
Tuan Sam tengah sibuk dengan berkas pekerjaannya saat Lukas masuk ke dalam ruangannya dan menyerahkan hasil penyelidikannya tentang Kartika. Setelah membaca berkas penyelidikan yang dibawa oleh Lukas, tuan Sam tampak lega. Ternyata wanita yang saat ini tengah dekat dengan istrinya itu tak memiliki riwayat yang mencurigakan.
"Jadi dia sekarang bekerja di salah satu bank swasta di London?" tanya tuan Sam pada Lukas.
"Benar tuan... dan tiga bulan yang lalu ia baru saja mendapatkan promosi jabatan sehingga ia bisa pindah ke apartemennya yang sekarang..." terang Lukas.
"Apa dia benar-benar tidak memiliki keluarga lain di Indo?"
"Tidak tuan... dia yatim piatu dan besar di panti asuhan... karena kecerdasannya ia bisa mendapatkan beasiswa hingga kuliah di London dan langsung mendapat pekerjaan di bank tempatnya bekerja sekarang setelah lulus kuliah" tambah Lukas.
"Baiklah... tapi tetap saja kau harus menyuruh para pengawal untuk tetap mengawasi istriku..." perintah tuan Sam.
"Iya tuan..." sahut Lukas.
Lalu kemudian ia pun pamit keluar dari dalam ruangan tuan Sam. Setelah kepergian Lukas, tuan Sam kembali sibuk mengerjakan pekerjaannya. Kini ia bisa sedikit bernafas lega karena merasa jika Kartika bukan ancaman bagi istrinya.
Sementara di apartemennya Amira tengah sibuk memasak mumpung si kembar tengah sibuk bermain dengan pak Dahlan dan bu Zaenab yang sedang berkunjung. Sebenarnya bu Zaenab ingin membantu Amira memasak namun Sahir dan Samir tak membiarkannya. Keduanya terus merengek dan menarik baju bu Zaenab agar mau bermain dengan keduanya. Sepertinya kedua bocah kembar itu benar-benar menganggap bu Zaenab dan pak Dahlan sebagai kakek dan nenek mereka sehingga tak mau lepas dari keduanya setelah sekian lama tak berjumpa.
Amira yang melihat kedekatan kedua putranya dengan pak Dahlan dan bu Zaenab pun senang dan terharu kedua orangtua Sandra mau menganggap kedua putranya itu sebagai cucu mereka begitu juga dengan dirinya yang juga sudah dianggap sebagai putri kedua mereka setelah Sandra. Meski begitu ada sedikit rasa sedih dihatinya saat melihat kedekatan pak Dahlan dan bu Zaenab dengan kedua putranya. Pasalnya ia jadi teringat dengan kedua orangtuanya yang sudah meninggal. Seandainya saja kedua orangtuanya itu masih hidup pasti mereka juga akan menyayangi kedua cucu kembar mereka itu.
"Ayah... ibu... Amira rindu kalian..." batin Amira dan tak terasa ia pun meneteskan air mata.
Saat itulah bel pintu apartemennya berbunyi. Dengan segera bu Zaenab yang berada di ruang tamu bersama pak Dahlan dan si kembar pun membukakan pintu. Setelah membuka pintu tampak di depan pintu sana seorang wanita seumuran Sandra putrinya tengah berdiri sambil membawa kotak makanan. Dari wajah dan penampilannya tampak sekali jika wanita itu berasal dari negara Indo atau pun negara tetangganya. Maka dari itu bu Zaenab mencoba berbicara dengan menggunakan bahasa Indo.
"Maaf anda mencari siapa ya?" tanya bu Zaenab.
"Perkenalkan... saya Kartika tetangga Amira... saya kemari untuk menemuinya... apakah Amiranya ada?" tanya Kartika sopan.
"Oh... jadi nak Kartika tetangga di apartemen sini? kalau begitu ayo silahkan masuk! Amira sedang memasak di dapur..." kata bu Zaenab sambil membuka pintu apartemen lebih lebar.
Kartika pun tersenyum ramah dan masuk ke dalam apartemen. Setelah menutup pintu apartemen bu Zaenab mengajak Kartika menemui Amira. Saat melihat pak Dahlan dan kedua putra Amira, Kartika pun menyapa ketiganya dengan sopan. Pak Dahlan pun seperti bu Zaenab langsung menyambut Kartika ramah begitu juga dengan Sahir dan Samir yang langsung mencium tangan Kartika sebagai tanda penghormatan keduanya pada tamu yang lebih tua. Melihat tingkah sopan si kembar membuat Kartika menjadi gemas tak menyangka jika dua balita itu sudah memiliki tata krama yang baik.
