BODYGUARD DADAKAN

BODYGUARD DADAKAN
Rancangan Masa Depan


Devan tersenyum bahagia saat melihat Ara berani membela dirinya di depan keluarga gadis itu. Apa lagi setelah ia dulu pernah melakukan kesalahan terhadap Anna, pembelaan Ara sangat berarti baginya. Tuan Sam menatap putri bungsunya itu dengan intens. Terlihat Ara yang begitu percaya diri membela Devan yang sudah berubah. Sebenarnya tuan Bram juga sudah mengetahui perubahan Devan selama ini. Sebab selama lebih dari satu tahun ini Devan sudah tidak lagi terlibat dengan para wanita. Bahkan ia juga mulai terjun ke dunia bisnis selain menekuni dunia akting yang sudah mengangkat namanya. Bisa dilihat jika pria itu tengah merancang masa depannya kelak. Siapa sangka jika semua itu Devan lakukan untuk bisa bersama Ara, putrinya.


"Jadi kalian sudah benar-benar serius" tanya tuan Bram untuk meyakinkan dirinya.


"Iya..." jawab Ara dan Devan bersamaan.


Tuan Bram menghela nafasnya pelan. Ia tahu jika ia tidak boleh menghakimi seseorang hanya dari masa lalunya saja. Kejadian saat dirinya dengan nyonya Sarah dulu, juga saat Anna yang memilih Raja membuat tuan Bram harus bersikap bijak. Ia memandang ke arah istrinya seolah bertanya. Nyonya Sarah yang melihat itu pun mengangguk pelan memberikan kode pada suaminya itu.


"Baiklah... jika kalian berdua sudah sama-sama yakin dan serius... maka kami akan menyetujuinya" ucapnya tegas.


Ucapan tuan Bram tentu saja membuat Ara dan Devan merasa lega, begitu juga dengan kedua orangtua Devan. Setelah itu Ara menatap sang kakak Anna. Gadis itu seolah juga meminta izin dari sang kakak. Anna yang menyadari itu pun langsung tersenyum pada sang adik.


"Kakak juga merestui kalian, Ara..." ucapnya lembut.


Ara tidak dapat menahan rasa haru dan bahagianya ia pun langsung memeluk kedua orangtuanya dan kakaknya secara bergantian. Dan saat itu juga dihadapan kedua keluarga, Devan memasangkan cincin di jari Ara sebagai simbol pertunangan mereka. Setelah Devan dan kedua orangtuanya pulang, tuan Bram dan keluarganya pun pergi ke rumah tuan Sam untuk memberikan kejutan ulang tahun pada Sadira. Sementara itu di dalam kamarnya Sadira sudah tertidur pulas. Malam ini entah kenapa setelah makan malam ia jadi sangat mengantuk dan akhirnya ia pun tidur lebih awal setelah sebelumnya ia mengerjakan sholat isya'.


Tepat jam 12 malam, ponsel Sadira berbunyi beberapa kali. Dengan masih sedikit mengantuk Sadira pun membuka matanya perlahan karena terganggu dengan suara ponselnya itu.


"Halo, assalamualaikum?" tanyanya dengan suara serak khas bangun tidur.


"Waalaikum salam... happy birthday sayang..." terdengar suara Bara diseberang sana.


"Kak Bara..." Sadira terkejut tak menyangka jika kekasihnya itu mengucapkan selamat ulang tahun padanya tepat di jam 12 malam.


"Terima kasih..." ucapnya tulus.


"Sama-sama sayang... maaf aku hanya bisa mengucapkan melalui ponsel..."


"Ga pa-pa kak... aku senang kok kakak orang pertama yang mengucapkan selamat ulang tahun padaku..." sahut Sadira terharu.


"Besok kita merayakannya berdua ya... sepulang sekolah..." ajak Bara.


Belum juga Sadira menjawab pertanyaan Bara tiba-tiba pintu kamarnya diketuk dari luar, terdengar suara Amira yang memanggilnya. Sadira pun langsung mengakhiri percakapannya dengan Bara karena takut ketahuan sang bunda.


"Ra... buka pintunya sayang..."


"I... iya bunda..." sahut Sadira setelah meletakkan ponselnya di atas nakas.


