BODYGUARD DADAKAN

BODYGUARD DADAKAN
Penyesalan Terlambat


Hari ini Ayana dan Deni akan pergi ke sekolah baru mereka. Sebuah sekolah asrama atau bisa dikatakan sebagai pondok pesantren modern. Ya kedua kakak beradik itu memutuskan untuk lebih mendalami agamanya untuk bisa mempersembahkan do'a dan amalan terbaik untuk Siska sang mama. Keduanya tidak tahu seberapa kelam masa lalu sang mama, namun melihat bagaimana perubahan yang dilakukan sang mama saat menjelang akhir hayatnya, membuat keduanya ingin memberikan yang terbaik bagi sang mama dengan menjadi anak yang sholeh dan sholehah.


Pun mereka melakukannnya juga untuk sang papa dan oma mereka. Karena walau bagai mana pun mereka juga orangtua yang masih harus mereka hargai dan juga hormati meski pun telah melakukan banyak kesalahan dan menyakiti mama mereka selama hidupnya. Sehari sebelumnya keduanya juga sudah menemui Rendra ditahanan untuk berpamitan, karena Rendra tetaplah ayah mereka. Meski berat Rendra tidak dapat mencegah keinginan kedua anaknya itu untuk pergi. Apa lagi saat keduanya mengatakan jika semua biaya pendidikan keduanya sudah ditanggung oleh Siska. Ternyata almarhumah istrinya itu telah menyiapkan tabungan untuk biaya pendidikan kedua anak mereka sebelum ia meninggal.


Sebelum Ayana dan Deni pergi, keduanya menyerahkan sebuah amplop pada Rendra yang membuat pria itu semakin tenggelam dalam rasa bersalahnya pada Siska. Bagaimana tidak, dalam amplop itu terdapat dokumen yang menyatakan jika sepuluh tahun yang lalu saat dirinya divonis mengalami gagal ginjal dan membutuhkan donor ginjal agar dapat menyelamatkan nyawanya saat itu, Siskalah yang menjadi pendonornya. Ya... Rendra baru menyadari saat ini, jika saat itu dengan begitu cepatnya ia bisa langsung mendapatkan donor ginjal meski diantara keluarganya tidak ada yang cocok dengan ginjalnya, begitu juga dengan kekasih dan juga sahabatnya.


Dia memang sama sekali tidak memberitahu pada Siska saat itu. Selain karena Siska yang tengah mengandung Deni, ia juga tidak mau terlihat lemah dihadapan wanita itu dan meminta pertolongannya. Namun ternyata walau bagai mana pun akhirnya wanita itu pun tahu dan bahkan bersedia mendonorkan salah satu ginjalnya tanpa membertahukannya pada siapa pun. Hanya sang dokter yang mengetahuinya. Meski sangat beresiko namun Siska tetap melakukannya. Bahkan ia melakukannya bersamaan dengan operasi cesar untuk melahirkan Deni. Sepertinya Siska sengaja melakukannya agar tidak ada yang mencurigainya berada di rumah sakit kala itu.


"Maafkan aku Siska..." gumam Rendra sambil memeluk erat dokumen yang baru saja dibacanya itu.


Air mata pria itu pun luruh dari kedua kelopak matanya. Tak pernah terbersit sedikit pun di dalam hatinya selama ini bahwa akan ada saat dimana ia akan menangisi seorang Siska. Bahkan selama ini ia sangat yakin jika ia akan sangat bahagia jika wanita itu telah enyah dari kehidupannya. Tapi pada kenyataannya tidak. Ia justru merasakan kesedihan yang teramat sangat saat wanita itu benar-benar meninggalkannya. Dan yang paling menyakitkan adalah wanita itu tidak akan mungkin bisa kembali lagi padanya, karena wanita itu kini telah meninggal dunia.


Benar kata Ayana... jika ini adalah kejutan yang membuatnya semakin merasa bersalah karena telah berbuat dholim pada istrinya sendiri. Betapa tidak, wanita yang selama ini ia benci dan selalu ia siksa batinnya ternyata merupakan malaikat penolongnya disaat ia sekarat dulu. Dan lebih kejamnya ia juga sudah menyiksa fisik dan memfitnah wanita baik itu sebelum akhir hayatnya. Penyesalan memang selalu datang belakangan... dan kini penyesalannya sama sekali tidak ada gunanya. Karena kini Siska telah tiada dan sedangkan wanita yang ia anggap malaikat ternyata malah sebaliknya.


