
Amira terlihat sangat senang pasalnya ia baru saja melakukan vc dengan Sandra. Sejak bertemu Sandra dapat terlihat jika Amira semakin ceria. Maklum selama ini memang Amira tak memiliki teman dekat. Dia hanya dekat dengan Sandra dan juga teman masa kecilnya yang lain. Sayang sekali mereka harus berpisah karena melanjutkan pendidikan atau karena hal yang lain. Seperti Sandra yang pindah saat lulus SMP karena mengikuti ayahnya yang dipindah tugaskan.
Sejak pertemuan dengan Sandra, Dave pun semakin sering mengunjungi gadis itu dengan alasan meminta ditemani berkeliling karena tak enak jika meminta tolong pada tuan Sam dan Amira. Sandra yang merasa tak enak karena Dave merupakan teman tuan Sam pun menyanggupinya. Bahkan ia rela mengambil cuti dari tempat kerjanya untuk menemani Dave.
Kedua orangtua Sandra pun tak keberatan putri mereka menemani Dave karena mereka percaya pada putri mereka disamping mereka juga ingin menunjukkan keramahan pada Dave. Dave pun tak menyia-nyiakan kesempatan untuk mendekati Sandra. Ya... pria bermata biru itu telah memutuskan untuk mengejar cinta Sandra. Gadis unik yang telah menawan hatinya saat pandangan pertama.
Dave dan Sandra yang semula agak kesusahan karena kendala bahasa akhirnya bisa beradaptasi setelah mereka menggunakan aplikasi translate pada ponsel mereka. Ternyata banyak hal yang bisa membuat keduanya bisa bertambah akrab. Bahkan saat Amira mengajak Sandra untuk ikut ke makam kedua orang tuanya Dave pun ikut serta demi bisa bersama Sandra.
Hari keberangkatan pun tiba Sandra sudah sejak sore berada di rumah Amira. Ia memang sengaja datang awal dan menginap di rumah tuan Sam agar Amira dan suaminya tak perlu menjemputnya. Apa lagi mereka berencana untuk berangkat pagi-pagi. Demikian juga Dave pria itu tampak semangat padahal mereka cuma akan berziarah ke makam kedua orangtua Amira. Namun bukan tujuan kepergian mereka yang membuat Dave bahagia... tapi kesempatan bersama Sandra yang tidak mungkin ia lewatkan.
"Db... sepertinya temanmu itu menyukai San San deh" ungkap Amira saat berada di dalam kamar keduanya.
Ia menyadari sikap Dave pada Sandra akhir-akhir ini yang terlihat sangat mencolok jika pria itu tengah mendekati sahabatnya itu.
"Benarkah?" tanya tuan Sam menoleh kearah istrinya itu sebab ia tidak begitu memperhatikan jika Dave mendekati Sandra.
"Iya... kentara sekali jika ia sedang mendekati San San... apalagi San San juga bilang kalau Dave memintanya menemaninya saat ia berkeliling disini. Bukannya dia bisa menyewa seorang guide?" terang Amira.
"Kau benar juga... tapi bukannya itu bagus karena artinya dia tidak akan lagi mengejar istriku ini..." sahut tuan Sam sambil mendekap tubuh Amira.
"Ish kau tahu dari mana?" tanya Amira yang tak menyangka jika suaminya itu juga merasakan gelagat Dave saat pertama mereka berjumpa.
"Kau fikir cuma seorang istri yang mempunyai insting jika pasangannya sedang diincar oleh orang lain... hem?" bisik tuan Sam ditelinga Amira yang membuat tubuhnya langsung meremang.
"Apa kau tidak marah setelah mengetahuinya B?" tanya Amira karena suaminya itu tak pernah terlihat ketus kepada Dave.
"Aku tahu jika Dave hanya terpesona padamu... bukan jatuh cinta... jadi aku tak perlu terlalu khawatir. Apa lagi istriku ini tipe setia yang tak mungkin mau mengkhianatiku..." terang tuan Sam sambil mengecup kepala Amira yang tak tertutup.
Tuan Sam kembali menatap wajah Amira dengan lembut.
"Aku tahu kau sudah menjaga dirimu dengan baik" sambungnya kembali mengecup kening istrinya itu dilanjutkan dengan kecupan di bagian lain yang membuat Amira meremang.
"Db..." erang Amira yang merasakan jika suaminya itu sudah mulai menginginkan lebih.
