ANAK ASUHKU

ANAK ASUHKU
Hari Sidang Skripsi (2)


Beberapa detik sebelum bibir mereka sempat bersentuhan, Jojo refleks menampar Kalingga.


PLAK!!!


"Aaww!!!" Kalingga mengeluh dan mengusap pipinya.


"Ya Tuhan, apa yang aku lakukan?" batin Jojo. Gadis itupun terkejut karena refleks tangannya.


"Kak, maaf. Aku gugup, tanganku refleks melayang," ucap Jojo salah tingkah. Kedua tangan gadis itu memegang wajah Kalingga dan mengusap bagian pipi yang baru saja ia tampar. Meski tidak terlalu keras, tamparan itu cukup membuat Kalingga terkejut.


Kalingga menarik napas panjang, ia sadar sikapnya cukup lancang. Mungkin ini adalah bagian dari peringatan jika tidak ada sentuhan sebelum pengesahan.


"Sakit?" tanya Jojo. Gadis itu merasa bersalah. Ia tidak terbiasa terlalu dekat dengan laki-laki dan selalu waspada terhadap setiap pergerakan laki-laki yang ingin menyentuhnya, hal itu seakan sudah menjadi kebiasaan tubuhnya agar menolak setiap sentuhan asing.


"Tidak, ini tidak sesakit saat kau mengabaikanku," jawab Kalingga sambil tersenyum. Tangan lembut yang kini mengusap wajahnya seakan menjadi obat dari segala rasa sakit.


"Maaf," lirih Jojo.


Setelah memastikan Kalingga baik-baik saja, Jojo masuk ke dapur dan mengambil salad buah untuk Kalingga sebagai permintaan maaf. Sambil belajar materi sidang hari ini, Kalingga menyuapi gadis itu dan menemaninya.


Perasaan Jojo menjadi tidak nyaman sejak tangannya tidak sengaja menampar Kalingga, gadis itu punya insting bertahan hidup yang kuat untuk mempertahankan dirinya. Karena menjadi mahasiswi cantik dengan predikat jomblo akut membuat banyak mahasiswa lain dari senior hingga juniornya yang sering sekali menggoda.


Setelah pukul sembilan, Jojo masuk ke dalam kamar dan bersiap. Ia memakai kemeja putih dan celana hitam rapi. Sebelum pergi, ia menelepon kedua orang tuanya dan meminta doa serta dukungan dari mereka. Setiap kali melangkah, Jojo selalu menginginkan restu kedua orang tuanya sebagai naungan.


"Kau siap?" tanya Kalingga. Laki-laki itu mengulurkan tangannya dan menggandeng Jojo keluar rumah.


Sepanjang jalan Jojo berdoa, semoga apa yang telah ia usahakan selama ini berjalan lancar. Sidang skripsi adalah tahap akhir yang paling ia nantikan, di sini semua kerja keras dan usahanya dalam menempuh pendidikan akan di pertaruhkan.


"Kau pasti bisa," ucap Kalingga sambil menggenggam tangan Jojo yang dingin. Gadis itu gelisah dan gugup.


Setelah mereka berdua sampai di kampus, Irene sudah menunggu Jojo di tempat parkir. Wanita itu melihat Jojo dan Kalingga keluar dari mobil, namun tidak langsung menghampiri mereka karena takut mengganggu.


"Pergilah, Kak. Aku akan menghubungimu setelah aku selesai," ucap Jojo.


"Bagaimana jika aku menunggu di sini?"


"Tidak, kau harus pergi ke kantor, Kak. Pekerjaanmu pasti menunggu." Jojo memaksanya.


"Kemarilah," lirih Kalingga sambil mendekatkan tubuh Jojo dan memeluk gadis itu. Laki-laki itu mengusap rambut Jojo dan berpesan agar selalu tenang dan berkonsentrasi.


"Untuk beberapa jam ke depan, tolong buang jauh-jauh aku dari pikiranmu. Tetap fokus dan tenang, Sayang."


"Terima kasih, Kak."


"Aku menyayangimu," bisik Kalingga sebelum melepas Jojo dari pelukannya. Gadis itu tersenyum malu-malu, ia melambaikan tangan saat mobil Kalingga merayap keluar dari halaman kampusnya.


Dari kejauhan, Irene tidak bisa menahan rasa gemasnya. Wanita itu melompat kecil sambil menutup mulutnya dengan tangan saat Jojo berlari ke arahnya.