Deni dan Ayana kini tengah berada di makam ibu mereka. Keduanya ingin berpamitan pada mama mereka sebelum mereka berangkat. Setelah menaburkan bunga dan membacakan do'a, mereka pun mengatakan niatnya.


"Assalamualaikum ma... hari ini aku dan Deni akan berangkat ke sekolah asrama... do'akan kami ma... agar bisa menjadi anak yang sholeh dan sholehah agar bisa mengalirkan amal sholeh untuk mama..." ucap Ayana.


Deni tampak selalu menggenggam tangan sang kakak seolah memberi kekuatan. Karena ia tahu saat ini sang kakak tengah merasa rapuh. Setelah merasa cukup, keduanya pun meninggalkan area pemakaman. Kedua kakak beradik itu tampak sendu saat masuk ke dalam mobil hingga tidak memperhatikan sekelilingnya.


"Pak... ini bukan jalan menuju ke sekolah kami..." kata Deni saat menyadari jika mobil yang mereka tumpangi malah berbelok ke arah yang berlawanan dengan arah yang sedang mereka tuju.


Saat mendaftar ke sekolah tersebut Ayana dan Deni memang ikut datang langsung ke sekolah tersebut sehingga Deni pun tahu jalan menuju ke sana.


Tapi pak sopir tak mau menjawab perkataan Deni.


"Pak kita mau ke mana?" tanya Ayana panik saat mobil mereka justru berjalan menuju ke luar kota.


"Jangan banyak tanya! kalian itu pasti akan aku antarkan sampai tujuan... tapi bukan tempat yang kalian inginkan, melainkan ke tempat ibu kalian berada!" sahut sang sopir yang ternyata bukanlah sopir mereka tadi melainkan Jihan.


Kedua anak itu pun merasa ketakutan, dan berfikir bagaimana bisa wanita itu keluar dari dalam tahanan?


"Kalian fikir aku akan selamanya mendekam dalam tahanan hah? tidak-tidak... aku bisa dengan mudah lari dari sana sayang... dan sekarang saatnya pembalasan..." ucapnya sambil tersenyum bengis.


Sementara itu, Sadira yang ingin mengantarkan sang sahabat untuk pergi ke sekolah barunya, datang ke rumah Ayana. Namun ternyata ia datang terlambat. Sebab kata bu Hasna, Ayana dan Deni sudah berangkat sejak tadi. Sebab keduanya hendak pergi ke makam Siska terlebih dahulu. Sadira yang pergi ke rumah Ayana dengan diantar sopir keluarga dan langsung ditinggal karena permintaannya sendiri pun akhirnya memilih untuk memakai jasa ojek yang kebetulan melintas di depan rumah Ayana. Dengan menggunakan ojek, Sadira dapat menyusul kakak beradik itu dengan cepat.


Di tempat lain...


Tampak petugas kepolisian sibuk melakukan pencarian terhadap Jihan. Ya semalam wanita itu berpura-pura sakit hingga diantarkan oleh petugas ke rumah sakit terdekat. Namun saat sampai di rumah sakit wanita itu berhasil melarikan diri dengan cara menyelinap keluar menggunakan seragam perawat yang didapatkannya dengan mengambil seragam perawat yang merawatnya. Setelah wanita itu membuat sang perawat pingsan dengan memukul kepala perawat itu dengan menggunakan baki obat yang terbuat dari stainless steel.


Kabar kaburnya Jihan sampai ke telinga tuan Sam dan juga Rendra. Tuan Sam langsung memerintahkan anak buahnya untuk menjaga kedua anak Siska yang pasti tengah menjadi target Jihan. Sedangkan Rendra tampak kalut karena ia juga menduga jika Jihan akan mengarah pada kedua anaknya. Ayah Jihan sudah dipindahkan setelah babak belur dihajar oleh Rendra beberapa hari yang lalu, membuat Rendra semakin gusar karena tidak bisa mengorek keterangan dari lelaki paruh baya itu tentang Jihan. Rendra semakin frustasi karena menyadari dirinya yang berada dalam tahanan tidak bisa berbuat banyak untuk menyelamatkan kedua anaknya.


Satu-satunya jalan ia harus meminta pada pihak kepolisian agar mengizinkan dirinya untuk mengetahui keadaan kedua anaknya itu. Dengan berteriak pria itu meminta pada pihak kepolisian untuk menghubungi ibunya untuk mengetahui keadaan kedua anaknya itu. Karena melihat kondisi Rendra yang begitu kalut membuat para petugas disana pun iba dan segera menghubungi bu Hasna sesuai permintaan Rendra.


