
"Mau apa kau kemari?" kata Siska dengan menahan amarahnya.
"Tenang saja... aku kemari hanya untuk memberimu solusi atas permasalahanmu..." sahut orang itu sambil tersenyum.
Siska mengerutkan keningnya. Tidak... dia tidak bisa mempercayai orang yang ada dihadapannya itu.
"Kamu tidak percaya?" tanya orang itu sambil mendekat ke arah Siska.
"Kau tahu... kau beruntung kedua anakmu itu tidak melihat keadaanmu saat ini... jika tidak maka bukan hanya Deni, tapi juga Ayana anak kesayanganmu itu pun akan langsung membencimu!" sambungnya dengan yakin.
Orang itu tidak tahu saja jika kedua anak Siska sudah melihat semuanya dan kini masih berada disana menyaksikan segalanya.
"Jadi... lebih baik kau mengikuti saranku... maka kedua anakmu itu tidak akan pernah tahu kelakuan busuk mamanya selamanya..." ujarnya lagi saat Siska tak juga mau meresponnya.
"Tapi aku tidak bersalah! dan kau tahu itu!" seru Siska.
"Tapi apa kau bisa membuktikan jika kau tidak bersalah? tidak bukan? lagi pula siapa yang mau percaya dengan seorang mantan narapidana..." sahut orang itu sambil tersenyum sinis.
Tiba-tiba orang itu mengeluarkan sesuatu dari dalam kantong celananya. Sebuah botol kecil...
"Apa itu?" tanya Siska sambil memandang orang dihadapannya tajam.
"Racun... minumlah! jadi kedua anakmu itu tidak akan pernah tahu jika mamanya seorang j*l**g" ungkap orang itu enteng.
"Cuih!" Siska langsung meludahi orang yang ada di depannya itu sebagai bentuk jawaban.
Perlahan orang itu mengusap wajahnya yang terkena ludah Siska. Wajahnya langsung mengeras dan sorot matanya pun berubah semakin dingin.
"Perempuan keras kepala! kau sudah tidak ada jalan lain lagi mengerti? lagi pula dengan ini suamimu itu pasti akan sedikit memaafkanmu karena kau terbukti menyesal dan bertanggung jawab atas kesalahanmu" ucapnya sambil membuka botol kecil yang dibawanya.
Kemudian ia meraih dagu Siska dengan kasar dan membuka mulut Siska lalu ia pun berusaha memasukkan isi botol itu ke dalam mulut Siska dengan paksa. Siska berusaha keras untuk menutup mulutnya dengan rapat, tapi tenaganya kalah jauh dari orang itu karena saat ini ia tengah terluka. Ayana dan Deni yang berada di dalam lemari tampak syok dengan apa yang mereka lihat dihadapan mereka. Kedua bocah itu pun terpaku. Tak tahu harus berbuat apa... sementara Siska tampak terbatuk karena racun yang tertelan dalam mulutnya.
Tak lama orang itu pun melepaskan cengkramannya pada dagu Siska setelah memastikan jika Siska sudah menelan racun yang dibawanya. Orang itu tersenyum puas saat Siska mulai memegangi tenggorokannya dan wajahnya pun mulai berubah bertambah pucat.
"Tenang saja... rasa sakitnya tidak akan lama... dan sebentar lagi kau akan menemui orang yang telah membawamu masuk kemari sejak mula..." ujarnya sambil terkekeh ngeri.
Kemudian ia pun meletakkan selembar kertas di atas nakas dekat tempat tidur Siska.
"Anggap saja aku membantumu membuatkan surat perpisahan dengan kedua anakmu itu... jadi berterima kasihlah!" sambungnya lalu berbalik dan keluar dari dalam kamar Siska.
Setelah mendengar suara pintu kamar yang tertutup Ayana dan Deni menghambur keluar dari dalam lemari dan meraih tubuh Siska yang sudah mulai kejang. Mulut wanita itu pun bergetar dengan mata yang seperti menahan kesakitan yang sangat.
"A... nak... ma... ma... ha... rus... ku..at..." ucapnya terbata dengan nafas tersengal.
Mulutnya pun mulai mengeluarkan darah. Kedua anaknya tampak menangis tanpa mengeluarkan suara. Kini keduanya tahu jika di rumah mereka ada seorang pembunuh yang bisa saja juga sedang mengincar nyawa keduanya jika tahu bahwa mereka adalah saksi perbuatannya pada sang mama.
"Di... a... tas... sa... na... a..da... buk.. ti... ke... ja... ha... tan... nya..." terang Siska sambil menunjuk sebuah rak buku yang ada di sudut kamarnya.
Kedua anaknya itu tampak saling pandang tidak mengerti. Siska pun menunjuk ke sebuah penyangga buku yang sekilas terlihat biasa, namun saat diamati terlihat jika penyangga buku itu terdapat sebuah rongga. Dan disana tampak ada sebuah lensa kamera mini.
