
Ayana melangkahkan kakinya ke dalam rumah dengan gontai. Meski tadi ia bersikap tegar di depan omanya namun saat wanita itu tak melihatnya ia akan menunjukkan sikap sesungguhnya. Dan biasanya hanya mamanya lah yang mengetahuinya. Hari ini pun begitu, karena saat Ayana hendak masuk ke dalam kamarnya ia bertemu dengan sang mama saat wanita itu keluar dari dalam kamar. Ya... kamar Ayana dan kedua orang tuanya berada dilantai yang sama dan berdekatan.
"Kau kenapa sayang?" tanya sang mama lembut saat melihat wajah kusut putrinya.
"Apa kau mengalami hari yang buruk disekolah barumu hem?" sambungnya sambil menuntun Ayana masuk ke dalam kamar gadis itu.
"Ga kok ma... malahan hari ini aku sangat senang karena bisa mendapatkan teman baru... dan sepertinya dia anak yang baik..." sahut Ayana sambil tersenyum mengingat Dira teman barunya itu.
"Kalau begitu kenapa putri mama yang cantik ini jadi terlihat sedih? apa ada yang mengganggumu sayang?"
"Biasa ma... siapa lagi kalau bukan oma..." terang Ayana sambil meletakkan tas sekolahnya di atas tempat tidurnya.
"Hem... apa lagi yang dilakukan oleh oma kamu itu sayang?"
"Dia marah ma... karena tadi aku berangkat dan pulang sekolah naik angkot... padahal mama tahu kan... kalau tadi mobil sudah dipakai untuk mengantar Deni duluan..." terang Ayana sambil mengerucutkan bibirnya kesal.
Selama bersekolah di sekolah lamanya memang Ayana selalu menggunakan jasa antar jemput dari sekolah dan tidak menggunakan mobil keluarganya untuk keperluan berangkat dan pulang sekolah. Lain dengan sang adik yang selalu diantar menggunakan mobil pribadi sejak dulu. Alasan papa dan omanya agar ia mandiri dan tidak menjadi gadis manja. Dan mereka memang berhasil karena Ayana memang jadi gadis mandiri. Dan dia hanya bisa bernanja hanya dengan sang mama.
"Sudahlah sayang... jangan fikirkan apa yang oma kamu katakan... anggap saja angin lalu... oke?" ucap sang mama mencoba untuk menghibur Ayana.
Ayana pun mengangguk setuju. Benar... selama ini ia memang sudah tahu jika sikap papanya dan juga omanya yang selalu mengutamakan adiknya jadi untuk apa ia mempermasalahkannya lagi? Ayana pun lalu bersiap untuk membersihkan dirinya dan berganti pakaian. Sedang sang mama sudah pergi untuk menyiapkan makan siang untuk Ayana. Seperhatian itu sang mama padanya. Sebenarnya bukan hanya pada Ayana tapi juga pada semua orang di keluarganya. Namun tidak ada yang mau menghargainya, kecuali Ayana.
Keesokan harinya...
Sejak pagi Dira tampak sibuk di dapur. Amira yang melihatnya pun merasa agak heran. Meski terkadang membuat bekal sendiri namun Dira tidak pernah harus berkutat di dapur sepagi itu. Apa lagi terlihat jika putri bungsunya itu tidak hanya membuat bekal tapi juga camilan berupa cookies coklat kesukaannya.
"Wah... ada acara apa sayang? kok sudah sibuk sekali?" tanya Amira sambil mendekat ke arah putrinya itu.
"Ehm... aku mau buat bekal untuk teman baruku ma..." sahut Dira sambil tersenyum.
"Teman baru?"
"Iya... kemarin ada murid baru di kelas... dan dia sempat mencicipi bekal yang aku bawa kemarin dan dia suka... jadi hari ini aku khusus membuatkannya buat dia..." terang Dira.
"Pasti cowok tuh!" celetuk Sahir menggoda sang adik.
"Ish... bukan kok bunda... dia cewek... namanya Anaya..." sergah Dira.
Amira hanya tersenyum melihat perdebatan kedua anaknya itu.
"Ssst... sudah-sudah... kalian jangan berdebat lagi... lebih baik segera sarapan agar tidak terlambat..." ujar Amira agar keduanya tidak terus berdebat.