Namun tuan Sam tak mau menghentikan perbuatannya karena saat ini ia tengah ingin menghilangkan rasa cemburunya. Karena sesungguhnya ia juga merasa cemburu jika ada pria lain yang mengagumi istrinya itu. Tapi ia tak mungkin memperlihatkannya pada Amira karena melihat sikap istrinya yang langsung menjauh saat menyadari tatapan kagum dari pria lain selain suaminya.
Pergulatan panas pun kembali terjadi. Perlakuan tuan Sam yang memberikan banyak tanda pada tubuh Amira seakan menandakan jika pria itu tengah memperlihatkan kepemilikannya pada Amira. Keduanya pun akhirnya tumbang setelah bergulat cukup lama. Tuan Sam kali ini sengaja tak membuat istrinya terlalu kelelahan karena besok mereka harus berangkat pagi-pagi.
Sementara itu Sandra yang tengah berada di dalam kamarnya tampak baru saja mengakhiri panggilan telefon dengan kedua orangtuanya. Maklum baru kali ini Sandra menginap di tempat temannya. Sebab selama ini Sandra tak pernah melakukannya karena dia termasuk gadis yang lebih suka di dalam rumah. Saat baru saja ia akan membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur tiba-tiba saja terdengar ketukan dari depan pintu kamarnya.
Dengan perlahan ia pun membuka pintu kamarnya. Semula ia menduga jika itu Amira namun alangkah terkejutnya ia saat melihat Dave sudah berdiri di depan kamar tidurnya.
"Dave! ada perlu apa ya?" tanya Sandra dengan polos.
"Aku ingin bicara sebentar... boleh?" tanya Dave dengan wajah yang sulit dibaca.
Sandra pun mengangguk pelan lalu keduanya pun berjalan ke ruang tengah. Disana mereka langsung duduk berhadapan. Entah mengapa suasana di ruangan itu tiba-tiba terasa canggung bagi Sandra. Apa lagi melihat tingkah Dave yang sepertinya hendak berbicara serius dengannya.
"Ehemmm... sebenarnya apa yang ingin kau bicarakan denganku malam-malam begini Dave?" tanya Sandra setelah beberapa saat keduanya justru terdiam.
"Begini... aku ingin membicarakan hal serius padamu dan aku harap kau tidak menganggapku sedang bergurau"
"Aku sudah jatuh cinta padamu San San..." ucap Dave langsung.
Sandra agak tercekat karena terkejut dengan pengakuan cinta oleh Dave. Ia tak menyangka dalam waktu singkat pria bule itu mengaku sudah jatuh cinta padanya. Melihat Sandra yang terdiam Dave tampak mulai gugup.
"Bagaimana Sandra?" ucap Dave menyebut nama Sandra bukan dengan panggilan San San.
"Aku... aku tidak tahu harus berkata apa Dave... terus terang ini terlalu cepat bagiku... kita baru saja kenal dan aku..."
"Aku tidak memaksamu untuk menjawab pertanyaanku segera. Aku hanya sudah tidak bisa lagi memendam perasaanku padamu..."
"Beri aku waktu Dave..." ujar Sandra akhirnya.
"Baiklah.... satu minggu lagi aku akan pulang... sebelum itu aku harap kau sudah bisa memberikan jawabanmu padaku" ucap Dave.
Sandra menghela nafasnya pelan lalu kemudian ia pun menganggukkan kepalanya pertanda ia setuju. Karena suasana terasa semakin canggung diantara keduanya akhirnya Sandra pun pamit.
"Maaf Dave... bolehkah aku kembali ke dalam kamar? aku takut besok akan bangun kesiangan" ujat Sandra.
"Baiklah ... selamat tidur dan selamat malam San San ..."
"Selamat malam juga Dave..." sahut Sandra lalu ia pun berlalu masuk ke dalam kamarnya.
Setelah kepergian Sandra, Dave menghembuskan nafasnya keras. Pria itu sedikit frustasi karena Sandra tak langsung memberikan jawaban padanya. Tapi setidaknya hatinya telah lega setelah mengungkapkan apa yang ia rasakan selama ini pada Sandra. Meski ia juga belum tahu apakah perasaan Sandra sama dengannya. Sandra yang baru saja masuk ke dalam kamarnya tampak tengah memegangi dadanya yang sudah berdegub sangat kencang sambil bersandar pada pintu kamar. Sesungguhnya ia juga merasakan hal yang sama seperi Dave. Namun ia masih ragu apakah pria itu juga jatuh cinta padanya. Dan saat mendengar pengakuan Dave tadi tak ayal membuat hati Sandra langsung berbunga-bunga.
