BODYGUARD DADAKAN

BODYGUARD DADAKAN
Akhir Dari Kartika


Tuan Sam terus menemani Amira dengan sabar. Ia berharap istrinya itu dapat segera sadar. Setelah beberapa jam menunggu hingga akhirnya tuan Sam pun tertidur di samping brankar Amira dengan kepala tertunduk disamping tubuh istrinya itu. Tengah malam saat semua orang sudah terlelap, Amira mulai mengerjapkan matanya perlahan. Satu hal yang langsung disadarinya adalah saat tangannya terasa digenggam erat oleh seseorang. Perlahan Amira menoleh kearah tangannya. Dilihatnya seseorang yang selama ini telah dengan sabar mendampinginya meski ia kehilangan ingatan masa lalunya. Perhatian dan kasih sayamg serta cinta pria itu tak pernah luntur sedikit pun.


Amira tersenyum tipis sambil membelai kepala tuan Sam dengan tangan satunya yang bebas. Ada rasa lega saat kini ia bisa mengingat semuanya dengan jelas. Ya... Amira kini sudah mengingat semuanya. Bahkan hal paling akhir sesaat sebelum ia kehilangan ingatannya. Mengingat itu semua ia menjadi geram. Bagaimana bisa ia dengan bodohnya mempercayai seseorang seperti Kartika...


Gerakan tangan Amira ternyata membangunkan tuan Sam. Pria itu segera mendongakkan kepalanya melihat ke arah Amira. Mata pria itu langsung melebar dan senyumannya pun mengembang.


"Kau sudah sadar Meyaa..." ucapnya sedikit tercekat karena merasakan bahagia.


Amira yang masih merasa sedikit lemah hanya bisa membalasnya dengan tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


"Alhamdulillah ya Allah...." serunya sambil menciumi tangan Amira.


Setelahnya ia pun memencet tombol disamping brankar Amira untuk memanggil dokter dan perawat. Tak lama mereka pun datang dan langsung memeriksa kondisi Amira. Raja dan Dave yang ada di luar ruang perawatan Amira pun tampak kaget saat tiba-tiba dokter dan perawat berlarian menuju ke kamar rawat Amira. Semula mereka cemas karena mengira jika kondisi Amira memburuk. Namun akhirnya mereka merasa lega saat dokter dan perawat keluar dari ruang perawatan Amira dan mengatakan jika Amira telah sadar.


Mereka pun kemudian masuk ke dalam untuk menemui Amira dan tuan Sam setelah dokter mengizinkan keduanya.


"Kakak..." panggil Amira saat melihat Raja masuk ke dalam sana.


"Kau sudah mengingat aku Ra?" tanya Raja tak percaya.


Amira pun menganggukkan kepalanya sebagai jawabannya.


"Iya... tadi dia juga sudah mengatakan padaku jika dia sudah mengingat semuanya..." terang tuan Sam sambil tersenyum bahagia.


"Jadi kau juga pasti sudah mengingatku bukan?" tanya Dave tak mau kalah.


"Iya..." sahut Amira.


"Alhamdulillah... akhirnya semuanya berakhir bahagia..." ucap Raja yang diangguki oleh Dave dan juga tuan Sam.


"Sahir dan Samir bagaimana B?" tanya Amira mengkhawatirkan kedua putra kembarnya.


"Kau jangan khawatir Meyaa... mereka aman bersama Sarah dan yang lainnya..." kata tuan Sam.


"Alhamdulillah..." ujar Amira yang merasa lega.


"Db... wanita itu ternyata sudah sejak dulu mengincar nyawaku..." ucap Amira tiba-tiba.


"Siapa? Kartika?" tanya tuan Sam kaget.


"Tapi kenapa? apa alasannya dia sampai berbuat seperti itu... padahal kalian baru kenal..." sambung tuan Sam yang masih tak percaya jika Kartika sudah lama ingin menyingkirkan Amira.


Amira pun menceritakan apa yang didengarnya saat dirinya tertimbun direruntuhan gedung tepat sebelum ia kehilangan kesadarannya. Ketiga pria yang ada di dalam ruangan itu menggeram marah. Terutama tuan Sam... ia tak terima istrinya dijadikan sasaran pembunuhan.


"Lebih baik kau beristirahatlah lagi Ra... besok kami akan membawa kedua putramu kemari untuk menjegukmu..." kata Raja setelah bisa mengendalikan emosinya.


Ia berusaha membuat Amira cepat tertidur agar ia dan yang lainnya bisa segera mengurus Kartika dan anak buahnya.


"Iya Meyaa... kau harus banyak beristirahat agar bisa cepat pulih dan bisa kembali pulang..." tuan Sam pun ikut membujuk.


