ANAK ASUHKU

ANAK ASUHKU
Waktu Telah Berakhir


Terlihat dengan jelas raut wajah terkejut dan tidak percaya dari empat laki-laki di ruangan itu. Jojo merasa gugup, ia sudah tidak tahan untuk menyimpan rahasia ini berlama-lama, sementara kondisi Merlinda semakin memburuk setiap harinya.


"Apa maksudmu?" tanya Kylan.


"Bisakah kalian mempercayai apa yang aku katakan?" tanya Jojo terlebih dahulu. Ia ingin memastikan jika empat laki-laki itu menaruh kepercayaan besar padana.


"Aku ingin mendengarnya," jawab Keenan.


"Hari disaat kita datang ke rumah Tuan Johnathan untuk meminta restu Mama kalian, dia memberitahuku sebuah rahasia besar. Aku merasa bersalah karena ingkar janji, tapi aku tidak bisa terus menerus membiarkan kalian hidup dalam kebohongan."


"Sayang, kau pernah bilang jika setiap kali Mamamu hamil, dia akan pergi ke luar negeri untuk menjalani pengobatan. Nyatanya tidak seperti itu."


"Mama kalian divonis tidak bisa mengandung dan melahirkan sejak lima tahun pernikahannya bersama Papa kalian."


"Kalian lahir dari wanita lain. Wanita yang di pilih oleh Mama dan Papa kalian untuk menjadi ibu pengganti. Mama kalian pikir dengan melakukan bayi tabung dari sel telur yang diambil dari tubuhnya dan sel ****** dari tubuh Papa kalian telah berhasil. Nyatanya Mama kalian dibohongi."


"Papa kalian ternyata lebih dulu berhianat, dia menikahi wanita lain dan berpura-pura menjadikannya ibu pengganti. Papa kalian juga memanipulasi tim medis agar seolah-olah kalian adalah hasil dari bayi tabung yang berhasil."


Mendengar sesuatu yang hampir mustahil terjadi, Kalingga merosot dan terduduk lemas di lantai. Segala kenangan masa kecil berlarian di kepalanya, ia tidak menyangka jika kecurigaan di masa lalunya adalah sebuah kenyataan yang sangat menyakitkan.


"Kak, benarkah apa yang Kakak Ipar katakan?" tanya Kai pada Kalingga. Wajah bocah itu berubah pucat, kedua matanya berkaca-kaca.


"Di antara kami, tidak seorang pun memiliki golongan darah yang sama dengan Mama. Itukah sebabnya?" tanya Keenan.


"Mama meninggalkan kami karena kami bukan anak-anaknya?" tanya Kylan.


"Cobalah memahami perasaannya. Dia dihianati dan dibohongi oleh Papa kalian selama lebih dari dua puluh tahun. Wanita yang dia anggap seperti seorang saudari, adik, dan keluarga ternyata membohonginya. Itu lebih menyakitkan daripada kematian," tegas Jojo.


Semua orang tertunduk dalam keheningan. Kalingga tidak bisa menahan diri, ia menangis sejadi-jadinya, memukul dadanya yang terasa nyeri dan memaki dirinya karena menjadi anak yang buruk selama ini.


Melihat hal itu, Jojo memeluk Kalingga dengan erat. Wanita itu berusaha menenangkan suaminya. Jojo tahu, inilah yang akan terjadi. Namun ia tidak menyesal telah membongkar segalanya.


"Apakah semua itu berpengaruh pada kesehatan Mama hingga dia menjadi sakit seperti ini?" tanya Kylan. Laki-laki itu berusaha bertahan untuk tidak menangis seperti kakaknya, namun kedua matanya sudah memerah dan genangan air mata yang mengajak sungai.


"Mental setiap orang dalam menghadapi masalah rumah tangga selalu berbeda. Aku yakin itu adalah sebab utama Mama kalian mengabaikan kesehatannya, dia pasti mengalami depresi berat dan frustasi," jelas Jojo.


Tidak dapat di pungkiri. Kesehatan tubuh seseorang sangat dipengaruhi oleh kesehatan mentalnya. Jika seseorang mengalami depresi, kecemasan akut, sebuah perasaan yang menyakitkan, tentu itu akan mnjadi penyakit dalam tubuhnya.


