"Lihat saja nanti bagaimana kubuat kau mati perlahan sehingga kedua orang itu juga akan merasakan kesakitan yang aku rasakan..." tekadnya dalam hati.
Dipandanginya sel yang sudah beberapa bulan ini ia huni. Otaknya pun langsung berfikir keras mencari cara agar dapat segera keluar dari tempat terkutuk ini.
Sementara di rumah nyonya Sarah kesibukan sudah mulai terasa dengan pernikahan yang tinggal menghitung hari. Nyonya Sarah dan bu Wati sengaja memingit Amira di kamarnya. Walau pun Amira tinggal serumah dengan calon suaminya namun nyonya Sarah dan bu Wati ingin jika keduanya tetap melakukan rangkaian adat yang ada termasuk dipingit walau hanya tiga hari. Jadi selama waktu pingitan Amira sama sekali tidak boleh meninggalkan kamarnya apa lagi bertemu dengan tuan Sam. Bahkan ponselnya di pegang oleh nyonya Sarah. Alhasil hal ini membuat tuan Sam uring-uringan karena tak dapat menghubungi Amira sama sekali. Lukas yang setiap hari mendampinginya pun sering kali terkena imbasnya.
Tuan Sam memang masih melakukan kegiatannya seperti biasa walau ada yang sudah dikurangi. Namun karena ia yang tak bisa menemui Amira walau hanya dengan vc membuatnya gampang tersulut emosi. Seperti kali ini ia yang seharusnya sudah bisa pulang terpaksa harus ditunda karena ada kecelakaan kerja pada salah satu proyeknya sehingga mau tidak mau ia harus turun tangan kesana bersama Lukas dan tuan Bram. Setelah ketiganya mengatasi persoalan yang terjadi karena murni kecelakaan mereka pun bergegas kembali ke rumah. Dalam perjalanan pulang ia melihat dua orang anak yang bermain walkie talky ditaman. Melihat itu ia pun tersenyum senang karena sebuah ide telah terlintas dikepalanya. "Pak kita ke toko mainan sekarang" perintahnya pada sopir yang membuat Lukas dan tuan Bram saling pandang tak mengerti dengan kemauan tuan dan kakak ipar mereka.
Sesampainya di depan toko mainan tuan Sam pun langsung turun dan melarang tuan Bram dan Lukas mengikutinya. Tak berapa lama ia pun kembali dengan menenteng dua kantong mainan.
"Itu untuk siapa kak?" tanya tuan Bram.
"Untuk kedua keponakanku lah..." ucapnya datar membuat Lukas dan tuan Bram saling pandang, sebab tak biasanya tuan Sam membelikan mainan kepada kedua keponakannya itu sendiri.
Biasanya ia langsung membawa keduanya ke toko mainan dan menyuruh mereka memilih sendiri mainan yang mereka suka. Tak ingin membuat mood tuan Sam menjadi turun keduanya pun hanya diam dengan tingkah aneh tuan Sam.
Saat mereka sampai di rumah tuan Sam langsung mencari kedua keponakannya itu. Dan ketika ia menemukan keduanya sedang berada di kamar mereka ia pun langsung menghampiri.
"Hai keponakan uncle yang pintar dan baik hati..." ucapnya lembut sambil menenteng dua kantong plastik di tangannya.
"Hai juga uncle..." jawab keduanya bersamaan.
"Lihat apa yang uncle bawa buat kalian..." ucapnya sambil menunjukkan dua kantong bawaannya.
Kedua bocah itu pun langsung menghambur kearah tuan Sam dan menerima kantong tersebut. Saat membuka isinya mereka pun senang karena ternyata isinya mainan baru untuk mereka.
"Sayang... kalian kan sudah uncle belikan mainan tanpa kalian minta, jadi bisakah uncle minta tolong sama kalian?" ujarnya mulai menjalankan rencananya.
Kedua bocah itu pun mengangguk dan langsung mendengarkan perintah dari tuan Sam.
