BODYGUARD DADAKAN

BODYGUARD DADAKAN
Rumah Baru


Amira yang merasa senang karena sudah diperbolehkan untuk pulang langsung memeluk tuan Sam.


"Ingat kau berhutang satu hal padaku" bisik tuan Sam ditelinga Amira.


Amira pun langsung merasa bergidik mendengar ucapan suaminya itu.


"Kau kan cuma bicara pada dokter..." ucap Amira berusaha menghindar.


"Ck... kalau bukan aku yang bicara mana mungkin dokter itu mau mengijinkan kamu pulang..." sergah tuan Sam.


"Iya... iya.... tuan Sam memang hebat..." bujuk Amira yang tak ingin suaminya itu marah.


"Itu kau tahu...." kata tuan Sam percaya diri.


"Jadi kapan kita pulang?" tanya Amira.


"Lebih baik besok saja... kenapa? apa kau sudah tak sabar untuk bulan madu denganku?" kata tuan Sam sambil menaik turunkan alisnya.


Bukannya menjawab Amira malah meraih bantal dan memukulkannya ke arah tuan Sam.


Namun sebelum bantal itu mengenainya tuan Sam sudah terlebih dulu menangkapnya dan merebutnya lalu melemparkannya ke sembarang tempat. Dan tanpa aba-aba pria itu langsung mengungkung tubuh Amira diatas brankar.


"Kau sudah mulai berani ya..." ucapnya di dekat wajah Amira sehingga gadis itu dapat merasakan hembusan nafas tuan Sam.


"A...aku cuma..." ucapan Amira langsung terpotong saat tuan Sam yang langsung ******* bibir gadis itu. Amira yang terkejut membelalakkan matanya. Namun ia pun akhirnya pasrah dan bahkan membalas perlakuan tuan Sam hingga ia merasa kehabisan nafas dan akhirnya keduanya pun menghentikan kegiatan mereka. Dengan nafas yang masih terengah tuan Sam mengusap bibir Amira dengan lembut.


"Kita tidur sekarang agar besok pagi kita bisa langsung pulang..." ucap tuan Sam yang dijawab dengan anggukan oleh Amira.


Keduanya pun kembali berbaring saling berpelukan dan tak berapa lama keduanya langsung terbang ke alam mimpi.


Di tempat lain tampak seorang wanita tengah menikmati malam di atas balkon kamarnya. Sambil menghirup sebatang rokok yang sudah menjadi candunya saat merasa resah. Dipandanginya langit malam yang tampak cerah dan penuh dengan bintang. Tapi tidak dengan hatinya saat ini. Dia Keysha... baru saja ia mendapat kabar jika istri dari pria incarannya telah sadar.


Walau pun ia merasa lebih segalanya dari gadis itu setelah melihat foto Amira yang tersebar di media sosial saat menjadi viral, tapi ia juga menyadari jika Amira bukan lawan yang mudah. Gadis itu tipe gadis tangguh yang tak mudah untuk diintimidasi. Terbukti dengan keberaniannya saat mengejar penculik yang sempat membuatnya jadi viral. Bahkan ia akui jika berada di posisi Amira tak mungkin ia sanggup melakukan apa yang sudah gadis itu lakukan. Bahkan Amira melakukannya bak seorang pengawal profesional yang sedang melindungi tuannya.


"Kamu memang berbeda gendut... tapi tetap saja kau tak mungkin bisa melawanku..." gumamnya.


Kini fikirannya melayang pada sepuluh tahun yang lalu saat dia harus menyingkirkan Karina tunangan tuan Sam sebelum keduanya sempat menikah. Ya ... kecelakaan Karina bukanlah murni sebuah kecelakaan. Tapi ada campur tangan Keysha didalamnya. Saat itu tuan Sam yang sangat terpukul akibat kematian Karina tak menyelidiki kasus tersebut lebih lanjut. Bahkan ia langsung meninggalkan semuanya untuk pergi ke London dan melupakan kesedihannya.


Keysha menghembuskan asap rokok dari mulutnya dan memandang kearah kilauan cahaya lampu perkotaan yang tampak dari tempatnya berdiri.


"Kali ini aku harus bermain lebih hati-hati sebab kali ini lawanku bukan cuma si gendut itu, tapi juga Sam. Dia sudah bukan Sam yang dulu... sebab kini dia sudah punya kekuasaan yang dapat membantunya mengetahui rencanaku jika aku sedikit saja gegabah" batinnya.