Keenan duduk dengan kepala menunduk. Di atas lututnya terlihat basah oleh air mata. Laki-laki itu berusaha menyembunyikan kesedihannya namun tak berhasil.


Sementara Kai, ia merosot di lantai dengan kedua tangan memeluk lutut. Ia menenggelamkan wajahnya agar tidak seorangpun bisa melihat bagaimana hancurnya perasaannya.


Selang beberapa menit kemudian, mereka cukup tenang. Namun terdengar suara langkah kaki yang ramai masuk ke dalam ruangan.


Jojo dan keempat laki-laki itu segera keluar dari ruangan. Mereka terkejut mendapati beberapa dokter sudah mengelilingi Merlinda.


"Ada apa ini?" tanya Kalingga panik.


"Detak jantung Mama kaian terlihat melemah. Saya memanggil dokter untuk memeriksanya," jawab Johnathan.


Semua orang tampak khawatir, mereka membiarkan dokter bekerja dan menunggu dengan sabar. Di samping Kalingga, Jojo tidak henti-hentinya merapalkan doa. Ia hanya ingin kesembuhan wanita itu, ia ingin Tuhan memberi kesempatan mereka sekali lagi untuk bersama.


Terlihat beberapa dokter itu sibuk menyuntikkan beberapa obat melalui selang infus Merlinda, ada juga yang langsung menyuntikkannya ke pembuluh darah melalui lengan kirinya.


Hampir setengah jam menunggu dengan gelisah, dokter akhirnya memastikan jika kondisi pasiennya kembali stabil.


Dokter memberi pesan pada Johnathan dan yang lainnya agar terus memantau monitor yang memperlihatkan skema detak jantung Merlinda. Karena mereka khawatir jika kejadian ini akan berulang. Jika tidak ditangani dengan cepat, kemungkinan Merlinda tidak akan terselamatkan.


Dengan langkah kaki berat, Kalingga dan ketiga adiknya berjalan menghampiri Merlinda yang masih terpejam. Mereka berempat menyesali diri, mengapa Merlinda menyembunyikan semua kebenaran itu? Tidak satupun dari keempat anak Merlinda yang berpikiran untuk ingin tahu siapa ibu kandung mereka, mereka hanya ingin memohon ampun atas sikap mereka selama ini.


"Ma, pasti rasanya sakit sekali," gumam Kylan sambil menggenggam tangan Merlinda. "Apa Mama bisa bertahan?" tanyanya lagi.


Melihat banyak sekali alat yang di pasang di tubuh Merlinda, anak-anaknya turut merasakan sakit. Mereka tidak akan bisa membayangkan bagaimana rasa sakit yang dihadapi oleh wanita itu, bahkan kematian seakan sudah mengintainya dari dekat.


Kalingga menundukkan kepalanya, ia mengusap wajah Merlinda dengan lembut.


"Ma, terima kasih atas segalanya. Kau adalah Ibu kami, dan selamanya akan tetap begitu. Kami ikhlas jika kau pergi. Beristirahatlah, kau sudah berjuang keras untuk kami. Kami menyayangimu," bisik Kalingga di telinga kanan Merlinda. Laki-laki itu menahan gejolak dalam dadanya, ia sadar jika kehilangan Merlinda akan sangat menyakitkan, namun memaksa agar Mamanya tetap hidup dalam kesakitan adalah sebuah keegoisan.


Kai berlutut di lantai dengan kedua tangan memeluk kaki Merlinda. Banyak hal yang belum sempat ia sampaikan, tentang seberapa besar harapannya bisa kembali berkumpul bersama, namun nyatanya itu hanya akan menjadi mimpi belaka.


Keenan menguatkan diri, ia mendekati wajah Merlinda dan mencium keningnya.


"Ma, istirahatlah," bisiknya pelan.


Meski berat, mereka semua berusaha ikhlas. Merelakan adalah jalan satu-satunya. Mereka tidak boleh egois memaksakan sesuatu yang tidak seharusnya.


Setelah Kalingga dan ketiga adiknya mulai yakin pada hati mereka masing-masing, terdengar suara nyaring dari alat deteksi jantung Merlinda. Garis horizontal tergambar jelas di layar monitor, menandakan waktu mereka telah berakhir.


"Kau tidak akan merasakan sakit lagi, Ma."


🖤🖤🖤