
Jihan tampak frustasi karena pernikahannya yang batal dan juga kejahatannya yang terungkap. Semua jerih payahnya selama belasan tahun lenyap dalam waktu yang singkat. Dan ini terjadi karena perbuatan kedua anak Rendra. Ia yakin jika masih ada orang lain yang membantu kedua anak itu dalam mengungkapkan kejahatannya yang sudah belasan tahun tersimpan dengan rapi. Tapi siapa yang sudah membantu kedua anak itu? Apakah Keysha? ya, mungkin saja wanita pemilik club itu. Secara ia adalah sahabat Siska, yang tentu saja pasti akan menaruh curiga atas kematian Siska yang mendadak. Tapi seberapa besar kekuasaan yang dimiliki oleh wanita itu hingga bisa dengan cepat mengungkapkan kebobrokannya? atau ada pihak lain yang mendukung mereka?
Semua pikiran itu terus berputar di dalam kepala Jihan. Wanita itu sangat tidak puas sebelum mengetahui siapa orang yang telah membantu Ayana dan Deni. Saat fikirannya yang sedang kalut, rekan sesama tahanannya sedari tadi memperhatikan wanita cantik yang masih mengenakan pakaian pengantinnya itu. Mereka tampak penasaran mengapa wanita yang sepertinya calon pengantin atau mungkin baru saja melangsungkan pernikahannya bisa berada di dalam tahanan.
"Heh pengantin baru! kamu kenapa bisa ada disini?" tanya salah satu tahanan yang duduk di dekat Jihan.
Tapi Jihan yang merasa jika dirinya tak selevel dengan para tahanan yang lain tak mau menjawabnya. Hal ini tentu saja membuat kesal tahanan yang lain.
"Heh! kamu budeg ya?" sentak tahanan yang lain merasa jika Jihan tak menghargai mereka.
"Cih! untuk apa aku menjawab pertanyaan dari kalian? kalian itu tidak selevel denganku hingga berhak mengetahui permasalahan pribadiku!" sahut Jihan tidak takut.
"Ha... ha... ha... tidak selevel katanya... heh! kalau kamu tidak selevel dengan kami lalu bagaimana bisa kamu masuk kemari hah?" sergah tahanan tadi.
Jihan tetap diam dan tak mau meladeni mereka. Hal ini membuat tahanan yang lain semakin marah, dan tiba-tiba saja salah satu diantara mereka langsung menarik rambut Jihan hingga tatanan rambutnya rusak dan rambutnya pun tergerai semrawut.
"Arrgghh! apa-apaan kalian hah?" jerit Jihan yang merasakan sakit dan perih pada kepalanya.
"Itu balasannya buat orang yang tidak tahu tata krama seperti kamu!" sahut tahanan itu masih tetap menjambak rambut Jihan hingga wajahnya terangkat dan memerah menahan sakit.
"A... ampuun..." serunya sambil kedua tangannya memegangi rambutnya agak tidak tercabut dari kepalanya.
Sreek!
Bruggh!
Orang itu pun langsung melemparkan Jihan ke lantai hingga tubuh wanita itu terjatuh dengan keras. Rambutnya yang acak-acakan menutupi wajahnya yang merah dan berlinang air mata.
"Lain kali kamu jangan sekali-kali berani lagi pada kami! camkan itu!" tunjuk tahanan yang tadi menjambaknya sambil menendang tubuh Jihan yang masih terkulai di lantai.
Jihan hanya bisa terdiam dan beringsut ke pojokan sambil memeluk kedua lututnya. Air matanya pun semakin mengalir deras. Meski ia sering berbuat kejam, namun seumur hidupnya ia belum pernah mengalami kekerasan pada dirinya sendiri seperti ini. Hal ini membuat Jihan merasa geram dan tidak terima. Namun apa dayanya? di sini ia tidak bisa menggunakan uang dan juga kekuasaannya. Karena menahan geram Jihan meremas jemari tangannya sangat kencang hingga membuat kukunya yang panjang menancap pada telapak tangannya. Bahkan telapak tangannya kini sudah terluka akibat perbuatannya sendiri.
"Awas saja kalian... jika aku sudah keluar dari sini aku akan membuat perhitungan pada kalian satu persatu..." batinnya sambil menatap tajam ke arah orang-orang yang tadi menyakitinya.