"Sim... pan... buk...ti... i... tu... un...tuk... ke... se...la... ma... tan... ka...li... an..." sambungnya dengan nafas semakin tersengal.
"Ja... ga... adik... mu... Ay..." pesan Siska sambil menggenggam tangan kedua anaknya itu dengan erat.
"Mama!"
Ayana dan Deni berteriak histeris saat melihat sang mama kembali memuntahkan darah dari mulutnya. Deni berlari keluar dari dalam kamar bermaksud untuk meminta pertolongan. Sementara Ayana tetap berada disamping sang mama mencoba membuatnya tetap tersadar.
"Mama... bertahanlah! Deni sedang meminta bantuan..." ucap Ayana sambil menggenggam tangan Siska erat.
"Ingat... ja... ngan... biar... kan... orang... itu... me... nang...!" Siska berusaha memberikan pesan terakhirnya pada Ayana.
Sementara Deni sudah berlari ke depan mencari satpam yang menjaga rumah untuk menolong sang mama. Satpam penjaga yang tidak mengetahui keributan di dalam rumah pun tampak terkejut dan bingung saat Deni meminta pertolongannya untuk membawa sang mama ke rumah sakit. Namun karena Deni terlihat panik dan ketakutan membuat satpam itu pun lalu mengikuti langkah Deni masuk ke dalam rumah. Saat itulah keduanya bertemu dengan bu Hasna yang baru saja keluar dari dalam kamarnya.
"Ada apa sayang?" tanyanya seolah tak tahu jika tadi sudah terjadi keributan di dalam rumahnya.
Tapi Deni tidak memperdulikannya dan langsung berlari ke kamar sang mama diikuti oleh satpam yang mengekor dibelakang bocah itu. Bu Hasna pun tampak mulai tertarik untuk tahu apa yang terjadi saat ia melihat cucunya itu berlari ke arah kamar Siska. Satpam yang bersama Deni tampak terkejut saat melihat nyonya mudanya tergeletak dipelukan Ayana.
"Permisi non... biar saya periksa..." kata satpam itu lalu memeriksa nafas Siska dan denyut nadi wanita itu.
Deg!
Alangkah terkejutnya saat sang satpam mengetahui jika nyawa wanita itu sudah tidak ada. Dari keadaan wanita itu yang tampak muntah darah, apa lagi juga banyak mengalami luka ditubuhnya membuat satpam itu pun merasa iba. Meski tidak bisa mengetahui penyebab pasti kematian Siska namun bisa ditebak jika wanita itu sangat menderita saat kematiannya.
"Tidak... mama!"
Seketika Ayana menjerit memanggil sang mama. Gadis itu pun memeluk jasad sang mama dengan erat. Sementara Deni tampak terdiam namun air matanya tampak mengalir dari kedua kelopak matanya. Bu Hasna pun tampak terkejut saat mendengar perkataan satpam itu. Wanita paruh baya itu menggelengkan kepalanya pelan.
"Tidak... tidak mungkin... dia tidak mungkin secepat itu mati!" serunya dengan wajah pias.
Dalam hatinya ia takut jika kematian Siska karena kekerasan yang sudah dilakukan oleh putranya tadi. Ya... dia syok bukan karena kematian Siska... tapi karena ia takut jika sang putra terseret dan masuk penjara. Meski ia memiliki harta dan kekuasaan tapi selama hidupnya ia tidak pernah berurusan dengan pihak kepolisian dan kematian Siska setelah tadi Rendra menyiksa wanita itu membuatnya takut.
Sedangkan Deni sudah mulai tersadar dari rasa terkejutnya. Bocah sepuluh tahun itu pun langsung ikut memeluk tubuh mamanya. Kedua anak itu pun saling bertangisan sambil memeluk jasad Siska. Pak satpam yang melihatnya pun tidak dapat menyembunyikan rasa harunya. Tak ada yang tahu jika keduanya bukan hanya syok atas kematian sang mama, tapi juga bagaimana mereka berdua melihat dengan jelas bagaimana wajah asli dari orang-orang yang ada di rumah mereka.
Di tempat lain...
"Kau benar-benar kejam Ren... aku fikir kau hanya akan membuat wanita itu malu dan bukannya malah membuat tubuhnya bonyok akibat ulahmu" ujar seorang pria sambil menghembuskan rokoknya.
"Kau fikir wanita itu akan mudah bertekuk lutut hanya dengan gertakan saja heh? dengan begini dia pasti tidak akan menyangka jika akulah yang telah menjebaknya" sahut Rendra tanpa rasa bersalah.
"Lalu apa Jihan tahu rencanamu itu?"
