
Tuan Sam merasakan sentuhan hangat di pipinya yang membuatnya langsung membuka matanya. Seketika terlihat wajah Amira terpampang jelas didepannya sambil tersenyum hangat padanya.
"Meyaa..." seru tuan Sam senang dan langsung menangkupkan kedua tanganya pada wajah Amira.
"Kau selamat?" ucap tuan Sam tak percaya.
Amira kembali tersenyum namun ia tak menjawab pertanyaan tuan Sam dan malah mengecup kening suaminya itu. Tuan Sam pun memejamkan matanya dan meresapi apa yang tengah dilakukan oleh istrinya itu.
"Meyaa..." panggil tuan Sam yang merasa tingkah istrinya itu agak aneh.
"Hemmm..." sahut Amira kini malah menyandarkan kepalanya di dada tuan Sam.
"Kau kenapa?" tanya tuan Sam penasaran.
"Aku merindukanmu Db..." sahut Amira sambil menyusupkan kepalanya pada dada tuan Sam.
"Aku ingin kau menjaga Sahir dan Samir untukku Db..." sambung Amira.
"Apa maksudmu Meyaa? kita akan menjaga kedua putra kita bersama-sama..." sergah tuan Sam sambil memeluk erat tubuh Amira.
Amira hanya diam dan seperti sedang menikmati dekapan tuan Sam. Tiba-tiba terdengar suara seorang anak kecil yang memanggil Amira...
"Bunda..."
Terlihat seorang anak perempuan berlari kearah keduanya dan langsung menarik tangan Amira untuk ikut dengannya. Saat tuan Sam hendak mencegahnya seperti ada dinding tak kasat mata yang menghalanginya dengan Amira sehingga tuan Sam tidak dapat lagi menyentuh istrinya. Dan Amira malah terlihat mengikuti gadis kecil itu dengan suka rela dan meninggalkan tuan Sam dibelakangnya.
"Meyaa!" panggil tuan Sam mencoba mencegah Amira untuk mengikuti gadis kecil itu.
Namun Amira hanya menoleh sebentar kemudian ia tersenyum sekilas lalu kembali mengikuti langkah gadis kecil yang tak pernah melepaskan gandengan tangannya pada Amira.
"Meyaa!!" teriak tuan Sam sekencang-kencangnya saat ia melihat tubuh istrinya itu mulai menghilang menembus cahaya yang tiba-tiba saja menerangi tempat itu.
"Meyaa!!"
Tuan Sam pun tersentak dan terbangun dari tidurnya. Ia baru tersadar jika apa yang baru saja dilihatnya hanyalah sebuah mimpi. Namun mimpi itu justru membuatnya semakin merasa gelisah dan tidak bisa lagi kembali tidur. Dalam hatinya ia mereka-reka apa sebenarnya makna dari mimpinya itu. Perasaan tak enak langsung menyeruak di dalam hatinya. Saat ia melihat jam diatas nakas terlihat baru jam tiga pagi. Tuan Sam menghela nafasnya berat. Untung saja kedua putra kembarnya tidak terbangun dengan teriakannya tadi. Untuk menentramkan hatinya ia pun segera pergi ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu.
Sholat... itu yang bisa ia lakukan sekarang agar hatinya menjadi tenang. Maka dari itu tuan Sam pun langsung menggelar sajadahnya dan mengerjakan sholat tahajud. Dalam do'anya ia memohon agar Amira diberikan keselamatan dan perlindungan sehingga keluarga kecil mereka dapat berkumpul kembali. Tak ada yang diinginkannya selain kembalinya Amira pada keluarga kecilnya.
Sementara di dalam reruntuhan gedung tampak Kartika sudah mulai tersadar dari pingsannya. Ia berusaha menggerakkan anggota tubuhnya namun hanya tubuh bagian atasnya yang bebas sedangkan kakinya tak dapat digerakkan karena terhimpit reruntuhan gedung. Kartika berusaha untuk menggerakkan kepalanya untuk melihat sekitarnya dengan bantuan cahaya bulan yang entah kenapa sangat terang malam ini. Tampak olehnya Amira yang tergeletak tak bergerak dengan kepala yang berlumuran darah. Sedang tubuhnya tampak tertutup reruntuhan dan hanya sebelah tangannya yang terlihat bebas dan terjulur keluar dari reruntuhan. Bahkan hijab yang dipakainya tampak terkoyak sehingga menampakkan sebagian rambutnya.
Kartika berusaha meraih salah satu tangan Amira yang terulur tak jauh dari tempatnya berada. Dengan susah payah Kartika berusaha mencondongkan tubuhnya agar ia bisa meraih tangan Amira dan memeriksa keadaannya. Setelah berusaha cukup lama ia berhasil meraih telapak tangan Amira dan mencoba menariknya untuk menyadarkan Amira yang terlihat tidak sadarkan diri.
