ANAK ASUHKU

ANAK ASUHKU
Tuduhan Kai


Jojo tahu bagaimana perasaan Kalingga saat ini. Ia tahu, ia bisa merasakannya. Namun apa yang bisa ia lakukan saat ini?


"Baik, aku akan baik-baik saja asal kau tetap bersamaku di sini. Berjanjilah untuk tidak akan pernah pergi, kau segalanya untuk kami," ucap Kalingga. Laki-laki memaksakan senyum di bibirnya.


"Terima kasih sudah mengerti, Kak." Jojo menggenggam tangan Kalingga. Saat gadis itu akan pergi, Kalingga memberinya sebuah kertas berisi kartu nama.


"Ini adalah kartu nama dari pimpinan agensi model terkenal. Dia menghubungiku untuk mencari tahu tentangmu. Dia tertarik dan ingin kau bergabung dengan mereka," jelas Kalingga.


"Untuk apa?"


"Mereka menawarkan pekerjaan untukmu, sebuah kesempatan berkarir lebih tinggi."


"Ah, baik." Jojo menerima selembar kertas dan membawanya pergi. Saat ini, minatnya untuk berkarir di dunia entertainment sangat kecil. Ia sudah punya cita-cita lain untuk memanfaatkan ilmunya.


Gadis itu menuju kamar dan berbaring di atas tempat tidur. Hatinya bagai tersayat ratusan kali setiap melihat Kalingga, dan kini hatinya bagaikan hancur berkeping-keping saat tahu bahwa hubungan apapun yang mereka usahakan tidak akan pernah berhasil.


Mengapa Kalingga harus mencintainya? Jika hanya dirinya yang merasakan sakit akibat perasaannya, gadis itu masih bisa menerima. Namun untuk membiarkan Kalingga terus menerus tersakiti olehnya, itu adalah hal yang sangat tidak ia inginkan.


Sejauh ini, Jojo berusaha membuang apapun yang tidak seharusnya, cita-citanya, mimpinya, bahkan perasaannya. Gadis itu sangat tahu diri, ia adalah orang miskin yang bercita-cita tinggi dan menempuh pendidikan dengan bekerja keras. Ia hanya orang asing yang beruntung bisa menjadi maid sekaligus pengasuh empat laki-laki tampan.


Jojo tidak ingin terjebak dengan perasaannya, ia berusaha kuat menolak apapun yang mulai menarik hatinya, termasuk apapun tentang Kalingga. Karena beberapa waktu terakhir ia sadar, Kalingga lebih memperhatikannya.


"Aku tidak boleh seperti ini." Jojo membuat ketegasan untuk dirinya sendiri.


Gadis itu menarik napas panjang dan keluar kamar. Ia harus mengemas keperluan Kylan sebelum laki-laki itu pulang. Saat datang ke kamar Kylan, ia mengeluarkan koper besar laki-laki itu, menyiapkan beberapa setelan formal serta pakaian olahraga. Ia juga memasukkan laptop, charger, serta keperluan pribadi dari sabun muka hingga sikat gigi.


Selama Jojo sibuk, Kalingga diam-diam ke kamar gadis itu dan meletakkan boneka lumba-lumba besar yang belum sempat ia berikan di atas kasur. Kalingga membelinya karena ia tahu Jojo suka, dan ia berharap gadis itu bahagia setelah menerimanya.


"Aku tidak akan menyerah semudah ini," batin Kalingga. Ia melihat foto Jojo dan kedua orang tuanya di dekat lampu tidur. Dalam hati laki-laki itu berjanji, suatu saat ia akan menemui orang tua Jojo dan meminta restu untuk kebahagiaan mereka.


🖤🖤🖤


Hari minggu adalah hari libur untuk semua orang. Setelah sarapan pagi, keempat anak asuhnya pergi ke bandara untuk mengantar kepergian Kylan.


Sebelum pergi, Jojo menasehati Kylan berkali-kali. Ia mengingatkan laki-laki itu untuk tetap meluangkan waktu beristirahat, minum vitamin dan makan teratur.


Karena suasana rumah sedang sepi, Jojo berinisiatif mencari kegiatan baru. Gadis itu ke taman belakang rumah yang sudah lama tak terurus, ia membuang ranting dan tanaman mati, membersihkan semua pot dan mencabut rumput liar. Ia harus punya banyak kegiatan agar pikiran dan hatinya bisa teralihkan.


