
Tuan Sam menatap beberapa foto tentang hunian yang ingin ia beli untuk keluarga kecilnya. Ia sudah menyuruh Lukas untuk mencari bangunan yang dari setiap kamarnya bisa kelihat London Eye. Ya bukan hanya kedua putra kembarnya saja yang ingin pemandangan London Eye di setiap kamar. Sebab pemandangan itulah yang selalu mengingatkannya pada Amira. Setelah memilih tiga hunian yang dianggapnya cocok ia pun menyuruh Lukas untuk membuat janji pada pemilik hunian untuk membuat janji tur agar ia dan juga si kembar dapat melihat dan memilih secara langsung hunian yang mereka inginkan.
Tiba-tiba bel pintu kamar hotel tuan Sam berbunyi dengan segera tuan Sam membukanya dan tampak olehnya Dave dan Sandra sudah berdiri di depan sana.
"Assalamualaikum Sam..."
"Assalamualaikum kak..."
Ucap Dave dan Sandra bersamaan.
"Waalaikum salam... kalian... kapan pulang?"
"Tadi malam..." sahut Dave.
"Kalian masuklah... Sahir dan Samir pasti senang kalian datang" ajak tuan Sam.
"Uncle... Onty..." seru Sahir dan Samir sambil menghambur kearah keduanya saat melihat mereka masuk.
"Sayang..." seru Sandra sambil berjongkok dan merentangkan tangannya menyambut kedua bocah kembar itu.
Setelah memeluk Sandra keduanya kemudian berganti memberikan tos pada Dave. Mereka pun berbincang santai di sofa. Tak lama Sandra berpamitan untuk membawa Sahir dan Samir pergi ke mini market yang berada tak jauh dari hotel. Sebenarnya ia ingin agar suaminya bisa berbincang lebih leluasa tentang Amira tanpa sepengetahuan si kembar. Sebab ia tahu dari kedua orangtuanya jika Sahir dan Samir tidak tahu jika Amira menjadi korban dalam pengeboman apartemen mereka dan belum juga ditemukan.
"Jadi bagaimana hasil pencarianmu Sam? apa kau sudah punya petunjuk mengenai keadaan Amira?" tanya Dave saat Sandra sudah membawa pergi si kembar.
"Belum Dave... Amira seperti menghilang padahal hampir semua penghuni yang diperkirakan berada disana saat pengeboman itu terjadi sudah ditemukan baik selamat maupun meninggal dunia" sahut tuan Sam frustasi.
"Lalu bagaimana dengan perempuan itu... yang membawa cincin Amira... apa kau yakin jika dia tidak sedang berbohong?" tanya Dave lagi.
"Aku tidak yakin Dave... lagi pula tidak ada bukti atau saksi selain wanita itu sendiri yang mengatakan jika ia berusaha menolong Amira yang hampir terjatuh namun gagal..."
"Apa kau fikir Amira selemah itu Sam? bukankah selama ini kita lihat sendiri betapa tangguhnya istrimu itu... jadi aku rasa tidak mungkin dia sampai tidak bisa menyelamatkan dirinya sendiri kecuali jika dia terluka parah..." terang Dave.
"Kau benar Dave... jika kufikirkan sekarang maka perkataan perempuan itu sungguh mencurigakan..." kata tuan Sam setuju dengan perkataan sahabatnya itu.
"Tapi kita tidak bisa menuduhnya tanpa bukti Dave... apa lagi dia bisa saja berdalih karena tidak adanya bukti dan saksi... dia juga bisa mencari simpati dengan luka yang dideritanya..." sambung tuan Sam.
"Kalau begitu aku juga akan menyuruh asistenku untuk membantu Lukas menyelidiki wanita itu dan setiap korban yang sudah ditemukan... sebab bisa saja kan Amira sudah ditemukan namun dia tidak bisa memberikan identitasnya yang sebenarnya karena masih terluka mungkin?" ujar Dave.
"S***t! kenapa aku tidak berfikir sejauh itu!" sungut tuan Sam yang menyadari kebodohannya.
"Sudah... jangan menyalahkan dirimu sendiri Sam... kau panik saat itu... jadi wajar kau melakukan kesalahan..." kata Dave berusaha menenangkan.
Tanpa menunggu waktu lagi Dave menghubungi asistennya dan menyuruhnya untuk membantu Lukas menyelidiki Kartika dan menemukan Amira. Sementara Amira yang sudah mulai membaik kini sudah dipindahkan ke ruang perawatan biasa dan tengah duduk di brankarnya sambil memakan buah yang disediakan oleh rumah sakit. Tiba-tiba ponsel salah satu pasien yang berada diruangan yang sama dengannya membunyikan alarm waktu sholat dhuhur. Seketika Amira merasa jika ia harus menjalankan ibadahnya. Karena pasien tersebut wanita maka dengan sedikit ragu Amira pun turun dari brankarnya dan mendekati wanita itu sambil memegangi tiang infusnya mencoba untuk meminjam mukenanya.