"Amira... bangun..." panggil Kartika dengan suara serak sambil menggoyangkan telapak tangan Amira.
"Ra... bangunlah..." serunya lagi saat tak ada respon dari Amira.
Kartika kembali memanggil Amira kini dengan menarik keras tangan Amira. Namun bukannya Amira menjadi sadar justru Kartika malah menarik cincin yang melekat di jari manis Amira. Kartika menggenggam cincin Amira dengan putus asa karena tenaganya juga sudah semakin lemah hingga ia tak sanggup lagi menarik tangan Amira agar bisa membuat wanita itu tersadar.
"Maafkan aku Ra... aku sudah mencoba meracunimu tadi... tapi sungguh aku terpaksa Ra..." kata Kartika pada Amira yang masih tidak sadarkan diri.
"Aku fikir dengan membunuhmu dia akan melepaskanku juga orang-orang yang ada di dalam gedung ini... tapi dia menipuku Ra... dia tetap saja meledakkan gedung ini demi menyingkirkanku juga..." sambung Kartika sambil menangis.
Ia tak menyangka jika hidupnya akan setragis ini. Sejak kecil Kartika tinggal di panti asuhan karena ia ditinggalkan orangtuanya dalam kardus di depan pintu panti. Dengan otak cerdasnya membuat ia sering mendapatkan beasiswa hingga ia bisa berhasil lulus wisuda dengan nilai yang tinggi. Bahkan ia juga mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan kuliah S2 nya di London. Dan setelah berhasil di wisuda di salah satu universitas ternama di London ia pun langsung diterima di salah satu bank ternama dan mendapatkan posisi yang cukup strategis meski ia orang baru.
Dan disanalah ia bertemu dengan pria yang telah membuatnya jatuh hati yang membuatnya rela memberikan segalanya termasuk memberikan kehormatannya. Ya ia berkenalan dengan seorang pria yang mengaku sebagai seorang fotografer bernama Michael yang terlihat sangat baik dan mempesona sehingga tidak butuh waktu lama ia pun jatuh didalam pelukan pria itu hanya dalam hitungan minggu. Lalu sekitar empat bulan yang lalu pria itu membujuknya untuk ikut dalam rencana pembalasan dendamnya pada seorang wanita yang telah membuat adiknya menderita dan masuk penjara.
Kata-kata Michael yang sangat manis sungguh membuat Kartika terlena. Bahkan saat pria itu menghasutnya dengan menceritakan penderitaan adiknya karena ulah Amira membuat Kartika percaya dan langsung membenci Amira tanpa perlu mengenalnya. Dan satu bulan kemudian saat ia mendapatkan promosi jabatan dan memiliki gaji yang cukup untuk memyewa apartemen di gedung yang sama dengan Amira ia pun mulai menjalankan rencana Michael. Ia melakukannya agar tak ada yang mencurigainya saat ia masuk ke lingkungan yang mewah itu.
Namun seiring berjalannya waktu ia mulai merasakan sifat Amira yang sangat jauh dari bayangannya dan juga yang dikatakan oleh Michael. Karenanya ia mulai menyelidikinya sendiri apa motif Michael membenci Amira. Hingga akhirnya ia menemukan fakta jika Michael bukanlah pria yang seperti ia katakan sebelumnya. Dan kenyataan mengerikan malah menamparnya. Suatu hari ia tak sengaja mendengar pembicaraan Michael dengan seseorang yang semula ia kira adalah temannya.
Setelah mendengar pembicaraan mereka ia baru tahu jika Michael bukanlah nama yang sebenarnya. Dan fotografer juga bukanlah pekerjaannya yang sesungguhnya. Pria itu ternyata bernama Castillo dan dia seorang mafia yang buron dari Amerika. Saat mengetahui itu Kartika berusaha lari namun anak buah Castillo dengan cepat menemukannya dan membawanya pada Castillo. Dan akhirnya ia pun terpaksa menuruti perintah Castillo karena takut terancam nyawanya dan juga tersebarnya foto-foto tak senonohnya yang bisa mengakhiri karirnya.
Kartika menggenggam cincin Amira yang ada ditelapak tangannya dengan erat. Hatinya kini hancur karena ia harus kehilangan teman satu-satunya yang pernah dimilikinya. Melihat keadaan Amira sekarang Kartika tidak yakin jika wanita itu akan bisa selamat. Sebab luka-luka yang diderita wanita itu sangat parah. Jika mereka tak segera ditemukan kemungkinan Amira akan meregang nyawa karena kehabisan darah akibat luka dikepalanya yang sedari tadi tampak basah karena lukanya terus mengeluarkan darah.