Saat itulah terdengar nada panggilan dari ponselnya yang tergeletak di meja yang ada di balkon. Dengan enggan ia pun mengangkatnya. Terdengar suara riuh tawa dan dentuman musik yang memekakkan telinga.


"Halo Key... kamu ga jadi datang kemari?" tanya Siska dengan suara berteriak takut tak terdengar karena suara dibelakangnya.


"Ga ... gua lagi malas..." jawab Keysha langsung menutup ponselnya.


Disebrang sana Siska hanya mendengus dengan kelakuan Keysha.


"Dia pasti sedang sibuk memikirkan cara untuk menyingkirkan perempuan gendut itu..." batinnya.


"Biarkan sajalah toh jika rencananya berhasil aku juga yang akan diuntungkan sebab dengan begitu aku tak perlu lagi susah payah menyingkirkan istri Sam itu karena sudah ada Keysha yang akan melakukannya dan aku tinggal menikmati hasilnya karena akan kupastikan Sam tahu perbuatan Keysha hingga Sam tak akan pernah mengampuninya... dan akhirnya akulah yang akan menjadi pemenangnya" fikir Siska sambil tersenyum.


"Ah ... betapa pintarnya kau Siska... menghancurkan sainganmu tanpa harus mengotori tanganmu sendiri...." ia pun terkekeh sambil membayangkan ide brilliannya.


Pagi hari setelah sholat subuh berjamaah dengan tuan Sam. Amira bersiap untuk pulang. Walau pun tuan Sam sudah mengatakan jika mereka harus menunggu dokter yang akan memeriksanya terlebih dahulu. Namun Amira yang sudah benar-benar bosan berada di rumah sakit tetap membereskan barang-barangnya yang tak seberapa sebab tuan Sam selalu menyerahkan cucian kotornya setiap hari pada pegawainya. Sehingga yang ada di rumah sakit hanya pakaian bersih saja. Tepat pukul delapan pagi dokter yang merawat Amira pun datang untuk melakukan pemeriksaan terakhir. Dan tampaknya kemajuan kesembuhan pada luka Amira sangat baik sehingga dokter pun langsung mengijinkan Amira untuk pulang. Setelah mengantongi ijin dari dokter yang merawat Amira, tuan Sam pun langsung menyuruh sopir untuk menjemput mereka di rumah sakit.


Di depan rumah sakit tampak dua orang wanita baru turun dari dalam sebuah mobil. Penampilan keduanya yang mengenakan pakaian terbuka membuat mereka jadi pusat perhatian terutama para kaum adam. Namun keduanya tampak sama sekali tak memperdulikannya.


"Ck... kenapa sih kita harus kemari pagi-pagi?" sungut Siska.


"Sudahlah kau ikuti saja permainanku..." kata Keysha.


Keduanya pun langsung menuju ke meja resepsionis untuk menanyakan ruang perawatan istri tuan Sam. Resepsionis itu pun menunjukkan tempatnya setelah Keysha beralasan jika ia teman tuan Sam yang baru pulang dari luar negri. Setelah mendapatkan informasi yang ia inginkan Keysha pun segera menuju tempat yang di tunjuk. Sedang Siska hanya mengekor dari belakang. Langkah keduanya terhenti saat dari jauh terlihat tuan Sam yang sedang berusaha membopong Amira.


Siska yang juga melihat adegan itu pun tak dapat menyembunyikan wajahnya yang ikut memerah dan langsung mengikuti Keysha. Sedang di seberang sana tengah terjadi perdebatan antara tuan Sam dan Amira.


"Ayolah Meyaa... kau kan baru sembuh..." ucap tuan Sam masih berusaha untuk membujuk Amira.


"Tapikan tak perlu harus digendong juga... aku bisa menggunakan kursi roda" ungkap Amira yang sejak tadi menahan rasa malu karena tingkah sok romantis suaminya.


"Memang kenapa? apa kau kira aku tak sanggup menggendongmu?" tukas tuan Sam.


"Kau kira aku bayi yang masih harus digendong?" balas Amira yang merasa sikap tuan Sam kekanakan.


Lukas dan perawat yang ada disana pun merasa gerah dengan tingkah keduanya. Melihat wajah istrinya yang sudah ditekuk akhirnya tuan Sam pun mengalah dan mendudukkan Amira di kursi roda yang sejak tadi sebenarnya sudah di sediakan.