Melihat pemandangan langka saat sahabatnya begitu mesra bersama seorang laki-laki, tentu membuat Irene begitu gemas sekaligus bahagia.


"Kau terlihat bahagia hari ini, semoga berhasil," ucap Irene memeluk sahabatnya.


Jojo mendapatkan giliran sidang paling awal di antara teman-temannya, sementara Irene, baru bisa menjalani sidang besok pagi sesuai jadwal. Dan kedatangan Irene hari ini, hanya untuk menemani sahabatnya dan memberi dukungan.


Lima belas menit sebelum sidang, Jojo sudah grogi. Ia terus mendapatkan pesan dari Kalingga, Keenan dan Kylan. Ketiga laki-laki itu memberinya berbagai ucapan semangat dan dukungan.


Di luar ruangan, Irene menunggu dengan gelisah. Meski bukan dirinya yang berada di ruang ujian tersebut, ia merasa sedang mempertaruhkan nyawa, memikirkan nasib sahabatnya.


Saat gadis dengan rambut tergerai itu keluar dari ruang ujian, Irene langsung memeluknya.


"Bagaimana? Semua baik-baik saja?" tanya Irene. Jojo mengangguk dan tersenyum.


Semua kegugupan dan rasa khawatir telah lenyap, satu tahap perjalanan hidupnya telah terlewati dengan baik. Tanpa Jojo ketahui, Irene sudah menyiapkan banyak sekali hadiah, dari boneka hingga buket bunga. Jojo teramat senang, ia memeluk kembali sahabatnya dan berterima kasih.


Kini Jojo tinggal menunggu pengumuman hasil ujian skripsinya yang akan diumumkan tiga hingga empat hari lagi. Jojo berusaha menelepon Kalingga untuk memberitahu laki-laki itu jika ia sudah selesai, namun Kalingga sepertinya sedang sibuk.


"Kenapa? Kekasihmu sibuk?" tanya Irene.


"Aku ingat dia ada rapat siang ini. Aku akan pulang naik taksi," ucap Jojo.


"Aku akan mengantarmu."


"Tidak perlu repot, Irene. Kau datang saja sudah membuatku senang dan bersemangat. Pulanglah, anak asuhmu pasti menunggu," ujar Jojo.


Dari kejauhan, Leon berlari menghampiri Jojo dan Irene.


"Leon," lirih Jojo.


"Hai, Jojo." Leon menyerahkan buket berisi beberapa tangkai mawar pada gadis yang selama ini ia inginkan.


"Dia punya pacar, Leon. Jangan mengganggunya!" tegur Irene.


"Ini hanya hadiah, sebagai ucapan selamat atas kesuksesan sidang skripsimu hari ini," jelas Leon.


Jojo merasa tidak enak hati jika menolak kebaikan laki-laki itu. Meski hubungan mereka tidak terlalu baik, namun Jojo menghargai usahanya.


"Terima kasih, Leon. Semoga lusa kau juga berhasil." Jojo mengangguk sambil menerima hadiah pemberian Leon.


Irene menyeret Jojo menjauhi laki-laki itu, kemudian ia pamit karena harus lekas kembali bekerja. Mereka berpelukan sebelum berpisah, dan Jojo duduk di halte dekat gerbang kampusnya sambil membawa boneka besar pemberian Irene beserta buket bunganya.


Tanpa diduga, sebuah mobil berwarna hitam yang sangat ia kenali berhenti tepat di hadapannya. Kalingga keluar dari mobil tersebut dan menghampiri Jojo.


"Sayang, maaf. Di sana macet, aku berusaha datang secepat mungkin," ujar Kalingga.


"Kak, tidak apa-apa. Aku pikir kau sedang ada rapat siang ini."


"Semua sudah ku atasi. Ayo!" Kalingga membantu Jojo membawa boneka besarnya dan membuka pintu mobil, mempersilahkan kekasihnya masuk.


"Ke mana kita pergi?" tanya Jojo. Pasalnya, arah mobil Kalingga berbalik dari arah jalan pulang mereka.


"Ke gerai. Memberimu hadiah," jawab Kalingga.


Jojo tersenyum malu-malu. Ia memandang laki-laki yang fokus mengemudikan mobilnya dari arah samping. Jojo bahkan tidak bisa mempercayai fakta jika laki-laki itu adalah kekasihnya.


"Dari siapa hadiah itu?" tanya Kalingga.


🖤🖤🖤