Untung saja wajah Jihan tertutup oleh rambutnya yang kini sudah berantakan, sehingga tatapannya tidak diketahui oleh tahanan yang lain. Jika tidak, maka bisa dipastikan kalau Jihan akan kembali menjadi bulan-bulanan tahanan lainnya. Sementara itu di rumah keluarga Suryono tampak bu Hasna tengah melamun. Baru saja ia menghubungi pengacara keluarganya membahas kasus Rendra dan juga Jihan. Meski ia bisa menuntut Jihan dan ayahnya dengan hukuman maksimal karena semua bukti yang diberikan oleh Ayana dan Deni sudah sangat kuat, namun tak bisa dipungkiri jika Rendra pun akan masuk jeruji besi karena telah menganiaya Siska. Karena diantara bukti yang diajukan oleh Ayana dan Deni juga memperlihatkan kejahatan putranya itu.
Apa lagi keduanya juga sudah menyewa pengacara untuk menuntut Rendra tentang KDRT. Entah siapa yang telah membantu kedua bocah itu untuk bisa menyewa seorang pengacara. Bu Hasna kembali menghela nafasnya pelan. Tadi Ayana dan Deni sudah kembali ke rumah. Tapi mereka langsung masuk ke dalam kamar dan sampai saat ini belum juga mau keluar. Rasanya rumah yang selama ini ia anggap sebagai surganya kini telah berubah. Meski dulu ia tak menyukai Siska namun wanita itu tak pernah membuat masalah, sehingga kehidupannya pun tidak kacau. Walau pun ia sering membuat wanita itu sakit hati dengan sering mengundang Jihan ke rumahnya dengan berbagai alasan.
Kini setelah Siska tiada satu-persatu masalah mulai bermunculan. Dan ternyata semua berasal dari Jihan, wanita yang selama ini ia banggakan sebagai wanita sempurna yang cocok untuk mendampingi putranya. Tapi semua kini telah terbongkar. Wanita itu ternyata hanya menginginkan harta dan juga putranya Rendra. Bahkan sikapnya sudah seperti psikopat yang menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya. Mungkin ia harus bersyukur karena kini semua sudah terbongkar. Karena jika tidak maka bukan tidak mungkin jika ia juga akan menjadi korban jika membuat wanita itu marah.
Sementara di dalam kamarnya, Ayana juga tengah termenung. Jujur saja... sejak pengungkapan kejahatan Jihan dan ayahnya serta KDRT yang dilakukan papanya, Ayana merasa tidak betah tinggal di rumah omanya. Ada banyak sekali luka jika mengingat tentang mamanya. Kesedihan dan penderitaan yang ia lihat setiap kali tanpa sengaja melihat mamanya tengah menangis di dalam kamarnya. Luka yang ditorehkan oleh keluarga ayahnya sangatlah dalam. Itu ia ketahui saat membaca buku harian sang mama yang ia temukan di dalam kamar mamanya itu. Mungkin karena tak bisa berkeluh kesah pada orang lain termasuk sahabatnya Keysha, sang mama sampai memiliki satu kardus penuh berisi buku catatan hariannya selama lebih dari lima belas tahun menjadi menantu keluarga Suryono.
Ayana ingin meninggalkan rumah yang penuh dengan kenangan pahit sang mama. Tapi ia tak tahu harus pergi kemana. Ia juga mengkhawatirkan sang adik, Deni. Bocah itu baru sepuluh tahun dan masih harus mengenyam pendidikannya. Sedang dia sendiri juga belum lulus SMP. Jika lulus pun, dengan berbekal ijasah SMP ia akan mendapat pekerjaan apa? Saat itulah tiba-tiba ponsel gadis itu berdering. Tertera nama tante Keysha di layar ponselnya itu.
"Halo... iya tante?"
"Bisa kita bertemu sayang?"
"Bagaimana jika sore ini? kita bertemu di kafe... nanti akan tante kirimkan alamatnya... jangan lupa ajak juga Deni..."
"Iya tante..."
Sambungan ponsel pun terputus. Ayana tampak mengernyitkan keningnya.
"Ada apa tante Keysha tiba-tiba ingin bertemu denganmu dan juga Deni ya?" batin Ayana penasaran.
Namun Ayana harus menahan rasa penasarannya dan menunggu hingga sore dan bertemu dengan Keysha di kafe yang sudah ditunjuknya.