"Jadi kalian sudah mengerti apa yang harus kalian lakukan?" tanya tuan Sam setelah memberi pengarahan pada kedua bocah itu.
Keduanya pun mengangguk dan langsung melaksanakan perintah tuan Sam. Setelah keduanya pergi tuan Sam pun tersenyum puas dan melenggang ke kamarnya. Sedang kedua bocah itu kini sedang berada di depan kamar Amira.
"Bunda... bisa buka pintu? Kami ingin main sebentar..." kata Anna sambil mengetuk pintu kamar Amira.
Tak lama pintu kamar pun terbuka dari dalam dan terlihat Amira yang lansung menyuruh keduanya untuk masuk. Ketika mereka sudah masuk di dalam kamar Amira pun mengajak keduanya untuk duduk di karpet sebelah tempat tidurnya.
"Kalian ingin main apa sama bunda?" tanyanya lembut.
"Eum... sebenarnya kami bukan ingin main bunda..." kata Anna yang diangguki Adit.
"Lalu?" tanya Amira lagi.
"Kami hanya mau memberikan ini..." kata Anna sambil memberikan bungkusan plastik pada Amira.
"Ini apa?"
"Buka saja bunda.... itu dari uncle" ucap Adit.
Amira yang penasaran pun langsung membuka kardus yang ada di dalam bungkusan tersebut. Amira terkejut saat di dapatinya mainan di dalam kardus tersebut.
"Ini..."
"Walkie talky bunda... uncle juga membelikannya buat kami" kata Anna.
"Lalu?"
"Kata uncle nanti kita bisa ngomong seperti pakai hp bunda..." terang Anna.
Amira pun tersenyum ia tahu jika ini salah satu akal tuan Sam.
"Ya sudah apa kita akan main sekarang?" tanyanya.
Kedua bocah itu pun mengangguk senang. Kemudian mereka pun bermain sebentar hingga terdengar suara nyonya Sarah yang mencari kedua anaknya.
"Bunda kami keluar dulu ya... mainan tadi jangan kasih tahu mama" pinta Anna. Amira pun mengangguk setuju.
Lalu keduanya pun keluar dari kamar dan menemui mama mereka. Amira pun menutup pintu kamarnya setelah kedua bocah itu pergi. Ia tersenyum saat melihat walkie talky yang tadi ia letakkan diatas nakas. Tak lama benda itu pun berbunyi ....
"Cek... cek... Ra... halo... kamu bisa mendengarku?" terdengar suara tuan Sam.
"Ck... sudah seperti mau perang saja" gumamnya dalam hati.
Namun mau tak mau ia pun mengangkatnya.
"Ya..."
Terdengar ******* pelan dari tuan Sam.
"Akhirnya berhasil juga..." ucapnya.
"Ck... kau sama sekali tak merindukanku ya..." ucap tuan Sam ketus.
"Bukan begitu..." sahut Amira sedikit tercekat.
Sesungguhnya ia pun merindukan tuan Samnya... tapi ia pun harus patuh dengan keinginan nyonya Sarah dan bu Wati yang menurutnya ada benarnya juga.
"Aku juga merindukanmu B..." ucap Amira akhirnya yang membuat tuan Sam tersenyum senang.
"Kau dapat ide dari mana sampai membeli ini?" tanya Amira.
"Bukankah kau tahu jika aku ini orang yang cerdas jadi tentu saja aku bisa langsung memikirkannya" jawab tuan Sam dengan pedenya.
"Iya kau memang cerdas..." sahut Amira sambil terkekeh kecil.
"Bisakah kau buka jendela kamarmu?" tanya tuan Sam tiba-tiba.
"Kenapa?"
"Ck... kau itu sangat tidak peka sama sekali...." kata tuan Sam kesal.
"Tapi kan B..."
"Aku hanya ingin melihatmu saja.... apa kau juga tidak ingin melihatku?" sambung tuan Sam dengan nada memelas.
