BODYGUARD DADAKAN

BODYGUARD DADAKAN
Mirip


Sepanjang jalan menuju ke rumah Amira, Jimmy masih berfikir tentang Anna. Bocah yang masih berusia 8 tahun itu tampak sudah berfikiran dewasa. Jimmy memang tak pernah tahu jika Anna pernah mengalami peristiwa mengerikan dan harus ikut Amira dalam pelarian sehingga gadis kecil itu sudah dapat berfikir lebih dewasa dari usianya sebenarnya.


Saat Jimmy sampai di rumah tuan Sam tampak pria itu tengah bercengkrama dengan keluarga kecilnya. Dua bayi kembar yang terlihat montok tampak terlentang diatas karpet berbulu tebal di tengah ruang keluarga. Sedang tuan Sam tampak menggoda keduanya dengan memainkan mimik wajahnya. Kedua bayi itu tampak mulai mengerti dan menggapai-gapaikan tangannya untuk menyentuh wajah tuan Sam. Sedang Amira yang membukakan pintu tampak senang dengan kedatangan Jimmy.


"Ayo kak masuk..." ajak Amira.


"Wah ... ternyata suamimu itu cukup hangat jika bersama kalian..." ucap Jimmy.


"Iya... dia hanya akan menjadi es jika diluaran sana" sahut Amira.


Tuan Sam yang menyadari kedatangan Jimmy pun segera menoleh.


"Kau sudah datang?" tanyanya pada Jimmy.


"Iya..."


"Ayo bermain sebentar dengan kedua keponakanmu" ajak tuan Sam.


"Baiklah... tapi biarkan aku cuci tangan dulu... jika tidak..." ucap Jimmy menggantung sambil melirik ke arah Amira.


Amira yang merasa jika kakaknya itu sedang membicarakannya langsung melotot pada Jimmy.


"Itu kan juga untuk kebaikan si kembar biar ga tertular kuman dari luar" cebiknya sambil berlalu untuk menyiapkan minuman untuk Jimmy.


"Kau lihat kan? dia langsung berubah menjadi macan jika sudah berhubungan dengan si kembar" ujar Jimmy sambil tersenyum dan bergegas untuk membersihkan tangannya.


"Itu kau sudah tahu sejak dulu kan?" kata tuan Sam sambil kembali menggoda kedua putranya.


Setelah selesai Jimmy langsung bergabung dengan tuan Sam. Kedua bayi kembar Amira yang terlihat seperti duplikat ayahnya itu tampak senang dengan kehadiran Jimmy.


"Saat aku kembali ke New York aku pasti akan merindukan mereka" ucap Jimmy sambil menowel pipi Sahir yang gembil.


"Karena itu cepatlah kembali" sahut tuan Sam yang sedang menggendong Samir.


"Tentu ... tapi siapa yang tahu pasti... urusanku disana sangat rumit" terang Jimmy.


"Ya yang terpenting masalah Vallery sudah hampir selesai ... dia tidak akan bisa lagi mengganggu kami lagi. Terima kasih atas semua bantuanmu..." kata tuan Sam.


"Sama-sama... lagi pula dia kemari karena aku... sudah tanggung jawabku untuk membereskannya"


"Benar juga... karena itu kau harus segera membereskan kakaknya juga agar nanti saat kau telah menemukan tambatan hatimu kau tidak perlu khawatir lagi"


"Kau benar..." sahut Jimmy.


"Kakak ... kau makan malam disini kan?" tanya Amira.


"Baiklah..."


Mereka pun makan malam bersama setelah Amira menidurkan kedua bayinya. Sebelum pulang Jimmy kembali menengok si kembar di kamar mereka. Tampak kedua bayi itu sudah tertidur pulas di dalam boxnya.


"Kalian memang mirip sekali dengan ayah kalian..." gumam Jimmy saat menatap wajah si kembar.


"Tapi tingkah mereka sepertinya akan menurun dari Amira" ucap tuan Sam yang sudah berdiri di samping Jimmy.


"Dari mana kau tahu? bukankah mereka masih bayi?" tanya Jimmy penasaran.


"Ya ... mereka kan anak-anakku... jadi aku tahu sifat keduanya" ujar tuan Sam sambil tersenyum.


"Ya...ya...ya..." sahut Jimmy sambil memutar bola matanya jengah.


Setelah berpamitan Jimmy pun langsung pulang. Sedang di London seorang wanita tengah mengamuk dengan memecahkan semua barang yang ada di dalam apartementnya.