Pukul sepuluh saat Kalingga dan Kai sudah kembali pulang, mereka bingung karena tidak menemukan Jojo di semua ruangan. Beruntung, suara cangkul terdengar dari halaman belakang dan membuat Kai dan Kalingga berlari menghampiri asal suara.


"Jojo, kau mencangkul?" tanya Kai heran. Ia baru tahu jika seorang gadis berpenampilan cantik seperti Jojo juga bisa memegang cangkul dan mengayunkannya secara tepat.


"Kau sudah pulang? Kenapa cepat sekali?" tanya Jojo. Ia berdiri dan menghentikan kesibukannya, gadis itu mengusap keringat yang membasahi dahi.


"Ya, Kak Keenan harus ke studio untuk syuting. Jadi kami kembali dengan cepat. Apa kau perlu bantuan?" tawar Kai.


"Tolong angkat pot-pot besar itu dan pindahkan ke sana." Jojo menunjuk ke arah lahan kosong di bawah pohon mangga.


"Berikan itu padaku. Kau bisa cabuti rumput," ucap Kalingga. Ia meminta cangkul yang Jojo pegang.


Tanpa memberi jawaban, Jojo meletakkan cangkul itu dan pergi menghampiri Kai yang mulai memindahkan pot. Gadis itu benar-benar tidak bisa dekat dengan Kalingga, semakin mereka dekat, Jojo takut Kalingga akan semakin tersakiti. Jojo hanya ingin membiarkan rasa itu memudar seiring berjalannya waktu.


Saat semuanya sibuk, samar-samar terdengar bunyi bel pintu rumah berdering. Kai bergegas keluar dan melihat siapa tamu yang datang di hari minggu.


"Hei, Kai. Apa Kalingga ada di rumah?" tanya Olivia saat melihat Kai membuka pintu untuknya.


"Kakak sedang pergi. Ada apa?"


"Ke mana? Ini hari minggu."


"Entah." Kai mengangkat bahu acuh.


"Bolehkan aku masuk?" pinta Olivia. "Aku akan menunggu sampai Kalingga pulang."


"Maaf, Kak. Di rumah sedang tidak ada orang dan aku harus segera pergi ke rumah teman. Kau akan di rumah ini sendirian? Lagi pula tidak ada yang tahu kapan Kakak pulang."


"Kau akan pergi? Kelihatannya kau sedang melakukan sesuatu?" Olivia memperhatikan sepatu boot milik Kai yang kotor karena tanah berwarna merah.


"Kembalilah lain waktu, Kak." Kai menutup pintu dengan keras dan tidak membiarkan Olivia mengatakan apapun.


"Tidak sopan!" gerutu Olivia sambil beranjak pergi.


Di halaman belakang, Kalingga dan Jojo tidak saling menyapa. Jojo benar-benar menjadi pendiam dan irit bicara saat bersama Kalingga. Membuat laki-laki jadi merasa bersalah karena terlalu memaksakan perasaannya, ia juga menyesal telah mengungkapkan cinta saat Jojo belum mencintainya.


Kai adalah pengamat handal, ia mulai bisa membaca situasi aneh antara Kakak dan pengasuhnya. Kemarin pagi, ia memergoki Kalingga dan Jojo di dalam kamar, dan sejak ia pulang sekolah kemarin, keduanya mulai irit bicara meski Kalingga berusaha mencari topik obrolan.


"Siapa yang datang?" tanya Kalingga.


"Tukang paket, Kak. Aku membeli stik game," jawab Kai. Kalingga hanya mengangguk dan terus mencangkul untuk menggemburkan tanah.


Sementara Jojo, ia menatap pot-pot besar di bawah pohon mangga sambil berpura-pura tidak peduli.


"Ada apa dengan kalian?" tanya Kai. Ia membantu pengasuhnya mengangkat pot.


"Siapa?"


"Kau dan Kakak. Apa terjadi sesuatu?" tanya Kai sedikit berbisik. Jarak mereka dari Kalingga memang cukup jauh.


"Tidak ada apa-apa. Kami baik-baik saja."


"Hei, aku adalah orang jenius. Aku bisa membaca situasi dengan baik. Kau yakin tidak ada apa-apa? Kakak selalu memperhatikanmu dan kau jadi pendiam. Apa kemarin kalian berciuman?"


🖤🖤🖤