Amira yang mendengar bu Zaenab memanggilnya dan mengatakan jika Kartika mencarinya langsung membersihkan tangannya dan segera menemui Kartika.
"Tika!" serunya senang.
"Hai Ra... aku kemari sengaja mengunjungimu... dan ini aku bawakan hasil masakanku... semoga saja kau suka..." kata Kartika sambil menyerahkan kotak makanan yang dibawanya pada Amira.
"Wah... terima kasih banyak Tik... ayo duduk dulu... kita makan siang bersama ya... sebentar lagi masakanku juga matang..." ajak Amira.
"Apa aku tidak mengganggu?" tanya Kartika yang merasa tidak enak karena ada pak Dahlan dan bu Zaenab.
"Tentu saja tidak nak..." sahut bu Zaenab sambil tersenyum.
Akhirnya bu Zaenab dan Kartika pun membantu Amira dengan menata meja makan. Tak lama mereka pun makan siang bersama. Bu Zaenab dan pak Dahlan pun langsung bisa akrab dengan Kartika yang sangat sopan menurut mereka meski sudah lama tinggal di London. Memang sejak pertemuan pertamanya dengan Amira, Kartika selalu sopan baik dalam penampilan maupun tutur katanya. Sehingga ia dengan mudah bisa membaur dengan mereka.
Setelah makan siang dan mengobrol sebentar Kartika pun pamit pulang ke apartemennya setelah sebelumnya mengundang Amira dan yang lainnya untuk berkunjung ke apartemennya. Mereka pun bersedia memenuhi undangan Kartika itu lain kali.
........
Sementara di Paris Sandra tampak masih tertidur karena kelelahan setelah semalaman digempur oleh Dave. Apalagi saat Dave tahu jika ia yang pertama bagi Sandra membuat pria itu seolah menjadi candu pada tubuh istrinya itu. Meski keduanya sempat beristirahat dan membersihkan diri sebelum melaksanakan sholat subuh namun Dave kembali menggempurnya setelah keduanya selesai beribadah. Sepertinya pria itu sedang menuntaskan hasratnya setelah ia berhenti menjadi casanova dan menjadi mualaf.
Dave yang sudah bangun terlebih dahulu pun tampak enggan meninggalkan tempat tidur dan masih betah memandangi wajah istrinya yang masih terlelap. Membayangkan saat semalam ia berhasil membobol gawang Sandra membuat Dave kembali tersenyum. Ia sangat bersyukur Allah menjaga Sandra tetap suci hingga ia berhasil memilikinya. Mungkinkah ini balasannya atas keikhlasannya dulu saat melepas Sandra demi memenuhi keinginan kedua orangtua Sandra yang sudah menjodohkannya dengan orang lain dan juga saat ia menjadi mualaf bukan dengan alasan dunia tetapi murni karena Allah.
Mengingat saat-saat terpuruknya ketika ia harus merelakan Sandra membuat Dave menyadari jika Allah akan memberikan yang terbaik bagi umatnya meski terkadang kita merasa itu sakit dan tidak adil. Karena sesungguhnya yang mengetahui apa yang terbaik itu adalah Allah meski terkadang kita tidak menyadarinya. Dave tersadar dari lamunannya saat Sandra mengeliat pelan dan mulai membuka matanya.
"Dave..." panggil Sandra lirih.
"Iya sayang?"
"Sudah jam berapa ini?" tanya Sandra sambil berusaha melihat sekelilingnya.
"Hemmm... jam sebelas siang sayang..." sahut Dave setelah melirik ke arah jam elektrik yang berada diatas nakas yang ada di samping tempat tidurnya.
"Hah? aku harus bangun sekarang... kita sudah sangat kesiangan..." kata Sandra terdengar panik.
"Aku kan harus menyiapkan makanan untukmu... kau pasti sudah lapar..." terang Sandra yang membuat Dave langsung tersenyum kecil.
"Memang kau yakin masih bisa memasak dengan keadaanmu sekarang ini? lagi pula apa kau lupa jika kita tengah bulan madu dan juga berada di hotel sayang... semua sudah ada yang akan menyiapkannya untuk kita..." kata Dave sambil mengusak kepala Sandra.
"Tapi kan tetap saja rasanya aneh aku sampai kesiangan seperti ini Dave..." ucap Sandra yang memang terbiasa bangun pagi.
"Tidak ada yang aneh sayang... cukup nikmati saja waktu istirahatmu... sebentar akan aku pesankan makanan kau pasti sudah lapar" kata Dave.