Dengan bahasa inggris yang terbatas dan juga kode gerakan tangan Amira berusaha berkomunikasi dan meminjam mukena pada wanita itu.
"Assalamualaikum... maaf bisa saya meminjam mukena anda?" tanyanya dalam bahasa inggris yang terbata.
"Anda seorang muslim?" tanya wanita itu.
"Iya..." sahut Amira.
"Kalau begitu ambillah... ini untukmu..." kata wanita itu tulus.
"Terima kasih..." ucap Amira sambil berkaca-kaca.
"Sama-sama..." sahut wanita itu sambil tersenyum.
Amira pun lalu mengambil tayyamum dan segera mengerjakan sholatnya. Selesai sholat Amira berdo'a agar ia bisa segera sembuh dan mengingat masa lalunya. Karena ia merasa ada seseorang yang menunggunya entah itu keluarga ataukah seseorang yang mencintainya hingga suara orang itu selalu terngiang ditelinganya. Selesai berdo'a ia tak melepaskan kerudung mukenanya karena ia merasa lebih nyaman jika rambutnya tertutup hijab. Dan wanita yang tadi memberinya mukena pun memperhatikannya.
"Apa kau sebelumnya mengenakan hijab?" tanyanya hati-hati.
"Aku tidak ingat nyonya... tapi saat sudah mengenakan mukena ini aku tidak ingin melepasnya..." terang Amira.
"Apa kau kehilangan ingatanmu?"
Amira mengangguk pelan. Raut wajahnya tampak sangat sedih.
"Aku hanya mengingat namaku saja..." sahutnya.
"Aku Salma... jadi namamu siapa?" tanya wanita itu mengajak berkenalan.
"Meyaa..." sahut Amira.
"Meyaa?" ulang wanita itu.
"Iya..."
"Nama yang unik..." sahut wanita itu.
Amira pun tersenyum. Memang benar setiap orang selalu mengatakan hal yang sama saat mendengar ia menyebutkan namanya. Tapi ia lega setidaknya ia bisa menggunakan namanya untuk mencari masa lalunya karena jarang orang yang memiliki nama seperti itu. Ya Amira bertekad untuk segera keluar dari rumah sakit dan mencari keluarganya.
Sementara Lukas dengan dibantu asisten Dave mencari nama Amira disetiap rumah sakit yang menerima korban dari pengeboman gedung apartemen tuan Sam. Namun keduanya tak juga menemukan hasil karena nama Amira tak tercantum didata pasien rumah sakit yang mereka datangi. Tuan Sam yang mengetahui itu pun semakin frustasi.
"Meyaa... sebenarnya ada dimana kau sekarang?" batin tuan Sam pilu.
"Siapa Db? apa dia keluargaku... atau mungkin dia suamiku?" batin Amira sambil mengelus perutnya.
Amira memang sudah diberitahu oleh dokter yang merawatnya jika dirinya kini tengah mengandung empat minggu. Ia juga diberi tahu jika ini bukan anak pertama yang dikandungnya. Sebab saat dokter Obgyn memeriksanya diketahui jika Amira sudah pernah melahirkan sebelumnya.
"Apa anakku yang lain juga selamat dari musibah itu?" batin Amira lagi.
Seketika air matanya menetes tak ingin membayangkan jika orang-orang yang ia sayangi di masa lalu terluka akibat musibah itu meski kini ia belum bisa mengingat mereka.
"Ya Allah... hamba mohon kembalikan ingatan hamba dan biarkan hamba berkumpul dengan keluarga hamba..." ucapnya berdo'a lirih.
Di lain tempat....
Lukas sedang berada di apartemen Lusi untuk menenangkan dirinya setelah seharian mencari keberadaan Amira di rumah sakit. Lusi yang kini sedang duduk disampingnya pun hanya bisa menggenggam tangan kekasihnya itu untuk menberikan kekuatan.
"Apa masih belum ada kabar?" tanyanya pelan.
Lukas menggeleng dan menjatuhkan kepalanya di pundak Lusi. Rasanya ia tak sanggup jika membayangkan apa yang menimpa tuan Sam terjadi pada dirinya. Lusi pun mengelus kepala Lukas lembut mencoba memberi ketenangan.
"Apa kau tidak melakukan kesalahan saat mencari nyonya Amira?" tanya Lusi lagi.
"Maksudnya?"
"Ya... mungkin saja kau salah eja saat menulis nama nyonya Amira... dengan huruf I bukan E... soalnya mungkin saja mereka menuliskan AMERA atau bahkan AMEERA..." terang Lusi.
"Kalau itu aku juga sudah melakukannya sayang... tapi tetap saja walau ada namun saat kami menemuinya ternyata bukan nyonya Amira..." terang Lukas lesu.
"Mungkinkah ia menggunakan nama panggilannya?" tanya Lusi.