Amira pun akhirnya menurut dan kembali memejamkan matanya. Tak berapa lama ia pun kembali tertidur. Melihat Amira yang sudah tertidur nyenyak tuan Sam memberi isyarat pada Dave dan Raja untuk berbicara di luar. Ketiganya pun keluar dari ruang perawatan Amira tanpa berbicara. Setelah ketiga berada di luar ruang perawatan tuan Sam pun membuka suara.


"Bagaimana dengan ketiga orang itu?" tanya tuan Sam pada Dave.


"Tenang saja mereka sudah berada di tempatku... dan tak akan bisa kemana-mana" sahut Dave.


"Kalau begitu aku ingin melihatnya sekaligus memberikan hukuman setimpal pada mereka..." ucap tuan Sam datar.


"Baiklah kita ke sana sekarang... biar para pengawal yang berjaga di sini..." sahut Dave.


Ketiganya pun langsung keluar dari rumah sakit setelah menyuruh para pengawal untuk berjaga di depan ruang perawatan Amira. Sementara di sebuah gedung yang dari luar terlihat sudah lama terbengkalai dan berada di tengah hutan tampak tiga orang yang tengah terikat di sebuah ruangan. Salah satu diantara mereka mulai mengeliat disusul oleh yang lain. Ketiga orang itu langsung terkejut saat menyadari jika mereka telah terikat di dalam ruangan kosong.


Kartika kembali merasakan ketakutan. Ingin rasanya ia berteriak namun sia-sia karena mulutnya telah disumpal kain. Tak berbeda dengan Kartika, kedua orang suruhannya pun merasakan hal yang sama karena nasib mereka pun tak jauh beda dengan Kartika. Tak lama pintu ruangan itu dibuka dari luar. Setelahnya tampak beberapa orang pria dengan wajah yang mengerikan berjalan ke arah mereka. Kartika dan kedua anak buahnya semakin ketakutan saat menyadari jika diantara yang datang adalah tuan Sam, Dave dan juga Raja.


"Lepaskan sumpalan mulut mereka!" titah Dave pada anak buahnya yang ada dibelakang.


Seketika dua orang anak buah Dave pun maju dan membuka sumpal yang ada dimulut ketiganya.


"Ma... maafkan kami...." ucap ketiganya serentak begitu sumpalan di mulut mereka terlepas.


"Heh! enak sekali kalian meminta maaf!" seru Raja yang sudah tidak dapat menahan amarahnya.


"Kau! apa masalahmu hingga kau ingin menghabisi nyawa istriku?" bentak tuan Sam pada Kartika.


Mendengar perkataan tuan Sam Kartika berjengkit kaget.


"A... aku... mencintaimu Sam..." jawab Kartika terbata.


"Ha... ha... ha... kau fikir aku percaya pada omong kosongmu itu hah?" tawa tuan Sam terdengar menyeramkan.


Kartika diam tak bergeming. Mulutnya kelu tak bisa mengeluarkan suara.


"Oh... jadi kau ingin aku menggunakan cara keras padamu heh?" tanya tuan Sam.


"Kalian! buat mereka bicara... apa pun caranya!" titah Dave pada anak buahnya mewakili tuan Sam.


Segera beberapa orang anak buah Dave menyeret tubuh Kartika dan kedua orang suruhannya dan mulai menyiksa ketiga. Seketika ruangan itu dipenuhi oleh teriakan dan erangan dari ketiga orang tersebut. Kartika yang tidak pernah menghadapi kekerasan selama hidupnya tampak sangat tersiksa. Sedari tadi mulutnya hanya bisa berteriak dan memohon ampun agar tidak disiksa. Namun semua percuma karena para pria sangar yang diperintahkan oleh Dave tidak juga menghentikan siksaannya pada Kartika. Tubuh ketiga orang itu pun kini sudah dipenuhi oleh luka. Bahkan mereka tak memiliki rasa kasihan sedikit pun pada Kartika hanya karena ia perempuan. Mereka menyiksanya sama kejamnya seperti pada kedua anak buahnya.


"Baiklah... akan aku katakan semuanya!" teriak Kartika dengan sisa tenaga yang ia punya karena sudah tidak tahan dengan siksaan yang diterimanya.


Ia yang selalu bermain licik tanpa pernah melakukan kekerasan sungguh tidak tahan dengan siksaan dari anak buah Dave.


"Hentikan!" titah Dave membuat para algojo menghentikan perbuatannya.


"Katakan!" suruh tuan Sam dengan tatapan nyalang.


"Cas... Castillo..."


"Castillo?" beo Raja menengok ke arah tuan Sam dan Dave.


"Siapa?" tanya Dave yang tak mengenal nama yang disebutkan oleh Kartika.


"Dia kakak wanita yang dulu pernah menyerang Amira dan sainganku dulu di dunia hitam..." terang Raja.


"Tapi bukannya dia sudah mati di pulau pribadinya?" sambung Raja lagi karena sebelum keberangkatannya ke London ia mendapatkan kabar itu dari agen federal yang menangani kasusnya.