Sore harinya...
Ayana dan Deni sudah sampai di kafe tempat Keysha mengajak keduanya bertemu. Saat keduanya masuk ke dalam kafe terlihat Keysha sudah menunggu mereka. Keduanya pun langsung menghampiri Keysha. Setelah berbasa-basi sejenak, Keysha pun mengutarakan tujuannya mengajak kedua bocah itu untuk bertemu.
"Begini Ay... Den... sebelum mama kalian meninggal ia menitipkan buku tabungan dan nomor rekeningnya pada tante... buku dan nomoe rekening itu berisi unag pribadi hasil jerih payah mama kalian tanpa sepeserpun berasal dari pemberian papa kalian dan keluarganya..." terang Keysha.
"Mama kalian pernah bilang jika itu adalah warisannya untuk kalian berdua. Tante sudah tahu apa yang terjadi dari berita yang sudah tersebar... jadi tante tahu jika kalian akan merasa tidak enak untuk tetap tinggal di rumah itu dan dibiayai oleh mereka... karenanya tante fikir ini mungkin sudah menjadi firasat mama kalian dengan menyiapkan ini sebelum ia meninggal. Jadi jika kalian mau kalian bisa menggunakan ini untuk biaya kehidupan sehari-hari dan juga biaya sekolah kalian..." sambung Keysha sambil menyerahkan buku tabungan dan nomor rekening Siska pada Ayana.
Dengan tangan bergetar Ayana membuka buku tabungan itu dan langsung membelalakkan matanya saat melihat nominal saldo pada buku tabungan tersebut.
"I... ini... benar uang milik mama tante?" tanya Ayana terbata.
Bagaimana tidak, saldo yang tertera di dalam buku tabungan itu isinya tidak main-main. Ada lebih dari sembilan digit angka yang tertera disana. Bisa dibayangkan berapa banyak uang yang ada di dalam sana.
"Iya sayang... itu hasil kerja keras mama kalian selama ini.."
"Tapi mama kerja apa tante? setahu aku mama tidak pernah bekerja..." ujar Deni yang juga ikut melihat isi buku tabungan tersebut.
"Mama kalian selama ini bekerja sebagai agen property freelance... dan dia melakukannya disela-sela kesibukannya sebagai ibu rumah tangga. Dan karena property yang dijualnya merupakan property bagi kalangan atas maka mama kalian mendapatkan bonus yang tidak sedikit setiap kali ia berhasil dalam transaksi yang dibuatnya. Dia juga sangat mahir dalam pekerjaannya sehingga ia sering menjadi kepercayaan para konglomerat dalam mencari property yang diinginkan oleh mereka..." terang Keysha panjang lebar.
"Tapi mengapa papa dan yang lainnya tidak pernah mengetahui hal ini tante?" tanya Ayana yang masih penasaran.
"Karena mama kalian sangat menjaga kerahasiaan identitasnya saat bekerja. Bukan apa-apa... ini juga demi kenyamanan kliennya yang rata-rata merupakan orang-orang kalangan atas yang juga sangat menjaga privacy mereka"
"Tapi dari mana mama bisa mengenal mereka semua tante? sedang yang kami tahu mama tidak pernah bergaul dengan para sosialita"
"Oma buyut kalian yang mengenalkannya pada bisnis ini serta para kliennya... bisa dibilang oma kalian dulu juga menekuni bisnis ini saat muda"
Mendengar itu kedua kakak beradik itu terlihat lega. Disaat keduanya merasa tidak nyaman tinggal di rumah sang nenek dan dibiayai olehnya, kini ada jalan keluar bagi keduanya jika ingin memisahkan diri dari keluarga Suryono. Sebab meski berusaha memaafkan kesalahan keluarga itu pada sang mama tapi ada rasa sungkan jika harus tetap menerima uluran tangan mereka dalam menghidupi keduanya.
"Terima kasih tante... kami akan menggunakan uang ini dengan sebaik-baiknya..." ucap Ayana.
Keysha pun mengangguk sambil tersenyum. Dalam hatinya ia bersyukur karena sahabatnya memiliki dua anak yang sangat menyayangi mamanya.
"Semoga kamu tenang dan bahagia di alam sana Siska..." do'a Keysha dalam hati.