ANAK ASUHKU

ANAK ASUHKU
Kontrak Kerjasama


Pukul dua belas siang, Kai baru saja sampai di rumah dan bergegas mandi serta berganti pakaian. Ia sudah berjanji akan mengantar Jojo dan sepertinya mereka akan sedikit terlambat karena Jojo membuat janji pukul satu siang, sementara mereka berdua baru sampai di rumah.


Jojo dan Kai siap pukul dua belas lewat tiga puluh menit. Tanpa banyak bicara, mereka berdua melesat pergi menaiki motor milik Kai. Sepanjang perjalanan, Jojo cukup gelisah. Khawatir jika ia terlambat dan membuat kesan buruk di awal pertemuan.


Kurang lima menit Jojo sudah sampai di sebuah gedung perkantoran milik salah satu agensi ternama. Agensi yang menaungi banyak artis dan model untuk bekerja di bawah wewenang mereka.


Setelah sampai, Jojo bertanya pada resepsionis dan kebetulan ia sudah di tunggu. Kai terus mendampingi Jojo hingga gadis itu masuk ke dalam lift.


"Apa ini akan berhasil?" tanya Jojo gelisah.


"Kau tidak akan tahu jika tidak mencobanya," ucap Kai.


Mereka telah sampai di depan ruangan milik pimpinan agensi. Jojo dan Kai di persilahkan masuk bersama.


"Selamat siang." Jojo menyapa dengan ramah seorang laki-laki paruh baya dengan setelan jas dan celana berwarna abu-abu.


Mengenali gadis yang baru saja datang, laki-laki itu berdiri dari kursi kebesarannya dan menyalami Jojo. Laki-laki lima puluh lima tahun itu bernama Harry, pemilik sekaligus pendiri agensi yang sudah berkembang lebih dari dua puluh tahun.


"Jovanka? Selamat datang, saya begitu tertarik padamu."


"Kaivan? Kau kah itu?" tanya Harry.


Jojo dan Kai hanya mengangguk. Bertemu orang baru dengan jabatan tinggi membuat Jojo merasa canggung, sementara Harry terlihat cukup mengenal Kai.


"Saya tidak menyangka Kalingga bisa dengan cepat memberimu kartu nama saya. Dan bagaimana bisa kau datang bersama adik bungsunya?" tanya Harry.


"Saya bekerja di rumah mereka, Pak."


"Benar begitu, Kai. Kalian beruntung sekali," ucap Harry. Lagi-lagi Kai hanya mengangguk.


Setelah obrolan basa basi tentang latar belakang Jojo, pendidikan dan pekerjaannya saat ini, Harry semakin takjub karena gadis itu rupanya seorang maid di rumah Kalingga dan Ken Caessa. Kai bahkan mengakui jika Jojo sudah seperti keluarganya sendiri.


Tanpa bertele-tele, Harry menawarkan kontrak kerjasama pada Jojo agar gadis itu bersedia menjadi model di bawah naungannya.


"Melihat bagaimana media menjadikanmu topik utama dalam berita mereka selama beberapa hari sejak pembukaan gerai Anyelir, saya yakin kau bisa menggali kemampuanmu lebih dalam," ucap Harry.


"Berapa lama kontrak kerjasama itu?" tanya Jojo.


"Ini adalah permulaan, jika kau setuju, maka kontrak pertama hanya berjalan satu tahun. Selanjutnya, bisa kita bicarakan lagi."


Harry menggeser beberapa lembar kertas di depannya agar Jojo bisa lebih leluasa membaca. Tidak hanya Jojo, Kai juga sangat ingin tahu bagaimana Jojo akan bekerja untuk mereka.


"Sebuah gaji yang cukup menarik, bonus-bonus dan segala sesuatu yang kau butuhkan akan kami usahakan," ucap Harry lagi. Ia terlihat tidak ragu merekrut seorang pemula seperti Jojo. Sebagai orang yang sangat berpengalaman, Harry jelas paham dan bisa menilai dengan baik.


Sambil menunggu Jojo memberi keputusan, Harry meninggalkan Kai dan gadis itu di ruangannya, sementara ia akan pergi selama beberapa menit untuk mengurus beberapa pekerjaan di ruangan lain.


"Pikirkan baik-baik. Ini sebuah kesempatan, kau pasti bisa melakukannya," ucap Kai memberi dukungan.