Bu Hasna mendadak kalut saat mendengar kabar dari pihak kepolisian jika Jihan berhasil melarikan diri dari tahanan. Apa lagi saat mereka juga menanyakan keberadaan kedua cucunya saat ini. Dengan jujur bu Hasna mengatakan jika baru tadi pagi kedua cucunya itu berangkat menuju sekolah mereka setelah sebelumnya pergi ke makam Siska.


Dengan cepat pihak kepolisian pun menghubungi pihak sekolah menanyakan keberadaan kedua anak itu. Dan fakta mengejutkan terungkap jika keduanya belum juga sampai padahal seharusnya sudah sejak dua jam yang lalu keduanya sampai. Pihak kepolisian pun langsung mengaitkan menghilangnya kedua kakak beradik itu dengan kaburnya Jihan semalam. Dan bisa dipastikan jika wanita itu telah menculik Ayana dan adiknya Deni untuk balas dendam karena telah mengungkap kejahatan yamg telah dilakukannya.


Sementara Sadira tampak bingung saat sang ojek mengatakan jika mobil yang mereka ikuti malah mengarah ke luar kota dan bukannya ke arah sekolah asrama yang Sadira terangkan sebelumnya. Karena sekolah itu masih berada di dalam kota yang sama namun memang di daerah pinggiran yang masih asri. Perasaan Sadira pun semakin tidak enak apa lagi mobil yang membawa Ayana dan Deni semakin menambah kecepatannya saat melintasi gerbang kota.


"Pak bisa tambah kecepatannya?" ujar Sadira pada tukang ojek yang didepannya.


"Ini udah cepat non... saya bukan pembalap yang bisa mengendarai motor seperti Rossi!" sahut sang tukang ojek yang agak ketakutan sekaligus kesal karena sedari tadi Sadira terus memaksanya mengejar mobil didepannya dan menambah kecepatan motornya.


Tidak sabar Sadira pun langsung menyuruh tukang ojek itu berhenti dan turun dari motornya saat melihat mobil yang membawa sahabatnya itu berhenti di lampu merah.


"Turun pak! ini saya kasih uang untuk ongkos ojek dan pinjam motornya nanti pasti akan saya kembalikan kok!" ucap gadis itu sambil menyerahkan beberapa lembar uang merah ke tangan sang tukang ojek.


"Habis ini langsung hubungi polisi ya pak... bilang kalau ada dua anak yang sedang diculik dan beritahukan lokasi kita sekarang!" sambung Sadira yang langsung menstarter motor milik tukang ojek itu.


Abang tukang ojek itu pun sejenak tampak bengong saat melihat berlembar-lembar uang merah yang ada ditelapak tangannya. Tapi kemudian ia pun tersadar saat menyadari jika gadis yang tadi jadi penumpangnya itu sudah melajukan motornya dengan sangat kencang membelah jalanan. Dia pun langsung menghubungi pihak kepolisian seperti yang diperintahkan oleh gadis tadi.


Pihak kepolisian pun segera menindak lanjuti laporan tukang ojek tersebut dengan segera menerjunkan personilnya untuk mengejar pelaku. Sebab sesuai dengan ciri mobil yang beritahukan oleh tukang ojek itu, ciri-cirinya sangat cocok dengan mobil keluarga yang membawa Ayana dan Deni meski si tukang ojek tak mengingat dengan jelas plat nomornya. Namun dengan sesuai waran dan jenisnya sudah bisa menjadi gambaran bagi pihak kepolisian sebagai petunjuk awal.


Tuan Sam yang juga mendapatkan informasi itu pun ikut bergerak bersama anak buahnya untuk menyelamatkan kedua kakak beradik itu dari tangan Jihan. Sementara Sadira terus memacu motor milik sang tukang ojek untuk mengejar mobil yang membawa Ayana dan juga Deni. Ia sudah tidak memperdulikan peraturan lalu libtas dan sekitarnya. Dalam fikirannya hanya ada satu, yaitu menyelamatkan Ayana dan juga Deni. Sadira juga sudah bisa menduga siapa yang menculik sahabatnya dan sang adik.


"Pasti wanita penyihir itu yang sudah melakukan ini! awas saja... kalau sesuatu yang buruk terjadi pada Ayana dan Deni... siap-siap saja kau! akan aku jadikan perkedel!" runtuk Sadira dalam hatinya sambil terus menggeber motor yang dikendarainya hingga kini ia bisa memperpendek jaraknya dengan mobil yang membawa Ayana dan Deni.