Keduanya pun langsung menurut. Saat sarapan Dira tampak tak bosan bercerita tentang teman barunya itu. Tampaknya Dira merasa cocok berteman dengan gadis bernama Anaya itu. Amira dan tuan Sam pun tidak keberatan jika putri mereka memiliki teman dekat, yang terpenting memiliki sifat yang baik dan tidak memberi pengaruh buruk pada Dira. Sementara itu orang yang dibicarakan oleh Dira kini tengah dalam dilema. Bagaimana tidak... saat akan berangkat ke sekolah tidak biasanya omanya langsung memaksa Ayana untuk berangkat bersama sang adik. Padahal biasanya omanyalah yang melarangnya untuk berangkat bersama sang adik meski dulu keduanya satu sekolah. Entah apa yang diinginkan oleh omanya kali ini...
Sedangkan sang mama tampak bahagia karena putri sulungnya diperbolehkan satu mobil dengan putra bungsunya itu. Ia berharap dengan demikian keduanya bisa akrab selayaknya kakak adik. Tidak seperti selama ini dimana keduanya seperti saudara tiri dan tidak bisa akrab. Kelakuan omanya itu juga membuat anggota keluarga yang lain heran. Terutama papa Ayana. Pria itu tampak mengerutkan keningnya. Pasalnya sang mama begitu tidak menyukai Ayana hanya karena wajah dan sifat gadis itu yang mirip dengan sang mama Siska...
Selama perjalanan ke sekolah kedua kakak beradik itu tampak saling diam. Ketidak dekatan antara keduanya membuat kakak beradik itu justru merasa canggung saat berada berduaan saja dalam satu mobil. Sang sopir pun sampai geleng kepala dengan keanehan keluarga majikannya itu. Bagaimana bisa cucu kandung sendiri diperlakukan berbeda hanya karena wajahnya yang bak pinang dibelah dua dengan sang mama. Lain dengan sang adik yang garis wajahnya condong pada sang papa. Hingga bocah sepuluh tahun itu lebih disayang oleh sang papa dan anggota keluarga lainnya.
Sesampainya di sekolah Ayana langsung turun dari dalam mobil tanpa berkata apa pun pada sang adik dan segera masuk ke dalam kelasnya. Di sana ia sudah melihat Dira yang sudah duduk manis di kursinya.
"Pagi Ay!" sapa Dira dengan senyum manisnya.
Sungguh sikap Dira yang ramah padanya membuat mood Ayana menjadi sangat baik setelah tadi di rumah cukup buruk.
"Oh iya... ini untuk kamu..." ucap Dira sambil mengangsurkan kotak bekal pada Ayana.
"Aku bikin sendiri loh..." sambung Dira sambil tersenyum.
"Benarkah? ah terima kasih Dira..." ucap Ayana tulus.
Sungguh baru kali ini Ayana menerima kebaikan tulus dari temannya di sekolah. Sebab dulu di sekolah lamanya ia tak pernah mendapatkannya. Hanya beberapa teman yang hanya memanfaatkan kedekatan antara mereka saja. Itulah sebabnya Ayana selalu menjaga jarak dan tidak bisa bersikap ramah saat di sekolahnya dulu.
Di tempat lain...
Tampak Siska tengah bersiap untuk pergi ke club milik sahabatnya. Bukan tanpa alasan ia selalu ke sana, karena hanya pada sahabatnya itu ia bisa mengeluarkan keluh kesahnya. Meski semuanya hanya ditanggapi datar dan tanpa reaksi dari sahabatnya itu. Bagaimana tidak... sudah berkali-kali sahabatnya itu dulu melarangnya untuk menikah dengan pria yang kini menjadi suaminya itu... namun Siska tetap saja keras kepala. Dan saat ditanya mengapa... wanita itu hanya menjawab jika ia sangat mencintai pria itu. Keysha yang pernah berada pada posisi Siska saat itu sudah mencoba menyadarkan sahabatnya itu karena ia pernah ada pada posisi Siska. Dan itu sangat menyakitkan saat kita mencintai seseorang namun tidak terbalaskan.
Keysha bahkan melakukan tindakan kriminal yang akhirnya bahkan menyeret sahabatnya itu hingga membuat keduanya masuk ke dalam jeruji besi. Saat di dalam jeruji besi itulah Keysha perlahan menghapus obsesinya pada Sam... cinta pertamanya. Dan kini... sang sahabat yang dulu menasehatinya justru malah terperosok dalam lubang yang sama seperti dirinya yang dulu. Dan sekarang, meski akhirnya Siska bisa menikah dengan pria itu namun kehidupannya menyedihkan karena sang suami tak juga bisa mencintainya meski mereka sudah dikaruniai dua orang anak. Bahkan putri sulungnya terkena imbas kebencian mertua dan suaminya hanya karena begitu mirip dengan Siska.
"Ada apa lagi Sis? apa suamimu itu kembali menyakitimu hem?" tanya Keysha saat Siska masuk ke dalam ruangannya.