Saat Amira tengah bimbang untuk menuruti permintaan calon suaminya itu terdengar ketukan dari pintu kamar.
"Ada yang datang B" ucap Amira lalu dengan cepat di simpannya walkie talky itu didalam laci nakas.
"Iya sebentar...." sambungnya.
Segera dibukanya pintu kamar ternyata sudah ada bik Murni yang sedang membawa nampan berisi makan malam untuknya.
"Ini makan malam kamu Ra..." ucapnya.
"Terima kasih bik..." kata Amira lalu mengambil nampan yang dibawa bik Murni lalu membawanya ke dalam kamar.
Baru saja ia meletakkan makanan diatas nakas kembali terdengar suara ketukan. Dan saat ia membukanya ternyata itu nyonya Sarah.
"Ada apa kak?"
"Bisa kita bicara sebentar?"
"Iya kak mari masuk saja..."
Keduanya pun langsung masuk ke kamar Amira dan duduk bersebelahan di tepi tempat tidur.
"Begini Ra ... sebenarnya sudah lama aku ingin memberikannya padamu tapi kurasa ini waktu yang tepat..." ucapnya sambil mengeluarkan sebuah kotak kecil dari dalam saku roknya.
"Ini apa?" tanya Amira tak mengerti.
"Buka saja" suruh nyonya Sarah.
Saat Amira membuka kotak tersebut alangkah terkejutnya ia karena isi kotak itu ternyata sebuah cincin yang bentuknya sangat mirip dengan cicin pemberian kedua orang tuanya yang telah ia jual saat dalam pelarian dulu.
"Kak..." Amira tercekat tak dapat melanjutkan kata-katanya sebab dadanya sudah sesak dengan rasa haru dan air matanya pun sudah mulai berjatuhan.
"Jangan menangis Ra... aku tahu ini tidak bisa mengganti cincin yang telah kau jual tapi setidaknya ini tetap bisa mengingatkanmu pada kedua orangtuamu..." ucap nyonya Sarah yang juga ikut terharu.
"Terima kasih kak..." ucap Amira langsung memeluk nyonya Sarah.
"Sama-sama..." ucap nyonya Sarah membalas pelukan Amira.
"Kau tahu ini tidak sebanding dengan apa yang telah kau lakukan untuk keluaraga kami terutama pada anak-anakku" sambungnya masih memeluk Amira dengan erat.
"Sudah jangan menangis lagi, kau harus terlihat cantik di hari pernikahanmu nanti..." ucap nyonya Sarah melepas pelukannya.
"Sekarang kau istirahatlah ... besok akan ada penghias henna yang akan melukis tanganmu agar terlihat cantik..." sambungnya.
"Terima kasih kak..."
"Sama-sama..." lalu nyonya Sarah pun keluar dari kamar Amira.
Sementara tuan Sam yang menunggu sedari tadi tampak mulai tak sabar. Namun saat ia hendak mengetuk kaca jendela kamar Amira terdengar olehnya langkah seseorang yang membuatnya segera berbalik dan berjalan menjauh. Namun ternyata ia malah terpergok oleh orang itu yang ternyata adalah tuan Bram.
"Kakak dari mana?" tanyanya.
"Dari jalan-jalan dibelakang sebentar... ada apa?" tanya tuan Sam datar.
"Apa kakak sudah mulai menghafalkan ikrar akad kakak nanti?" tanya tuan Bram.
Tuan Sam terkejut dengan ucapan adik iparnya itu. Bagaimana ia bisa lupa dengan itu? Dan seketika tubuh tuan Sam mendadak kaku karena terus terang saja ia belum sama sekali menghafalkannya. Bahkan memikirkannya saja tidak. Ia malah sibuk mencari cari cara agar bisa melihat wajah pujaan hatinya saja dan melupakan hal penting yang bisa membuatnya memiliki Amira seutuhnya.
"Jangan bilang kalau kakak lupa..." kata tuan Bram yang langsung menutup mulutnya saat melihat tuan Sam menatapnya horor.