BODYGUARD DADAKAN

BODYGUARD DADAKAN
Setelah 5 Tahun


Tak terasa waktu berlalu begitu cepat... lima tahun telah berlalu dan kini putra putri Amira sudah mulai besar. Sahir dan Samir kini sudah berusia sepuluh tahun sedangkan Sadira sudah lima tahun. Amira sangat bahagia ketiga anak tumbuh menjadi anak-anak yang sehat dan juga cerdas. Sahir dan Samir bahkan selalu mendapat ranking satu di kelas mereka masing-masing. Memang meski keduanya bersekolah di sekolah yang sama namun keduanya beda kelas. Amira memang sengaja meminta pada pihak sekolah agar kedua putranya tidak disatukan dalam satu kelas.


Ia ingin kedua putranya bisa mandiri dan tidak saling bergantung satu sama lain. Dan juga agar pergaulan keduanya lebih luas dan bisa menunjukkan pribadi mereka masing-masing. Meski begitu ikatan persaudaraan keduanya tidak dapat diragukan. Demikian juga dengan si bungsu Dira. Kedua kakaknya akan selalu melindungi adik perempuan mereka satu-satunya itu. Jika dibayangkan Dira akan menjadi gadis manja dan penakut maka itu salah besar. Karena gadis kecil itu menuruni sifat bundanya yang pemberani dan sedikit bar-bar.


Sahir dan Samir yang kini sudah di kelas empat sudah mulai mengikuti latihan karate. Dan pelatih mereka siapa lagi kalau bukan pak Dahlan ayah Sandra. Memang pak Dahlan dan bu Zaenab tidak menetap di London. Mereka segera pulang setelah Sandra melahirkan putri pertamanya. Mereka hanya sesekali ke sana menjenguk putrinya dan cucu mereka. Begitu juga dengan Sandra, ia juga akan berkunjung ke Indo jika Dave bisa menemaninya. Kini Sandra juga tengah menanti kelahiran anaknya yang kedua. Sama seperti kehamilan putri pertamanya Dave dan Sandra juga tidak ingin mengetahui jenis kelamin bayinya terlebih dahulu. Bagi mereka berdua mengira-ngira jenis kelamin anak mereka adalah hal yang menyenangkan.


Sementara keluarga nyonya Sarah dan tuan Bram pun tampak harmonis. Setelah dulu pernah tertimpa prahara namun kini keduanya membuktikan jika mereka masih sanggup untuk bertahan. Cinta tuan Bram yang dulu pernah terbagi pun kini utuh ia berikan pada istri dan ketiga anaknya. Kesalahan masa lalunya ia jadikan pelajaran dalam kehidupannya selanjutnya. Dalam kamusnya kini hanya keluarganyalah prioritas utamanya dan bukan yang lain. Nyonya Sarah pun sudah memaafkan tuan Bram dan mencoba melupakan luka masa lalunya.


Adit yang kini sudah duduk di kelas IX pun kini sudah semakin dewasa. Meski usianya masih sangat muda namun ia sudah bersikap selayaknya pria dalam melindungi adik dan juga kakaknya. Meski pribadinya yang ceria dan kadang konyol namun pada saat tertentu ia bisa berubah bersikap dewasa jika menghadapi masalah. Pelajaran saat bersama Amira masih melekat diingatannya. Walau pun saat itu ia masih balita.


Sementara Ara si bungsu sangat dekat dengan kakak-kakaknya terutama Anna. Sebab Anna memperlakukannya dengan lembut seperti seorang ibu. Sedang dengan Adit meski terkadang keduanya masih suka bertengkar namun tetap saja ia merupakan pria kedua yang dicintainya setelah papanya tuan Bram. Hubungan anak-anak Amira dan nyonya Sarah pun akrab. Mereka sering menghabiskan waktu bersama karena Amira sering mengunjungi iparnya itu dengan membawa anak-anaknya.


Kehidupan Amira yang dulu sepi karena sebatang kara tanpa memiliki keluarga kini sudah berubah. Ia kini sudah memiliki keluarga. Dan ia merasa kini hidupnya sempurna karena tuan Sam tak pernah berubah dalam mencintainya. Meski sudah dikaruniai tiga orang anak sikap romantis pria itu pada Amira tetap tak berubah. Bahkan Amira dapat merasakan jika tuan Sam semakin mencintainya. Dan Amira pun selalu berusaha memberikan yang terbaik bagi suami dan juga anak-anak mereka.