Dalam sistem kerja dunia seperti ini, Jojo akan diminta membayar komisi sebesar dua puluh persen dari tiap penghasilannya. Namun agensi berperan penting untuk memberikan pekerjaan berupa catwalk, pemotretan, iklan, hingga syuting dalam banyak acara.


Jojo tahu, ia tidak bisa mengandalkan siapapun jika bekerja sendiri. Ia harus punya sesuatu yang bisa membawa namanya keluar dari balik layar, dan agensi tentu bisa melakukannya.


"Baik, aku akan setuju."


"Kau yakin?" tanya Kai memastikan.


"Lebih baik mencoba daripada hanya membayangkannya," ujar Jojo tersenyum.


"Kami akan menghubungimu segera." Harry tersenyum puas, ia mempersilahkan Jojo keluar dari ruangannya.


Kai berharap banyak dari apa yang sudah Jojo usahakan. Jika memang Kalingga menyukai gadis itu, Kai akan melakukan apapun untuk membuat mereka bisa bersama. Termasuk membantu Jojo meraih cita-citanya.


Saat keduanya keluar dari lift, seorang wanita dengan tubuh tinggi ramping menatap tak berkedip pada Kai. Wanita itu mendekati Kai dan memegang lengan bocah itu.


"Hei, Kaivan? Apa yang kau lakukan di sini?" tanyanya.


"Oh ...." Kai tampak kebingungan memberi jawaban, ia seperti tidak mengenali wanita di depannya.


"Aku Callista, kau lupa?" tanya wanita itu sambil membulatkan mata.


"Ah, Kakak. Maaf, sepertinya kita lama tidak bertemu. Aku hampir tak mengenalimu," ucap Kai dengan senyum yang dipaksakan.


"Tidak apa. Dan ... siapa dia?" tanya Callista sambil menatap Jojo.


"Jovanka." Jojo mengulurkan tangan.


"Oh, senang bertemu denganmu, Jovanka. Tidak menyangka jika kau adalah wanita beruntung yang menjadi model Anyelir. Aku sempat menawarkan diri untuk posisi itu," ucap Callista.


Suasana mulai agak tidak nyaman, Kai bergegas berpamitan pada Callista dan mengajak Jojo pergi.


Callista, Jojo merasa pernah mendengar nama itu namun sulit mengingat siapa dia. Wajahnya tidak asing dan terlihat familiar.


Setelah pulang dari kantor agensi, Jojo mengajak Kai mampir ke sebuah kafe. Ini adalah hari keberuntungan, Jojo dengan baik hati mentraktir Kai sebagai ucapan terima kasih.


"Ngomong-ngomong, aku seperti tidak asing dengan wanita tadi," ujar Jojo.


"Callista? Dia mantan kekasih Kak Keenan," jawab Kai.


"Wow, benarkah?"


"Hmm."


Jojo mengangguk paham. Itulah sebabnya Kai bersikap acuh pada wanita itu. Rupanya ada sebuah insiden di masa lalu dan membuat Kai tidak menyukainya.


"Apa kau tahu kenapa Kakak putus dengannya?" tanya Jojo.


"Dia selingkuh," jawab Kai.


Selingkuh adalah sebuah kata yang sangat mengerikan dan tidak nyaman saat di dengar maupun diucapkan. Keenan memang pernah bercerita tentang hubungan buruk di masa lalunya, namun laki-laki itu tidak memberitahu identitas mantan kekasihnya.


"Ah, sayang sekali. Kecantikan wajahnya berbanding terbalik dengan kecantikan hatinya," gumam Jojo.


"Kau lebih cantik darinya," ucap Kai. Jojo tersenyum mendengar pujian tiba-tiba itu. Namun hanya selang beberapa detik, ia menyadari sesuatu.


"Kau pasti memujiku karena aku mentraktirmu, kan?" selidik Jojo.


"Tidak. Jika kau tidak mentraktirku, silahkan pulang jalan kaki. Aku memujimu karena takut kau marah dan tidak memberiku uang saku," jawab Kai terus terang.


Jojo hanya diam sambil mengelus dadanya. Jika mereka tidak sedang berada di tempat umum, entah apa yang akan gadis itu lakukan untuk memberi pelajaran pada mulut tidak sopan itu.


Bersama Kai, Jojo seolah sedang menjalani uji kewarasan.


🖤🖤🖤