Gadis itu tampak masih tersenyum saat berjalan ke arah tempat tidurnya. Bahkan senyumannya tak memudar saat ia mulai memejamkan matanya.
"Semoga saja tadi itu bukan hanya mimpi Dave mengungkapkan cintanya ..." batin Sandra sebelum akhirnya ia tertidur.
Sedang Dave yang masuk ke dalam kamarnya sesaat setelah kepergian Sandra tampak belum bisa memejamkan matanya. Hatinya sedikit gelisah karena menunggu jawaban Sandra. Meski ia sendiri yang telah memberikan waktu pada Sandra untuk memikirkan jawabannya tak urung membuat Dave harap-harap cemas akan jawaban dari pujaan hatinya itu. Hingga akhirnya pria bermata biru itu tak sanggup lagi menahan rasa kantuknya dan akhirnya tertidur.
Pagi hari di rumah tuan Sam tampak kesibukan Amira mempersiapkan kedua putranya. Kebetulan keduanya terbangun saat pukul enam pagi. Dengan menggunakan air hangat Amira mengelap kedua putranya dan mengganti baju serta popok mereka. Tentu saja ia dibantu oleh tuan Sam suaminya yang juga sudah bangun dan sholat subuh bersama Amira.
Setelah kedua putranya siap dan wangi barulah tuan Sam dan Amira mengganti pakaian mereka secara bergantian. Kemudian keduanya keluar dari dalam kamar sambil masing-masing menggendong si kembar. Keduanya langsung menuju ke meja makan dimana di sana sudah ada Dave dan juga Sandra. Mereka pun segera menyantap sarapan pagi lalu kemudian bersiap untuk berangkat. Kali ini tuan Sam sengaja mengendarai sendiri mobilnya karena ada Dave yang akan menemaninya. Sedang Lukas sengaja ia suruh untuk libur.
Mereka berangkat saat jam menunjukkan pukul setengah delapan pagi. Tidak terlalu pagi atau pun kesiangan. Karena tuan Sam memperkirakan mereka sampai di kampung halaman Amira tengah hari dan mereka akan ke makam sore harinya. Sehingga kemungkinan mereka akan menginap semalam di hotel baru kemudian pulang keesokan harinya.
Selama perjalanan tuan Sam dan Dave bergantian menyupiri mobil. Walau pun Dave tidak hafal jalan namun tuan Sam bertindak sebagai navigator sehingga perjalanan mereka cukup lancar. Hampir tengah hari saat mereka sampai di halaman hotel. Mereka pun cek in untuk beristirahat.
Mereka pun makan siang dan beristirahat di sana. Sore harinya mereka pergi ke pemakaman. Tampak keluarga kecil Amira dan tuan Sam mengenakan pakaian yang senada. Sahir dan Samir tampak sangat menggemaskan saat mengenakan koko dengan model dan motif yang sama dengan tuan Sam.
Dave pun tampak lain saat mengenakan koko yang dibelikan oleh tuan Sam. Ia sengaja melakukannya agar temannya itu dapat tidak merasa berbeda. Sandra pun mengenakan gamis dengan model yang sama dengan Amira hanya dengan warna yang berbeda. Amira sengaja membelikannya untuk sahabatnya itu.
Sesampainya diarea pemakaman mereka pun berdo'a di depan makam orangtua Amira. Selesai berdo'a Amira dan tuan Sam memperkenalkan kedua putra kembar mereka.
"Assalamualaikum... ayah... ibu... ini Amira dan kak Sam datang bersama kedua putra kami..." ucap Amira sambil menahan air mata harunya.
"Iya ayah... ibu... nama mereka Sahir dan Samir... semoga mereka menjadi anak yang sholeh..." sambung tuan Sam.
Tampak kedua bayi yang digendong oleh kedua orangtuanya itu sangat tenang dan tidak rewel. Setelah dirasa cukup mereka pun meninggalkan lokasi pemakaman dan kembali ke hotel. Namun saat mobil yang mereka kendarai baru saja meninggalkan lokasi pemakaman tiba-tiba saja sekelompok orang bertopeng menghadang mereka di daerah yang terbilang cukup sepi.