Dan di belahan bumi yang lain Raja pun tengah mengejar kebahagiaannya. Meski hingga kini pria itu masih tetap sendiri namun ia juga merasakan kebahagiaan seperti Amira. Ya walau pun ia tak menikah dan memiliki keluarga sendiri namun ia bahagia karena anak-anak Amira sudah seperti anak-anaknya sendiri. Mereka sering menghabiskan waktu bersama saat mereka berlibur ke kediaman Raja di New York. Perusahaan yang dibangun oleh Raja berkembang dengan pesat sehingga pria itu memiliki kesibukan yang sangat padat. Namun jika anak-anak Amira berkunjung maka ia akan selalu menyempatkan waktunya untuk menemani mereka berlibur disana.


Lukas dan Lusi juga memiliki keluarga yang bahagia. Keduanya sudah dikaruniai dua orang putra yang lahir dalam waktu yang berdekatan hanya selisih satu tahun saja. Lukas masih setia menjadi asisten tuan Sam. Anna yang kini sudah tumbuh menjadi gadis remaja yang sangat cantik membuat dirinya selalu menjadi idola di sekolahnya. Meski banyak pemuda yang naksir padanya tapi Anna tetaplah Anna, gadis lugu yang tak tergoda dengan pergaulan anak zaman sekarang yang sudah memiliki kekasih. Gadis itu lebih memilih fokus pada studinya dan juga latihan karatenya.


Ya meski Anna tampak anggun dan lemah lembut namun ia juga memiliki sisi tangguh yang ia tiru dari Amira. Sudah banyak prestasi yang ia raih melalui seni bela diri itu. Karena Anna memang sering mengikuti kompetisi bersama Adit. Oleh karena itu pula meski banyak cowok yang menyukainya namun kebanyakan dari mereka segan mengutarakan isi hatinya karena ketangguhan Anna. Jadilah gadis tujuh belas tahun itu tetap menjomblo. Meski ia sama sekali tak merasa masalah.


Baginya kehidupan masa remajanya ingin ia habiskan untuk belajar dan mengejar cita-citanya. Kasih sayang keluarganya sudah lebih dari cukup baginya tanpa harus ditambah dengan percintaan ala remaja. Anna yang sebentar lagi naik ke kelas tiga juga sudah mulai memilih tempat kuliah yang ia inginkan sehingga nanti ia bisa belajar lebih keras agar bisa diterima di universitas yang diinginkannya.


Hari ini seperti biasa Amira sibuk menyiapkan sarapan bagi ketiga anaknya. Dira yang sudah bersekolah di TK terlihat sangat bersemangat. Pasalnya ia sudah memiliki sahabat baru disana. Ia dan sahabatnya sudah janjian akan membawa bekal yang berbeda agar bisa saling berbagi. Kali ini Dira ingin membawa bekal nasi goreng kebanggaan bundanya. Ia juga membantu Amira dalam menghias pada kotak makannya. Tuan Sam yang sudah bersiap ke kantor pun tampak penasaran dengan kesibukan keduanya.


"Hemm... lagi sibuk apa sih?" tanyanya sambil mencomot sosis goreng berbentuk gurita.


"Ish ayah... jangan diambil itu punya Dira..." seru Dira yang tak rela sosis kesukaannya diambil oleh ayahnya.


"Ayah kan cuma mau cicip saja sayang... mana tahu buatan Dira masih kurang..." ucap tuan Sam menggoda putrinya.


"Ayah ga percaya kalo Dira udah bisa masak?" tanya Dira sambil menatap ayahnya tajam dan berkacak pinggang.


"Iya... ayah percaya... kan baru saja ayah cicip rasa sosisnya sangat enak" sahut tuan Sam yang langsung membuat Dira tersenyum senang.


Memang meski ia masih berusia lima tahun Dira sudah mulai mahir memasak. Meski masih dalam pengawasan Amira saat gadis kecil itu menggunakan benda tajam atau pun kompor dan juga oven tapi Ara sudah sering mempraktekkan keahlian memasaknya. Melihat Ara yang sudah tertarik dengan dunia memasak mengingatkan Amira pada almarhumah ibunya. Ibu Amira memang sangat pandai memasak. Sayangnya Amira belum sempat belajar banyak pada ibunya itu karena saat kedua orangtuanya masih hidup ia hanya di suruh untuk fokus dalam pelajaran sedang pada urusan rumah tangga Amira hanya ikut bersih-bersih sedang urusan memasak ibunya yang mengurus.