Jangankan Amira... memikirkan dirinya sendiri saja Kartika tidak yakin akan selamat jika tidak ada yang segera menolongnya. Sebab bisa saja sewaktu-waktu gedung apartemen itu kembali runtuh. Dan jika hal itu terjadi ia tidak yakin akan masih bisa selamat. Saat ia tengah sibuk dengan fikirannya sendiri tiba-tiba ia mendengar suara langkah kaki beberapa orang dan juga suara orang memanggil yang mencari korban selamat. Dengan tenaga yang masih tersisa Kartika mencoba berteriak untuk meminta pertolongan.
"Over here! please help me!" teriak Kartika sekuat tenaga.
"Hei... where are you?" sahut suara dari atas reruntuhan.
"Over here!" teriak Kartika lagi sambil memberi tanda dengan mengetuk-ngetuk besi beton yang ada disampingnya dengan bongkahan bata.
Tak berapa lama terlihat cahaya senter yang meneranginya. Meski membuat matanya silau namun Kartika bahagia karena itu berarti ada orang yang akan menemukannya.
"Over here!" teriak Kartika lagi.
Segera sorot lampu senter yang semula hanya satu kini semakin banyak menandakan jika bala bantuan telah tiba. Tak lama terdengar suara orang menggali dan sedikit demi sedikit reruntuhan yang menindih tubuhnya diangkat dari atas. Dan setelah perjuangan yang cukup lama akhirnya reruntuhan terakhir yang menindih tubuhnya berhasil diangkat. Setelah itu Kartika langsung dibawa dengan tandu menuju ambulans yang telah menunggu untuk membawa para korban selamat ke rumah sakit. Saat tubuh Kartika di masukkan ke dalam ambulans Kartika baru merasa lega karena akhirnya ia benar-benar selamat. Dan dia melupakan Amira.
Sementara setelah mengevakuasi tubuh Kartika salah seorang petugas penyelamat melihat sobekan hijab Amira yang membuatnya langsung memberitahukan pada rekannya bahwa ada korban lain disana. Berpacu dengan waktu para petugas penyelamat pun berusaha menggali puing-puing yang menutupi tubuh Amira dengan hati-hati. Saat mereka melihat keadaan Amira para petugas penyelamat itu pun semakin mempercepat usaha penyelamatan mereka karena tidak ingin kehilangan nyawa korban yang baru saja mereka temukan. Setelah berusaha keras mereka akhirnya berhasil mengangkat tubuh Amira yang masih tidak sadarkan diri meski mereka harus melepas hijabnya yang tersangkut dengan paksa.
Tubuh Amira pun langsung mendapatkan pertolongan pertama untuk menyelamatkan nyawanya. Detak jantung dan denyut nadinya yang sangat lemah ditambah dengan luka dikepalanya yang terus mengeluarkan darah membuat Amira dalam kondisi kritis. Para petugas penyelamat pun langsung membawanya ke mobil ambulans agar bisa segera dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan intensif. Malam itu ambulans yang membawa tubuh Amira melaju kencang membelah jalanan menuju ke rumah sakit demi menyelamatkan nyawanya.
Sedangkan tuan Sam yang tengah berzikir setelah selesai sholat tahajud tampak kaget saat ponselnya yang berada diatas nakas terus berdering tanpa henti. Dengan segera ia pun bangkit dari duduknya dan segera mengangkatnya.
"Iya halo..." sapa tuan Sam saat melihat Lukas yang menghubunginya.
"Mereka telah menemukannya tuan... dan sedang membawanya ke rumah sakit..." kata Lukas.
Tuan Sam yang langsung tahu siapa uang dimaksud oleh Lukas pun langsung mengehembuskan nafasnya lega.
"Alhamdulillah ya Allah..." serunya.
"Aku akan ke rumah sakit sekarang... tolong siapkan mobil untukku Lukas..." sambungnya kemudian.
"Baik tuan..." sahut Lukas patuh.
Tuan Sam langsung mengganti pakaiannya lalu menghampiri kedua putra kembarnya yang tengah tertidur.
"Ayah akan menjemput bunda kalian nak... tunggu saja sebentar lagi kita akan kembali berkumpul bersama..." kata tuan Sam sambil mengecup kening Sahir dan Samir secara bergantian.
Setelahnya ia pun keluar dari dalam kamar dan memanggil Lusi untuk menjaga kedua putranya selama ia pergi. Sejak kejadian pengeboman apartemen tuan Sam, Lukas sengaja memanggil Lusi untuk membantu pak Dahlan dan bu Zaenab menjaga Sahir dan Samir. Dan tuan Sam sangat berterima kasih atas inisiatif Lukas sebab ia tak ingin terlalu merepotkan pak Dahlan dan bu Zaenab. Sedang kedua putranya sangat sulit jika dengan orang asing.