ANAK ASUHKU

ANAK ASUHKU
Rayuan Maut "K" Bersaudara


Kai makan dalam diam, mencerna suasana dan menjadi pengamat atas situasi rumit ketiga saudaranya. Sampai saat ini, Kai bahkan tidak bisa menebak, siapa di antara ketiga kakaknya yang menarik perhatian Jojo.


Karena gadis itu, selalu memperlakukan mereka berempat dengan cara yang sama. Kai mulai merasa resah dan tidak tahu harus melakukan apa.


"Kak, kau mau minum?" tanya Jojo pada Kalingga.


"Makan yang banyak, uang di laci kasir sangat banyak," canda gadis itu.


Beberapa pizza dengan bermacam-macam varian rasa itu sudah hampir habis dalam waktu satu jam. Rupanya, keempat anak asuh Jojo sedang kelaparan, bahkan di tengah malam seperti ini, mereka tidak malas mengisi perut dengan tumpukan lemak.


"Siapa yang membereskan tempat ini?" tanya Jojo. Beberapa pakaian yang masih tertumpuk dan belum ditata juga menjadi sebuah pekerjaan.


"Biarkan karyawan yang bekerja besok pagi yang akan membersihkannya," jawab Kalingga.


Semua orang mengangguk setuju, mereka terlalu lelah jika menambahkan beres-beres ke dalam daftar pekerjaan malam ini.


"Tidak ada yang mau ini?" tanya Kai. Sepotong pizza masih tergeletak di atas meja.


"Aku mau," seru Keenan.


"Hei, aku masih lapar!" Kylan tidak mau kalah.


"Jangan berebut!" seru Jojo menjadi penengah. Ia menepis tangan anak-anaknya yang mulai berebut.


"Ayo kita buat permainan, siapa yang bisa membuat rayuan paling bagus. Aku akan memberikannya," lanjut gadis itu sambil mengamankan sepotong pizza ukuran besar.


Dengan sigap, Kylan mengangkat tangan. Laki-laki playboy itu pasti punya ribuan gombalan di dalam kepalanya.


"Jojo, aku rela ikut lomba lari keliling dunia. Asalkan dirimu yang jadi garis finishnya," ucap Kylan. Mereka semua bersorak ramai dan bertepuk tangan.


"Oke, aku tergoda," gumam Jojo.


"Sekarang giliranku!" seru Kai. Bocah laki-laki itu menggosokkan kedua tangannya dan menarik napas.


"Jojo, apa kau tahu persamaan dirimu dan ujian Nasional?" tanya Kai.


"Hmm, apa?"


"Sama-sama perlu untuk diperjuangkan karena menyangkut masa depan." Keenan refleks memukul kepala adiknya karena gemas.


Jojo tidak bisa menahan tawanya. Ia tidak tahu jika Kai bisa menggunakan situasinya yang akan segera menjalani ujian nasional sebagai bahan rayuan.


"Oke, ini giliranku." Keenan bersiap.


"Jo, apa kau tahu perbedaan pizza dan dirimu?" tanya Keenan. Jojo tersenyum dan menggeleng.


"Kalau pizza itu untuk dibagi-bagi, kalau kamu hanya untukku seorang diri."


Jojo merasa gemas, ia tidak bisa menahan tawa setiap kali mendengar rayuan maut dari anak asuhnya.


"Kak, giliranmu," ucap Kai sambil menatap Kalingga. Semua orang diam dan berhenti tertawa, menunggu Kalingga mulai melancarkan aksinya.


"Aku tidak bisa melakukannya," tolak Kalingga.


"Ayolah, Kak. Kau pasti bisa," desak Keenan.


"Jojo, kalau kau memintaku melupakanmu, maka aku akan mendatangi kantor kelurahan dulu. Aku akan meminta surat keterangan tidak mampu."


Kalingga merasa malu lantas menutup wajahnya dengan sebelah tangan, sementara empat orang yang duduk mengelilingi meja tidak bisa menahan diri, bahkan Kylan hampir melempar kursi karena gemas.


"Aku kira kau tidak akan bisa melakukan itu, Kak. Sekalinya merayu, sungguh mematikan," ujar Kylan.


Jojo menggeleng lemah melihat anak-anak asuhnya bertingkah lucu dan sangat kekanakan. Bagaimana ia bisa berpikir untuk mengakhiri pekerjaannya jika ia sudah merasa nyaman dengan orang-orang yang ia anggap sebagai sebuah keluarga.


"Baik, siapa pemenangnya?" tanya Keenan.