Sadira pun lalu membukakan pintu kamarnya... dan alangkah terkejutnya ia saat melihat seluruh keluarganya sudah berada di depan kamar. Terlihat kedua kakak kembarnya membawa sebuah kue tart bertuliskan selamat ulang tahun untuknya.


"Selamat ulang tahun Dira!" seru semuanya saat melihat Sadira membuka pintu kamarnya.


Sadira pun tampak terkejut dan bahagia dengan kejutan yang diberikan oleh keluarganya saat itu. Apa lagi tadi Bara juga sudah memberinya selamat terlebih dahulu. Saat ini kebahagiaan yang dirasakan oleh gadis yang baru saja menginjak usia 16 tahun itu berlipat ganda.


"Terima kasih ayah... bunda..." ucap Sadira dengan mata berkaca-kaca sambil memeluk kedua orangtuanya erat.


"Hem... hanya ayah sama bunda ucapan terima kasihnya nih?" celetuk Samir yang membuat Sadira langsung memeluk kedua kakak kembarnya itu secara bergantian sambil mengucapkan terima kasihnya.


"Sudah-sudah... lebih baik kita ke bawah dan memakan kuenya..." ucap tuan Sam.


Mereka pun berpindah ke ruang makan di lantai bawah. Lagi-lagi Sadira dibuat terkejut karena di sana ia juga melihat keluarga tuan Bram dan juga om Rajanya.


"Surprise!" seru mereka bersamaan.


Bahkan Ara dan Adit memainkan confetti yang menambah seru suasana. Untung saja rumah tuan Sam luas begitu juga dengan halaman samping, depan dan belakangnya. Sehingga suasana yang gaduh akibat suara confetti tidak mengganggu para tetangga. Karena hari masih larut, setelah memotong kue dan mencicipinya mereka pun segera kembali tidur agar besok mereka tidak kesiangan.


Pagi hari saat sarapan, tuan Bram memberikan pengumuman jika semalam Ara telah dilamar oleh Devan. Tuan Sam dan keluarganya pun terkejut, kecuali Sadira. Tuan Bram pun menjelaskan jika selama setahun terakhir ini Ara telah menjalin hubungan dengan Devan tanpa diketahui oleh siapa pun. Dan semalam Devan datang ke rumah tuan Bram dengan membawa kedua orangtuanya untuk melamar Ara. Belajar dari kejadian Anna dan Raja, tuan Bram dan nyonya Sarah pun akhirnya memberikan restunya. Tuan Bram juga mengatakan jika ia juga melihat perubahan sikap Devan yang serius menata masa depannya dan tidak lagi main-main.


Mendengar pernyataan tuan Bram, tuan Sam sebagai paman Ara pun setuju dan memberikan restunya. Hari ini benar-benar merupakan hari yang sangat membahagiakan bagi Ara dan juga Sadira. Keduanya saling berpelukan erat saat keduanya berada di dalam mobil yang akan mengantarkan ke kampus Ara dan sekolah Sadira. Keduanya memang meminta untuk bisa berangkat bersama meski tujuan keduanya berbeda.


"Akhirnya semua berakhir dengan baik-baik saja ya kan kak..." ucap Sadira saat keduanya telah mengurai pelukan.


"Iya... alhamdulillah..." sahut Ara sambil tersenyum.


Masih dengan senyuman yang mengembang, Ara pun menganggukkan kepalanya. Keduanya pun berceloteh riang selama perjalanan menuju sekolah Sadira. Sesampainya di sekolah, Sadira langsung melihat Bara yang sudah berdiri di depan kelasnya. Pemuda itu langsung tersenyum saat melihat kedatangan Sadira.


"Pagi Ra..." sapanya.


"Pagi juga kak..."


"Ini untuk kamu..." ucap Bara sambil memberikan sebuah kotak pada Sadira.


"Terima kasih kak..." sahut Sadira bahagia.


Ia pun mengajak Bara untuk duduk di dalam kelas yang masih sepi. Perlahan Sadira membuka kotak pemberian Bara. Saat melihat isinya gadis itu merasa sangat bahagia. Meski hanya sebuah jepit rambut yang berbentuk bintang dan terbuat dari bahan emas putih namun Sadira bahagia karena itu pemberian dari Bara. Bara pun mengambil jepit rambut itu dari dalam kotak dan memasangkannya di rambut Sadira. Ia memandang wajah kekasihnya itu dan tersenyum puas.