"Nama panggilan?"
"Iya... mungkin saja saat itu nyonya Amira sedang terluka dan saat ditanya namanya ia hanya menyebutkan nama panggilannya sehari-hari..." kata Lusi.
"Tapi setiap hari kami semua memanggilnya dengan nama Amira... kecuali..."
"Kecuali siapa?" tanya Lusi penasaran.
"Kecuali tuan Sam yang memanggilnya dengan nama khusus... Meyaa..." kata Lukas dengan mata berbinar.
Tanpa menunggu lagi Lukas langsung mengetikkan nama MEYAA pada laptopnya dan mencarinya di rumah sakit yang sama yang tempat Kartika dirawat sebab Lukas yakin jika wanita itu berada tak jauh dari Amira saat musibah itu terjadi sehingga kemungkinan besar keduanya akan dirawat di rumah sakit yang sama. Dan benar saja tak sampai lima menit nama Meyaa terpampang jelas dilayar laptop Lukas. Dan hanya ada satu nama Meyaa disana. Segera Lukas menghubungi tuan Sam.
"Ya Lukas...."
"Tuan saya menemukannya... nyonya memakai nama Meyaa untuk identitas dirinya..." lapor Lukas.
"Kita ke rumah sakit sekarang!" perintah tuan Sam dan langsung menutup ponselnya.
Lukas pun langsung berdiri dan berpamitan pada Lusi setelah menerangkan jika ia menemukan nama Meyaa di rumah sakit.
"Aku ikut denganmu ke tempat tuan Sam... agar aku bisa menjaga anak-anak selama kalian pergi" kata Lusi yang langsung diangguki oleh Lukas.
Keduanya pun langsung ke hotel tempat tuan Sam menginap. Disana tampak pria itu sudah menunggunya di dalam kamar. Ia juga merasa lega karena Lusi juga ikut dengan Lukas dan berniat menjaga Sahir dan Samir selama ia pergi bersama Lukas. Setelah menerangkan pada Lusi jika kedua putranya tengah tertidur di dalam kamar ia pun pergi ke rumah sakit bersama Lukas.
Tak butuh waktu lama keduanya sudah berada di rumah sakit dan segera mencari kamar dimana Amira dirawat. Saat petugas resepsionis tahu jika keduanya adalah keluarga Amira ia langsung menghubungi dokter yang merawat Amira terlebih dahulu agar dapat menemui mereka sebelum bertemu dengan Amira.
"Jadi apa yang sebenarnya terjadi pada istri saya dokter?" tanya tuan Sam saat sudah berada di ruangan dokter yang merawat Amira.
Dokter pun menjelaskan jika Amira mengalami amnesia dan juga sedang mengandung. Mendengar Amira sedang mengandung tuan Sam merasa sangat bahagia namun ia juga sedih karena Amira juga kehilangan ingatannya meski kata dokter itu tidak permanen.
"Jadi saya harap tuan dapat mengerti kondisi pasien yang kemungkinan tidak mengingat anda atau pun keluarga yang lainnya... dia juga tidak boleh stres karena kehamilannya yang baru empat minggu..." nasehat dokter pada tuan Sam.
"Bolehkah saya menemui istri saya sekarang?" tanya tuan Sam.
"Iya silahkan... biar perawat yang akan mengantarkan..."
"Terima kasih dokter..."
"Sama-sama tuan..."
Keduanya pun lalu diantarkan oleh perawat ke ruang perawatan Amira. Saat itulah tuan Sam melihat Amira yang sedang membaca ayat suci Al Qur'an diatas brankarnya melalui pintu kaca ruang perawatan. Tak terasa air mata tuan Sam pun meleleh menyaksikan istrinya dalam keadaan selamat meski harus kehilangan ingatannya.
Perlahan tuan Sam membuka pintu ruang perawatan Amira dan berjalan mendekatinya. Amira yang tengah khusuk membaca Al Qur'an tak menyadari jika tuan Sam sudah berdiri di hadapannya.
"Meyaa..." panggil tuan Sam dengan suara serak karena menahan haru.
Amira langsung menghentikan bacaannya dan menatap kearah suara. Ia menatap tuan Sam dengan pandangan tak mengerti.
"Meyaa... ini aku...." kata tuan Sam lagi.
"Db?" tanya Amira mencoba mengenali tuan Sam.
Tuan Sam langsung menganggukkan kepalanya. Ingin rasanya ia langsung memeluk tubuh Amira saat itu juga namun ia harus menahannya karena tahu jika Amira belum mengenalinya. Tuan Sam berjalan ke sisi samping Amira dan duduk di kursi yang ada disana lalu menggenggam tangan Amira. Amira sedikit tersentak saat tangannya digenggam oleh tuan Sam namun entah mengapa ia langsung merasa nyaman dengan sentuhan tuan Sam dan tubuhnya tidak menolak sama sekali.