
Vallery mengelus perutnya yang terasa sakit. Tapi wanita itu tidak mau menyerah. Ia tak mau kalah dari perempuan hamil yang ada dihadapannya itu. Mau ditaruh dimana mukanya jika ia benar kalah didepan anak buahnya. Walau selama ini Vallery berpenampilan feminim dan lembut,namun karena ia adik seorang kriminal terkenal maka tentu saja ia juga memiki kemampuan bela diri yang mumpuni. Karena itu walau ia dikelilingi banyak pria tak ada satu pun diantara mereka yang berani membuatnya marah.
Karena bisa dipastikan bukan hanya kakaknya yang akan turun tangan tapi Vallery sendiri pasti akan memberi perhitungan terlebih dahulu pada mereka. Oleh sebab itu Vallery sangat geram saat Amira dapat mengimbangi gerakannya dan bahkan membalas dengan telak dengan menendang perutnya.
"Sial ternyata perempuan ini lumayan juga" batin Vallery sambil kembali memasang kuda-kuda.
Sedang Amira saat ini tengah merasakan sedikit kram pada perutnya. Ia menyadari bahwa ia tak bisa bergerak semaunya karena kandungannya. Dengan perlahan dihembuskannya nafasnya sambil mengelus perutnya lembut.
"Yang sabar ya sayang... bunda akan segera menyelesaikannya... jadi kalian jangan rewel" bisiknya pada perutnya.
Ia yakin jika anak-anak dalam kandungannya dapat mengerti keadaan yang tengah dihadapi oleh ibunya itu.
Melihat pergerakan Amira, Vallery sudah dapat menduga jika bumil itu tengah merasakan sesuatu pada kandungannya. Wanita bule itu pun langsung tersenyum licik. Tanpa ba bi bu... Vallery langsung menerjang Amira dengan pipa besinya. Berkali-kali wanita itu menyerang Amira dengan mengarahkan pukulannya ke arah perut Amira.
Menyadari jika Vallery mengincar perutnya Amira bertambah murka. Berkali-kali terjangan pipa besi Vallery berhasil ditangkis oleh Amira dengan menggunakan batang bambu yang dipegangnya. Namun naas saat terakhir batang bambu yang digunakan oleh Amira patah menjadi dua terkena terjangan pipa besi Valleri. Melihat itu Vallery tersenyum puas. Sekarang bagaimana lagi perempuan hamil itu dapat melawan serangannya fikir Vallery yang sudah dapat membayangkan hasil dari duel kali ini.
Sementara ditempat lain....
"Tuan sepertinya nyonya berada di bagunan itu!" tunjuk Lukas pada bangunan rumah yang belum jadi.
"Apa kau yakin?" tanya tuan Sam.
"Iya tuan... karena sinyalnya berasal dari sana" sahut Lukas.
Tuan Sam pun mengangguk lalu cepat mengikuti langkah asistennya itu. Sementara Jimmy yang melihat tuan Sam yang mengambil arah lain langsung mengikutinya.
"Kalian mau kemana?" tanyanya saat berhasil mensejajari langkah keduanya.
"Kesana... ke bangunan rumah itu... sinyal GPS Amira berasal dari sana" terang tuan Sam.
Jimmy pun langsung memanggil anak buahnya untuk segera mengikutinya. Tak berapa lama mereka pun memasuki bangunan rumah yang belum selesai itu. Dari luar tampak sunyi tak ada kegiatan atau suara sedikit pun. Namun saat melihat ke tanah maka disana tampak banyak sekali jejak sepatu yang bertebaran pertanda tempat itu telah dimasuki beberapa orang.
Jimmy langsung memberi tanda dengan gerakan tangannya agar semua yang bersamanya diam dan tak menimbulkan suara. Perlahan mereka mengendap-endap memasuki bangunan rumah itu. Sekali lagi Jimmy memberi tanda dengan gerakan tangannya agar mereka semua menyebar. Baru saja anak buahnya akan melaksanakan perintahnya terdengar suara gaduh dari arah dalam.
Mereka pun terdiam ditempatnya dan berusaha memasang telinga mereka mencari sumber suara. Tak lama terdengar suara benda keras beradu. Sepertinya ada yang sedang berduel di dalam sana. Jimmy dan yang lainnya pun segera menuju arah suara tersebut. Betapa terkejutnya mereka saat melihat sekumpulan orang bersenjata tengah berkerumun tengah menyaksikan perkelahian di tengah mereka.
Jimmy langsung memberi tanda agar anak buahnya segera melumpuhkan orang-orang yang sedang berkerumun itu diam-diam. Serentak anak buahnya langsung melaksanakan perintah bosnya. Begitu pula dengan tuan Sam yang juga memerintahkan pengawalnya untuk membantu anak buah Jimmy.