"Perempuan s***n! memangnya kamu punya nyawa berapa sampai selalu saja selamat!" teriaknya sambil terus melempar apa saja yang ada di hadapannya.


Tiba-tiba terdengar suara ponselnya berdering. Tampak seseorang memberinya kabar jika orang yang bisa menolongnya sudah berada di London. Dengan cepat ia menyuruh orang itu untuk mempertemukannya dengan orang yang digadang-gadang bisa menolongnya keluar dari masalah yang membelitnya.


"Kau cepat buatkan aku janji untuk segera bertemu dengan tuan Tylor mengerti?" titah Keysha.


Setelah mendapatkan informasi tentang Amira membuat Keysha tak sabar untuk bisa segera keluar dari London. Ia merasa sudah cukup berdiam diri melihat kebahagiaan Amira dan tuan Sam. Kabar tentang penyerangan Amira semula membuatnya bahagia. Namun kenyataan bahwa Amira selamat dan berhasil melahirkan dua bayi kembar kembali membuatnya meradang.


"Apa aku harus menunggu sampai karatan agar bisa memilikimu Sam?" teriaknya sambil menatap foto tuan Sam yang sengaja ia pasang di dalam kamarnya.


Cinta yang dirasakan Keysha kini sudah berubah menjadi obsesi. Apa lagi tuan Sam selalu menolaknya dan malah memilih gadis lain sebagai pendampingnya.


Di tempat lain seorang pria berpenampilan rapi tengah berbincang dengan rekannya.


"Bagaimana bisnismu sekarang Greg? apa semua berjalan lancar?"


"Ya... semuanya lancar berkat bantuanmu Dave" sahut Greg.


"Oh iya ... tadi aku menerima pesan dari kolegaku bahwa ada yang ingin bertemu denganmu" sambungnya.


"Siapa?" tanya Dave penasaran sebab tak biasanya temannya yang satu itu mau menjadi penghubung.


"Namanya Keysha... dia putri pemilik hoter Forstar" sahut Greg.


"Keysha?"


Greg mengangguk membenarkan.


"Dia itu nona pembuat masalah... usaha hotel kedua orang tuanya nyaris bangkrut hingga akhirnya ada yang mau membeli saham mereka" terang Greg.


"Lalu kenapa kau mau mengenalkannnya padaku?"


"Dia hendak menjual sisa saham yang dimilikinya Dave... dan hotel itu kini sudah kembali stabil bahkan maju jadi tidak ada salahnya jika kau mau berinvestasi di sana" terang Greg.


"Kau bilang hotel itu sudah kembali maju... lalu kenapa ia mau menjual sahamnya?"


"Aku sendiri tidak tahu... sebab aku hanya bertemu dengan asistennya" ujar Greg.


"Baiklah akan aku fikirkan dulu... nanti akan aku kabari" sahut Dave.


Mereka pun melanjutkan perbincangan mereka membahas masalah lain. Setelah cukup lama berbincang akhirnya mereka pun berpisah. Saat Dave telah berada di dalam mobilnya ia langsung menghubungi asistenya untuk menyelidiki semua yang berhubungan dengan Keysha dan usaha hotelnya. Setelah itu barulah ia menyuruh sopirnya untuk kembali ke kediamannya.


Sementara Jimmy tengah mempersiapkan kepulangannya ke New York. Dia bertekad untuk mengundurkan diri dari dunia hitam dan ia pun siap menanggung segala resikonya. Karena ia juga sudah siap jika harus masuk ke dalam jeruji besi untuk membayar semua perbuatannya di masa lalu. Namun sebelumnya ia sudah memberikan pilihan pada semua anak buahnya untuk mengikuti jejaknya atau tidak.


Ia juga tidak akan ikut campur dengan mereka yang masih bergelut di dunia hitam. Ia hanya akan membayar dosanya tanpa menyeret yang lain. Heru asisten sekaligus tangan kanannya bahkan berkata jika ia akan ikut kemana pun Jimmy pergi. Meski harus ikut ke penjara sekali pun.


Saat berada di bandara Jimmy dan Heru diantar oleh tuan Sam dan Amira. Tampak sekali jika Amira sangat menhawatirkan kakak angkatnya itu. Ia tahu tak mudah bagi seseorang untuk keluar dari dunia yang selama ini digeluti oleh Jimmy. Bahkan mungkin saja nyawa Jimmy menjadi taruhannya akibat keputusannya itu.


