
Sepulang dari tempat makan, Kylan dan Keenan tidak henti-hentinya mengejek Kalingga. Laki-laki itu dulu tidak pernah peka, tidak pernah paham dalam menjalin hubungan bersama wanita, bahkan belum pernah jatuh cinta. Namun sekalinya jatuh cinta, Kalingga bahkan lebih gila dari Kylan ataupun Keenan.
Sore harinya, Jojo memasak di dapur untuk mempersiapkan makan malam. Berhari-hari beristirahat penuh dan bersantai membuatnya merasa rindu dengan kegiatannya di dapur. Wanita itu membuat menu makan malam sederhana karena kehabisan bahan di lemari pendingin.
Meski memasak seadanya, empat laki-laki penghuni rumah ini tidak protes, mereka menerima apapun yang dihidangkan di meja makan.
"Mari berunding, tidakkah sebaiknya kita mencari asisten rumah tangga?" tanya Kylan saat mereka sedang makan malam bersama.
"Tidak perlu, aku masih bisa melakukan semuanya," tolak Jojo.
"Jangan keras kepala," lirih Keenan. Jojo melirik laki-laki itu dengan kesal.
"Sayang, mereka ingin kau cukup istirahat dan tidak kelelahan. Kau tidak sendirian, ada bayi kita di dalam sini," ucap Kalingga sambil mengusap perut Jojo yang masih rata.
"Benar, jangan keras kepala!" seru Kylan.
Merasa jika tidak akan ada yang mendengarkannya untuk hal ini, akhirnya Jojo setuju. Ia tidak punya pilihan lain selain menuruti apa kata suaminya. Wanita itu paham, mereka semua sangat mengkhawatirkan keadaannya dan tidak ingin terjadi hal-hal buruk.
"Kau sudah punya pandangan siapa yang akan kita pekerjakan?" tanya Keenan pada Kylan.
"Hmm, belum."
"Apa kau tidak tahu siapa yang cocok dengan pekerjaan ini?" tanya Keenan lagi.
"Kak, aku bekerja di studio foto, bukan di yayasan penyedia jasa asisten rumah tangga!" tegas Kylan. Mendengar jawaban itu, Jojo hampir tertawa, mengapa orang-orang ini suka sekali memperdebatkan hal-hal yang tidak seharusnya.
"Sayang, kau punya teman baik di kampusmu dulu, kan? Bukankah dia juga maid?" tanya Kalingga pada istrinya.
"Aku merekomendasikannya pada salah seorang kenalan, Irene sekarang bekerja di sebuah perusahaan farmasi besar di luar kota, Sayang," jelas Jojo.
"Wah, Kakak Ipar sekarang semakin keren. Kau punya banyak kenalan orang penting," puji Kai.
"Apa kau juga punya kenalan gadis cantik, aku juga mau," sela Kylan. Jojo memukul keras pundak laki-laki itu, mengapa hanya gadis-gadis yang ada di pikirannya.
"Sejak kapan dia bekerja di sana?" tanya Kalingga.
"Satu bulan yang lalu, kebetulan salah seorang direktur perusahaan produk kecantikan yang pernah aku datangi punya teman dekat direktur perusahaan farmasi. Jadi aku merekomendasikan Irene, dia pantas mendapatkan pekerjaan yang lebih baik," jelas Jojo.
"Kalau begitu, pastikan temanmu bekerja dengan baik. Karena kau yang membawanya, maka resiko terbesar juga ditanggung olehmu," sela Keenan.
"Tenang saja, Irene akan melakukan yang terbaik," tegas Jojo. Ia tahu sahabatnya tidak akan pernah mengecewakannya.
"Masa depan bagi seorang maid itu menyakitkan jika berhubungan dengan orang yang mengedepankan status sosial," ucap Jojo lirih. Dalam hati, wanita itu tidak ingin sahabatnya merasakan apa yang pernah ia rasakan.
Kalingga, Keenan, Kylan dan Kai seketika diam. Mereka semua paham apa yang sudah Jojo alami, mereka semua tahu Jojo pernah merasakan rasa sakit dihina karena status pekerjaannya yang hanya sebagai seorang maid.
Selesai makan malam, Kalingga melarang Jojo bangkit dari tempat duduknya, mereka berbagi tugas untuk membersihkan sisa makanan mereka dan semua piring kotor.
"Cuci piringnya, aku akan memberimu uang jajan tambahan," perintah Keenan pada Kai.
"Apa dengan uang kalian bisa seenaknya memerintahku begitu saja?" tanya Kai dengan wajah serius. Jojo dan tiga laki-laki lain melongo, apa Kai serius dengan perkataannya?
"Kau tidak mau uang? Baiklah, aku akan mencucinya sendiri," ucap Keenan. Ia berjalan mendekati wastafel yang sudah berisi cucian piring yang menumpuk.
"Tidak, tidak. Aku hanya bercanda, Kak. Aku suka uang!" Kai merentangkan tangannya dan mendorong Keenan, ia bersedia mengerjakan tugas malam ini demi uang jajan tambahan.
"Ah, sepertinya kita tidak memerlukan asisten rumah tangga, Kai bisa melakukan segalanya," seru Kylan sambil bertepuk tangan.
Hari-hari berlalu begitu menyenangkan, Jojo diperlakukan bagai ratu oleh empat laki-laki di rumah ini. Karena kehamilannya berjalan mudah, Jojo tidak pernah mengeluhkan apapun. Wanita itu menjalani kehamilannya dengan santai meski tetap memasak setiap pagi untuk seluruh penghuni rumah, karena sudah satu bulan terakhir mereka tidak juga menemukan orang yang sesuai dengan apa yang mereka inginkan.
Saat Jojo duduk di depan kantor agensi dan menunggu sopir pribadinya datang, ternyata sopir itu mengalami pecah ban di jalan. Pada akhirnya, Jojo harus mencari alternatif lain agar bisa sampai di studio foto tepat waktu.
Sudah lama sekali Jojo tidak naik ojek online, ia merasa rindu naik motor. Wanita itu menghubungi seseorang yang ia kenal melalui ponselnya, dan hanya selang beberapa menit, seorang bapak-bapak paruh baya datang dengan sepeda motor usangnya.
"Apakah tidak apa-apa naik motor?" tanya Bapak tersebut. Ia tahu pelanggan setianya sudah menjadi model terkenal dan lama tidak memakai jasanya untuk pulang pergi ke kampus.
"Tidak apa-apa, Pak Teguh. Saya rindu naik ojek," ucap Jojo sambil tersenyum ramah.
Bapak yang bekerja sebagai tukang ojek online ini sangat baik pada Jojo bahkan sejak awal Jojo masuk kuliah. Berkali-kali Jojo berhutang ongkos jalan ketika ia sedang tidak punya uang, hingga mereka saling mengenal dan menjadi dekat.
"Pak, saya butuh asisten rumah tangga. Pekerjaannya hanya membereskan rumah, apakah Bapak punya kenalan?" tanya Jojo saat dalam perjalanan. Seketika, Pak Teguh mengatakan jika istrinya butuh pekerjaan, dan Jojo pun setuju untuk bertemu.
Sudah lebih dari empat tahun Jojo dan Pak Teguh saling mengenal, Jojo berpikir jika Pak Teguh bisa diandalkan. Ia senang karena tidak melupakan orang-orang baik yang pernah memudahkan hidupnya secara tidak sengaja.
🖤🖤🖤
Ojek langganan