"Cantik..." ucapnya yang membuat Sadira tersipu malu.


"Nanti pulang sekolah kita pergi bersama ya..." ajak Bara mengulang permintaannya semalam.


Sadira pun mengangguk menyetujui permintaan Bara. Pemuda itu pun langsung tersenyum senang dan menggenggam tangan kekasihnya itu erat. Saat itulah terdengar suara langkah kaki mendekat dan keduanya pun langsung melepaskan tautan tangan mereka. Ternyata itu Hana yang sengaja berangkat pagi.


"Dira... selamat ulang tahun ya..." ucap gadis itu langsung memeluk tubuh sahabatnya itu.


"Makasih Han..." sahut Sadira tersenyum senang.


"Hemm... ini dari aku Ra..." ucap Hana sambil memberikan kadonya pada Sadira.


Sadira pun tersenyum dan mengucapkan terima kasih pada sahabatnya itu. Tak lama teman-teman sekelas mereka pun mulai berdatangan dan Bara pun segera pamit untuk ke kelasnya. Sesuai janjinya, siang itu Sadira pulang dengan Bara. Dengan pertolongan Hana ia pun bisa membuat alasan jika ia sedang bersama gadis itu untuk membeli buku berdua. Dengan memanfaatkan waktu yang singkat karena sore harinya keluarga Sadira akan merayakan ulang tahun gadis itu di sebuah restoran. Mereka juga akan mengundang kedua sahabat gadis itu Ayana dan Hana.


Sahir dan Samir yang memberikan ide itu meski mereka telah memberikan Sadira kejutan tengah malam. Tentu saja hal ini agar mereka bisa bertemu dengan kedua sahabat adik bungsunya itu setelah kedua gadis itu memutuskan hubungan mereka. Dan kali ini keduanya merencanakan sesuatu agar bisa kembali pada kekasih mereka masing-masing. Saat bel pulang sekolah berbunyi, Sadira langsung pergi bersama Hana ke toko buku. Di sana Bara telah menunggunya. Setelahnya barulah keduanya pergi berdua, sementara Hana kembali ke rumahnya. Satu jam... ya hanya satu jam waktu yang dimiliki oleh keduanya untuk menghabiskan waktu bersama. Dan kali ini Bara membawa Sadira ke sebuah tempat spesial untuk merayakan ulang tahun gadis itu berdua.


Setelah 15 menit berkendara dengan sepedaotir Bara, keduanya pun sampai di danau tempat keduanya pertama kali berciuman. Pemuda itu ternyata telah menyiapkan piknik kecil untuk mereka berdua. Sebab dari dalam bagasi jok motornya ia mengeluarkan alas kain dan sekeranjang makanan dan minuman untuk mereka berdua. Meski hanya sandwich dan minuman ringan tapi itu sudah membuat Sadira terharu. Sadira pun membantu Bara menggelar kain untuk alas duduk keduanya di tepi danau. Ia juga ikut mengeluarkan dan menata makanan dan minuman yang dibawa Bara dari dalam keranjang. Setelah itu keduanya duduk berdampingan sambil memakan sandwich berdua. Sesekali mereka mengobrol dan minum minuman ringan.


Tanpa mereka sadari jika sedari tadi ada seseorang yang tengah memperhatikan keduanya dengan amarah. Kedua telapak tangan orang itu mengepal dengan erat, wajahnya pun memerah dan urat-urat diwajahnya tampak menonjol jelas menandakan jika orang itu tengah menahan murkanya. Tidak tahan melihat kemesraan Bara dan Sadira, orang itu pun akhirnya memutuskan untuk meninggalkan tempat itu. Dengan menggeber mobilnya ia segera pergi ke apartemennya dan langsung mengamuk disana. Bahkan kado untuk Sadira yang sudah ia siapkan sebelumnya pun ia banting hingga kardusnya penyok.


"Kenapa kamu mengkhianatiku Sadira? kenapa kamu malah memiliki sifat seperti papaku... sedang wajah dan tingkahmu mirip dengan mamaku? apa salahku Ra?" jeritnya dengan penuh kesakitan.