Sahir dan Samir yang sudah rapi sedang menunggu di meja makan. Hari ini keduanya akan berangkat bersama tuan Sam. Sedangkan Dira akan berangkat agak siang karena masih TK.


"Hari ini kalian mau dijemput bunda?" tanya Amira pada kedua putranya saat mereka baru selesai sarapan.


Pasalnya kedua putranya itu sekarang lebih sering diantar jemput oleh sopir keluarga.


"Memang bunda mau ke rumah tante Sarah?" tanya Sahir.


Memang sudah menjadi kebiasaan jika Amira akan mengajak semua anaknya jika akan pergi ke rumah nyonya Sarah.


"Iya... hari ini tante Sarah mau memberi kejutan pada Ara... hari ini kan dia ulang tahun..." sahut Amira.


"Baik bunda... tapi nanti mampir dulu buat beli hadiah untuk Ara ya..." kata Samir.


"Iya... bunda juga belum membeli hadiah untuknya... jadi nanti kita beli sama-sama..." ujar Amira.


"Db... apa kau bisa mampir ke rumah kak Sarah nanti sore? soalnya kak Sarah mau membuat pesta kecil untuk ulang tahun Ara"


"Akan aku usahakan Meyaa..." sahut tuan Sam.


Setelah suami dan kedua putranya pergi Amira pun mulai menyiapkan Dira untuk berangkat sekolah. Setelah itu ia juga menyiapkan pakaian ganti untuk anak-anaknya untuk di rumah nyonya Sarah.


Siang harinya setelah menjemput anak-anaknya di sekolah mereka masing-masing Amira pun mengajak anak-anaknya ke mall untuk mencari kado yang cocok untuk Ara. Setelah berkeliling akhirnya mereka pun selesai juga. Amira dan ketiga buah hatinya membeli beberapa kado untuk Ara yang kini akan berusia sebelas tahun. Jarak antara Ara dan si kembar memang tidak terlalu jauh. Hanya beda tiga bulan saja.


Hari sudah siang saat Amira dan ketiga anaknya sampai di rumah nyonya Sarah. Ternyata Ara sedang ada pelajaran tambahan hingga baru akan pulang sore nanti. Itulah sebabnya nyonya Sarah menyuruh Amira untuk datang siang hari. Ia juga membutuhkan bantuan iparnya itu untuk membuat pesta kejutan untuk Ara. Sahir dan Samir pun ikut membantu memasang dekor dengan para Art sebab Anna dan Adit belum pulang dari sekolah mereka. Dira ikut dengan Amira dan nyonya Sarah menyiapkan makanan.


Setelah semua selesai mereka pun beristirahat sambil menunggu kepulangan Ara. Sore menjelang semua yang ada di rumah nyonya Sarah langsung bersiap. Amira dan anak-anaknya membersihkan diri dan berganti pakaian demikian juga dengan nyonya Sarah. Anna dan Adit juga sudah pulang dan ikut bersiap. Rencananya hari ini tuan Bram yang akan menjemput Ara di sekolah.


Ara tampak lesu karena tadi banyak tugas yang diberikan oleh guru kelas tambahannya. Tuan Bram yang menjemputnya pun tak bisa berbuat banyak untuk membuat putri bungsunya itu kembali ceria.


"Semoga saja pesta kejutan yang disiapkan mamamu dan juga yang lainnya akan merubah mood kamu sayang..." batin tuan Bram sambil melirik kearah putrinya yang sedari tadi memandang ke luar jendela.


Saat sampai di depan rumah tuan Bram sengaja membiarkan Ara masuk terlebih dahulu. Ketika Ara masuk ke dalam sambil mengucapkan salam ia terkejut karena suasana rumah yang terlihat lengang. Tak seorang pun yang menjawab salamnya bahkan tak terlihat seorang pun disana. Ara langsung memanggil papanya panik. Namun saat akan melangkah keluar terdengar suara nyanyian yang membuatnya seketika berbalik dan melihat seluruh keluarganya menyanyikan lagu ulangtahun dan tampak mamanya memegang sebuah kue ulangtahun bertuliskan namanya.