Satu persatu para pria yang tengah asyik menonton duel dua orang wanita itu berhasil dilumpuhkan tanpa perlawanan dan tanpa menimbulkan suara. Saat semua telah di lumpuhkan dan diikat di sudut ruangan barulah tuan Sam dan orang-orang yang bersamanya dapat melihat siapa yang sedang bertarung di tengah ruangan.
Tampak Amira dan seorang wanita bule sedang bertarung. Melihat keduanya tampak Amira yang terlihat lebih pendek dengan badan gemuknya melawan wanita yang jauh lebih jangkung darinya.
"Vallery!" desis Jimmy dengan wajah mengeras.
Saat Jimmy hendak maju untuk melerai keduanya tuan Sam langsung menahannya dengan memegang dada Jimmy dengan telapak tangannya dan menggelengkan kepala.
"Amira sedang marah ... jadi jangan kau hentikan dia sekarang..." terang tuan Sam.
Jimmy pun menoleh ke arah arena pertarungan. Terlihat dengan jelas oleh Jimmy wajah Amira yang memerah dan penuh amarah saat Vallery terus menyerang ke arah perutnya. Berkali-kali bumil itu mengelak dan menahan serangan Vallery dengan menggunakan batang bambu, namun akhirnya batang bambu itu patah saat Vallery memukulkan pipa besinya. Pertarungan terhenti sebentar. Tampak semua orang yang ada disana menahan nafasnya melihat Amira yang tak lagi mempunyai senjata dan hanya memegang potongan batang bambu di kedua belah tangannya.
Melihat lawannya yang kalah senjata Vallery langsung merangsek untuk menyerang Amira lagi. Tiba-tiba Amira langsung melempar potongan bambu yang di pegangnya ke arah lengan Vallery dan berhasil memukul tepat di lengan wanita bule itu yang langsung menyebabkan ia menghempaskan pipa besi yang sedang dipegangnya.
"Amira..." gumam Jimmy yang tampak kaget dengan kelakuan bar-bar adik angkatnya itu.
"Dia memang induk ayamku..." ucap tuan Sam yang sudah tidak kaget lagi dengan tingkah istrinya itu.
Jimmy hanya bisa melongo dengan apa yang sedang dilihatnya saat ini. Dari dulu ia memang sudah tahu jika Amira bukan gadis lemah. Namun ia tak menyangka dalam keadaan hamil pun Amira masih bisa menunjukkan taringnya.
Sedang di arena pertarungan Amira kembali merasakan kram dan nyeri pada perutnya. Namun sebisa mungkin ditahannya. Ia tak ingin jika lawannya tahu dan memanfaatkan kesempatan itu untuk mengalahkannya. Lain dengan Vallery ... wanita itu justru kini terlihat frustasi karena ternyata Amira tak selemah yang ia bayangkan. Bisa bertahan selama ini melawannya sungguh diluar dugaannya. Kini ia tak lagi fokus menyerang perut Amira. Baginya yang terpenting adalah agar ia bisa segera menjatuhkan Amira karena tenaganya pun kini sudah mulai terkuras.
Amira menghembuskan nafasnya pelan, ia merasakan kontraksi pada perutnya. Ia mulai khawatir jika tiba-tiba ia harus melahirkan sedang ia belum juga membereskan lawannya. Dengan cepat otaknya memikirkan cara agar pertarungannya cepat selesai. Sementara tanpa Amira sadari tiba-tiba Vallery mengeluarkan senjata api dari balik pakainnya dan menodongkannya pada Amira. Ya Vallery juga sudah ingin menyelesaikan pertarungan mereka dan senjata api adalah pilihan tercepat untuk mengakhiri duel mereka.
Semua orang yang melihatnya langsung tercekat karena mereka sedari tadi tak menyadari jika Vallery menyembunyikan senjata ditubuhnya. Namun gerakan tangan Amira dengan cepat mengambil alih senjata yang dipegang oleh Vallery. Sehingga kini Vallerylah yang ditodongkan senjata oleh Amira. Dengan cepat Amira mengokang senjata itu dan menembakkannya kearah Vallery.
Dengan reflek Vallery menjatuhkan tubuhnya berusaha menghindar dari terjangan peluru yang ditembakkan oleh Amira. Belum juga ia berpindah dari tempatnya terjatuh Amira sudah memuntahkan lagi isi peluru dari senjata yang dipegangnya tanpa jeda, membuat Vallery pasrah dengan takdirnya. Mati ditangan seorang ibu hamil.