Pria itu pun langsung memesan makanan untuk mereka berdua untuk diantarkan ke kamar. Sementara Sandra sedang berusaha bangun dari tempat tidur dan bermaksud untuk mandi. Dave yang sudah selesai memesan makanan dan melihat Sandra yang kesulitan ke kamar mandi pun segera membopong tubuh istrinya itu tanpa aba-aba dan langsung membawanya ke kamar mandi. Di dalam sana Dave dengan telaten membersihkan tubuh istrinya itu meski ia harus menahan keinginannya untuk kembali menggempur Sandra karena merasa kasihan dengan keadaan Sandra yang terlihat masih kelelahan.
Selesai membersihkan diri keduanya pun keluar dari kamar mandi dan berganti pakaian. Kembali Dave membantu Sandra untuk mengenakan pakaiannya dan bukan hanya itu Dave bahkan membantu istrinya itu untuk mengeringkan rambutnya agar tidak basah. Hal ini semakin membuat Sandra merasa seperti ratu yang selalu dilayani.
"Terima kasih..." ucap Sandra begitu Dave selesai mengeringkan rambutnya.
"Hem..." sahut Dave.
"Kenapa? apa aku sudah melakukan kesalahan?" tanya Sandra yang mendengar Dave hanya berdehem.
"Tidak kau sama sekali tidak melakukan kesalahan..." sahut Dave yang sebenarnya sedang mati-matian menahan adik kecilnya untuk tidak bangun.
"Benarkah?" tanya Sandra lagi sambil berdiri dari duduknya dan berbalik menatap Dave.
Terlihat oleh Sandra jika suaminya itu seperti sedang gelisah.
"Kenapa? apa kau sakit?" tanya Sandra sambil menempelkan telapak tangannya pada kening Dave.
"Bukan sayang... aku hanya..." belum selesai Dave menyelesaikan kalimatnya terdengar suara bel pintu yang mengejutkan keduanya.
"Aku buka dulu pintunya ya?" kata Dave yang dijawab dengan anggukan oleh Sandra.
Ternyata itu adalah petugas hotel yang membawakan makanan pesanan keduanya. Dave pun menyuruh petugas hotel itu untuk masuk dan meletakkan makanan mereka. Kemudian mereka pun makan bersama karena perut keduanya memang sudah keroncongan.
Selesai makan Dave dan Sandra sengaja tidak keluar dari kamar karena Sandra yang masih kesulitan berjalan akibat kegiatan mereka semalam. Sebagai gantinya keduanya menghabiskan waktu dengan saling mengobrol dam bercengkrama sambil menunggu waktu dhuhur tiba.
"Jadi apa kau akan terus memanggil namaku saja setelah kita menikah hem?" tanya Dave sambil mengelus kepala Sandra lembut.
Keduanya kini tengah duduk berdampingan di balkon kamar hotel dengan Sandra yang sedang bersandar di dada Dave. Sandra menatap Dave dan mengerti jika dia tak sepantasnya memanggil suaminya itu hanya dengan namanya saja.
"Lalu kau ingin aku memanggilmu apa?" tanya Sandra yang masih belum memiliki ide.
"Terserah kamu saja San San... apa pun itu aku pasti suka..." sahut Dave.
"Hem... bagaimana jika aku memanggilmu Boo?" ucap Sandra sambil menatap Dave lembut.
Bukannya menjawab Dave malah memberikan kecupan singkat dibibir Sandra.
"Aku suka..." ucapnya kemudian.
Sandra pun tersenyum dengan perlakuan lembut Dave padanya. Setelah dulu ia pernah menerima hinaan dari suami pertamanya hanya beberapa jam setelah akad kini ia merasakan kebahagiaan dan kasih sayang yang sesungguhnya dari Dave.
"Aku sangat beruntung bisa memilikimu Boo" ujar Sandra sambil menyusupkan kepalanya di dada Dave sedang kedua tangannya sudah memeluk tubuh suaminya itu erat.
"Aku juga sangat beruntung San San... entah apa jadinya aku jika tidak pernah bertemu denganmu" ucap Dave sambil mengecup puncak kepala Sandra.
"Mungkin aku masih seperti dulu... hidup dalam kehampaan tanpa tujuan..." sambung Dave.
"Kita sama-sama beruntung Allah sudah menyatukan kita berdua..." pungkas Sandra.
"Kau benar..." ujar Dave setuju.
Keduanya pun menikmati pemandangan didepan mereka sambil mensyukuri semua nikmat dan karunia yang selama ini telah mereka dapat. Memang benar akan ada pelangi setelah hujan begitu juga akan ada kebahagiaan setelah kesedihan. Sandra dan Dave merasakan itu dalam hubungan keduanya...