"Tapi biar aku yang mendorongnya ya...".


"Terserah..." jawab Amira dongkol karena niatnya untuk segera pulang terhambat karena tingkah tuan Sam.


Setelah sedikit drama mereka pun akhirnya pulang dengan mobil yang sudah dipersiapkan oleh tuan Sam. Begitu mobil yang mereka tumpangi meninggalkan rumah sakit mood Amira yang sempat turun langsung berubah. Gadis itu sibuk memandang keluar jendela memperhatikan pemandangan di sekitarnya.


"B... kenapa kita kemari?" tanya Amira saat menyadari jika mobil yang mereka tumpangi tidak menuju ke rumah nyonya Sarah.


"Kau fikir setelah menikah kita akan tetap di rumah Sarah hem?" kata tuan Sam.


"Jadi..."


"Iya kita akan tinggal di rumah kita sendiri" sambung tuan Sam sambil menggenggam tangan Amira.


"Kau juga tidak usah khawatir jika merindukan Sarah dan kedua bocah itu... sebab rumah ini masih satu komplek dengan rumah mereka" terang tuan Sam yang mengerti kedekatan Amira dengan nyonya Sarah dan kedua anaknya. Amira pun terharu dengan perlakuan suaminya.


"Terima kasih B..." ucapnya sambil menyandarkan kepalanya di bahu tuan Sam.


Tuan Sam pun mengecup singkat kepala Amira. Mobil mereka pun memasuki halaman sebuah rumah yang tak kalah megahnya dengan rumah nyonya Sarah. Sesampainya di depan rumah tuan Sam langsung menuntun Amira untuk masuk ke dalam karena gadis itu enggan menggunakan kursi rodanya. Saat mereka memasuki rumah langsung terdengar letusan balon dan konfetti yang membuat suasana rumah menjadi meriah.


"Surprise!!!" terdengar teriakan dari dalam rumah.


Tampak semua orang yang Amira kenal berkumpul di tengah ruang tamu. Amira tak menyangka akan mendapat kejutan selamat datang.


"Selamat datang ke rumah Ra..." ucap nyonya Sarah langsung memeluk Amira.


Amira pun membalas pelukan nyonya Sarah... tak terasa ia pun menitikkan air mata bahagia.


"Selamat datang bunda... " ucap Anna dan Adit serempak.


Keduanya pun ikut memeluk Amira.


"Bunda nanti masih mau ke rumah kami kan? walau uncle sudah memberikan rumah baru buat bunda?" tanya Anna yang khawatir.


"Tentu saja sayang... bunda akan sering mampir ke rumah kalian begitu juga sebaliknya... kalian juga boleh main kemari bahkan jika kalian ingin menginap" kata Amira yang langsung dijawab dengan pelukan dari kedua bocah itu.


"Terima kasih bunda..." kata keduanya bersamaan.


Acara penyambutan kepulangan Amira ke rumah baru yang disiapkan oleh tuan Sam untuk istrinya itu berjalan meriah. Tampak seluruh pengawai di rumah nyonya Sarah ikut menghadiri sebab Amira sudah dekat dengan mereka semua sejak ia bekerja sebagai mengasuh. Hanya satpam di rumah nyonya Sarah yang tidak ikut karena harus menjaga keamanan disana.


Setelah acara selesai dan semua tamu pulang tampak para pegawai yang telah dipekerjakan oleh tuan Sam membersihkan semua sisa pesta. Amira pun sudah berada di kamar utama untuk beristirahat. Amira tampak agak kelelahan karena baru saja keluar dari rumah sakit. Ia pun sudah merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur berukuran king size yang ada di dalam kamar.


Mata Amira sudah mulai terpejam saat dirasakannya ada pergerakan disampingnya. Ia pun perlahan membuka matanya dan melihat jika kini tuan Sam sudah berbaring disebelahnya.


"Apa kau kelelahan?" tanya tuan Sam sambil mengelus kepala Amira yang kini tak tertutup oleh hijab. Amira pun mengangguk pelan.


"Tidurlah..." ucap tuan Sam lalu mengecup kepala Amira lembut.


Amira pun kembali memejamkan matanya. Dirasakannya sentuhan lembut tuan Sam pada kepalanya yang membuatnya langsung terbuai ke alam mimpi.