"Hmm. Aku akan pilih ... Kak Kalingga," tunjuk Jojo pada laki-laki yang terdiam malu-malu.


"Ah, bukankah rayuanku juga bagus? Harusnya aku yang menang," ucap Kai. Bocah itu memang tidak pernah bisa menerima kekalahan.


"Tidak, biarkan Kai yang memakannya," tolak Kalingga. Ia sendiri sudah merasa kenyang dan hanya ingin menikmati permainan bersama adik-adiknya.


"Mana boleh. Ini hadiah, Kak. Kau harus memakannya karen kau yang memenangkan hatiku dengan rayuan itu," tegas Jojo. Pemenang harus mendapatkan dan menikmati hadiahnya.


Jojo memegang pizza dan meminta Kalingga membuka mulut. Gadis itu menyuapi Kalingga dan membujuk laki-laki itu agar menghabiskan hadiahnya.


"Ah, kalian membuatku iri," ujar Kai menggoda. Ia memperhatikan ekspresi Keenan dan Kylan, berusaha mencari jawaban atas rasa penasarannya.


Acara malam ini ditutup dengan pesta pizza yang membuat semua orang lemas karena kekenyangan. Setelah lelah, Kalingga memutuskan untuk mengajak adik-adiknya pulang. Waktu sudah menunjukkan pukul satu dini hari. Besok, semua harus kembali bekerja dan melakukan aktifitas masing-masing.


Kalingga, Keenan dan Kylan membawa mobil masing-masing. Sementara Kai ikut bersama Kalingga, Jojo merasa bingung harus bersama siapa.


"Kau mau ikut denganku?" tanya Keenan.


"Ah, terserah. Dengan siapa saja aku ikut," jawab Jojo.


"Tidak boleh berduaan, karena orang ketiga adalah setan. Kau ikut bersama kami, Jo!" sela Kai. Ia menarik pengasuhnya masuk ke dalam mobil Kalingga dan menyuruh gadis itu duduk di jok depan menemani kakaknya.


"Aku sudah mengantuk, bangunkan aku jika sudah sampai," ucap Kai sambil duduk di kursi belakang. Bocah itu melipat tangan di depan dada dan memejamkan mata.


"Baik, tidurlah."


Jarak gerai menuju kediaman Kalingga membutuhkan waktu sekitar tiga puluh menit, namun searah dengan universitas tempat Jojo kuliah.


Kalingga mengendarai mobil dengan santai, ia tidak mau terburu-buru meski dirinya mulai lelah dan mengantuk. Hanya beberapa kilometer dari gerai, Jojo pun mulai kehilangan kesadaran. Kepala gadis itu bergoyang ke kanan dan ke kiri karena guncangan mobil.


Berulang kali Kalingga melihat Jojo mengusap bahunya karena dingin, laki-laki itu akhirnya menepikan mobilnya dan melepas jas yang ia kenakan. Ia menutupi tubuh bagian depan Jojo dengan jas miliknya, membiarkan gadis itu menikmati tidurnya dengan nyenyak dan nyaman.


Selagi mengemudi, kantuk Kalingga bahkan hilang karena wajah gadis di dekatnya mampu membuat matanya kembali segar. Meski dalam keadaan tidur, Jojo masih terlihat cantik. Diam-diam, sebelah tangan Kalingga meremas lembut jemari Jojo.


Dalam hati, laki-laki itu berdoa atas kesehatan dan kesuksesan Jojo. Ia berharap Jojo akan tinggal lebih lama bersama mereka. Atau jika mampu, laki-laki itu menginginkan mereka terus bersama tanpa kata pisah.


Laki-laki itu akan berusaha memperjuangkan cintanya. Jika biasanya ia akan dengan mudah mengalah pada saudaranya, maka kali ini itu tidak akan pernah terjadi. Sekali dalam hidupnya, Kalingga jatuh cinta. Dan bagaimanpun, ia tidak akan berhenti untuk mencintai.


Sepanjang perjalanan, tangan Kalingga tidak pernah melepaskan genggamannya. Saat Kai terbangun, ia menyadari sesuatu, namun memilih diam dan tidak mengganggu kakaknya yang sedang kasmaran. Kai berpura-pura tidur hingga mereka sampai di halaman rumah.


"Kai, bangunlah. Kita sampai," ucap Kalingga. Bocah laki-laki itu berpura-pura meregangkan otot tubuhnya dan keluar dari mobil tanpa mengatakan sepatah katapun.


🖤🖤🖤