"Kali ini tidak Key... hari ini aku bahagia... karena untuk pertama kalinya putriku berangkat sekolah bersama dengan adiknya dalam satu mobil... dan itu atas perintah mama mertua..." terang Siska menampilkan senyumannya.
"Benarkah? ah... aku tidak percaya wanita tua itu bisa berubah tiba-tiba..." cetus Keysha.
"Mungkin mama sudah berubah Key... dan dia sudah mulai menerima putriku..."
"Atau malah dia sedang memiliki rencana untuk kembali menyakitimu Sis... secara wanita calon menantu idamannya itu masih saja melajang..."
Siska menghembuskan nafasnya kasar. Mendengar perkataan Keysha membuat hatinya kembali tercubit. Rasa sakit yang selama ini ia tahan tak bisa ia sembunyikan dari wanita yang ada dihadapannya ini. Tapi kali ini Siska tidak lagi menumpahkan air matanya didepan Keysha. Ia masih ingin menikmati kebahagiaannya saat melihat sang putri diberi fasilitas yang sama dengan sang adik.
"Sebenarnya apa yang kau sembunyikan dariku Sis? rasanya tak mungkin jika hanya karena kau mencintai laki-laki brengsek itu adalah alasanmu mau menikah dan bertahan selama ini..." sungut Keysha yang tak tahan dengan kelakuan Siska selama ini.
Ia dan sahabatnya ini sejak dulu memiliki sifat yang tak mau jika ditindas... tapi entah mengapa Siska langsung berubah setelah wanita itu keluar dari penjara. Keysha yang mendekam di penjara lebih lama karena kasusnya yang lebih berat membuatnya tidak tahu apa saja yang terjadi pada sahabatnya itu di luar penjara saat Siska keluar dari penjara terlebih dahulu. Dan saat ia keluar dari penjara ia justru mendapatkan kartu undangan pernikahan dari sahabatnya itu. Semula Keysha mengira jika pernikahan itu terjadi lantaran keduanya saling mencinta, namun semua dugaannya itu salah. Karena saat ia menghadiri pernikahan Siska tak sengaja ia mendengar percakapan keluarga suaminya yang mengungkit jika Siska bukan wanita yang diinginkan keluarga itu sebagai menantu. Dan lebih parah lagi suaminya pun ternyata tidak mencintainya.
Pria itu terpaksa menikahi Siska karena ancaman dari omanya. Padahal ia dan keluarganya sudah memiliki seorang gadis yang ingin dijadikan istri dan menantu yang sempurna. Mereka bahkan tidak habis fikir mengapa sang oma malah memilih Siska yang mantan narapidana untuk menjadi pendampingnya dibandingkan sang kekasih yang jelas-jelas memiliki sifat dan dari keturunan yang baik dan jelas.
Keysha memandang Siska dengan tatapan yang tajam. Ia tak mau Siska terus menyembunyikan alasan sebenarnya wanita itu terus saja bertahan pada rumah tangga yang tidak sehat itu. Bagaimana tidak... mantan kekasih suaminya itu bahkan setiap hari selalu saja datang ke rumahnya dengan alasan mememui nyonya Linda ibu dari suami Siska. Padahal semua orang tahu jika semua itu hanya kamuflasenya saja agar bisa selalu bertemu dengan Rendra suami Siska dan sekaligus menyakiti hati Siska.
"Suatu saat nanti aku akan jujur padamu Key... tapi tidak sekarang..." ujar Siska yang membuat Keysha langsung mendengus sebal.
"Sudah... aku kemari untuk memberimu kabar bahagia... jadi bagaimana jika sekarang kita merayakannya dengan pergi keluar bersama? sudah lama kita tidak melakukannya bukan?" sambung Siska.
"Kau tahu alasanku tidak mau keluar dari tempat ini kan Sis... aku tidak ingin bertemu lagi dengan mereka... aku terlalu malu dengan semua dosa-dosaku..." ucap Keysha lirih.
"Tapi kamu sudah membayar semua dosamu itu Key... sampai kapan kau akan bersembunyi dan menutup diri dari dunia luar?"
"Sampai aku sanggup untuk mengucapkan kata maaf pada mereka Sis... dan itu bukan sekarang saatnya" sahut Keysha.
Siska akhirnya pasrah... percuma saja membujuk sahabatnya itu karena Keysha memang sangat keras kepala. Akhirnya keduanya menghabiskan waktu berdua dengan berbincang hal ringan sambil minum soda yang memang selalu mereka konsumsi saat mereka bersama.