"Kau tidak usah khawatir... aku berjanji akan kembali seberapa lama pun waktu yang dibutuhkan" ucap Jimmy pada Amira.


"Kakak jaga diri di sana ya" ucap Amira dengan suara bergetar.


"Iya... kakak kan juga ingin melihat keponakan kakak tumbuh besar. Ingin melihat apa benar tingkah mereka mirip denganmu atau tidak" ujar Jimmy sambil mengelus pipi si kembar yang memang dibawa oleh Amira dan tuan Sam.


Kedua bayi itu tampak tersenyum dan menggerak-gerakkan tangan dan kaki mereka seakan senang berada di tempat ramai.


"Sudah kalian cepat pulang ... kasihan si kembar jika berlama-lama di tempat ramai seperti ini" sambung Jimmy.


Akhirnya tuan Sam dan Amira pun pamit sambil membawa putra kembar mereka dalam gendongan masing-masing. Setelah keduanya pergi Jimmy pun langsung menuju ke pesawatnya. Jimmy mendesah perlahan saat roda pesawat mulai berjalan meninggalkan landasan.


"Selamat tinggal Amira... semoga kita bisa cepat bertemu lagi Upik Bagak..." gumamnya.


Setelah mengantarkan Jimmy ke bandara tuan Sam dan Amira langsung pulang ke rumah. Tuan Sam sengaja tidak berangkat ke kantor karena ingin menghabiskan waktu bersama keluarga kecilnya. Sesampainya di rumah tuan Sam langsung bermain dengan kedua buah hatinya itu. Tampak sekali jika dirinya sangat senang jika berada bersama Sahir dan Samir. Amira pun tak dapat melarang suaminya itu untuk menghabiskan waktu dengan kedua bayi mereka.


Sore hari saat Amira hendak memandikan kedua bayinya ia terkejut saat melihat tuan Sam dan kedua putra mereka tertidur dengan posisi yang sama. Sungguh selain wajah ketiganya yang sangat mirip, tingkah ketiganya saat tidur pun sama persis. Amira pun jadi gemas dan langsung mengabadikan momen tersebut dengan kamera ponselnya.


Sejak kelahiran Sahir dan Samir, Amira memiliki hobi lain yakni memotret setiap momen yang menurutnya indah dan lucu tentang Sahir dan Samir. Setelah mengabadikan momen tadi ke dalam ponselnya ia pun melanjutkan niatnya untuk membangunkan ketiganya.


Setelah sedikit drama karena Samir yang susah untuk dibangunkan serta tuan Sam yang akhirnya ikut mandi bersama kedua bayi akibat badannya yang ikut basah kuyup akibat berusaha memandikan Sahir yang aktif. Sedang Samir tampak lebih tenang menikmati saat dimandikan oleh Amira.


Selesai memandikan dan memakaikan pakaian pada kedua putranya barulah Amira bisa tenang membersihkan dirinya. Sedang si kembar sudah rapi dan berada dalam stroller berjalan-jalan di sekitar komplek bersama tuan Sam. Sontak saja hal itu langsung membuat perhatian orang-orang yang melihat ketiganya menjadi gemas. Pasalnya tuan Sam yang terlihat sangat tampan dengan pakaian casualnya begitu pula dengan dengan si kembar. Siapa yang bisa menolak melihat Hot Daddy bersama dua putra kembarnya yang menggemaskan.


Saat Amira selesai membersihkan diri tampak kebingungan tak melihat suami juga kedua putra kembarnya di dalam rumah. Para Artnya pun mengatakan jika tuan mereka sedang keluar bersama si kembar. Sontak hal ini membuat Amira sedikit geram. Pasalnya ia sudah dapat menduga apa yang akan terjadi pada suami dan juga putra mereka. Dan benar saja saat Amira menyusul ketiganya jalan komplek sudah ramai mirip akan ada karnaval lewat. Dan Amira sudah bisa menduga siapa yang menjadi pusat perhatiannya.


Saat tuan Sam melihat Amira yang telah menunggunya ia hanya tersenyum melihat wajah istrinya yang terlihat menahan emosi.


"Db... kau dari mana saja? apa kau tidak lihat kalian sudah seperti artis saja... kasihan si kembar banyak kuman yang mengelilingi mereka" omel Amira.


"Mana ada Meyaa... sedari tadi aku selalu mengawasi keduanya jadi tak ada yang bisa sembarangan menyentuh mereka" sahut tuan Sam enteng.


Amira hanya bisa mendengus kesal dengan sikap cuek suaminya itu.