"Ya... tapi kau tahu kan, kalau dia itu berhati lembut... jadi dia sudah sempat melarangku tapi aku tidak menghiraukannya... sudah cukup dia bersabar selama 17 tahun ini dan hanya menjadi wanita bayangan... sudah saatnya dia menjadi ratu di rumahku setelah oma meninggal dan semua warisan itu akhirnya jatuh ke tanganku..." terang Rendra sambil membayangkan wajah kekasihnya yang lembut.
Rasa bersalahnya pada wanita itu sangat besar karena telah menikah dengan wanita lain karena ancaman sang oma. Apa lagi ia dan istrinya sampai memiliki dua orang anak. Dalam fikiran Rendra jika yang dilakukannya ini sudah tepat. Sebab selama ini ia selalu mencari cara agar bisa menceraikan Siska dengan mencari-cari kesalahan wanita itu namun tak pernah ditemuinya. Ia mengira jika Siska akan berselingkuh darinya jika ia membuat wanita itu tahu jika ia masih bersama kekasihnya. Tapi ternyata wanita itu cukup setia dan tidak pernah macam-macam. Sedang dia sendiri tidak bisa begitu saja menceraikan Siska tanpa ada kesalahan yang dilakukan oleh wanita itu.
Tiba-tiba ponsel Rendra berbunyi. Rendra yang melihat jika mamanya lah yang menghubunginya mau tidak mau harus mengangkatnya.
"Dia meninggal Ren... perempuan itu meninggal!" seru sang mama begitu ponselnya tersambung.
Rendra bahkan belum sempat mengucapkan sepatah kata pun pada sang mama.
"Ren... Siska meninggal!" seru mama Rendra lagi saat putranya tak juga merespon perkataannya.
Deg!
"Mati? wanita s**l itu sudah mati?" batin Rendra gamang.
Entah mengapa tubuhnya langsung merasa lemas saat mendengar jika wanita yang selama ini dibencinya itu mati.
"Kenapa?" tanya Rendra seperti orang bodoh.
"Mama ga tahu... mungkin kau terlalu keras menghukumnya..." kata bu Hasna dengan nada tak yakin.
Kedua orang itu sama-sama terdiam. Rendra dan bu Hasna larut dalam fikiran mereka masing-masing. Tiba-tiba Rendra teringat pada kedua anaknya.
"Apa Deni dan Aya sudah tahu?" tanyanya.
"Mereka yang menemukannya pertama kali Ren" terang bu Hasna.
Duarr!
Seketika tubuh Rendra lemas. Dua anaknya yang menemukan Siska tewas? jadi mereka pasti juga melihat luka-luka di tubuh wanita itu akibat perbuatannya. Apa mereka tahu jika itu perbuatannya? dan jika itu yang terjadi apakah mereka akan menganggapnya sebagai pembunuh Siska? batin Rendra kacau.
"Ren!" sentak bu Hasna yang membuat Rendra kembali tersadar.
"Aku akan pulang sekarang!" putusnya lalu ia pun mengakhiri panggilannya.
"Ada apa?" tanya Denis teman yang tadi bersamanya.
"Wanita meninggal..." ucap Rendra datar.
Kedua bola mata Denis langsung membola. Bagai mana tidak... tadi Rendra sudah memukuli wanita itu tanpa ampun... dan kini wanita itu meninggal? Denis menatap Rendra dengan pandangan yang tak bisa dijabarkan.
"Kau membunuhnya Ren!" desis Denis yang membuat Rendra terpaku di tempatnya.
"Kali ini kau sudah sangat keterlaluan... wanita itu sama sekali tidak melakukan kesalahan, dan kau seenaknya menghukumnya... padahal kau sendiri yang sudah memfitnahnya!" sambung Denis memandang Rendra kali ini dengan pandangan jijik.
"Aku salah... telah mendukungmu juga Jihan... kalian berdua sama sekali bukan manusia!" ucap Denis lalu meninggalkan Rendra sendirian.
Rendra tak bergeming dari tempatnya berdiri. Kata-kata Denis yang mengungkapkan kebenaran bahwa dia yang memfitnah dan melukai Siska hingga kini wanita itu tewas telah membuat pria itu tertohok. Dia yang selama ini menganggap Siska rendah karena mantan narapidana tapi pada kenyataanya dirinyalah yang selama ini tidak bermoral dan rendah. Berselingkuh... lalu memfitnah wanita itu... kemudian dengan seenaknya memberikan hukuman seolah dirinyalah yang menjadi korban. Sungguh dia benar-benar bukan manusia...
Tanpa ia sadari kakinya sudah melangkah dengan gontai menuju ke dalam mobilnya. Masih dalam keadaan gamang ia pun menyalakan mobilnya dan melajukannya menuju ke rumahnya.
Selamat tahun baru untuk semuanya... terima kasih sudah setia membaca karyaku selama ini...