Sesaat ia memandangi foto Sadira yang terpampang di dinding kamarnya. Perlahan ia pun mengelus bibir Sadira pada foto itu perlahan.


"Kamu pasti tidak bermaksud melakukannya kan?ka... kamu hanya bersikap baik saja pada pemuda brengsek itu, iya kan? katakan Ra... kamu hanya akan menerimaku sebagai pendampingku bukan orang lain! benarkan?" ucapnya dengan wajah frustasi.


Wajah Sadira yang terlihat tersenyum pada foto itu membuat Ricko semakin gila. Ia tidak tahan mengingat tadi senyuman gadis itu ditujukan pada Bara dan bukan untuknya. Tiba-tiba saja pemuda itu menggelengkan kepalanya keras dan cepat menghapus air mata yang tadi sempat jatuh di kedua pipinya.


"Tidak-tidak... aku tidak akan begitu saja marah padamu sayang, kamu hanya gadis yang polos... jadi aku akan memaafkanmu kali ini..." ucapnya lembut lalu ia pun segera mengambil kado untuk Sadira tadi yang sempat penyok dan tergeletak di atas lantai.


Perlahan ia berusaha untuk memperbaiki kardus kado itu agar terlihat rapi kembali. Kemudian ia pun mencium lembut kado tersebut dan mengelusnya dengan penuh kasih sayang.


"Untung saja hanya penyok ujungnya saja dan tidak merusak isinya..." ujarnya lega.


Ia pun kembali ceria dan berencana untuk memberikan kado pada gadis itu secara langsung. Ia juga sudah tahu jika keluarga Sadira akan merayakan ulang tahun gadis itu di restoran. Sebab saat ia berpura-pura ingin mengajak Samir keluar, Samir mengatakan jika ia tidak bisa memenuhi permintaannya karena ada acara keluarga. Dan saat ia mengatakan acara apa? dengan polosnya pemuda itu mengatakan jika keluarganya akan mengadakan pesta ulang tahun untuk adik bungsunya itu. Ricko bahkan berhasil mengorek keterangan dari Samir dimana acara itu dilaksanakan.


Maka ia pun berencana untuk mendatangi acara itu agar bisa memberikan kado darinya untuk Sadira secara langsung. Senyuman pun terbit dari bibir Ricko saat membayangkan ia bisa menyerahkan kado darinya secara langsung pada Sadira. Senyuman lembut dari bibir gadis itu sudah memenuhi khayalannya ketika membayangkan hal itu. Sementara Sadira dan Bara, setelah menghabiskan sandwich mereka dan bercengkrama sejenak pun memutuskan untuk pulang. Dengan berboncengan keduanya langsung menuju ke rumah Sadira. Untuk hari ini keduanya kembali merasakan kedekatan sebagai mana sepasang kekasih. Sadira memeluk erat pinggang Bara saat mereka berkendara. Sementara Bara menggenggam tangan Sadira yang melingkar di perutnya dengan tangan kirinya. Senyuman pun merekah dibibir keduanya.


Seperti biasa, Bara menghentikan motornya dengan jarak beberapa rumah dari rumah Sadira. Setelah merapikan rambut Sadira yang sedikit berantakan setelah melepas helmnya, Bara pun kembali menggenggam tangan kekasihnya itu.


"Satu tahun lagi Ra... setelah itu aku akan mengahadap pada kedua orangtuamu dan kakak kembarmu untuk memintamu menjadi kekasihku..." ucapnya tegas.


"Kakak serius?"


"Tentu saja sayang... dan setelah kamu lulus sekolah aku akan mengajak kedua orangtuaku untuk melamarmu... dan kita juga akan segera menikah setelahnya... jadi kamu harus bersabar jika aku akan sibuk setelah ini... aku ingin mempersiapkan masa depan kita berdua..." kata Bara serius.


Sadira terlihat terkejut dengan semua rencana kekasihnya itu. Bagaimana tidak... diusianya yang masih sangat muda dia telah berfikir matang untuk merancang masa depan mereka berdua. Sungguh sangat sulit untuk menemukan pemuda seperti Bara yang sudah merancang masa depannya dengan serius.