
Berbeda dengan ekspresi semua orang, Jojo terlihat kebingungan. Ia melihat Kalingga, Keenan, Kykan dan Kai bergantian. Wanita itu bingung.
"Apa benar kau hamil, Sayang?" tanya Kalingga.
"Sepertinya tidak, Sayang. Mungkin ini hanya gejala anemia," sanggah Jojo. Wanita itu belum yakin pada dirinya, jadi ia tidak mau membuat mereka semua berharap berlebihan.
"Periksakan saja dirimu ke dokter. Kegiatanmu banyak, menjaga kesehatan itu penting," ucap Keenan.
"Ya, kita akan pergi ke dokter besok pagi." Kalingga setuju.
Makan malam berakhir singkat karena Jojo sendiri terlihat sedang tidak berselera. Setelah makan berakhir, mereka semua berkumpul di ruang tengah sambil menonton televisi.
"Bagaimana kabar Kak Angelina?" tanya Jojo pada Keenan.
"Kau kan punya nomornya? Kenapa tidak kau tanyakan sendiri padanya," jawab Keenan cuek.
"Ah, kau jahat sekali," gumam Jojo.
"Aku memesan pizza. Jika sudah sampai, panggil aku ke kamar," ujar Keenan sambil bangkit dari tempat duduknya. Ia mengulum senyum sambil memandang layar ponselnya.
Orang-orang yang sedang di ruang tengah, hanya menatap penuh rasa ingin tahu pada laki-laki itu.
"Kakak seperti orang gila," gumam Kai.
"Itulah yang namanya cinta. Bisa membuat orang menjadi gila segila-gilanya." Jojo tertawa kecil.
"Apa kau juga seperti itu, Kak?" tanya Kylan sambil melirik Kalingga.
"Tidak, aku laki-laki yang tidak mudah goyah oleh asmara," jawab Kalingga penuh percaya diri. Mendengar hal itu, Kai dan Jojo menahan tawa. Bagaimana bisa laki-laki itu lupa jika ia bahkan pernah lebih gila dari Keenan.
"Kau tidak ingat, Kak? Kau cemburu hanya karena Kakak Ipar mendapatkan tanda tangan dari Park Chanyeol. Bahkan kau hampir menggorok leher Kak Kylan," ujar Kai mengingatkan. Jangan sampai Kalingga melupakan hal memalukan itu.
"Siapa bilang aku cemburu? Sama sekali tidak!"
"Ah, sudahlah, Kak. Mengaku saja, lagi pula wajahmu memarah. Jangan membohongi diri sendiri," ledek Kai. Melihat hal itu, Jojo pun tidak bisa menahan tawa. Ia masih ingat dengan benar bagaimana sikap Kalingga jika sudah membicarakan tentang laki-laki lain yang bernama Park Chanyeol itu.
Merasa tertangkap basah, Kalingga memukul adiknya dengan bantal sofa. Perang bantal pun tak terhindarkan karena Kai melawan dan tidak ingin kalah. Mereka berhenti saat terdengar suara bel pintu berbunyi.
"Itu pasti pengantar pizza," ucap Kai sambil berlarian menuju ruang tamu. Rupanya dugaan bocah itu benar, ia kembali secepat kilat dengan beberapa box pizza di tangan.
Mereka sangat bersemangat membuka setiap box dan menatanya di meja. Seperti biasa, Keenan selalu memanjakan saudaranya dengan makanan-makanan enak setia laki-laki itu mendapatkan bonus dari pekerjaannya.
"Hmm, ini rasa tuna. Kesukaanmu, Sayang," ujar Kalingga. Ia berniat menyuapi Jojo, namun tiba-tiba wanita itu meringis sambil menggeleng pelan.
"Kenapa, Sayang? Ini kesukaanmu."
"Aku sedang tidak ingin makan, Sayang. Perutku terasa tidak nyaman," keluh Jojo.
"Kenapa? Biasanya kau suka." Kalingga merasa bingung, padahal ini adalah pizza favorit istrinya, dan mengapa kini wanita itu tiba-tiba tidak berselera?
"Baiklah, tidak apa-apa, Kak. Biarkan aku saja yang makan." Kai berucap senang, ia dan Kylan makan dengan lahap dan melupakan orang yang membeli semua ini.
Melihat Jojo tidak berselera, Kalingga pun kehilangan ***** makannya. Laki-laki itu meminta Jojo berbaring dan memakai pahanya sebagai bantal sambil menunggu Kai dan Kylan menikmati makanan mereka.
Tidak berselang lama, Kai dan Kylan menghabiskan tiga box pizza dan hanya menyisakan beberapa potong. Mereka berbaring di lantai sambil mengusap perut buncitnya.
"Ah, enak sekali."
Beberapa menit berlalu, terdengar suara langkah kaki menuruni anak tangga. Keenan datang dengan mata melotot lebar, melihat empat box pizza sudah terbuka dan kedua adiknya tergeletak bagai tertembak.
Jojo yang menyadari ada yang tidak beres, ia bergegas bangun.
"Sayang, ayo ke kamar. Ayo, cepat!" Jojo menyeret Kalingga. Ia melewati Keenan yang berdiri dengan melipat kedua tangan.
Dengan cepat, Jojo mengajak Kalingga masuk ke dalam kamar karena tidak mau melihat pertengkaran antara tiga laki-laki yang baru saja akan di mulai.
Setelah menutup pintu kamar rapat, Jojo mengulum tersenyum, membayangkan keseruan di ruang tengah saat Keenan mengamuk karena pizza sudah di habiskan oleh kedua adiknya.
"Sayang, ada apa?" tanya Kalingga tidak mengerti.
"Tidak, tidak ada apa-apa, Sayang," jawab Jojo. Ia menggandeng Kalingga dan mengajaknya naik ke atas tempat tidur.
Tidak biasanya Jojo mengajaknya masuk ke kamar lebih awal, Kalingga berpikir jika ini adalah kode dari sang istri jika ia menginginkan olahraga sebelum tidur.
"Sayang, jika kau menginginkan sesuatu, katakan terus terang. Tidak perlu memberiku kode," ucap Kalingga sambil memeluk Jojo.
"Kode? Kode apa?" tanya balik Jojo.
"Aku tahu kau malu mengakuinya, tapi aku suka." Kalingga mula-mula menciun kening Jojo, lalu menurunkan bibirnya menelusuri wajah, leher hingga dada.
Tangan laki-laki itu sudah bergerilya meraba ke sana dan kemari untuk merangsang setiap syaraf istrinya. Meski pada dasarnya Jojo tidak memahami maksud awal Kalingga, ia dengan santai menikmati permainan yang diciptakan oleh suaminya.
De*sahan dan erangan kenikmatan bersautan di dalam kamar mereka membuat keduanya menikmati pesta mereka sendiri dan tidak bisa mendengar keributan yang terjadi di lantai bawah.
Mereka bergerak seirama untuk saling memberikan kepuasan satu sama lain. Keduanya semakin pandai dengan peran masing-masing setiap kali mereka melakukannya.
🖤🖤🖤