Berkali-kali Amira memuntahkan peluru dari senjata yang dipegangnya. Tampak sekali jika Amira tengah meluapkan amarahnya karena Vallery yang sedari tadi mencoba mencelakai kedua calon buah hatinya. Bahkan orang-orang yang ada disana tampak mematung terkesima dengan sikap Amira yang berubah dingin dan kejam. Amira masih saja menarik pelatuk pada senjatanya meskipun sudah tak ada lagi timah panas yang keluar dari sana karena kehabisan peluru.
Tuan Sam yang terlebih dahulu tersadar dengan kejadian yang ada didepannya langsung menghampiri Amira dan memeluknya dari belakang. Amira sedikit tersentak saat merasakan seseorang memeluk tubuhnya dari belakang. Namun wangi maskulin yang sangat dikenalnya itu membuatnya tersadar jika itu adalah suaminya. Dengan perlahan Amira menurunkan senjatanya dan melepaskannya dari genggaman tangannya sehingga senjata itu terjatuh di dekat kakinya.
Perlahan Amira menggerakkan tangannya memegang tangan suaminya yang tengah memeluknya. Tuan Sam pun perlahan membalikkan tubuh Amira agar bisa berhadapan dengannya. Terlihat oleh tuan Sam wajah Amira yang memerah dan sedikit pucat dengan air mata yang sudah mengalir dari kedua belah matanya.
"Dia ingin menyakiti anak-anak kita B..." isaknya lalu menjatuhkan tubuhnya didalam pelukan suaminya.
Tuan Sam langsung mengeratkan pelukannya pada Amira dan meletakkkan kepala istrinya itu didadanya. Dari balik tubuh Amira, tuan Sam dapat melihat keadaan Vallery yang tergeletak dilantai. Terlihat jika tak satu pun peluri yang Amira muntahkan mengenai tubuh Vallery. Sepertinya wanita itu pingsan karena ketakutan sebab tepat di samping kepala wanita itu terlihat sebuah lubang yang cukup besar akibat tembakan yang tadi Amira lakukan. Tuan Sam merasa lega sebab Amira tak membunuh wanita itu dan hanya menakutinya dengan menembak tepat disamping kepala wanita itu.
Jimmy dan lainnya yang ikut mendekat pun terkejut dengan keakuratan tembakan Amira walau dalam keadaan emosi. Mereka semua tak menyangka jika Amira bisa menggunakan senjata dengan luwes dan mahir. Entah dari mana wanita itu bisa mempelajarinya. Kemudian anak buah Jimmy pun segera mengurus Vallery yang masih tidak sadarkan diri. Tiba-tiba Amira berteriak merasakan kontraksi pada kandungannya.
"Aaarrrggghh... sakit B..." ucap Amira sambil meremas lengan suaminya.
"Ada apa sayang? apa kau akan melahirkan?" tanya tuan Sam memandang panik pada Amira.
Amira pun mengangguk pelan karena rasa sakit pada perutnya kembali datang.
"Lukas!" teriak tuan Sam.
Lukas pun langsung mendekat dan berusaha membantu tuan Sam membopong tubuh Amira karena wanita itu sudah tampak tak dapat lagi menopang tubuhnya sendiri.
"Siapkan mobil!" perintah Jimmy pada anak buahnya sedamg ia langsung ikut membantu membopong tubuh Amira.
Saat itu datang pihak kepolisian yang langsung mengambil alih untuk mengurusi para penyerang di rumah Amira. Sedang tuan Sam bersama Lukas dan Jimmy langsung membawa Amira ke rumah sakit begitu mereka memasukkannya ke dalam mobil yang disediakan oleh anak buah Jimmy. Jimmy langsung mengambil kemudi sedang Lukas langsung duduk disebelahnya. Sementara tuan Sam menemani Amira di belakang.
"Aarrghh... sakit B...." ucap Amira sambil meringis dan kembali meremas lengan suaminya.
"Sabar sayang... sebentar lagi kita sampai di rumah sakit..." sahut tuan Sam menenangkan Amira sambil menahan sakit akibat cengkraman Amira.
"Tolong lebih cepat lagi Jim!" kata tuan Sam pada Jimmy.
Jimmy pun langsung mempercepat laju kendaraannya tanpa menjawab perkataan tuan Sam karena saat ini pun ia juga khawatir dengan keadaan Amira dan juga kandungannya. Mobil yang mereka tumpangi langsung melesat dengan kecepatan tinggi. Lukas yang tahu jika Jimmy kurang memahami daerah yang mereka lalui langsung bertugas sebagai pengarah jalan.
Hai...hai...hai... terima kasih saya ucapkan untuk para reader semua yang sudah mau membaca karya pertama ku ini. Terima kasih atas dukungannya dengan memberikan like, komen, hadiah dan juga votenya. Senang sekali rasanya mendapat reader yang sudi membaca karya receh dari emak-emak berdaster ini 🥰🥰