"Aku tidak tahu... tapi memang dia dulu yang menyuruhku mendekati Amira agar bisa meracuninya..." kata Kartika.


"Tapi aku juga terpaksa... karena dia mengancamku Sam..." sambungnya dengan wajah memelas.


Ia berharap tuan Sam menjadi iba padanya dan mau melepaskannya. Namun yang diharapkannya sungguh jauh diluar dugaannya.


"Bereskan mereka... aku tidak mau suatu hari nanti mereka kembali menyakiti istriku dan juga keluargaku!" kata tuan Sam dingin lalu melangkah meninggalkan ruangan itu.


Mendengar perkataan tuan Sam, Kartika langsung menjerit histeris meminta pengampunan. Ia tak mau hidupnya berakhir di tempat itu. Begitu juga dengan kedua preman sewaan Kartika. Dave memberikan isyarat pada anak buahnya untuk melakukan perintah tuan Sam lalu mengikuti langkah sahabatnya itu. Begitu juga dengan Raja. Tak lama terdengar letusan senjata beberapa kali diiringi teriakan ketiga orang yang menjalani eksekusi yang meregang nyawanya.


"Maafkan aku Meyaa... aku sudah menjadi seorang pembunuh..." gumam tuan Sam saat duduk terpekur didalam mobil.


"Apa yang kau lakukan sudah tepat Sam..." ucap Raja sambil menepuk pundak tuan Sam.


"Raja benar Sam... kau tidak perlu terlalu merasa bersalah karena mereka bukan orang baik..." sambung Dave yang mengerti kegundahan tuan Sam.


"Lebih baik kita kembali ke rumah sakit sebelum Amira bangun dan menyadari jika kau tidak berada disampingnya..." kata Raja mengalihkan perhatian tuan Sam.


Tuan Sam pun mengangguk. Dave pun memerintahkan sopirnya untuk menjalannkan mobilnya menuju ke rumah sakit. Sementara anak buah Dave tengah menyiapkan lubang untuk mengubur ketiga mayat yang baru saja mereka bersihkan. Meski membunuh anak buah Dave masih menghargai korbannya dengan menyiapkan pemakaman yang cukup layak meski mereka dikubur di tengah hutan.


Sesampainya di depan rumah sakit tuan Sam turun sendirian. Ia sengaja menyuruh Dave dan Raja untuk kembali ke tempat tinggalnya untuk beristirahat sekaligus memberitahukan kabar Amira pada nyonya Sarah dan yang lainnya di sana. Saat ini tuan Sam ingin menghabiskan waktunya berdua menemani Amira. Sesampainya di ruang perawatan Amira ia pun segera masuk. Hatinya langsung merasa lega saat melihat Amira masih nyenyak dalam tidurnya. Perlahan ia menarik kursi yang ada di samping brankar Amira dan duduk diatasnya. Kedua tangannya menggenggam sebelah tangan bertumpu pada pinggir brankar. Perlahan dikecupnya tangan Amira dan mendekatkannya ke pipinya.


"Maafkan aku Meyaa... malam ini aku menjadi orang yang sangat kejam dan tanpa ampun..." gumamnya lirih.


Setetes air mata mengalir tak terbendung dari kedua matanya. Bukan untuk menangisi orang-orang yang telah menyakiti istrinya itu tapi karena malam ini untuk pertama kalinya ia mengotori tangannya dengan membunuh tiga nyawa sekaligus. Meski bukan dia sendiri yang melakukannya tapi dengan memerintahkannya saja pun ia sudah pasti ikut menanggung dosanya.


"Db... kau menangis?" tanya Amira tiba-tiba.


"Kau sudah terbangun Meyaa?" bukannya menjawab tuan Sam malah balik bertanya.


"Heum..." sahut Amira sambil mengangguk.


"Kenapa kau menangis B?" tanya Amira lagi.


"Aku hanya teringat saat kau tadi kubawa kemari... sungguh saat itu aku sangat takut kehilanganmu..." terang tuan Sam sedikit berbohong.


"Tapi seperti yang kau lihat... sekarang aku baik-baik saja kan?" ucap Amira sambil tersenyum.


Tuan Sam mengangguk dan ikut tersenyum.


"Db... tidurlah bersamaku..." ucap Amira sambil menggeser tubuhnya ke samping agar ada ruang bagi suaminya itu.


Tanpa berfikir lagi tuan Sam langsung menuruti permintaan Amira. Dan beginilah sekarang... keduanya kini sudah tidur berdampingan dengan Amira menyusup di dada tuan Sam.


"Aku merindukanmu Db..." bisik Amira.


"Aku juga Meyaa... jangan pernah lagi kau membuatku khawatir atau pun pergi dari sisiku lagi..." balas tuan Sam sambil mengecup puncak kepala Amira.


Tak lama keduanya pun tertidur dengan saling berpelukan.