
Beberapa tahun kemudian, usia Queen sudah genap empat tahun dan kini ia sudah sangat pandai berbicara. Ia merayakan ulang tahun keempatnya tepat saat mendapatkan kabar bahagia atas kehamilan kedua Jojo, yang artinya Queen akan segera mendapatkan seorang adik.
Sementara Keenan dan Angelina, mereka masih sibuk dengan banyaknya pekerjaan dan jadwal syuting yang padat. Keduanya memang belum mendapatkan tanda-tanda kehadiran seorang anak, namun masih bahagia menikmati waktu bersama.
"Hai, selamat pagi, Cantik," sapa Kai sambil mencium pipi Queen. Ia menghampiri keponakannya yang sudah duduk di kursi makan sambil menemani Jojo memasak.
"Om, apa kau akan pelgi hali ini?" tanya Queen.
"Ya, apa kau ingin mengajakku ke suatu tempat?"
"Hali ini Mama ada cyuting. Queen mau pelgi ke mall," ucap Queen dengan cedal.
"Ke mall? Kau masih kecil, Sayang. Untuk apa pergi ke mall?" tanya Kai penasaran. Ia mengangkat tubuh Queen dan memindahkan gadis kecil itu di atas pangkuannya.
"Queen mau beli baju bayu," jawab Queen.
"Dia ingin baju baru untuk datang ke wisudamu lusa, Kai. Padahal Papanya bahkan membeli baju baru setiap minggu, tapi dia mau yang paling baru," sela Jojo.
"Hmm, baiklah. Hari ini Om harus ke suatu tempat karena ada urusan. Hanya sebentar, setelah itu Om akan pulang dan kita pergi ke mall, bagaimana? Kau setuju?"
"Yeee, yeeee. Pelgi ke mall." Queen berteriak senang. Gadis kecil itu memeluk Kai dan mencium pipi pamannya.
Tahun ini adalah tahun kelulusan Kai. Laki-laki itu resmi mendapatkan gelar sarjana dengan nilai sempurna. Meski sikap dan sifatnya yang masih sangat menjengkelkan seperti biasanya, namun orang-orang harus mengakui bahwa dia laki-laki yang pandai dan berbakat dalam dunia kedokteran.
Selang beberapa saat, Kalingga dan Kylan turun bersamaan. Mereka menyapa tiga penghuni dapur dan mengobrol.
"Selamat pagi, Queen." Kylan mengusap rambut keponakannya lalu mencium gadis kecil itu.
"Celamat pagi, Om." Queen tersenyum lebar. Ia mengambil roti bakar buatan Mamanya dan memakannya dengan nikmat.
"Kau sudah mengurus semuanya?" tanya Kalingga pada adik bungsunya.
"Ya, aku akan pergi begitu melengkapi semua berkas dan syaratnya, Kak. Tapi setelah ini, aku juga akan mendaftarkan diri untuk program studiku selanjutnya, mungkin tidak jauh dari kota terdekat kampung halaman Kakak Ipar nanti," jelas Kai.
"Kau mau lanjut kuliah lagi?" tanya Jojo.
"Hmm, tentu. Kalian keberatan membiayaiku?"
"Tidak masalah, lakukan sesuka hatimu. Kami punya banyak uang," sela Kylan.
Kalingga dan Jojo pun setuju. Mereka tidak keberatan mengeluarkan banyak uang untuk biaya pendidikan Kai selama ini. Karena sekolah kedokteran memang umum membutuhkan biaya yang tidak sedikit.
Meski begitu, Kai pun akan membantu mereka mengelola klinik kesehatan yang Jojo dirikan beberapa tahun lalu. Meskipun klinik itu bukan klinik besar, namun warga sekitar sangat terbantu dengan fasilitas kesehatan yang disediakan.
"Sebenarnya, apa yang sangat ingin kau inginkan, Kai. Aku penasaran," tanya Jojo. Ia telah menyelesaikan kegiatan memasaknya dan sedang menata makanan di atas meja makan.
"Aku ingin menjadi dokter spesialis penyakit dalam," jawab Kai.
"Wah, itu keren!" seru Kylan.
"Kenapa? Apakah ada sesuatu yang membuatmu menginginkannya?" tanya Jojo lagi. Ia sangat penasaran.
"Mama meninggal karena penyakitnya, komplikasi adalah penyakit dalam yang butuh banyak biaya dan penanganan. Aku tahu keluarga kita punya banyak uang, aku akan menjadi ahli penyakit dalam dan kalian akan membantu meringankan biaya mereka," jelas Kai.
Uhuk ... Uhuk ....
Kylan terbatuk saat meminum air. Laki-laki itu terkejut mendengar alasan adiknya.
"Hei, aku mengeluarkan banyak uang untuk pendidikanmu. Apa kau akan memeras kami?" tanya Kylan.
"Aku juga akan menghasilkan banyak uang, Kak. Tenang saja!" seru Kai.
Menjadi dokter bagi Kai bukanlah alasan untuk mendapatkan uang. Ia berusaha untuk mendapatkan uang dengan cara lain namun tidak dengan membebankan banyak biaya pada pasien kurang mampu.
"Aku berencana melamar Sunny. Aku juga butuh banyak uang untuk melakukannya," gumam Kylan.
"Apa? Kau serius?" tanya Jojo.
"Ya, dia sudah lulus setahun yang lalu dan kini menjadi pemilik sekaligus manager di sepuluh cabang restoran milik keluarganya. Aku semakin tidak percaya diri karena dia terlihat lebih wow dariku," keluhnya.
Sunny mendapatkan hak untuk mengelola lima puluh persen bisnis keluarganya dan menjadi wanita karir yang sukses di usia muda meskipun semua itu adalah warisan. Sementara Kylan yang bekerja sebagai fotografer, tentu merasa berkecil hati dengan semua yang dimiliki oleh Sunny.
"Wanita yang baik tidak pernah memandang laki-laki dari apa yang ia miliki. Kalian tidak perlu bersaing, kau hanya harus membuktikan jika kau adalah laki-laki yang bertekad kuat dan bersungguh-sungguh," ungkap Kalingga.
"Kak, kau fotografer profesional. Memang terlihat remeh, tapi uang yang kau hasilkan sangat banyak, bahkan bisa menandingi penghasilan Kakak Ipar dan Kak Keenan. Jangan berkecil hati, semangat!" seru Kai.
"Cemangat, Om! Kau pasti bisa!" ujar Queen.
Kylan menarik napas dalam-dalam sambil memperhatikan semua orang yang sudah duduk mengelilingi meja makan.
Bukankah kebahagiaan terbesar adalah keluarganya? Ia punya pekerjaan, kisah cinta yang manis dan kehidupan yang sempurna. Ia pasti bisa membawa Sunny menjadi bagian dari keluarga ini.
🖤🖤🖤